Waktu baru menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika kami sekeluarga meninggalkan rumah. Selepas Lebaran, rekreasi ke kawasan pegunungan sudah jadi tradisi keluarga mertua saya sejak lama. Kami memulai perjalanan bahkan sebelum matahari terbit. Kata ayah mertua saya, Amal 55, ini dilakukan agar perjalanan lebih lancar dan terhindar dari macet.
Demi kenyamanan itu, kami berangkat dalam keadaan perut kosong. Karena itu pula, ibu mertua saya, Rita, 53, sudah bangun sejak pukul 03.00 untuk menyiapkan bekal perjalanan. Telur dadar dengan daun bawang hampir selalu jadi menu wajib. Ia juga menyiapkan nasi, sayur, hingga buah-buahan agar kami tetap kenyang di perjalanan.
“Biar enggak kelaparan di jalan,” katanya.
Kebiasaan serupa juga dilakukan ibu saya, Elis, 53, saat kami mudik. Sejak sehari sebelum berangkat, ia sudah menyiapkan makanan berat, bekal, hingga camilan. Menurutnya, ini juga cara untuk menekan biaya perjalanan.
“Kalau beli makanan di rest area kan lumayan mahal,” ujarnya.
Meski lebih hemat, ibu saya mengaku merasa dua kali lebih lelah saat mudik atau liburan. Kelelahan itu kerap berujung pada stres karena banyaknya hal yang harus diurus. Di saat yang sama, ada ekspektasi bahwa liburan harus terasa menyenangkan.
“Kadang jadi stres. Maunya happy terus, tapi buat sampai ke situ malah jadi capek,” imbuhnya.
Fenomena ini bukan pengalaman personal semata. Riset dari Greenberg Quinlan Rosner di Amerika Serikat menemukan bahwa perempuan lebih rentan mengalami stres saat liburan. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab yang lebih besar dalam mengurus perjalanan hingga perayaan, terutama urusan makanan.
Saya pun berbincang dengan Hariati Sinaga, dosen Kajian Gender Universitas Indonesia. Menurutnya, liburan yang seharusnya menjadi waktu istirahat sering kali tidak benar-benar dirasakan perempuan. Penyebabnya adalah beban mental dan kerja perawatan yang tidak terbagi.
Baca juga: 5 Tips Agar Enggak ‘Awkward’ Saat Liburan bareng Keluarga Besar
Beban Mental yang Terabaikan
Beban mental yang Hariati maksud adalah proses pengelolaan urusan liburan yang biasa dilimpahkan ke perempuan. Ia menyebut, dalam liburan, perempuan sering kali dibebankan urusan pengaturan makanan, kesehatan, sampai kenyamanan perjalanan. Dalam mengurus perjalanan jauh, ada ekspektasi kelancaran yang pasti diinginkan semua keluarga. Hal ini jadi seperangkat beban yang praktis ditanggung perempuan dalam keluarga ketika bepergian.
“Karena melibatkan perjalanan cukup panjang, itu berarti kan persiapan yang dibutuhkan, makanan, obat-obatan. Apalagi, ada beberapa anak yang mungkin gampang mabuk gitu kan. Sampai detail-detail kita harus berhenti di mana bisa jadi itu sering kali menjadi tugas perempuan,” jelasnya.
Hariati pun menjelaskan hal ini tidak terlepas dari stereotype gender soal kerja perawatan yang dilekatkan pada perempuan. Dalam masyarakat kita, ‘urusan rumah’ memang masih jadi pekerjaan yang dilimpahkan pada perempuan. Akibatnya liburan pun sering kali tak bisa benar-benar dinikmati perempuan dalam keluarga.
“Relasi gender yang ada itu masih memberikan tanggung jawab tentang kerja-kerja domestik, kerja-kerja reproduktif ke perempuan. Dan di sisi lain, ini dinormalisasi terus menerus. Stereotip ini yang membuat kalau liburan ada ‘kurangnya’ pasti akan jadi tanggung jawab perempuan,” imbuhnya.
Senada, riset bertajuk “Asian Women’s Roles in Family Holiday: A Case Study of Indonesian Females” (2021) menunjukan kebanyakan perempuan memang terlibat dalam pengambilan keputusan dalam proses liburan. Selain itu, mereka juga diserahkan urusan perencanaan dan memiliki peran yang penting dalam menentukan aturan dalam berlibur.
Sayangnya, beban mental dalam pengaturan liburan ini tidak datang tanpa konsekuensi. Sebuah studi “Gendered Mental Labor: A Systematic Literature Review on the Cognitive Dimension of Unpaid Work Within the Household and Childcare” (2023) menjelaskan bahwa mental load ini punya dampak tersendiri pada kesejahteraan mental perempuan. Pada kasus ibu dan ibu mertua saya, hal ini terlihat dari mereka yang kadang butuh waktu tidur lebih lama ketika sampai di penginapan.
Baca juga: Saat Ditinggal Matriark: Natal yang Berubah Ketika Nenek, Ibu, atau Tante Tiada
Care Work yang Tak Terbagi
Kondisi pun diperparah karena sering kali, perempuan tidak mengalami pembagian kerja perawatan di rumah. Ibu saya sendiri selalu memastikan semua kebutuhan liburan sendiri. Paling-paling, saya atau adik perempuan yang akan membantu mengemas makanan. Di lain sisi, ayah dan adik laki-laki saya biasanya hanya akan mengurus kendaraan dan menganggap pekerjaan mereka selesai di situ.
Hariati sendiri menyebut hal ini juga jadi penyebab kenapa perempuan sering kali tak benar-benar merasakan liburan. Meski kadang laki-laki juga dapat bagian seperti mengurus kendaraan atau rute jalan, pembagiannya masih tak sepadan dengan perencanaan perjalanan dan tanggung jawab kenyamanan yang ditanggung perempuan.
“Karena itu tadi ya, kembali ke pelekatan kerja-kerja reproduktif ke perempuan. Jadi, di dalam keluarga perempuan sering kali harus mengurus semuanya sendirian,” ucapnya.
Sebuah survei YouGov di Amerika Serikat sendiri menunjukan mayoritas laki-laki menyebut dirinya tak terlibat dalam urusan perawatan, terutama memasak ketika sedang liburan. Bahkan, 18 persen dari mereka bilang ada orang lain yang akan memasak makanan tersebut untuk mereka.
Baca juga: ‘Mental Load’: Beban Tak Terlihat Perempuan Pemikul Kehidupan
Melihat Ulang Makna Berlibur
Dari fenomena ini, saya menyadari bahwa liburan belum sepenuhnya menjadi ruang istirahat bagi semua orang. Bagi perempuan—yang tetap bekerja tanpa terlihat—liburan justru kerap berubah menjadi momen yang melelahkan, penuh ekspektasi, dan menuntut kerja dua kali lipat.
Di tengah narasi kebersamaan dan quality time, kerja-kerja perawatan tetap berjalan: Mengatur, memutuskan, hingga memastikan semuanya baik-baik saja. Kerja ini tidak hilang saat liburan—ia hanya bergeser bentuk, dan sering kali tetap dibebankan pada orang yang sama.
Hariati menjelaskan bahwa pembagian peran bisa menjadi jalan keluar agar tak ada satu pun pihak yang menanggung beban sendirian. Namun, yang perlu dibagi bukan hanya tugas-tugas teknis, melainkan juga tanggung jawab atas perencanaan dan ekspektasi.
“Pembagian tanggung jawab itu penting, tapi bukan cuma eksekusinya. Ekspektasi terhadap perempuan juga harus diubah. Jangan sampai kerja kognitifnya kembali lagi ke perempuan,” jelasnya.
Artinya, sejak tahap perencanaan, semua anggota keluarga perlu menyadari bahwa kenyamanan liburan adalah tanggung jawab bersama—bukan sesuatu yang secara otomatis jatuh ke pundak perempuan.
Barangkali, dari kesadaran ini, kita bisa mulai melihat liburan sebagai momentum yang berbeda. Bukan hanya jeda dari rutinitas, tetapi juga kesempatan untuk menegosiasikan ulang pembagian kerja perawatan yang selama ini dianggap ‘alami’ dilakukan perempuan.
Sebab tanpa itu, liburan hanya akan menjadi jeda bagi sebagian orang—dan kerja yang tak terlihat bagi yang lain.
Artikel ini merupakan kolaborasi dengan The Weekender by The Jakarta Post
Ilustrasi oleh Karina Tungari
This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.
Series lainnya bisa dibaca di sini.





















