November 09, 2020

Belajar Mencintai Tanpa Syarat dari Kucing

Mencintai tanpa syarat adalah pelajaran yang didapat setelah memelihara kucing di rumah saat pandemi.

by Candra Aditya
Lifestyle
Share:

Halo, Pak.

Tanggal 5 November adalah hari ulang tahun Bapak. Mungkin ini akan jadi tradisi yang baru bagi kita. Saya akan cerita tentang apa yang terjadi dalam hidup saya setiap ulang tahun Bapak.

Mungkin Bapak sudah tahu soal ini. Tapi enggak ada salahnya juga saya bercerita.

Tahun lalu, ketika melihat teman saya suka beli makanan kering untuk kucing-kucing liar, saya memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Sebagai anak rantau yang pernah merasakan kelaparan, ide untuk berbagi dengan para kucing ini sangat menyentuh.

Saat itu gang depan kos dipenuhi kucing-kucing liar. Setiap kali saya pergi atau pulang, saya selalu memberi mereka makanan kucing. Banyak di antara mereka yang baru mendekati makanan yang saya bagi setelah saya pergi. Tapi ada juga yang langsung menjemput saya begitu saya muncul di ujung gang. Kucing pemberani dan ramah tersebut berwarna oranye. Badannya agak kurus, wajahnya sangat menggemaskan. Dan sepertinya dia tahu bagaimana cara menjaga dirinya dengan baik karena dia bersih dan bulu-bulunya terawat rapi. Tidak ada bekas luka atau cakaran, hanya ekornya yang sepertinya patah ketika dia masih kecil.

Kucing oranye ini selalu mendekati saya ketika saya keluar masuk kos. Dia memutari kaki saya dan mendengkur halus ketika saya mengelusnya.

“Harus dikasih nama,” pikir saya waktu itu. Dan entah kenapa, nama yang terlintas di kepala saya adalah Rico.

Kami jadi akrab. Di depan rumah kos saya dulu ada tempat praktik dokter dengan antrean pasien yang panjang. Rico akan duduk di lantai dan tidur malas atau menggaruk-garuk badannya. Ketika saya muncul dan menjentikkan jari, Rico akan bergegas ke arah saya dengan lucunya, membuat banyak pasien tertawa melihat kelakuannya.

Saking akrabnya saya dan Rico, ibu penjual lontong sayur dekat kos saya mengatakan sebaiknya saya merawatnya. Saya hanya tertawa.

Baca juga: Mari Acungkan Jari Tengah pada Tahun 2020

Malam pertama

Tapi kemudian tiba suatu malam dan hujan. Saya mendadak khawatir dengan Rico. Saya keluar dan mencari-carinya tapi ternyata tidak ketemu.

Besoknya, Rico terlihat muncul dan saya memutuskan untuk membawanya masuk ke kamar. Saya mau mengetes seperti apa kelakuan dia di dalam ruangan. Ternyata dia berperilaku baik. Rico berputar-putar mencari tempat nyaman dan kemudian duduk di tempat tersebut sambil mendengkur. Karena saya belum tahu apakah saya akan berkomitmen memelihara Rico, maka setiap jam 11 malam saya keluarkan dia. Saya melakukan ini hampir setiap hari. Jam 6 sore saya akan mengambil Rico, membawanya ke dalam kamar kemudian mengeluarkannya lagi ketika mau tengah malam.

Tragedi terjadi di suatu malam ketika saya pergi membeli makan. Karena tidak punya kotak tempat kucing buang air, Rico memutuskan untuk pup di bantal saya. Saya hampir murka tapi tidak jadi setelah melihat wajahnya yang lucu. Besoknya, saya membeli litter box, pasir kucing, dan makanan basah.

Di suatu malam, entah kenapa saya merasa sangat kesepian. Bapak pasti mengerti bagaimana perasaan seorang perantau yang tidak punya siapa-siapa di Jakarta. Kadang kala rasa kesepian menyusup tanpa permisi. Melankolia menggerogoti. Dan malam itu saya keluar kamar dan memanggil Rico. Ajaibnya Rico muncul dan mengeong-ngeong.

Malam itu adalah pertama kalinya saya tidur dengan Rico. Dia tidur di samping saya dengan nyaman dan mendengkur sangat keras. Saya terharu melihatnya, dan malam itu saya tertidur dengan sangat bahagia.

Januari 2019, tiba-tiba pemilik kos mengatakan saya harus pindah karena kamar akan direnovasi. Hal itu membuat gamang. Tapi seperti yang Bapak tahu, saya bukan jenis orang yang terlalu larut dalam kesedihan. Sendirian di kota sebesar Jakarta mengajarkan saya untuk selalu mencari solusi dulu daripada galau.

Setelah mencari-cari dan melakukan survei, saya menemukan tempat kos yang sesuai. Di tengah-tengah proses pindahan, saya terpikir Rico. Apa yang akan terjadi dengannya kalau saya pindah? Apakah dia akan bisa bertahan seorang diri? Siapa yang akan memberinya makan? Di mana nanti dia tidur?

Ketika saya mengangkut barang terakhir, saya menggendong Rico dan bergumam, “Rico dibawa enggak ya?” Sopir pick-up yang membantu saya pindahan bilang, “Bawa aja, Mas.”

Melihat wajah Rico yang damai, saya akhirnya membawa dia. Begitulah. Akhirnya Rico tinggal bersama saya. Dan keputusan untuk membawa si kucing oranye tersebut adalah keputusan terbaik yang pernah saya lakukan dalam hidup saya.

Baca juga: Sleeping Beauty: Bagaimana Tidur Jadi Komoditas Langka Saat Dewasa

Pandemi tak sendiri

Saya tidak tahu bagaimana bisa melewati 2020 tanpa kehadiran Rico. Rico menjaga mental saya tetap sehat. Tanpa Rico, mungkin saya bisa jatuh dalam depresi. Rico adalah satu-satunya pegangan saya untuk menghadapi pandemi, terjebak di dalam kamar kos sejak Maret 2020, melewati ulang tahun ke-30 sendirian, dan entah berbagai drama apa lagi yang saya lewati selama tahun ini.

Seperti yang Bapak tahu, saya adalah orang yang tidak beruntung dalam urusan asmara. Sampai detik ini saya belum pernah merasakan jatuh cinta. Mungkin naksir tapi tidak pernah jatuh cinta. Saya tahu dengan pasti saya belum pernah merasakan jatuh cinta dengan orang lain karena saya belum pernah merasakan apa yang saya rasakan ke Rico dengan orang lain.

Rico, kucing saya, mengajarkan saya untuk mencintai sesuatu atau seseorang tanpa syarat. Sepertinya dia tidak menyukai saya, apalagi mencintai saya. Tapi saya rela mati untuk Rico.

Rico mengajarkan saya untuk mencintai sesuatu (atau seseorang, karena di titik ini Rico lebih seperti anak saya daripada kucing peliharaan) tanpa syarat. Sepertinya dia tidak menyukai saya sebesar itu, apalagi mencintai saya. Tapi saya rela mati untuk Rico.

Poin terdramatis yang pernah saya lewati bersama Rico adalah ketika Lebaran tahun ini. Lebaran 2020 ini jelas bukan pertama kalinya saya sendirian di Jakarta. Tapi tahun ini ada sesuatu yang berbeda. Mungkin karena secara kolektif banyak orang yang juga terjebak di Jakarta dan tidak bisa pulang, saya merasa Lebaran tahun ini agak sendu. Jadi mendengar suara takbir bergema sementara saya sendiri di dalam kamar, tidak punya uang dan tidak tahu besok mau makan apa (lebih karena malas masak), saya menjadi sangat kesepian.

Kemudian tiba-tiba Rico datang, ndusel di antara kaki saya kemudian tidur sambil ngorok kencang sekali. Saya mengelusnya kemudian berkata, “I love you.” Dan saya menangis tersedu-sedu. Rasanya saya tidak pernah menangis sebanyak itu dalam hidup saya. Bahkan saat Bapak meninggal pun tidak, mohon maaf.

Baca juga: 3 Cara Hadapi Ketidakpastian di Tengah Pandemi

Adegan itu memang agak melodramatis. Seolah-olah disutradarai dan ditulis oleh pembuat film yang tidak saya sukai tapi dicintai warganet (tentu saja bukan tulisan saya kalau tidak ada satu poin julid). Tapi itulah yang terjadi. Saya belajar bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa pamrih sama sekali.

Sekarang, saya tidak bisa membayangkan hidup saya tanpa Rico. Jadi untuk itulah saya menulis ini. Karena saya ingin Bapak tahu bahwa Rico adalah cucumu.

Sudah lima tahun sejak Bapak pergi. Saya masih sangat kangen Bapak. Masih suka menangis kalau tiba-tiba mimpi ketemu Bapak. Masih menyesal karena Bapak pergi sebelum saya jadi “seseorang” (ya sampai sekarang pun belum jadi apa-apa, tapi mendingan lah daripada dulu). Masih berharap bahwa kita suatu hari bisa ketemu dan saling cerita. Karena kangen itu menyiksa.

Selamat ulang tahun, Pak.

Foto Rico diambil dari twitter @BapaknyaRico.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.