Women Lead
March 16, 2021

BTSxARMY: Gelombang Protes Global Melawan Rasisme

Karena berbagai tantangan yang dihadapi BTS, ARMY yang tersebar di berbagai belahan dunia sekaligus fandom terbesar dalam kancah K-pop menjadi sangat protektif terhadap idolanya. Mereka serempak menaikkan tagar #RacismIsNotOpinion menuntut permohonan maaf dari pihak radio Bayern dan Matuschik. 

by Arinhi Nursecha
Culture // Korean Wave
Share:

Penampilan boy group internasional Bangtan Sonyeondan atau lebih dikenal dengan BTS di acara MTV Unplugged UK pada 24 Februari 2021 lalu sukses menuai respons positif dari kalangan ARMY, sebutan untuk para fans BTS. Dalam acara tersebut, BTS membawakan sejumlah lagu di antaranya “Life Goes On”, “Dynamite”, “Blue and Grey”, dan “Telepathy”. Selain itu mereka juga menyuguhkan versi cover Fix You, lagu dari band legendaris Coldplay.

Sebagai boyband yang telah lama mendunia, tentunya pihak Coldplay sangat selektif dalam hal memberikan izin bagi musisi lain untuk menyanyikan lagu mereka. Ketika BTS mampu menyanyikan “Fix You” tanpa mengubah banyak detail aransemen tetapi tetap mempertahankan ciri khas masing-masing personel, Coldplay mengapresiasinya dengan membagikan tautan penampilan tersebut di berbagai platform resmi mereka.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik J-Hope ‘Main Dancer’ dan ‘Rap Line’ BTS

Namun setelah itu, isu rasialisme yang menyasar BTS kembali mencuat hingga menjadi trending topic dunia. Bermula dari Matthias Matuschik, seorang penyiar dari stasiun radio Bayern, Jerman, yang melontarkan ujaran bersifat rasialis. Dalam siarannya, pria berusia 56 tahun tersebut menyamakan BTS dengan virus COVID-19, bahkan berharap segera ada vaksin untuk mengatasinya. Tak hanya itu, ia juga mengutuk BTS karena telah menyanyikan lagu “Fix You” sehingga BTS pantas mendapatkan "liburan selama 20 tahun di Korea Utara."

Alih-alih secara profesional mengkritik penampilan BTS dari segi musik, Matuschik justru langsung menyandingkannya dengan virus COVID-19 dan mengatakan ketujuh pemuda itu pantas untuk liburan selama 20 tahun di Korea Utara. Telah kita ketahui bersama, Korea Utara di bawah pimpinan Kim Jong Un adalah negara diktator yang tak segan-segan menghabisi nyawa warganya lewat hukuman kejam jika terbukti melanggar aturan pemerintah.

Sikap BTS ARMY Terhadap Isu Rasialisme yang Masih Sering Muncul

Adorable Representative of Mc. for Youth atau ARMY, sebutan bagi penggemar BTS, kerap mendapat stigma negatif di masyarakat awam sebagai kumpulan penggemar yang tidak cinta terhadap tanah air lantaran tergila-gila pada idol Korea Selatan dan gemar berperang di sosial media untuk membanggakan pencapaian idolanya.

Baca Juga: RM, Leader BTS yang Fokus pada Isu Sosial Anak Muda

Namun faktanya, kekuatan penggemar K-Pop tidak bisa dipandang sebelah mata. Di bawah arahan fanbase, mereka memiliki andil besar untuk menaikkan tagar agar menjadi trending topic nasional maupun dunia. Mereka juga peduli pada isu-isu politik, kemanusiaan, dan lingkungan melalui aspirasi yang disampaikan lewat ruang publik dan proyek donasi bersama.

BTS telah mengalami masa sulit sejak mereka debut sebelum bersinar seperti sekarang. Hidup sederhana dalam apartemen dan dorm yang sempit, dituduh melakukan plagiarisme, menghadapi kebencian dari publik dan media Korea Selatan karena dianggap sebagai idol dari agensi kecil. Ketika mulai merambah pasar musik Amerika Serikat, mereka juga berhadapan langsung dengan sikap rasialis-xenophobic industri hiburan dan masyarakat setempat. Ketidaksukaan terhadap negara maupun budaya asing membuat mereka memandang BTS seperti alien pada awalnya.

Karena berbagai tantangan yang dihadapi BTS, ARMY yang tersebar di berbagai belahan dunia sekaligus fandom terbesar dalam kancah K-pop menjadi sangat protektif terhadap idolanya. Mereka serempak menaikkan tagar #RacismIsNotOpinion menuntut permohonan maaf dari pihak radio Bayern dan Matuschik. 

Baca Juga: ‘Fandom’ K-Pop, Pekerja Migran Warnai Hubungan Indonesia-Korea Selatan

Pernyataan tersebut tentu saja membuat ARMY BTS berang karena dianggap sebagai bentuk rasialisme atau kebencian terhadap suatu ras tertentu. Ironisnya, hingga saat ini rasisme masih terus terjadi, terutama menyerang masyarakat ras kulit hitam dan Asia. 

Tagar yang dinaikkan ARMY dengan cepat menarik perhatian fandom lain, komunitas Asia, hingga para seleb Barat seperti Halsey, Lauv, Steve Aoki, Zara Larsson, DJ Swivel, Liam Mc Ewan, JJ. Ryan, dan yang lainnya turut serta menyuarakan protes mereka. Begitu pun MTV UK selaku penyelenggara acara, lewat cuitannya menegaskan bahwa mereka menolak rasialisme, kebencian, dan maraknya kekerasan terhadap komunitas Asia-Amerika dan Kepulauan Pasifik.

Protes Keras ARMY Terhadap Radio Bayern Terus Berlanjut

Setelah gelombang protes yang terus membesar, pihak radio Bayern lantas menyampaikan permohonan maaf. Tetapi permintaan maaf itu dinilai tidak tulus karena Bayern bersikap defensif dan membela bahwa Matuschik sekadar menyampaikan opininya yang jelas dan terbuka. ARMY yang masih merasa tidak puas dengan pernyataan itu terus menekan Matuschik. Alih-alih menyadari kesalahannya, Matuschik kembali berulah dengan menyebut ARMY sebagai fans gila dan menaikkan tagar sebagai hiburan semata. Pria itu juga aktif di akun Facebooknya untuk membagikan konten bernada negatif tentang BTS. 

Baca Juga: 7 Lagu BTS tentang Kesehatan Mental

Ironisnya, ketika media di seluruh dunia ramai membicarakan isu rasisme dan kejahatan anti-Asia, tindakan Matuschik justru dinormalisasi oleh media Jerman sendiri. Mereka menganggap hal itu adalah bagian dari kebebasan berpendapat yang dilindungi oleh negara. Hingga artikel ini ditulis, badai protes, khususnya di Twitter masih terus berlangsung.

Saya menulis semua ini bukan semata saya adalah bagian dari ARMY. Lebih dari itu, saya ingin menyampaikan kegelisahan bahwa ras mana pun, terutama Asia, yang selama ini menjadi sasaran kebencian karena dianggap sebagai sumber virus Covid-19. Kita seharusnya bersatu memerangi virusnya, bukan memerangi orang-orangnya. 

Baca Juga: BTS dan Bagaimana Idola Membantu Kesehatan Mental

Ketika masih dalam kandungan, kita tidak bisa memilih hendak dilahirkan dari suku atau ras mana. Sangat menyakitkan menyaksikan etnis minoritas mendapat perlakuan rasis di negara-negara maju yang konon menjunjung tinggi HAM. Menjadi etnis Asia bukanlah sebuah kejahatan. Kita tidak lagi berada era Nazi. Kita berhak bepergian ke luar rumah dengan aman, tanpa rasa takut akan mendapat tatapan sinis bahkan serangan fisik dari ras tertentu. Sebab semua manusia setara di mata Tuhan.

Arinhi Nursecha adalah pegiat literasi asal Cikarang Utara, Bekasi