Women Lead
October 01, 2021

Cinta atau Obsesi? Ketika Perasaan ke si Dia Mencekik Diri

Sebagian orang merasa ketertarikan begitu besar pada pasangan adalah tanda benar-benar cinta. Hati-hati, bisa saja itu cuma obsesi yang tak sehat.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
Arti dan Ciri Seseorang yang Needy
Share:

Perasaan berbunga-bunga dan selalu ingin dekat dengan si dia memang wajar kita rasakan pada awal menjalin relasi romantis. Pikiran kita kerap kali hanya terisi bayangan tentang pasangan, momen indah yang sudah atau akan dilewati bersama, serta harapan agar fase “bulan madu” yang kita rasakan ini tak cepat-cepat berlalu.

Pada sebagian orang, perasaan ingin selalu bersama terus muncul tak peduli sudah berapa bulan atau tahun mereka menjalin hubungan. Seiring dengan itu, mulai tumbuh pemikiran bahwa mereka tidak bisa berjauhan atau hidup tanpa pasangannya tersebut.  Mereka pun yakin bahwa yang dirasakannya benar-benar cinta.

Kata orang, cinta itu bisa melampaui logika. Ketika seseorang dimabuk kepayang, tidak jarang berbagai hal ia lakukan demi menyenangkan pasangan atau memuaskan hasratnya. Ini juga termasuk mengabaikan relasi dengan orang-orang lain yang lebih dulu dikenal seperti keluarga atau sahabat, mengesampingkan berbagai nasihat dari mereka saat mereka menemukan tanda bahaya, atau meletakkan segala sesuatu jadi nomor dua setelah pasangan. 

Jika kita pernah atau sedang ada pada titik ini, kita seyogyanya berefleksi sejenak dan bertanya, benarkah yang kita rasakan itu cinta? Jangan-jangan, tanpa sadar kita sudah terobsesi dengan seseorang. 

Baca juga: Dari Bucin Jadi Hubungan Toksik: Kenali Tanda-tandanya

Berbeda dengan perasaan cinta nan sehat, yang menurut banyak studi berpengaruh positif terhadap kesejahteraan seseorang, obsesi justru membawa berbagai dampak buruk. Tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi pasangan seseorang. 

Seperti apa, sih, tanda-tanda obsesi itu? Kenapa hal ini berbahaya? 

Mengenal Tanda-tanda Obsesi dalam Relasi

Dalam kamus American Psychological Association, obsesi didefinisikan sebagai pemikiran, gambaran, atau dorongan hati yang terus menerus muncul dan mengganggu sehingga memicu timbulnya kecemasan, kesulitan, atau ketidaknyamanan. Obsesi berbeda dengan kekhawatiran tinggi dalam keseharian karena kerap kali hal ini tidak berhubungan dengan masalah yang ada dalam kehidupan nyata.

Psikoterapis Chanelle Sowden menyatakan dalam Stylist, ada beragam jenis obsesi, mulai dari perfeksionisme, pikiran bahwa hal buruk akan datang, kontaminasi, hingga relasional. Terkait obsesi relational, Sowden menyatakan, hal ini bisa membuat seseorang kewalahan, tidak bisa mengendalikan diri, dan merasa sangat kelelahan.

“Obsesi ekstrem bisa memicu perilaku menyabotase atau dorongan melakukan hal berisiko,” kata Sowden.

Jika dalam relasi yang sehat dan berbasis cinta ada perasaan empati dan memperhatikan kebutuhan pasangan, tidak demikian halnya dengan yang berbasis obsesi. Dilansir Medical News Today, orang yang terobsesi akan memandang pasangannya sebagai objek untuk dimiliki alih-alih sosok yang setara. Ia akan menjalani relasi semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan suara atau kesejahteraan pasangan tidak akan dia perhatikan. 

Karena hanya terfokus pada kebutuhannya sendiri, orang yang terobsesi dalam relasi bisa punya kecenderungan mengontrol pasangannya, mengancam bila pasangannya berniat pergi, mengabaikan batasan yang diinginkan pasangan, atau menuntut perilaku tertentu dari pasangannya yang tidak berdasarkan alasan logis.

Selain itu, tanda-tanda lain dari obsesi bisa berupa:

  1. Keinginan untuk buru-buru naik tahap dalam berelasi
  2. Kecemburuan berlebihan yang mengarah pada sikap posesif
  3. Tuntutan untuk sering-sering  berkontak tanpa memperhatikan keadaan pasangan
  4. Usaha terus menerus untuk memproteksi pasangannya meski sebenarnya tidak ada hal apa pun yang mengancam dia
  5. Sikap mencari validasi yang tidak kunjung henti
  6. Kesulitan dalam menghadapi penolakan
  7. Usaha menguntit atau mengawasi tindak-tanduk pasangan, termasuk mengontrol media sosial atau pesan pribadinya, 

Tanda-tanda obsesi tidak melulu sikap agresif atau mengontrol pasangan yang kasat mata. Dilansir Pivot, platform yang berfokus pada isu relasi, obsesi dalam relasi juga bisa melibatkan tindakan membombardir pasangan dengan berbagai hadiah atau kasih sayang (love bombing). Perilaku ini tergolong manipulasi karena pelakunya akan memanfaatkan rasa tidak enak pasangan karena sudah dihujani perhatian, sehingga pasangan mesti memenuhi kemauannya. 

Obsesi juga bisa menyangkut ketergantungan tinggi terhadap sosok pasangan. Ini bisa merusak hubungan karena pada waktu-waktu tertentu, pasangan juga butuh menjalani kehidupan pribadi dan tidak melulu segala hal yang dilakukannya mesti melibatkan dirinya. 

Di samping itu, ketertarikan berlebihan juga memungkinkan seseorang untuk menafikan segala kekurangan pasangan yang jelas-jelas ia ketahui. Ia akan terus memuja pasangannya sekalipun pasangan sudah melakukan hal buruk, atau bahkan menyakiti dirinya.

Lebih lanjut, obsesi menyebabkan seseorang sulit sekali melepaskan pasangannya sekalipun relasi sudah memburuk dan pasangan memutuskan berpisah. Ia akan sangat lama atau bahkan tidak bisa menerima kenyataan relasi sudah berakhir. Jika ia tetap memaksakan pasangan untuk tetap bersamanya, hal ini bisa mengarah pada tindak kekerasan yang berujung pada jalur hukum.

Baca juga: Kekerasan dalam Pacaran Fenomena Sunyi di Indonesia

Kenapa Seseorang Bisa Begitu Terobsesi?

Obsesi yang seseorang miliki tak bisa diidentifikasi secara jelas penyebabnya, tetapi ada berbagai faktor yang dikaitkan dengan hal ini menurut sejumlah studi.  Dalam PsychCentral, psikiater dari Mango Clinic, Florida, Amelia Alvin berpendapat, “Cinta obsesif tidak dikenal sebagai penyakit, tetapi ini bisa datang dari bermacam gangguan mental. Terobsesi pada orang tersayang adalah tanda mental terganggu yang bisa mendorong orang ke dalam depresi.”

Ada pun beberapa masalah mental yang dikaitkan dengan obsesi adalah obsessive compulsive disorder (OCD), gangguan kelekatan (attachment), gangguan delusional dan erotomania--perasaan sangat yakin bahwa orang lain jatuh cinta kepadanya, padahal tidak benar--, borderline personality disorder (BPD), dan post traumatic stress disorder (PTSD).

Obsesi juga dikaitkan dengan kecemasan dan ketakutan berlebih yang seseorang alami. Kecemasan ini bisa terpupuk dari masalah gaya kelekatan yang dipengaruhi sekali oleh bagaimana ia dibesarkan atau pengalaman berelasinya yang terdahulu. Misalnya, ia pernah ditinggalkan, diabaikan orang tersayang, atau dikhianati. Dalam dirinya akan tumbuh ketakutan akan ditinggalkan yang besar sekalipun pasangannya saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan itu. 

Hal ini sejalan dengan pandangan psikolog Dr. Perpetua Neo. Kepada Yahoo!News ia menyatakan, “Ini [obsesi] mungkin bermula pada saat kita merasa rentan. Orang-orang mengembangkan obsesi karena mereka berusaha menghadapi rasa sakit dalam hidupnya.” 

Ketergantungan berlebih, meragukan diri sendiri, sehingga merasa perlu mencari validasi terus, dan kecenderungan terlalu cepat jatuh cinta begitu mendalam dan ingin segera naik ke jenjang hubungan lebih tinggi yang menjadi tanda-tanda obsesi berhubungan juga dengan rendahnya penilaian diri seseorang. Begitu ia ada dalam relasi, ia akan mencoba berbagai cara untuk menjaga relasinya itu walau sebenarnya kondisinya baik-baik saja. Ini dapat disebabkan ketakutan dirinya dipandang orang lain tidak berharga lagi tanpa keberadaan sang pasangan, atau pemikiran bahwa tidak akan ada yang mau dengan dirinya lagi selain pasangan setelah mereka putus.  

Jika kamu mengidentifikasi tanda-tanda obsesi pada dirimu atau pasanganmu, kamu tidak perlu khawatir bahwa sepanjang hidup kamu akan mengalami ini. Kamu bisa mendatangi psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut. 

Misalnya, dari psikiater kamu dapat memperoleh obat anti-kecemasan untuk mengurangi pemicu obsesi tersebut, atau psikotropika lain seperti antidepresan, antipsikotik, atau penstabil mood. Kamu dapat pula menjalani psikoterapi dengan psikolog, baik dilakukan secara individual maupun melibatkan pasangan atau keluargamu. Hal ini bisa membantu memberikan perspektif lain yang dibutuhkan dalam proses terapi untuk memulihkan kondisimu. Di samping itu, konseling bersama ini juga memungkinkan kalian untuk belajar lebih jauh tentang penilaian diri, afirmasi, serta berbagai cara pemulihan setelah teridentifikasi ada gangguan mental tertentu di belakang obsesi. 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop