Women Lead
July 16, 2021

Jangan Abaikan Trauma Pasca-Putus

Sebagian orang menilai trauma pasca-putus hanya masalah remeh yang gampang hilang seiring waktu, tapi nyatanya tidak selalu begitu.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
Cerai_Perceraian_Break Up_Putus_Divorce_KarinaTungari
Share:

Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya untuk bisa move on setelah putus cinta sewaktu SMA. Awal-awal kejadian, saya mengamuk sendiri di kamar, menyalahkan diri sekaligus mantan saya secara bersamaan, menangis dan membanting barang-barang yang saya lihat, kemudian melukai diri. 

Beberapa tahun berselang, saya kembali jatuh hati pada seseorang, menyangka dia merasakan hal yang sama seiring keintiman yang kami bangun. Kenyataannya, seratus delapan puluh derajat. Lebih pahit lagi, saya mendengar dia melakukan hal-hal serupa dengan perempuan lain dari kawan saya.

Saat sudah bekerja, relasi yang karam di tengah jalan kembali saya alami. Setelah tiga tahun menjalin hubungan dan tinggal bersama, dan setelah beberapa kali di-ghosting oleh si mantan, kisah cinta saya berakhir. 

Dari tiga pengalaman itu, mati-matian saya berusaha bangkit. Mulai dari mengalihkan perhatian ke studi hingga banyak-banyak menghabiskan waktu dengan teman dan cowok-cowok baru. Saya pikir, semua itu akan berhasil menghapus rasa sakit terdahulu. Rupanya saya salah.

Luka setelah putus cinta saya malah melebar dan tidak pernah benar-benar pulih. Bahkan, luka itu mengemuka dalam tindakan saya berikutnya dalam relasi-relasi cinta yang lain. Ingatan akan kejadian menyakitkan dari relasi sebelumnya berulang kali muncul, terlebih saat saya melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu yang pernah saya alami dengan mantan-mantan terdahulu.

Mengenal Post Traumatic Relationship Disorder (PTRS) 

Banyak orang sudah pernah mengalami jatuh bangun membangun relasi, sehingga lama-lama, mereka mulai terbiasa untuk melanjutkan hidup setelah melewati akhir pahit sebuah hubungan. Namun sejatinya, setiap relasi dan pengalaman putus itu unik. Karena itu, ucapan “Sudahlah, nanti juga lupa/sembuh sendiri seiring waktu” jadi tak bijak dikatakan kepada mereka yang baru putus cinta. Terlebih lagi, kepada mereka yang sempat terjebak dalam relasi abusive tanpa pernah disadari sebelumnya. 

Dalam situs Healthline dikatakan, relasi abusive bisa membuat orang  merasa tidak aman, tidak percaya diri, hingga kesulitan mempercayai orang lain. Sekalipun relasi abusive sudah berakhir, dampaknya bisa berkepanjangan dan menjadi suatu trauma. Dampak tersebut dikenal dengan “post traumatic relationship syndrome” (PTRS)

Sejumlah tulisan mengaitkan PTRS dengan post traumatic stress disorder (PTSD) atau menyebutnya dengan relationship PTSD. Memang, keduanya sama-sama berbicara tentang trauma. Namun berdasarkan jurnal berjudul “Posttraumatic Relationship Syndrome: A Treatment Model” dari Ami Rokach dan Debra VanderVoort (2007), dinyatakan sejumlah perbedaan antara dua hal ini.

PTRS spesifik terjadi dalam konteks relasi intim seseorang dan mesti ada interaksi langsung antara pelaku dan korban, sementara PTSD belum tentu demikian. Kedua peneliti tadi menambahkan, PTRS bisa terjadi dipicu kekerasan fisik, seksual, atau emosional, sedangkan dalam PTSD, pemicunya mesti secara fisik atau setidaknya mengancam keselamatan nyawa seseorang. Selain itu, mereka berargumen bahwa dalam kriteria PTRS ada kemarahan terhadap orang yang berelasi dengannya, sementara hal itu tidak menjadi kriteria yang harus ada dalam PTSD.

Tanda-tanda Kamu Alami Trauma Pasca-Putus

Tidak semua kejadian putus cinta berujung pada trauma mendalam. Berikut ini beberapa hal yang bisa menandakan kamu mengalami PTRS dan butuh penanganan serius untuk menghadapinya. 

1. Ingatan akan pengalaman buruk terdahulu terus mengganggu

Meski sudah terjadi lama, memori perlakuan buruk yang kamu terima dari mantanmu terus hadir, entah dalam bentuk mimpi buruk atau rasa takut setiap kali mengingat mantan atau hal-hal yang berhubungan dengannya. Kecemasan yang termanifestasikan lewat jantung berdebar tak keruan, tubuh gemetar, atau berkeringat saat mengingat pengalaman tersebut menjadi hal yang lumrah ditemukan saat kamu mengalami PTRS. 

Dalam Bustle, psikolog Robin T. Hornstein, PhD. menyatakan, dalam konteks relasi toksik, melihat mobil yang sama dengan mobil mantan saja bisa membuat kamu tiba-tiba takut dan mengubah rencanamu sebelumnya. 

2. Masalah kepercayaan yang besar

Setelah melewati masa-masa berat seiring putus cinta, luka lama yang kamu punya bisa menimbulkan masalah kepercayaan besar terhadap orang terdekatmu di kemudian hari. Berbagai hal yang sebenarnya normal saja dilakukan pasanganmu berikutnya bisa kamu tangkap sebagai hal mencurigakan atau membahayakan. 

Alhasil, perilaku mengecek terus menerus, rasa paranoid yang tidak habis-habis, atau cemburu berlebihan dan tidak berdasar bisa mengisi relasimu setelah mengalami trauma pasca-putus. 

Bisa pula PTRS menyebabkan kamu sama sekali tidak mau menjalin relasi intim lagi dengan orang lain. Kamu merasa bahwa orang lain akan berakhir menyakitimu juga kelak, cinta itu hanya bualan belaka, dan berpikir isolasi hati adalah cara terampuh untuk menghindarkan kamu dari luka-luka berikutnya.

3. Perubahan kebiasaan tidur atau makan

Sebagaimana gangguan mental pada umumnya, trauma pasca-putus juga bisa menyebabkan perubahan pada kebiasaan makan atau tidurmu. Berbagai pikiran buruk yang tidak kunjung selesai mendorongmu jadi malas makan atau sulit tidur. Yang jelas, permasalahan di psikismu terlihat dari perubahan kebiasaan sehari-hari hingga fisikmu. Bisa saja kamu bertambah kurus secara tak sehat karena kehilangan selera makan.

Ketika gangguan tidur terjadi, efek domino tentu telah menunggumu. Aktivitas setelah kamu bangun banyak yang tertunda atau berantakan, bahkan ini berpengaruh juga dalam relasi kerja, performa studi, atau pergaulanmu sehari-hari. Konsentrasi yang menurun adalah salah satu dampak kurang tidur yang jamak ditemukan. Pada akhirnya, rencana-rencanamu bisa buyar seketika bila kamu tidak segera menyadari dan menangani gejala PTRS ini.

4. Kemarahan yang tidak usai pada mantan

Saat mengalami PTRS, kamu akan merasa sangat sulit untuk menghentikan amarahmu kepada sang mantan. Meski kamu sudah berusaha mencari hal-hal menyenangkan, mengalihkan perhatianmu dari memori buruk bersama mantanmu, rasa marah itu tetap tinggal seakan-akan mantanmu baru menyakiti kamu kemarin.

Ada beragam cara untuk mengelola dan menyalurkan amarah yang tidak menyakiti diri seperti berteriak, menulis, atau melakukan olahraga. Namun ketika hal-hal tersebut sudah kamu coba dan hasilnya tetap tidak menurunkan amarahmu, opsi berkonsultasi dengan ahli psikologi bisa kamu ambil. Pasalnya, amarah tidak kunjung habis cepat lambat juga akan berimbas pada relasimu dengan orang-orang lain, sekalipun yang memicu emosi tersebut hanya mantanmu seorang.

5. Perilaku menyalahkan diri

Seiring dengan kemarahan terhadap mantan, kamu bisa saja justru bertubi-tubi menyalahkan diri sendiri. “Dia kasar kepadaku karena aku begini”, “Dia marah dan minta putus dipicu kelakukanku” adalah contoh-contoh kalimat yang mungkin saja terlintas di benakmu setelah putus, terlebih secara tidak baik-baik. 

Ini sebenarnya bisa berhubungan dengan perilaku gaslighting di mana mantanmu membuatmu merasa seolah-olah masalah timbul karena ulahmu, padahal tidak. Meski sudah menyadari hal tersebut di kemudian hari, “ampas” rasa bersalah itu bisa saja masih mengikutimu ketika kamu mengalami PTRS. 

6. Masalah dalam hubungan seks

PTRS yang dipicu oleh kekerasan seksual sangat mungkin membuat kamu memiliki masalah dalam berhubungan intim di kemudian hari. Sekalipun pasanganmu berikutnya tidak mengancam atau melakukan kekerasan saat mengajakmu berhubungan seks, kamu akan teringat lagi pengalaman buruk dengan mantanmu yang membuatmu ogah melakukannya. Hasrat pun menyurut setiap kali pasanganmu berusaha untuk lebih intim denganmu.

Ini tidak mengherankan mengingat organ terpenting yang berpengaruh terhadap aktivitas seksual seseorang adalah otak. Ketika otakmu dipenuhi oleh memori sakit hati dalam hubungan seks, tubuhmu pun akan sulit menerima stimulasi dengan baik, sehingga hubungan seks berikutnya bisa terasa menyakitkan.

7. Merasa tak aman hidup di dunia ini

Karena suatu pengalaman relasi yang berakhir buruk, kamu bisa saja menggeneralisasi bahwa dunia begitu jahat kepadamu dan tidak ada satu tempat pun yang membuatmu aman. Apa pun yang hadir di hidupmu akan kamu lihat bersisian dengan ancaman, padahal mereka yang mencoba mendekatimu itu tulus dan tidak bermaksud menyakiti sama sekali.

Kamu pada akhirnya bak keong yang terus bersembunyi di cangkang setiap kali hal baik datang karena semua hal kamu relasikan dengan pengalaman traumatis dalam berelasi. Jika sudah demikian, kamu tidak hanya bisa melukai orang lain yang bermaksud baik padamu, tetapi juga dirimu sendiri karena menghilangkan kesempatan orang lain untuk membantumu bangkit dari keterpurukan.     

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop