Women Lead
October 06, 2021

5 Rekomendasi FIlm Lesbian Korea Terbaik yang Patut Ditonton

Korea Selatan masih memiliki masalah dalam melindungi komunitas LGBT. Namun, industri sinemanya kerap mencetak cerita pasangan lesbian yang menarik perhatan.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Korean Wave
Moonlit Winter
Share:

“Alasan saya memilih Mine (film lesbian Korea Selatan) karena cerita cinta minoritas seksual. Ini juga sebuah melodrama, jadi saya menerima perannya tanpa berpikir dua kali,” ucap aktris Kim Seo Hyung yang memerankan karakter lesbian, Jung Seo Hyun, di drama tersebut. 

Mine (2021) mengisahkan dua perempuan yang ingin membebaskan diri mereka dari stigma dan stereotip tentang perempuan, Jung Seo Hyun salah satunya. Tidak hanya berjuang di lingkungan chaebol (semacam keluarga konglomerat) yang saling sikut-sikutan, Jung Seo Hyun juga tidak bisa melupakan cinta pertamanya Choi Suji (Kim Jung Hwa). 

Kisah cinta antara Jung Seo Hyun dan Choi Suji tampak sangat menyentuh dan menjadi pasangan favorit pencinta sinema lesbian global. Karena perannya itu juga, Kim Seo Hyung sering disebut-sebut seperti Cate Blanchett yang berhasil merebut hati komunitas lesbian dengan perannya di film Carol

“Saat saya membaca naskahnya, saya berpikir saya perlu berhati-hati dan bertanggung jawab dalam memerankan karakternya. Tapi saya tidak merasa ada tekanan atau intimidasi memerankan karakter minoritas seksual. Saya pikir kalau ada kesempatan, saya bisa memerankannya dengan baik,” ujar Kim Seo Hyung dikutip dari Soompi

Perempuan berusia 47 tahun itu juga memiliki chemistry yang cocok dengan lawan mainnya, Kim Jung Hwa. Namun, karena hal itu, muncul serangan dari kelompok fundamentalis agama yang merasa kecewa Kim Jung Hwa memerankan seorang lesbian. Mereka merasa geram karena Kim Jung Hwa yang di kehidupan nyata menikah dengan seorang misionaris. Karenanya, memerankan seorang lesbian sangat tidak pantas. Agensi yang menaungi Kim Jung Hwa, SALT, kemudian meminta maaf kepada publik  

Secara hukum, hubungan pasangan homoseksual di Korea Selatan memang tak masuk pelanggaran, tetapi pemerintah sana tetap tidak mengesahkan pernikahan di antara mereka. Selain itu, diskriminasi terhadap LGBT juga masih jamak ditemukan. Militer pun melarang keras homoseksualitas dan menjatuhi hukuman hingga satu tahun bagi yang terlibat di sana. Sementara kelompok fundamentalis agama sering melakukan protes anti-LGBT. 

Situasi tersebut menjadi kontradiktif dengan RUU Anti-diskriminasi yang sedang dirancang pemerintah. RUU tersebut melarang diskriminasi berbasis ras, gender, dan orientasi seksual. Jika disahkan, RUU Anti-diskriminasi mampu melindungi komunitas LGBT. 

Seiring dengan perjuangan tersebut, representasi komunitas LGBT di sinema juga semakin kaya. Yoon Sol (Lee Ho-jung) d Seo Ji-wan (Yoon Seo-ah) dari drama Nevertheless, belum lama ini jadi pusat perhatian untuk pasangan lesbian di drama Korea. Representasi itu juga tidak berhenti dalam bentuk drama, tapi juga film yang sering masuk daftar rekomendasi film lesbian terbaik di situs film Letterbox. Berikut beberapa di antaranya.

1. Film Lesbian Korea Terkenal The Handmaiden (2016)

Dengan latar Korea di bawah kepemimpinan Jepang, The Handmaiden menjadi salah satu film lesbian yang paling terkenal dari Korsel. Kisahnya pun mengandung banyak lika-liku dan kejutan yang membawa dua pemeran utamanya, Agassi atau sang Nona (Kim Min-hee) dan pelayannya, Nam Sook-hee (Kim Tae-ri) ke akhir yang bahagia. 

Mulanya, Nam Sook-hee semacam dijadikan kambing hitam untuk suatu rencana licik antara Agassi dan Count Fujiwara (Ha Jung-woo) yang akan menikahinya. Namun, Agassi mulai jatuh cinta pada Nam Sook-hee yang digambarkan dengan lembut melalui gestur dan tatapan dalam tiga babak film. Keduanya pun menyusun rencana rahasia yang akan membebaskan mereka dari laki-laki yang menjadi beban hidupnya. 

Adegan seksual dalam The Handmaiden memang menjadi perdebatan karena sejarah buruk lensa male gaze dalam film lesbian. Namun, Sarah Waters penulis novel Fingersmith yang menjadi inspirasi film ini mengatakan kepada The Guardian, “Though ironically the film is a story told by a man, it’s still very faithful to the idea that the women are appropriating a very male pronographic tradition to find their own way of exploring their desires.”

2. Film Pendek Lesbian Korea Alice: Crack of Season (2016)

Jika ingin merangkum film Alice: Crack of Season, lirik lagu yang dilantunkan Obbie Messakh dan dipopulerkan kembali oleh Chrisye, “tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah” paling cocok untuk menggambarkannya. 

Film itu dibuka dengan adegan menyentuh hati antara Yoon Hye (Jang Hee-ryung) dan Da Joo (Ryu-won) yang saling berbagi headset di kelas. Seketika dunia serasa milik berdua, seperti yang sering digadang ketika seseorang sedang jatuh cinta. 

Dengan durasi 19 menit, film pendek ini mampu mengemas cinta monyet yang mendebarkan ketika tokoh utama menyangka perasaannya berbalas. Namun, tidak melulu perasaan bahagia yang diperlihatkan di sini karena semua kisah cinta remaja harus ada penggambaran galaunya. 

Bagi orang awam, film ini tampak seperti dua sahabat perempuan, tapi jika dicermati sentuhan dan tatapan yang disorot mengingatkan dengan film Portrait of Lady on Fire. Artinya, pasangan lesbian tidak harus digambarkan dengan penggambaran seksual. Tapi, dengan female gaze yang membuat penonton paham dengan perasaannya. 

3. Film Lesbian Coming of Age House of Hummingbird (2018)

Disutradarai oleh salah satu sutradara perempuan terbaik Korea Selatan, Kim Bora, film ini memang tidak khusus mengisahkan tentang pasangan lesbian, tapi lebih menyoroti kisah coming of age remaja 14 tahun, Eun-hee (Park Ji-hoo). Sekilas film korea ini tampak fokus pada hubungan Eun-hee dan keluarganya. Namun, jika dipahami lagi, film ini tentang seluruh aspek kehidupannya: Pertemanan, menemukan sosok mentor yang memahaminya, dan percintaan. 

Mulanya Eun-hee memang tampak seperti remaja heteroseksual pada umumnya yang diam-diam berkencan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Namun, Eun-hee tahu dirinya bukan heteroseksual. Karenanya, ia menjalin kasih dengan seorang remaja perempuan yang menyatakan cinta kepadanya. 

Si pembuat film mengatakan, ia memang sengaja menjadikan Eun-hee tertarik pada laki-laki dan perempuan karena perasaan suka tidak terbatas untuk satu jenis kelamin saja. 

4. Fantasy of The Girls (2018)

Bong Sun-hwa (Roh Jeong-eui) siswa kelas satu SMA yang memang terkenal ceria. Karenanya, dia diminta oleh seniornya Soo Yeon (Jo Soo-hyang) memerankan Juliet untuk drama sekolah. Lawan mainnya yang berperan sebagai Romeo adalah kakak kelas cantik yang diidolakan semua orang, Lee Ha-nam (Kwon Na-ra). Dari plot itu, kisahnya sangat mudah ditebak: Cinta segitiga di sekolah. 

Bong Sun-hwa atau Juliet yang dimabuk cinta oleh Romeo, benar-benar jatuh cinta dengan Lee Ha-nam. Apalagi seniornya itu memiliki perwatakan semacam tsundere menggemaskan, tapi tidak menyebalkan karena bukan laki-laki yang konstipasi secara emosional. Di sisi lain, Bong Sun-hwa merasa ragu untuk mengakui perasaannya karena stigma terhadap komunitas LGBT. Belum lagi dia curiga kalau Soo Yeon memiliki hubungan spesial dengan Lee Ha-nam.

Fantasy of The Girls menjadi film romantis remaja yang menampilkan cinta monyet tanpa gestur yang sengaja dibesar-besarkan sampai memuakkan. Dengan latar belakang sekolah khusus perempuan, cerita cinta juga tidak menjadi murahan seperti film cinta remaja pada umumnya. 

5. Moonlit Winter (2019)

Moonlit Winter tidak sekadar mengisahkan tentang pasangan lesbian, tapi juga hubungan antara ibu dan anak perempuannya. Bisa dibilang film ini yang paling menyakitkan karena menggambarkan rasa penyesalan dan kesendirian seorang lesbian yang menikah dengan laki-laki. Hal itu juga yang membuat Moonlit Winter terasa lebih nyata karena bersentuhan langsung dengan fenomena yang biasanya terjadi di komunitas LGBT. 

Sae-bom (Kim So-hye) menemukan kumpulan surat milik ibunya Yoon-hee (Kim Hee-ae) dari mantan kekasihnya, Jun (Yuko Nakamura). Sae-bom yang kerap menyaksikan ibunya yang terus sedih bahkan ketika menikah dengan ayahnya kemudian ingin mempertemukan ibunya dengan Jun di Jepang. Karenanya, kisah cintanya tidak hanya seputar pasangan lesbian yang menemukan satu sama lain, tapi juga soal anak yang ingin melihat ibunya bahagia. Film yang disutradarai Lim Dae-hyung ini juga membawa perasaan melankolis ketika menyaksikan Yoon-hee dan Jun harus tunduk pada norma sosial setelah menjadi bagian dari komunitas LGBT. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.