Women Lead
March 05, 2021

Sebutan Baper dan Kepekaan yang Terkikis

Di balik sebutan baper yang seseorang lontarkan kepada orang lain, ada bentuk shaming dan minimnya kepekaan yang seharusnya tidak boleh diwajarkan.

by Ria Qamariyah
Lifestyle
Share:

Baper atau bawa perasaan menjadi istilah yang banyak digunakan oleh kalangan muda. Makna baper sendiri bisa merujuk pada sejumlah emosi, termasuk rasa bahagia atau senang dan perasaan sedih serta marah atau tersinggung.

Untuk jenis emosi senang dan bahagia, ungkapan baper biasanya dikaitkan dengan romantisme. Misalnya, saat menerima kata-kata atau perlakuan romantis dari pasangan yang membuat hati menjadi hangat, menimbulkan perasaan diinginkan, yang kemudian akan berdampak pada kepercayaan diri. Walau begitu, perlu diwaspadai karena bisa saja orang yang menerima kata-kata ini sedang masuk dalam tipu daya dan bujuk rayu.

Ada pun untuk emosi sedih dan marah, ungkapan baper umumnya digunakan untuk menyerang sensitivitas seseorang. Kerap kali dalam pertanyaan atau candaan yang masuk ke ranah pribadi, ucapan baper digunakan sebagai tameng dari penuturnya agar apa yang dikatakan atau dilakukannya dianggap biasa saja atau tidak menyinggung. Misalnya, sang penutur akan mengatakan pada lawan bicaranya,“Ih, gitu aja baper!”.

Shaming di Balik Ucapan ‘Jangan Baper

Baper sering kali digunakan untuk membalut shaming yang dilakukan atau dikatakan seseorang. Shaming sendiri adalah tindakan mempermalukan seseorang yang bisa dilakukan baik di sengaja maupun tidak.

Hal ini bisa terlihat dalam berbagai konteks. Misalnya, saat seseorang ditanyai "Kapan kawin?" atau "Belum ada momongan, nih?". Pertanyaan-pertanyaan macam ini dipandang menjadi hal yang sepertinya lumrah saja ditanyakan pada momen temu keluarga atau di perbincangan reuni sekolah, padahal ini bisa menyudutkan atau menyinggung seseorang.

Contoh lain adalah pertanyaan yang menyangkut ketubuhan seperti "Kok badannya lebih berisi ya?", apalagi di tengah masa pandemi seperti saat ini. Atau pertanyaan “Kok kulitnya jadi gelap?”. Hal-hal tersebut menyasar tubuh seseorang yang lebih dikenal dengan body shaming.

Baca juga: Apa yang Lucu dengan Tubuh Perempuan?

Di lain kasus, ada pula pertanyaan berkesan mom shaming yang menyasar pada pilihan seorang ibu. Misalnya, "Kok anaknya enggak dikasih ASI?" atau “Kalau ibunya kerja terus, anaknya siapa yang jagain, dong?”.

Pertanyaan yang menyangkut pilihan hidup seseorang atau sesuatu di luar kuasanya sepertinya menjadi hak orang lain untuk tahu dan membahasnya. Lantas saat dia merasa tersinggung, orang lain tersebut dengan mudahnya berkata, “Alah, baper amat sih,”, tanpa menyadari bahwa ia sudah bersalah melakukan shaming.

Perempuan Lebih Rentan terhadap Stigma Baper

Baper tidak identik dengan sifat perempuan, tapi memang di tengah budaya patriarki yang mengakar sampai saat ini, perempuan dikonstruksikan lebih mengedepankan perasaan daripada logika, sedangkan sebaliknya untuk laki-laki.

Berkat konstruksi inilah perempuan menjadi lebih rentan atau berpotensi mengalami serangan-serangan atas kondisi tubuh dan pilihan hidupnya. Selain itu, banyaknya standar yang diharapkan bisa perempuan penuhi membuatnya semakin mungkin disebut baper.

Baca juga: Jangan Takut Disebut 'Baper'

Misalnya terkait standar tubuh ideal, perempuan sering diharapkan memiliki bentuk tubuh yang langsing, tinggi dan warna kulit yang putih. Sementara, seorang ibu dianggap ideal bila mampu memberikan ASI eksklusif, bahkan sampai anak dua tahun, dan mengurus anaknya sendiri sehingga dapat memantau langsung tumbuh kembang anak dari masa ke masa. 

Saat perempuan tidak memenuhi standar ideal seperti itu, besar kemungkinan ia merasa kecil diri. Ketika merasa seperti inilah, orang-orang sekitarnya memperparah keadannya dengan menyebutnya baper dalam makna yang negatif.

Sering Sebut Baper, Ke Mana Empati?

Normalisasi sebutan baper kepada seseorang setelah melontarkan pertanyaan atau candaan tentang hal-hal pribadi bisa mengikis kepekaan. Tidak berari ketika banyak orang yang melakukan hal tersebut, maka hal tersebut dianggap sebagai hal yang wajar.

Menyebut seseorang baper bisa menimbulkan penderitaan pada si penerima, khususnya secara psikologis. Penerima tuturan baper bisa menyalahkan diri sendiri atas keadaan dirinya. Kemudian ia merasa tidak nyaman, tidak percaya diri, dan mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.

Kebanyakan orang mungkin lupa bahwa proses hidup setiap orang berbeda yang bisa berwujud pada proses ketubuhannya, perkembangan psikologi, maupun kejadian-kejadian yang membentuk segala pilihan yang telah diputuskan. Belum lagi soal hak istimewa atau privilege yang tidak dimiliki setiap orang sejak ia dilahirkan.

Kepekaan untuk tidak menyinggung ranah personal tidak bergantung pada kelas sosial atau pendidikan. Setiap orang punya potensi menjadi pelaku ‘penyerangan’ dengan atau tanpa disadari.  Karena itu, kepekaan dan empati adalah hal yang harus terus dilatih. Dan yang paling sedikit yang bisa dilakukan adalah dengan tidak menghakimi apa pun yang menjadi pilihan hidup atau kondisi seseorang.

Akrab Tak Berarti Singgung Masalah Pribadi

Apakah kemudian pertemanan atau situasi menjadi tidak asyik jika banyak hal yang perlu dibatasi? Tentu tidak demikian. Jika ingin ditelusuri lebih jauh, banyak hal yang bisa dilakukan atau diperbincangkan untuk membangun suasana keakraban. Menanyakan keadaan keluarga, soal pendidikan, pengalaman hidup, pekerjaan, kesukaan, film, dan musik bisa menjadi bahan pembicaraan menarik tanpa harus masuk dalam wilayah pribadi.

Disadari atau tidak, karena merasa sudah dekat dengan seseorang, kita melupakan batasan-batasan apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya dihindari dalam berelasi. Padahal, ketika kita makin akrab dengan seseorang, idealnya kita justru harus lebih berempati kepadanya dan peka saat mengatakan sesuatu.

Jadi, jangan terlalu mudah mengumbar kata baper karena sesungguhnya masing-masing orang tidak punya hak untuk menerobos masuk ke ranah privat orang lain, apalagi untuk menghakiminya.

Ria Qamariyah adalah pegiat isu perempuan yang sehari-hari berkegiatan di Komnas Perempuan. Ia juga merupakan salah satu alumni Multifaith Women Leadership Australian Awards 2019.