Women Lead
June 25, 2021

Setan Bulanan Itu Bernama Gangguan Disforia Pra-Menstruasi (PMDD)

Selama bertahun-tahun, saya tak tahu apa yang membuat badan tidak karuan selama setengah bulan, sampai saya mengetahui tentang PMDD.

by Kenyasentana
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Saya tidak pernah menyangka, masa-masa sebelum menstruasi bisa nyaris "membunuh" saya. Ternyata, saya menderita setan bulanan bernama Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).

Menjadi penderita PMDD berarti saya harus siap mengalami pasang surut psikis yang ekstrem setiap bulannya. Beberapa hari saya bisa bangun dengan semangat berapi-api. Tidak ada yang bisa menghentikan saya melakukan apa pun. Saya merasa hebat. Saya merasa semesta sangat mencintai saya. Tak heran jika di fase ini saya bisa berolahraga berjam-jam, makan normal, dan tak ragu bertemu berbagai manusia. Ini jadi hari-hari terbaik dalam hidup saya.

Sayangnya, perasaan itu hanya bertahan 11 hari dalam sebulan. Yang terjadi kemudian, saya akan memasuki fase tertekan dan tak produktif sama sekali. Saya bangun dengan perasaan seperti pecundang total. Hal pertama yang muncul di kepala saya ketika membuka mata adalah, “Kenapa saya masih hidup?”.

Badan saya sakit, payudara bengkak. Saya mengalami sakit kepala yang parah, kelelahan yang luar biasa, dan saya begitu menginginkan karbohidrat. Saya tidak punya keinginan untuk berolahraga. Saya bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Yang ingin saya lakukan adalah rebahan di ranjang sepanjang hari tak melakukan apa-apa, menangis. Saya merasa terputus dari tubuh saya. Alam semesta ini membenci saya dan dunia bukan milik saya. Keadaan ini terasa selamanya di dalam kepala saya sendiri. Parahnya lagi, haid saya masih dua minggu lagi.

Baca Juga: Hidup dengan Gangguan Reproduksi Perempuan dan Tuduhan Bukan ‘Perempuan Utuh’

Siklus ini berulang setiap bulan. Inkonsistensi menjadi nama tengah saya. Mulanya, saya pikir saya menderita trauma yang tidak diketahui dari masa lalu. Ternyata tidak, siklus itu tetap ada bahkan setelah saya menjalani penyembuhan trauma, meditasi, past-life reading--hipnosis dalam yang mampu merangsang otak dalam keadaan tak sadar, untuk mendorongmu mengingat kenangan yang terkubur jauh di dalam  memori, dan sesi yang tak terhitung jumlahnya ke psikolog.

Apa Itu Premenstrual Dysphoric Disorder?

Baru-baru ini saya menemukan istilah PMDD dan saya mulai membaca penelitian tentang itu. Menjelajahi Instagram, saya menemukan tagar terkait PMDD: #pmddpeeps #pmddwarrior #pmmdisnotpms #pmddsucks. Akhirnya saya menemukan Yayasan Gia Allemand yang didirikan sesuai nama pendirinya, Gia Allemand. Yayasan ini telah bersalin nama menjadi Asosiasi Internasional untuk Gangguan Pramenstruasi. Itu merupakan organisasi nirlaba yang meningkatkan kesadaran tentang PMDD. Allemand sendiri merupakan model dan salah satu kontestan reality show The Bachelor. Dia didiagnosis dengan PMDD dan bunuh diri pada usia 30 tahun.

Saya mengalami hal-hal yang dinyatakan dalam penelitian selama hampir dua tahun tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh saya. Akhirnya, bulan lalu saya resmi didiagnosis PMDD oleh psikiater saya. Saya merasa sangat lega akhirnya dapat mengenali siklus iblis itu. Namun, saya merasa sedih di dalam. Saya berharap saya bisa melewatkan fase luteal yang menyakitkan dan mengerikan sebelum menstruasi.

Baca Juga: Sakit Menstruasi Berlebihan dan Pelajaran Menyayangi Diri

Premenstrual Dysphoric Disorder (juga dikenal sebagai Premenstrual Dysphoria atau Late Luteal Phase Dysphoric Disorder) adalah gangguan mood berbasis hormon dengan gejala yang timbul selama fase luteal dari siklus menstruasi dan berlangsung hingga permulaan aliran menstruasi.

PMDD memengaruhi sekitar 2 hingga 10 persen perempuan usia aktif reproduksi. Meski PMDD secara langsung terhubung ke siklus menstruasi perempuan, itu bukanlah gangguan hormon. Sebaliknya, ini adalah kelainan genetik yang dicurigai dengan gejala yang sering memburuk dari waktu ke waktu setelah peristiwa reproduksi termasuk menstruasi pertama, ovulasi, kehamilan, kelahiran, keguguran, dan menopause. Gejala yang mungkin terjadi termasuk kesedihan yang ekstrem, putus asa, mudah marah, perubahan nafsu makan, depresi, minat berkurang dalam kegiatan biasa dan gejala PMS umum seperti nyeri payudara dan kembung.

Dalam kasus saya, gejalanya terjadi dua minggu sebelum menstruasi. Setelah siklus ini dimulai, mimpi buruk berakhir. Hal ini membuat saya sangat mencintai menstruasi saya, karena ketika waktu itu datang, saya bertemu kembali dengan diri saya sekali lagi. Hidup dengan PMDD seperti menjadi dua orang yang berbeda.

Baca Juga: Siapa yang Berhak Bicara Soal Kesehatan Menstruasi

Saya tahu PMDD seharusnya tidak mendefinisikan siapa saya, tetapi saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk merenungkannya. Saya ingin mengatakan, I accept the grand adventure of being myself (ini adalah kutipan dari Simone de Beauvoir), dengan lantang dari atap, seperti yang dilakukan de Beauvoir. Bahkan melalui kegilaan ini, saya masih percaya bahwa rahim ibu tidak akan pernah mengkhianati saya. Ini hanya bagian dari memelihara orang baru di dalam diri saya, semoga saja, ya.

Jika kamu juga menderita PMDD atau mengenal seseorang yang mungkin memilikinya, jangan ragu untuk menghubungi saya melalui akun PMDD Awareness saya @disVoria atau melalui Instagram pribadi saya @nyalaterang, kamu tidak sendirian!

Artikel ini diterjemahkan dari versi aslinya dalam bahasa Inggris oleh Jasmine Floretta V.D. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Kenyasentana adalah seorang penulis biografi dan pengusaha yang tinggal di BSD. Dia mengelola @disvoria sebuah akun instagram & grup pendukung untuk perempuan yang menderita PMDD.