Women Lead
March 09, 2021

Pulihkan Diri dari Depresi, Agar Bisa Pulihkan Generasi Mendatang

Psikoterapi membantumu melihat berbagai hal dengan jelas agar dapat mengurai permasalahan serta mengamati masa lalu.

by Orrik Ormeari
Lifestyle // Health and Beauty
Hak_Seksual_Reproduksi_Remaja_Karina
Share:

Tahun 2018, saya menulis artikel tentang depresi dan di dalamnya, saya secara terbuka menuliskan mengenai diagnosis saya, komorbid trauma kompleks dengan depresi. Begitu banyak hal yang terjadi dalam setahun ini. Saya menjadi lebih baik untuk sementara waktu, kemudian saya jatuh ke mode depresi lain selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya saya mencari bantuan psikiater sekali lagi.

Saya tidak bisa merasa bahagia, hanya kekosongan yang datang dari dalam diri dan mengelilingi saya. Saya maraton menonton dan membaca novel roman. Hampir sepanjang hari saya berada di tempat tidur, kecuali ketika saya harus bekerja.

Syukurlah, dengan pengobatan baru, saya merasa lebih baik dan akhirnya saya bisa merasakan emosi dan kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Saya tidak lagi merasa kosong. Hal ini kemudian mengantarkan saya pada waktu refleksi kecil tentang apa yang telah terjadi dengan saya selama lima tahun terakhir.

Saya mengalami depresi sejak remaja, tetapi lima tahun terakhir ini adalah periode tersulit dalam hidup saya. Saya sudah dua kali kambuh sejak 2014, dan sekali waktu saya pernah membulatkan tekad untuk bunuh diri. Saya akhirnya tidak sempat mengakhiri hidup saya berkat dukungan teman-teman saya, baik secara online maupun offline.

Saya menjalani terapi, pertama dengan psikolog yang punya kepakaran di bidang trauma. Kemudian ketika keinginan untuk bunuh diri semakin parah, saya pergi ke psikiater.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa penyakit ini tidak hilang begitu saja seperti penyakit lainnya. Kadang-kadang, penyakit ini akan kembali setelah terapi; di lain waktu ia akan kembali berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah kamu merasa sehat. Dalam sebuah artikel di New York Times, seorang penulis berbicara tentang memiliki keluarga dengan depresi. Depresi menyerupai kanker, katanya, saat kamu mengira sudah hilang, ia akan kembali.

Baca juga: Saat Adik Remaja Jatuh dalam Depresi, Kita Bisa Bantu Apa?

Mengapa Harus ke Psikiater

Proses pemulihan dalam terapi penyakit jiwa, terutama pada kasus depresi dan trauma, tidaklah linier. Kondisi kamu tidak hanya naik turun, tapi juga kadang maju dan mundur.

Proses penyembuhannya pun bisa dikatakan semrawut. Dalam kebanyakan penyakit fisik lainnya, perjalanan pemulihan seseorang itu cenderung bersih dalam artian penyakit tersebut kemungkinan tidak akan muncul lagi, tetapi tidak dengan penyakit mental. Dalam kondisi depresi atau trauma, terkadang kamu terlihat kuat, tetapi satu pemicu kecil dapat menyebabkan kamu kacau balau. Orang yang dekat denganmu  mungkin tidak memahami alasanmu berperilaku seperti itu, dan sering kali rasanya melelahkan untuk kamu menjelaskannya berulang kali.

Depresi dan trauma, tidak seperti kebanyakan penyakit lain,  juga memengaruhi orang-orang di sekitarmu, terutama orang-orang yang berinteraksi denganmu setiap hari. Penyakit ini akan mempengaruhi anak-anakmu di masa depan. Jika kamu tidak menyadari tindakanmu, kamu hanya akan mengulangi tindakan yang telah menyakitimu dan mendorongmu menyakiti keluarga dan anak-anakmu.

Itulah mengapa kamu membutuhkan terapi. Terapi membantumu melihat berbagai hal dengan jelas untuk mengurai permasalahan, untuk mengamati masa lalu dari masa kini. Terapi membantumu memahami dan menolong dirimu sendiri, untuk menemukan inti  dirimu yang telah ditutupi oleh puing-puing trauma dan depresi. Terapi membantumu menyembuhkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. Seperti yang  semua orang di bidang ini katakan, "Pulihlah sekarang, sehingga kamu bisa memulihkan masa depan."

Baca juga: Catatan Untuk yang Ingin Bunuh Diri

Jangan takut untuk menjalani terapi. Ya, saya tahu, sangat menakutkan untuk membuka diri terhadap orang asing. Belum lagi susahnya menemukan terapis yang tepat dan memenuhi kebutuhan kita.

Lakukan lah sedikit riset. Ajukan pertanyaan di media sosial untuk menemukan rekomendasi dari orang-orang yang telah menjalani terapi atau mengenal seseorang yang memenuhi kebutuhanmu. Temukan cara yang memungkinkanmu menggunakan jaminan kesehatan nasional (BPJS) untuk menutupi biaya terapi tersebut, dan mulailah memulihkan dirimu sendiri.

Ingat, penyembuhan bukanlah proses linier. Namun, begitu kamu memulainya, kamu berada di jalur yang benar. Meskipun jalannya berkelok-kelok dan curam, kamu berada di jalur yang benar karena sedang dalam proses pemulihan.

Pulihkanlah dirimu sekarang, agar kamu bisa memulihkan generasi masa depan. Jadi, ketika kamu akhirnya berinteraksi dengan anak-anakmu, siswamu, rekan kerjamu, kamu tidak akan mengulangi tindakan sama yang menyakitimu di masa lalu. Saat kamu melihat perilaku orang lain, alih-alih menghakimi, kamu akan menjadi lebih berwelas asih.

Pendiri Into the Light Indonesia—organisasi yang mengadvokasi pencegahan bunuh diri— Benny Prawira Siauw mengatakan, “Pulihlah, agar kita bisa memutuskan siklus toksik. Pulihlah, agar kita dapat menyatakan bahwa harapan itu nyata. Pulihlah, karena kita adalah bagian dari dunia dan jika kita ingin membuatnya lebih baik, kita harus mulai dari diri kita sendiri.”

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Orrik Ormeari adalah seseorang yang percaya ada banyak perspektif dalam sebuah isu. Itu sebabnya ia mencoba untuk terus berpikiran terbuka (meski kadang ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan).