Women Lead
August 06, 2021

‘Halo Pak, Bu, Saya Pacar A’: Saat Tepat Bertemu Keluarga Pacar

Bertemu keluarga pacar bisa bikin keringat dingin keluar. Lalu bagaimana dan kapan waktu terbaik melakukannya?

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
konsekuensi ngenalin pasangan ke orang tua
Share:

Bagi sebagian orang, bertemu keluarga pacar adalah hal biasa saja dan bisa dilakukan kapan pun asal semua pihak punya waktu luang. Namun, buat sebagian lainnya, ini jadi momen horor dan bikin degdegan. Tak percaya? Coba ketik saja “bertemu keluarga pacar” di Google, maka kamu akan menemukan belasan juta artikel yang menguraikan kiat-kiatnya. Ini bukti banyak orang masih bingung apa yang mesti dilakukan saat bertemu keluarga pacar. 

Saking bingungnya, ada beberapa orang yang sengaja membuat check list apa saja yang mesti dipersiapkan dahulu sebelum bertemu keluarga pacar. Ini tergambar dari salah satu cerita serial The Good Doctor musim keempat, di mana sang tokoh utama, dokter bedah Shaun Murphy bertemu pertama kalinya dengan keluarga pacarnya, Lea Dilallo. Begitu pentingnya pertemuan mereka dengan orang tua Lea, Shaun sampai mengadakan gladi resik dahulu dengan melibatkan kolega-koleganya, untuk mengantisipasi kemungkinan pertanyaan yang bakal dia hadapi di hari-H.

Kamu Kerja Apa? Orang Tuamu Siapa?

Pertemuan dengan keluarga pacar berpengaruh signifikan terhadap bagaimana kamu memandang relasi: Apakah akan berlanjut ke tahap serius atau tidak. Satu penelitian yang disinggung dalam Psychology Today juga menyebut, restu orang tua pacar cenderung memprediksi seberapa besar cinta, kepuasan, dan komitmen yang kamu rasakan dalam relasi. Karena itulah, sebagian orang khawatir saat tampil pertama kalinya di depan orang tua pacar.

Salah satu hal yang membuat ketar-ketir seseorang saat bertemu orang tua pacar adalah bila mereka ditanyai soal pekerjaannya. Di masyarakat kita, masih subur tertanam pekerjaan apa saja yang dirasa bonafide, “pantas”, dan bisa menjamin kehidupan anak (perempuan) mereka. Karenanya, orang-orang yang tidak masuk daftar pekerjaan tersebut bisa rendah diri. Ini diperparah dengan sebagian budaya yang mengharuskan pihak laki-laki “membeli” perempuan yang hendak dinikahinya, dengan mahar jutaan rupiah, sehingga mereka yang kerjanya biasa-biasa saja akan kesulitan mewujudkan pernikahan impian.

Bagi kamu yang lahir pada 1980-awal 1990-an, film komedi Meet The Parents (2000) dan sekuelnya, Meet The Fockers (2004) barangkali terasa nyambung dengan pengalamanmu berhadapan dengan orang tua pacar. Di film pertama digambarkan tentang Greg yang tidak disukai Jack, ayah pacarnya, Pam, karena beragam hal. Salah satunya lantaran pekerjaan Greg sebagai perawat dianggap tidak pantas dijalani laki-laki.

Baca juga: Ruang (Ny)Aman: Dilema Pernikahan Beda Agama

Dalam tradisi Jawa, kita mengenal istilah bibit-bebet-bobot yang sering dibawa-bawa orang tua saat anaknya mempertemukan mereka dengan pacar dia. Bibit mengacu pada asal seseorang termasuk latar belakang keluarganya, serta bagaimana fisiknya. Bebet mengacu pada status ekonomi seseorang, yang dalam konteks masyarakat patriarkal, laki-laki diharapkan berstatus ekonomi lebih tinggi dari perempuan. Sementara bobot terkait dengan kualitas diri seperti pendidikan, akhlak, serta tingkat kesuksesannya, misalnya yang dikatakan ber-bobot tinggi adalah mereka yang jadi pejabat.

Orang tua tradisional yang memakai standar ini dalam menapis calon pasangan anaknya bisa menjadi sandungan besar bagi seseorang untuk terus melanjutkan relasi. Karenanya, bertemu dengan orang tua tidak akan bisa dilepaskan dari permasalahan budaya kesukuan nan patriarkal yang kerap sulit sekali dinegosiasikan. Padahal, setiap generasi punya cara pandang tersendiri, apa yang mereka anggap baik pada zamannya belum tentu sesuai dengan keadaan sekarang.

Kapan Waktu yang Tepat?

Ada orang-orang yang begitu dekat dengan keluarganya, sehingga bagi mereka, penerimaan orang tua adalah nomor satu sebelum memutuskan lebih serius berpacaran. Ada juga yang sebaliknya, menunda-nunda bertemu orang tua pacar karena berbagai alasan. Ada juga yang secara tak direncanakan bertemu dengan keluarga pacar.

Dalam Refinery29, profesor Psikologi Catherine Salmon dari University of Redlands menyatakan, tidak ada pakem baku kapan waktu yang tepat bertemu orang tua pacar. Bukan setelah pacaran tiga bulan, setahun, atau seminggu karena tiap relasi berjalan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Semuanya kembali ke kenyamanan masing-masing pihak.

Ketika hal ini tidak dipahami pihak bersangkutan, persoalan waktu bertemu keluarga pacar bisa memicu konflik. Misalnya, satu pihak sudah sangat siap memperkenalkan pacarnya ke orang tua, atau bahkan keluarga besar pada momen perayaan agama atau pernikahan kerabat, tetapi pihak lainnya justru jiper dan mencari alasan untuk menghindar. 

Baca juga: ‘Love for Sale 2’ dan Stereotip Menantu Perempuan Idaman

Saat ekspektasi dari satu pihak itu tak terpenuhi, mungkin sekali kan, pertengkaran terjadi. Bahkan bisa saja ada yang sampai bilang, “Kamu enggak bener-bener sayang sama aku karena enggak mau ketemu keluargaku”. Padahal, ada macam-macam alasan kenapa seseorang enggan bertemu orang tua pacar buru-buru. Misalnya, dia sendiri punya masalah relasi dengan orang tuanya, sehingga bertemu figur otoritatif seperti itu membawa beban tersendiri. Pun, bisa juga dia punya masalah kepercayaan diri karena tidak sejalan dengan tuntutan masyarakat umumnya. 

Meski Salmon menyatakan tidak ada waktu yang tepat untuk melakukan ini, ia berpendapat ada momen yang dianggapnya “terlalu dini” untuk memperkenalkan pacar ke orang tua. Misalnya, sesaat setelah kencan awal. Pada tahap ini, bisa dibilang dua pihak sebetulnya belum benar-benar siap karena belum terlalu mengenal satu sama lain. Bagaimana bisa seseorang berjuang meyakinkan orang tuanya atau orang tua pacarnya ketika ia sendiri belum kenal betul, apalagi yakin mencintai satu sama lain? 

Tips Bertemu Orang Tua Pacar

Bukan wajib membawakan bingkisan “wow” atau berpenampilan super-rapi (walau tetap penting memperhatikan kesopanan) yang akan kami sarankan untuk kamu yang mau bertemu keluarga pacar. Namun, ada hal-hal lain yang menurut kami lebih penting kamu perhatikan.

Berikut ini tips dari kami.

1. Minta petunjuk soal latar orang tua pacar

Ini adalah hal dasar yang lazim dilakukan sebelum bertemu siapa pun. Dengan mengetahui latar orang tua pacar dan segala hal yang diminati atau diharapkannya, kamu bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk merespons mereka saat bertemu. Bicarakan ini dengan pasanganmu bukan sehari sebelumnya, karena bisa saja kamu malah jadi cemas dan pertemuan tidak berjalan mulus. Di samping itu, penting juga untuk meminta pacarmu lebih dulu memberitahukan hubungan kalian kepada orang tuanya supaya mereka tidak bereaksi, “Lho, kamu punya pacar?” atau mencecarmu dengan berbagai pertanyaan yang bisa saja membuatmu salah tingkah atau tersinggung. Intinya, dua pihak, orang tua pacarmu dan kamu punya cue card sebelum bertatap muka.

2. Cari topik obrolan

Klasik, saran ini tidak boleh diabaikan. Setelah tahu minat orang tua pacar, kamu bisa mulai menggali berbagai informasi terkait itu. Bukan berarti kamu tiba-tiba ikut jadi fans klub bola tertentu atau senang catur padahal kamu sebelumnya jarang main itu. Namun, tunjukkanlah rasa ketertarikanmu untuk mengenal orang tua pacarmu lebih jauh.

Kalau kamu tidak paham dunia orang tua pacarmu, tidak ada salahnya lho bertanya dan mendengar ceritanya. Dengan begini, dia akan merasa diapresiasi dan menganggap kamu bukan hanya pacar anaknya, tetapi juga teman berbincang yang enak. 

3. Bohong, enggak banget deh!

Meski setiap orang  berusaha memberi kesan baik pada orang tua pacarnya, berbohong atau menjadi sesuatu yang bukan dirinya banget itu pantangan dalam bertemu dengan keluarga pacar. Tetap bawakan diri kamu dan pandanganmu apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, tetapi sampaikan semua itu dengan baik, dalam rangka dialog bukan adu benar. 

Cara kamu menyampaikan pandanganmu, atau lebih jauh lagi, niatmu untuk melanjutkan hubungan terlepas dari berbagai perbedaan dengan orang tua pacarmu menentukan juga bagaimana pacarmu memandang kamu dan relasi kalian

4. Seimbang bicara dan mendengarkan

Bertemu dengan keluarga pacar tentu saja tidak berarti satu panggung harus kamu kuasai sendiri. Tidak banyak bicara itu enggak bagus, tetapi banyak ngoceh soal dirimu sendiri juga menyebalkan. 

Tunjukkan usahamu untuk bersikap timbal balik, tidak hanya menjawab saat ditanya saja, kamu juga perlu berinisiatif menanggapi saat seseorang dalam pertemuan itu bercerita. Lalu saat mereka melakukannya, jangan sampai kamu sibuk sendiri dengan ponselmu atau ngobrol asyik dengan pacarmu saja. Sst, mendengarkan cerita mereka, terutama soal pacarmu, juga membantumu mengenal sang pacar lebih baik dari kacamata lebih objektif, lho.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop