November 07, 2019
‘Love for Sale 2’ dan Stereotip Menantu Perempuan Idaman

Film ‘Love for Sale 2’ memperkuat stereotip bahwa menantu ideal adalah yang cantik, patuh, dan pandai mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

by Erlinda Sukmasari
Culture // Screen Raves
Share:

Petuah yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan yang akan menikah sering kali terdengar berbeda. Jarang kita dengar ada nasihat kepada laki-laki untuk melayani mertua seperti orang tua sendiri. Kita juga tidak mendengar pedoman bagi para suami untuk bersikap manis dan menyenangkan hati mertua. Laki-laki hanya dituntut mampu menafkahi keluarga, menjadi pemimpin, dan menjaga anak istrinya. Mereka tak diharuskan mengumbar senyum lima jari ketika bertemu mertua. Tak ada pula tekanan kepada lelaki untuk menemani aktivitas mertuanya.

Sebaliknya kalau perempuan, wejangannya akan menumpuk setinggi bukit, seperti disoroti dalam Love for Sale 2. Film ini mengisahkan tentang seorang perempuan bernama Arini Chaniago (Della Dartyan) yang merupakan pacar sewaan Indra Tauhid (Adipati Dolken). Indra adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dan ibundanya, Bu Ros, digambarkan sebagai perempuan konservatif yang sangat cerewet soal kriteria menantu.

Perempuan yang bakal jadi menantu Bu Ros harus “Minang tulen”, cantik, menyayangi mertua, kepribadiannya baik, dan bagus agamanya. Terlalu sempurna rasanya kalau segala hal harus sesuai keinginan Bu Ros. Tentu saja tidak realistis. Alhasil Indra kemudian menyewa Arini selama 45 hari melalui aplikasi Love for Sale. Ternyata, Arini adalah mimpi yang menjadi nyata. Wow. Dia sempurna. Cantik luar dalam seperti tagline yang biasanya didengungkan orang.

Baca juga: Sinema Indosiar, Perempuan Durhaka, dan Derita Nestapa

Arini sangat sopan. Gaya bahasanya santun. Gestur-nya sering kali membungkukkan tubuh. Ia tak ragu menjadi tukang masak di rumah Bu Ros atau di rumah calon iparnya. Arini sampai rela mencucikan piring tamu yang makan di rumah Bu Ros. Ideal sekali ya? Tapi tunggu dulu. Kalau kita bilang Arini ideal, berarti ada yang salah dengan kita.

Kita sama saja telah membenarkan stereotip dan misogini tumbuh subur di Indonesia. Perempuan dianggap sebenar-benarnya perempuan bila ia cantik, cerdas, sopan, pandai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan mampu melayani keluarga. Jadi, kalau tidak bisa masak bukan perempuan? Kalau berdiri penuh percaya diri sambil menaikkan dada dengan bangga bukan perempuan? Bila tidak mampu menjaga perasaan mertua bukan perempuan? Aduh, kenapa berat sekali jadi perempuan! Banyak sekali harapan orang terhadap perempuan. Sampai-sampai dirasa tak masuk akal.

Mungkin perempuan seperti Arini ada di luar sana. Tetapi bukan berarti ia lebih baik dibandingkan perempuan-perempuan lainnya. Mungkin kita senang dengan perempuan seperti Arini. Namun bukan berarti harus ada standar untuk menggambarkan seorang perempuan. Untuk menjadi menantu idaman kita tidak harus membungkukkan diri sampai terasa menyedihkan hanya agar diterima ipar dan mertua. Sudah seharusnya pula ipar dan mertua tidak berharap kita selalu sempurna, berwajah 100 persen ceria. Seakan kita bukan manusia. Seakan kita tak bisa marah, menangis, atau lelah.

Baca juga: Tara Basro: Permasalahan Perempuan Tidak Pernah Usang

Tampaknya tak banyak film Indonesia yang mau menggambarkan kehidupan rumah tangga sesuai realitas. Para sineas kita lebih senang bermain-main dengan plot yang memiliki latar belakang stereotip tertentu. Gambaran Bu Ros sudah terlalu banyak kita lihat di layar lebar ataupun kehidupan sehari-hari. Maukah kita melihat gambaran mertua dan menantu yang berbeda? Bisakah kita menerima kenyataan kalau ada mertua yang menerima sang menantu apa adanya? Maukah kita melihat gambaran menantu perempuan yang tak seperti Arini?

Sayangnya, kita telanjur nyaman dengan pemikiran bahwa Arini adalah gambaran ideal untuk seorang menantu perempuan (atau calon menantu). Sebaliknya kita akan menghakimi calon atau menantu perempuan yang bersikap berbeda. Misalnya tidak cantik sesuai standar kita. Atau tidak jago memasak dan tak pandai melayani keluarga. Padahal kita tahu menantu-menantu ini menikah dengan anak lelaki seseorang bukan untuk dijadikan pesuruh. Ia tak seharusnya bertindak sebagai penjaga perasaan kita. Ia juga punya perasaannya sendiri yang harus dijaga.

Seandainya saja kita mau mendobrak stereotip yang kejam ini, mungkin angka perceraian bisa turun. Mungkin angka baby blues atau postpartum depression bisa turun. Mungkin perempuan-perempuan yang sudah berumah tangga dan merasa depresi bisa lebih bahagia.

Kita seharusnya tidak membebankan terlalu banyak pekerjaan di bahu menantu-menantu perempuan di Indonesia. Menjadi menantu seakan salah satu pekerjaan terberat sedunia.

Foto diambil dari Facebook Page Film Love for Sale.

Erlinda Sukmasari adalah dosen dan peresensi.