Women Lead
October 13, 2021

Hamil di Luar Nikah, Pernikahan Muda Bukan Solusi Tunggal

Pernikahan yang dilangsungkan karena hamil duluan, belum tentu menjamin lelaki bisa bertanggung jawab penuh.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
Share:

Mainkan newsgame selengkapnya  di sini, dan selami langsung pengalaman menarik mereka yang nikah muda.

Bertengkar melulu dengan pasangan menimbulkan pergolakan besar di hati “Linda”. Walaupun janji suci di gereja baru diucapkan dalam hitungan bulan, ia merasa tak bisa lagi mempertahankan pernikahannya dengan “Andre”, pria yang telah memberinya satu anak itu.

Sebabnya fatal. Pertengkaran itu tak jarang dibarengi dengan kekerasan fisik maupun verbal. “Aku melarikan diri ke rumah mama dan berharap dia akan berubah. Namun, sampai sekarang enggak ada inisiatif memperbaiki hubungan, jadi kita hidup sendiri-sendiri aja,” tutur mahasiswi yang merangkap sebagai taipan agensi itu.

Namun ternyata, perkara bercerai dan lepas dari pernikahan toksik tak semudah angan-angan Linda. Berikut kisah lengkap Linda yang jatuh bangun mengurus perceraian demi mengejar kehidupan yang lebih baik bersama anak semata wayangnya.

Perceraian Tertahan oleh Agama

Jika sejumlah perempuan di luar sana urung bercerai karena takut menerima label “tidak patuh terhadap suami”, atau stigma janda, Linda berani membebaskan diri dari relasi toksik dengan Andre. Setidaknya ia berpisah secara fisik dan tidak tinggal di bawah atap yang sama.

Masalahnya, sebagai penganut Katolik, keduanya masih sah sebagai pasangan suami istri. Pasalnya, dalam ajaran agama, terdapat kepercayaan “apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia.” Pun, mereka yang bercerai dan menikah lagi, diyakini hidup dalam dosa karena pernikahan pertamanya masih berlaku dalam pandangan gereja.

Karena itulah, Linda sempat bimbang dan berkonsultasi pada orang tuanya. Tak dinyana, mereka justru yakin dan mendukung bulat keputusan putrinya, agar mengesampingkan agama untuk sementara. Ia sendiri mengaku memiliki keinginan untuk bercerai secara sah di pengadilan, tapi belum memikirkan untuk disahkan secara agama.

“Sebenarnya di Katolik, perpisahan ini dianggap sebagai pembatalan pernikahan, bukan perceraian. Namun, pengurusannya pun sulit karena memerlukan surat-surat persetujuan dari Vatikan, Roma, pusatnya Gereja Katolik,” terangnya.

Ada tiga syarat agar pernikahan Katolik dianggap sah, yaitu pasangan harus menikah secara bebas dan tanpa syarat, saling mencintai dan menghormati seumur hidup, serta menerima anak-anak dengan kasih sayang dari Tuhan. 

Sementara, pembatalan pernikahan dapat dilakukan, apabila salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi. Nantinya, mereka dapat menikah lagi dan dilakukan di gereja, asalkan keputusan pembatalan diberikan, sehingga dianggap tidak pernah menikah.

Awalnya Linda khawatir dan merasa bersalah, jika keputusannya untuk berpisah akan melawan perintah Tuhan. Namun, pada akhirnya ia meyakini hal tersebut merupakan keputusan terbaik yang ia buat sejauh ini.

“Dulu sempat terbebani, karena enggak seharusnya aku menceraikan ketentuan Tuhan. Akan tetapi aku percaya, Dia punya jalan-Nya sendiri,” ucapnya.

Pernikahan Sebagai Bentuk Tanggung Jawab

Hubungan Linda dan Andre berawal dari lingkaran pertemanan kuliah pada 2017 silam, dan keakraban terbentuk ketika mengerjakan sebuah proyek bersama. Saat itu, Linda mengenal Andre sebagai sosok yang baik dan perhatian.

Sayang, pernikahan mereka bukan didasarkan pada harapan akan kebahagiaan selamanya, layaknya direpresentasikan para karakter Disney princess, melainkan bentuk tanggung jawab atas kehamilan Linda.

Menurut kebanyakan orang, menikahi perempuan yang hamil dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban, yang menyangkut masa depan anak. Mereka mengacuhkan seperti apa rumah tangganya kelak, yang penting “para pelaku” memahami sebab akibat hubungan seksual di luar pernikahan.

Ketika melangsungkan pertemuan keluarga kedua pihak, keputusan bersama jatuh pada pernikahan. Meskipun mengaku tidak menerima tekanan dari siapa pun dalam mengambil keputusan, Linda memercayai pernikahannya akan baik-baik saja, begitu pun dengan tanggapan orang-orang di sekitarnya yang tidak diacuhkannya. Padahal, ia pernah disarankan untuk tidak menikah.

“Tanggung jawab kan banyak bentuknya, bisa dengan membiayai dan merawat. Seandainya pasangannya belum siap, atau memang enggak bisa hidup bersama, menurutku aman kalau hubungan tanpa pernikahan enggak memengaruhi dokumen-dokumen anak nantinya,” ujarnya.

“Saat itu aku yakin untuk menikah karena akta kelahiran anak, kasihan juga kalau anakku enggak punya orang tua lengkap. Namun ya begitu, karakter (asli) aku dan pasangan sama-sama belum terlihat,” tutur Linda, ketika ditanya mengapa lebih menginginkan pernikahan dibandingkan co-parenting. Sebelumnya, ia dan Andre memang tidak pernah menjalin hubungan romantis.

Saat menikah, Linda mengatakan merasa bahagia dan tidak terbebani. Keluarganya pun mendukung pernikahan maupun kehamilannya, karena beberapa tantenya mengalami hal serupa.

Namun, berdasarkan pengalamannya, pernikahan bukan langkah tepat yang dapat diberlakukan ke semua orang, untuk mempertanggungjawabkan kehamilan di luar ikatan pernikahan.

“Kalau tahu hubungan pernikahanku akan seperti ini, lebih baik dari awal kita masing-masing aja,” ucapnya menyesal telah menikahi Andre.

Hidup Masing-masing Jauh Lebih Baik

Memang bukan perkara mudah menjalani peran sebagai ibu muda, mahasiswi, dan perempuan pekerja secara bersamaan. Namun, kehadiran anak menjadi penghibur bagi Linda di saat lelah.

“Semua momen yang dilalui bersama anakku itu menyenangkan, karena setiap bulan ia punya kemampuan baru. Misalnya, bulan lalu belum bisa tengkurap, eh sekarang udah bisa. Progress seperti itu bikin senang,” ceritanya.

Sebagian besar aktivitasnya dilakukan bersama, dari pagi hingga malam hari. Bahkan, ia menunggu anaknya tertidur untuk bekerja dan menyelesaikan tugas kuliah.

“Memang capek fisik dan psikis, sih, tapi sejak dia lahir sampai detik ini, aku senang banget dengan kehadirannya,” tuturnya.

Rencananya, ia ingin mengandalkan keterbukaan dalam mendidik anak dan tidak banyak melarang, tetapi mengedepankan tanggung jawab supaya anaknya belajar berpikir dan memilih.

Masa-masa sulit yang dilalui sejak 2019, mulai dari menghadapi pasangan manipulatif, baby blues, dan perlu menjauhkan diri dari teman-teman selama hamil, mengantar Linda mencapai titik tempatnya berdiri sekarang.

Ibu satu anak ini lebih percaya diri, mampu mengontrol emosi, memprioritaskan banyak hal, bertumpu pada diri sendiri, dan yakin mampu memperbaiki keadaan.

“Bagaimanapun caranya, aku pasti bisa,” ujarnya optimis.

Proyek jurnalistik ini didukung oleh International Media Support.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.