Women Lead
March 22, 2021

Inisiatif Mahasiswa di Kampus Secercah Harapan Hapuskan Kekerasan Seksual

Mahasiswa-mahasiswa di sejumlah kampus di Indonesia giat dan konsisten mendorong kampus bebas kekerasan seksual.

by Selma Kirana Haryadi
Safe Space
laki-laki perlu kontribusi ciptakan kampus aman
Share:

Tidak puas dengan sikap kampus dalam isu kekerasan seksual, Elni Nainggolan, mahasiswa di Universitas Airlangga, Surabaya, kemudian menginisiasi gerakan kolektif mahasiswa yang memperjuangkan regulasi anti kekerasan seksual di kampusnya lewat Lingkar Studi Gender Mahasiswa yang ia ketuai, dan juga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Elni mengatakan bahwa pada masa pandemi dan kuliah daring ini, ada banyak mahasiswa di kampusnya yang mengalami Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), termasuk kekerasan seksual. Hal itu ditemukan dalam survei kelompoknya bersama BEM, yang menunjukkan bahwa dari hampir 300 orang responden, ada sekitar 60 mahasiswa yang mengaku pernah mengalami KBGO.

Meski demikian, ujarnya, pihak kampus tidak memandang KBGO sebagai isu yang serius dan genting, karena diasumsikan tidak terjadi secara langsung di lingkungan kampus.

“Satu korban saja sudah terlalu banyak. Sementara di kampus kami, sudah ada beberapa kasus (kekerasan seksual) yang pernah terjadi,” kata Erni.

Senada dengan Erni, Presiden BEM Universitas Bangka Belitung, Andrew, berupaya membangun kesadaran pihak kampus dan mahasiswa mengenai kekerasan seksual dengan menginisiasi pembentukan kementerian gender dan pemberdayaan perempuan di dalam organisasinya.

Melalui kementerian tersebut, Andrew dan rekan-rekan organisasinya berupaya membuat ruang-ruang diskusi, pengaduan, advokasi, dan edukasi rutin bagi seluruh civitas academica melalui platfrom online dan offline. Agenda lain dari kementerian tersebut adalah mendorong pihak kampus untuk membuat kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, ujarnya.

“Respons mahasiswa terhadap keberadaan dan program kerja Kementerian Gender dan Pemberdayaan Perempuan ini positif banget. Misalnya, waktu kami mengadakan edukasi online mengenai kekerasan seksual di kampus, ramai mahasiswa yang mendaftar dari berbagai kalangan, baik laki-laki maupun perempuan,” jelas Andrew kepada Magdalene.

“Kami juga membentuk posko-posko curhat sebagai tempat mahasiswa yang menjadi penyintas untuk melaporkan hal apa yang mereka alami.”

Baca juga: Bagaimana Ciptakan Kampus Aman dari Kekerasan Seksual

Gerakan Mahasiswa Lawan Kekerasan Seksual Munculkan Optimisme

Andrew dan Elni adalah dua dari sejumlah mahasiswa di berbagai kampus di Indonesia yang menginisiasi gerakan anti-kekerasan seksual untuk menciptakan kampus yang aman.  Mereka menyadari, terwujudnya kampus yang aman dan adil bagi seluruh mahasiswa, terlebih mereka yang pernah menjadi korban kekerasan seksual, turut bergantung pada solidaritas mahasiswa itu sendiri untuk konsisten menyuarakan keadilan dan mendorong pihak kampus, negara, dan pihak-pihak lainnya melakukan langkah-langkah yang tepat sasaran dan berperspektif korban.

Elni dan Andrew, serta 12 mahasiswa lain dari berbagai kampus di Indonesia memaparkan inisiatif-inisiatif mereka dalam lima rangkaian acara Campus Online Talkshow yang diselenggarakan oleh The Body Shop Indonesia bekerja sama dengan Magdalene, sejak 5 Februari 2021 sampai 5 Maret 2021.

Paparan mengenai inisiatif mahasiswa yang sudah dilakukan tersebut menimbulkan optimisme dalam gerakan penghapusan kekerasan seksual. Beragam kegiatan yang mahasiswa lakukan sedikit banyak telah menularkan kesadaran kepada lebih banyak orang akan pentingnya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang tepat sasaran.

Tentunya tidak mudah menjalankan inisiatif-inisiatif ini di tengah benturan kepentingan antar pihak dan perbedaan pendapat.

Andrew dari Universitas Bangka Belitung mengatakan, ada banyak sekali perdebatan mengenai inisiatif anti-kekerasan seksual ini, terutama saat kasus-kasus besar yang mendapatkan ekspos dari berbagai pihak dianggap berdampak pada nama baik kampus.

Wakil Kepala BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, Bali, Oktava Anggara, mengatakan ia sempat merasa kesulitan untuk menggandeng pihak kampus bahkan sebagian mahasiswa itu sendiri untuk berpartisipasi dalam kegiatan kampanye anti-kekerasan seksual.

Sadar bahwa hal itu turut diperparah oleh budaya patriarki yang terlanjur mengakar, Oktava akhirnya memutuskan untuk membuat kegiatan dan program kerja yang setidaknya bisa membuka ruang-ruang diskusi di kalangan mahasiswa.

“Kesalahan berpikir tentang maskulinitas laki-laki ini membuat sulit sekali menyadarkan orang tentang isu kekerasan seksual, meski respons mahasiswa secara umum positif terhadap program kerja kami,” kata Oktava.

Akhirnya kami memulai dengan bekerja sama dengan Serikat Perempuan Indonesia Bali (Seruni Bali) untuk melakukan survei/pendataan kekerasan seksual yang pernah dialami mahasiswa Universitas Udayana. Ini upaya agar mahasiswa lain sadar bahwa kekerasan seksual benar-benar terjadi di kampus kami.”

Baca juga: Kontribusi Laki-laki Penting Agar Kampus Aman dari Kekerasan Seksual

Survei Kekerasan Seksual di Kampus

Sejumlah kampus, selain Universitas Udayana dan Universitas Airlangga, telah melakukan survei untuk mengetahui tentang situasi kekerasan seksual di dalam kampus. Organisasi Girl Up di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, yang berfokus pada advokasi kesetaraan gender dan perubahan sosial, pada 2020 bekerja sama dengan badan eksekutif mahasiswa (BEM) dari sejumlah fakultas di kampus tersebut untuk melakukan survei tentang kekerasan seksual.

Hasilnya, 223 responden dari total 616 responden mengatakan pernah menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual di kampus. Sebanyak 452 responden juga mengaku pernah melihat atau mengetahui kasus kekerasan seksual terjadi. Selain itu, 67,5 persen responden mengatakan merasa terancam dan tidak aman saat belajar di Unpad akibat situasi kekerasan seksual ini.

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kentingan dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta, juga baru-baru ini melakukan sebuah riset mengenai kekerasan dalam pacaran (KDP) di dalam lingkungan mahasiswa UNS.

Menurut Redaktur Riset LPM Kentingan, Ellen Wijaya, survei itu dilakukan atas dasar kekhawatiran terhadap banyaknya teman-teman sebaya mereka yang belum mengetahui jenis-jenis KDP, dan belum ada wadah di kampus yang bisa menampung atau pun menindak lanjuti cerita kekerasan yang mereka alami.

Sebagai lembaga pers mahasiswa, Ellen dan rekan-rekan organisasinya merasa memiliki tanggung jawab untuk membangun kepekaan dan kekritisan mahasiswa di kampus mengenai isu-isu penting seperti kekerasan seksual, ujarnya.

“Selain melakukan survei itu, pada kepengurusan tahun ini kami juga gencar membuat karya-karya jurnalistik serta konten di media sosial yang mengecam segala bentuk kekerasan seksual dan mendorong disahkannya Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS),” kata Ellen.

“Kami tidak menunggu inisiatif kampus karena menurut saya pribadi, pihak kampus kurang cepat dan tanggap dalam merespons keresahan mahasiswa mengenai kekerasan seksual.”

Baca juga: Gerakan Kesehatan Mental di Kampus: Hapus Stigma, Beri Konseling

Di samping segala tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, Presiden Girl Up Universitas Padjadjaran, Bandung, Putri Indy Shafarina, mengatakan pihaknya bersemangat untuk memberikan rasa aman pada seluruh mahasiswa membuatnya akan konsisten mengawal isu kekerasan seksual di kampusnya.

“Apalagi saat ini Girl Up adalah satu-satunya organisasi di Unpad yang jelas menaruh concern dan fokus programnya terhadap isu kekerasan seksual. Jika kami mundur, siapa yang akan melawan kekerasan seksual di Unpad, yang tentunya memakan waktu tidak sebentar?” ujarnya.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.