Women Lead
May 25, 2021

Perundungan Kalis Mardiasih, Atta-Aurel, dan Feminitas Beracun

Perundungan Kalis Mardiasih oleh penggemar Atta-Aurel menunjukkan bagaimana perjuangan para feminis masih jauh dari usai.

by Retno Daru Dewi G. S. Putri
Lifestyle
Kalis dibully karena mengomentari Atta-Aurel
Share:

Pada 20 Mei 2021, melalui akun media sosialnya, penulis dan aktivis gender Kalis Mardiasih menyampaikan empatinya pada selebritas Aurel Hermansyah yang baru saja mengalami keguguran. Tak dinyana, empatinya ini berbuah perundungan masif dari penggemar Aurel dan suaminya, Atta Halilintar, seorang YouTuber terkenal.

Kalis adalah seorang penulis dan aktivis muda Nahdlatul Ulama yang memiliki minat pada isu gender serta feminisme. Perhatiannya terhadap putri dari penyanyi Krisdayanti dan Anang Hermansyah tersebut sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum Atta-Aurel menikah April lalu.

Dalam salah satu tulisannya yang berjudul Surat Terbuka untuk Atta Halilintar yang Pengin Punya 15 Anak, Kalis menyampaikan kekhawatirannya terhadap Aurel yang seolah-olah tidak diberikan ruang untuk merencanakan kehamilan dan mengambil keputusan reproduksinya sendiri. Hal ini dipicu oleh pernyataan Atta yang ingin untuk memiliki belasan anak sebagaimana dia dan saudara-saudara kandungnya di dalam keluarga Halilintar.

Saat Aurel baru mengalami keguguran, Kalis kemudian menyatakan empati dan keprihatinannya. Di Twitter, ia mencuit, “Sejujurnya, simpati mendalam ke aurel hermansyah karena pengalaman reproduksinya dieksploitasi jadi konten terus-menerus.” Di akun Instagramnya, dia menulis, “...dari sebelum pernikahan diharapkan punya anak banyak. setelah menikah testpack setiap hari. sedang payah-payahnya merasakan segala dinamika perubahan hormon dalam tubuh yang tiba-tiba jadi asing, baru saja keguguran langsung dibilang semangat besok pasti punya anak lagi. tak hanya sedih membayangkan segala kelelahan fisiknya, tapi juga batinnya.”

Pernyataan Kalis Mardiasih kemudian ditangkap dan disebar oleh salah satu akun media sosial gosip terkenal di Indonesia. Dari situ lah para penggemar Atta dan Aurel bermigrasi ke akun pribadi milik Kalis dan merundungnya dengan bertubi-tubi di kolom komentar.

Baca juga: ‘Fairy-tale Wedding’ Aurel-Atta dan Frekuensi Publik yang Dicuri

Perundungan Kalis dan Atta-Aurel

Membaca perundungan yang terjadi pada Kalis sungguh sangat melelahkan. Berbagai kesesatan berpikir tertuang di kolom komentar; mulai dari pemahaman feminisme yang keliru, body-shaming yang ditujukan pada suami Kalis, pembelaan patriarki oleh perempuan yang dianggap sahih selama punya suami kaya, penegasan para fanatik bahwa tubuh bukan milik kita melainkan milik Tuhan, hingga akun-akun bodong yang melakukan trolling untuk membela idolanya masing-masing.

Saya harus berhenti dan bernapas sejenak setelah mengumpulkan bukti-bukti perundungan tersebut. Sebagai pengikut, membacanya saja sudah menguras energi, apalagi Kalis yang gawainya selalu memunculkan notifikasi dari komentar-komentar beracun tersebut.

Melihat fenomena tersebut, saya melihat ada dua permasalahan yang harus segera diselesaikan. Pertama, idola-idola dengan pengaruh buruk seharusnya tidak diberi ruang. Sekuat-kuatnya kita berjuang demi keadilan dan kesetaraan, akan sulit apabila panggung yang kita dapatkan tidak sebesar mereka yang dapat mendatangkan banyak uang. Selain itu, berbagai macam media tidak akan pernah berhenti menyajikan informasi tentang figur-figur yang mampu memberikan mereka keuntungan.

Sayangnya, tidak semua pengguna media mampu memilah-milah informasi yang sehat dan tidak. Hal ini berhubungan dengan masalah yang kedua yaitu pendidikan. Minat baca Indonesia yang rendah, berdasarkan riset UNESCO, ternyata semakin memburuk jika disandingkan dengan cepatnya perkembangan teknologi digital. Kita memiliki pekerjaan rumah untuk mengejar ketertinggalan dalam literasi digital maupun pendidikan formal di bangku sekolah. Selain itu, orang tua yang tidak sanggup menyaring tayangan yang dinikmati anak adalah juga sumber keresahan saya.

Jika mereka mengizinkan anak-anak untuk menikmati tayangan serta idola yang bermodal sensasi dan mengumbar privasi, maka generasi seperti apa yang nanti akan mewarnai Indonesia ke depannya? Apalagi Atta Halilintar sempat tersangkut kasus pelecehan seksual dengan seorang DJ berinisial BF dan menyatakan kesesatan berpikir bahwa suara suami adalah suara Tuhan. 

Baca juga: 4 Alasan Mengapa Ujaran ‘Suara Suami Suara Tuhan’ Bermasalah

Feminitas Beracun dan Perjuangan Feminis yang Masih Panjang

Kembali kepada Kalis Mardiasih, baik figur publik yang berpotensi memberikan pengaruh buruk dan orang-orang yang tidak mampu menyaring informasi digital adalah penyebab perundungan yang dialami olehnya. Sayangnya, dari berbagai komentar yang saya baca, mayoritas berasal dari perempuan juga. Ironis bagi Kalis yang pernah menulis artikel yang berjudul Mengapa Perempuan Menyakiti Sesama Perempuan?, yang menjelaskan istilah toxic femininity atau feminitas beracun secara gamblang.

Perempuan yang menganut feminitas beracun tidak akan memahami bahwa mereka memiliki pilihan. Ide-ide usang seperti membahagiakan laki-laki menjadi nilai yang mereka anut. Mereka yang membela Atta Halilintar tentu akan mewajarkan Aurel yang tidak diberi ruang untuk menyampaikan pilihan dan pemahaman akan proses reproduksinya sendiri. Selain itu, feminitas beracun tidak mau memahami bahwa sekarang perempuan bisa menunda kehamilan setelah menikah demi mengejar cita-cita mereka yang lainnya. Dekonstruksi konsep sosial seperti ini membingungkan bagi pola pikir mereka yang sulit berkembang. Hal ini diperburuk dengan tersalurkannya ide-ide usang mereka kepada generasi-generasi selanjutnya yang dimulai dari anak-anak mereka.

Dengan eksistensi feminitas beracun yang tidak bisa dipastikan kapan menghilangnya, perjuangan para feminis tidak akan pernah usai. Mengikuti Women’s March, menulis, mengunggah, menghadiri seminar, dan mengikuti figur-figur pejuang gender dan kesetaraan mungkin hanya beberapa dari banyaknya bentuk perjuangan yang bisa kita lakukan.

Membela figur seperti Kalis Mardiasih juga dapat menjadi salah satu solusi. Namun berseteru di kolom komentar mungkin bukan metode yang sehat. Tetap membaca karya-karyanya dan berdiskusi dengan orang-orang terdekat dapat kita mulai sebagai cara lain dalam meneruskan perjuangan menuju kesetaraan. Sehingga walaupun pergerakan kita terbatas, bentuk perlawanan terhadap pola pikir patriarki tetap dapat kita lakukan.

Semoga Kalis dan pejuang-pejuang lainnya tidak akan menyerah oleh perundungan dan tetap semangat melanjutkan perjalanan panjang kita demi kemanusiaan yang lebih baik di negeri ini. 

Daru adalah pengajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Internasional, Universitas Indonesia. Topik-topik yang diminatinya berkaitan dengan isu gender, kesehatan mental, filsafat, bahasa, dan sastra.