Women Lead
June 10, 2021

Ketakutan Berhenti Bekerja dan Jadi Ibu Rumah Tangga

Apakah orang-orang akan lebih mendukung keputusan seorang laki-laki untuk mengikuti istri ke luar negeri dan menjadi bapak rumah tangga?

by Askarina Bintari
Lifestyle
Beratnya beban menjadi ibu
Share:

Memasuki usia 25 tahun, saya mengambil langkah berani sekaligus menakutkan untuk berhenti dari pekerjaan dengan gaji tinggi di Indonesia. Saya menjadi pengangguran secara sukarela dan pergi ke Eropa untuk dapat bersama suami. Meskipun keputusan itu benar-benar menakutkan, kebanyakan orang yang saya temui tampaknya menganggap gagasan “istri berhenti dari pekerjaannya agar bisa bersama suami adalah normal, bahkan justru diharapkan”.

"Akhirnya! Apa lagi yang kamu cari di sini? Kamu sudah menikah sekarang dan harus bersama suamimu. Itu lah yang penting," kata mantan rekan saya.

Sebelas dua belas, mantan manajer saya juga mengungkapkan hal yang sama ketika saya menyerahkan surat pengunduran diri. Dia mendoakan saya dan memberi beberapa nasihat pernikahan dengan mengatakan, “Kehidupan pernikahan itu sulit karena kamu adalah seorang istri sekarang. Saya paham, keluarga tetap utama meskipun pekerjaanmu juga penting.”

Baca juga: Sulitnya Gapai Impian Setelah Jadi Ibu

Saya mengerti maksud baik mereka dan sangat menghargainya. Namun, sebenarnya saya penasaran, apakah mereka masih mendukung jika saya adalah laki-laki yang berhenti dari pekerjaannya untuk bersama istri?

Tidak ada yang benar-benar meminta saya untuk berhenti dari pekerjaan, bahkan suami sendiri. Itu adalah pilihan yang saya ambil dengan penuh keraguan. Pertimbangannya cuma saya enggan menjalani pernikahan jarak jauh lebih panjang, sehingga beberapa pengorbanan pun akhirnya harus dilakukan.

Keraguan dan frustrasi itu terus menghantui saya selama berbulan-bulan. Jika saya memilih berdekatan dengan suami, itu artinya saya harus siap menganggur. Sebaliknya, jika saya memenangkan pekerjaan, saya akan berjauhan dengan suami. Begitu akhirnya saya memutuskan tinggal di negara asing bersama suami, hal  ini otomatis mengubah saya menjadi ibu rumah tangga yang kelelahan.

Menjadi ibu rumah tangga sebenarnya bukan sebuah kegagalan, sepanjang mereka berada di kondisi leluasa untuk membuat pilihan. Namun, selama ini yang terjadi adalah, perempuan terpaksa (baca: dipaksa) menjalani peran itu karena budaya kita memang menempatkan laki-laki di posisi pencari nafkah, sedangkan perempuan berada di ranah domestik. Lagi-lagi harus saya tegaskan, saya menghormati pekerjaan ibu rumah tangga dan saya tidak mengatakan ini untuk menurunkan pilihan hidup dan perjuangan mereka, tetapi saya tidak ingin menjadi ibu rumah tangga.

Baca juga: Pilihan atau Tuntutan: Refleksi 2 Ibu Rumah Tangga

Pola pikir ogah menjadi ibu rumah tangga ini sebenarnya berakar dari pengalaman saya sejak kecil. Saat itu, yang saya lihat, semua hal buruk terjadi pada hampir semua ibu rumah tangga di keluarga dan lingkungan tempat saya dibesarkan. Mayoritas perempuan di keluarga besar saya bergantung pada suami untuk jaminan keuangan dan sosial, tetapi, sayangnya, sebagian besar suami mereka tidak memenuhi peran tradisional menghadirkan keamanan. Sehingga tak jarang para suami memaksa istri untuk mengisi kekosongan tersebut.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Para istri ini tak hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi juga ditipu dan dipaksa untuk meminjam uang dari lintah darat. Mereka dikondisikan untuk makan seadanya agar anak-anak mendapat jatah makanan lebih baik; mereka menderita masalah kesehatan yang dipicu oleh stres berat; sementara untuk bekerja pun tak mampu karena pengalaman yang minim.

Saya tidak menyalahkan para ibu rumah tangga yang kebetulan adalah kerabat saya ini. Sebaliknya, saya merasa kasihan pada mereka sekaligus marah pada laki-laki yang mengecilkan (peran) istrinya.

Baca juga: Setara di Kasur, Mulai dari Sumur dan Dapur

Itulah sebabnya saya tanpa sadar berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengikuti jejak mereka dan memprioritaskan pengembangan diri, karier, dan kebebasan finansial, baik ketika punya suami atau tidak. Pasalnya, pemisahan peran laki-laki dan perempuan di rumah tangga adalah hal yang basi. Bagaimana tidak, pengalaman masa kecil saya menampilkan banyak contoh, betapa laki-laki bisa gagal mencari nafkah dan perempuan mampu berdaya menjadi penyokong ekonomi keluarga

Jadi, ketika orang-orang mendukung pilihan saya untuk berhenti dari pekerjaan, mungkin saya hanya takut dimasukkan ke dalam pemisahan semacam ini. Meskipun saya tahu suami melihat saya sebagai pasangan yang setara dalam institusi pernikahan, trauma yang bersumber dari cerita perempuan di sekitar saya itu tetap mengganggu pikiran saya.

Kini, selangkah demi selangkah, saya mencoba menyembuhkan trauma masa kecil tersebut. Saya berusaha membangun hubungan suami-istri yang sehat dan setara, baik dengan menjadi ibu rumah tangga maupun sebagai perempuan pekerja.

Saya tahu, perubahan struktural diperlukan untuk meningkatkan daya tawar perempuan dalam rumah tangga. Sekarang, sebagai seorang istri, saya harus berdamai dengan harapan saya sendiri dan perempuan lain yang sudah menikah di luar sana. Sebab, pada akhirnya, dengan menyesal saya harus bilang, perubahan hanya bisa dimulai dari dalam diri kita.


Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari
versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Askarina Bintari menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempersoalkan representasi media tentang perempuan dan ketidaksetaraan berbasis gender. Dia juga yakin sedang mengalami krisis seperempat abad dan mencoba menguraikannya lewat tulisan.