UWRF 2026 Ajak Masyarakat Menumbuhkan Empati dan Mendorong Perubahan Lewat Sastra
Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-23 akan digelar pada 21–25 Oktober 2026 di Ubud, Bali, dengan mengusung tema Samarasā: Awareness. Empathy. Action. Festival ini mempertemukan penulis, pembaca, seniman, pemikir, dan pegiat budaya dari Indonesia maupun dunia untuk mengeksplorasi bagaimana sastra dan budaya dapat membangun kesadaran, menumbuhkan empati, serta mendorong tindakan nyata.
Berakar dari bahasa Sanskerta, Samarasā mengandung gagasan tentang keseimbangan dan keselarasan. Melalui tema ini, UWRF mengajak masyarakat untuk lebih memahami lingkungan sekitar, mendengarkan pengalaman orang lain, dan menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Ubud Writers & Readers Festival 2025: Merayakan Keragaman dan Penulis Indonesia pada Dunia
Pendiri sekaligus Direktur UWRF, Janet DeNeefe, mengatakan festival ini berawal dari upaya membantu masyarakat pulih setelah tragedi bom Bali. Semangat untuk mempertemukan orang, membuka percakapan, dan membangun kebersamaan terus menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival.
Tahun ini, beragam program UWRF akan mengangkat isu sejarah, budaya, gender, hingga perkembangan teknologi. Akademisi dan praktisi spiritualitas Nusantara, W. Mustika, akan menghadirkan Walking the Sacred Cycle, sebuah perjalanan berpemandu ke dua pura di Ubud untuk mengenal tradisi Bali tentang kehidupan dan kematian. Sementara itu, praktisi kreatif Marlowe Bandem akan terlibat dalam diskusi tentang kecerdasan buatan dan pengaruhnya terhadap pengetahuan serta pemikiran kritis.
UWRF juga memberikan ruang bagi suara generasi baru melalui Emerging Writers Programme. Salah satunya adalah Nityasa Wijaya, penulis Perempuan Buah Langit yang mengangkat pengalaman perempuan dalam masyarakat patriarkal. Melalui program ini, festival turut menghadirkan karya dan perspektif penulis generasi baru dalam pertemuan sastra lintas latar belakang.
Selain itu, musisi Baskara Putra akan membahas perjalanan musiknya bersama .Feast dan Hindia. Festival ini juga menghadirkan diskusi tentang kebebasan berpendapat, peluncuran buku, pemutaran film, pertunjukan teater, dan pembacaan puisi.
Baca juga: ‘Writers Behind Bars’: Kala Kebenaran Seharga Kurungan Jeruji Besi
Secara keseluruhan, lebih dari 200 program akan berlangsung selama lima hari, termasuk ratusan kegiatan gratis dan 49 peluncuran buku. Rangkaian festival juga mencakup pameran Samarasā di Indus Restaurant pada 11–26 Oktober 2026.
Melalui rangkaian program tersebut, UWRF mengajak masyarakat menjadikan sastra dan budaya sebagai ruang untuk saling mendengarkan, memahami perbedaan, dan menemukan titik temu sebagai sesama manusia. Tema Samarasā: Awareness. Empathy. Action. menjadi landasan festival untuk menghubungkan kesadaran dan empati dengan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.





















