Saat Si Anjing Polisi Menertibkan Kerusuhan: Membaca Otoritas dalam ‘Safety Sheriff Labrador’
Foto: Netflix
Ada pola yang nyaris selalu berulang dalam Safety Sheriff Labrador.
Sesuatu terjadi. Warga kota melakukan kesalahan. Misalnya: kecelakaan, konflik, atau situasi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Warga lain panik, bingung, atau tidak tahu harus berbuat apa. Lalu Labrador datang.
Ia adalah kepala polisi, seekor anjing yang bekerja sebagai penjaga keselamatan sekaligus pelindung komunitas hewan. Ketika kekacauan muncul, Labrador biasanya tidak ikut panik. Ia mengamati situasi, mencari tahu apa yang terjadi, menemukan bagian yang janggal, menjelaskan aturan yang berlaku, lalu menentukan apa yang harus dilakukan.
Masalah selesai. Kota kembali tertib.
Pola itu sederhana. Tapi, karena terus diulang, ia jadi menarik. Diproduksi oleh BabyBus Animation dan didistribusikan gratis melalui YouTube, Safety Sheriff Labrador pada permukaannya adalah tontonan edukatif untuk anak-anak. Serial ini mengajarkan keselamatan, tanggung jawab, dan perilaku yang dianggap baik melalui cerita-cerita pendek tentang keseharian komunitas hewan.
Namun, cerita yang tampak sederhana itu sebenarnya punya lapisan lain. Hampir setiap kali sesuatu berantakan, ada satu sosok yang datang untuk membereskannya. Dan sosok itu adalah kepala polisi.
Ketika kekacauan membutuhkan seseorang yang tahu jawabannya, warga kota dalam serial ini tidak selalu digambarkan sebagai pihak yang mampu menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Mereka bisa salah memahami keadaan, mengambil keputusan yang keliru, panik menghadapi masalah, atau sekadar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketika itulah Labrador masuk.
Ia tahu apa yang terjadi ketika yang lain belum tahu. Ia memahami aturan ketika yang lain kebingungan. Ia mengambil keputusan ketika yang lain menunggu. Ia juga memiliki legitimasi institusional untuk memastikan keputusan itu dipatuhi.
Dengan demikian, struktur ceritanya tidak hanya membentuk oposisi antara masalah dan penyelesaian. Ia juga berulang kali mempertemukan dua posisi sosial: mereka yang tahu dan mereka yang perlu diberi tahu; mereka yang bertindak dan mereka yang menunggu; mereka yang melindungi dan mereka yang dilindungi.
Di sinilah pembacaan gender jadi menarik. Sebab otoritas Labrador tidak hadir sebagai sesuatu yang sepenuhnya netral. Ia diwujudkan melalui seperangkat karakteristik yang dalam banyak kebudayaan telah lama diasosiasikan dengan maskulinitas konvensional: rasionalitas, ketegasan, kompetensi, kontrol, keberanian menghadapi bahaya, serta kemampuan untuk melindungi orang lain.
Bahkan pekerjaannya memperkuat asosiasi itu.
Labrador bukan sekadar warga yang kebetulan pandai memecahkan masalah. Ia adalah polisi. Seragam, jabatan, kewenangan, dan kemampuan fisiknya membuat posisi sosialnya berbeda dari warga yang ia bantu. Ia tidak hanya datang untuk menolong. Ia datang sebagai seseorang yang berwenang untuk menentukan bagaimana pertolongan itu harus dilakukan.
Baca juga: Penculikan hingga Manipulasi Hukum: Praktik Kusut Polisi dalam Perburuan Aktivis
Pelindung yang Juga Mengatur
Gagasan Michel Foucault tentang governmentality membantu membaca pola tersebut. Kekuasaan tidak selalu bekerja melalui hukuman atau paksaan. Ia juga bekerja dengan mengatur perilaku: menentukan apa yang dianggap aman, benar, normal, bertanggung jawab, dan bagaimana seseorang seharusnya bertindak.
Labrador bekerja dengan cara seperti itu. Ia menjelaskan mengapa sesuatu berbahaya. Ia menunjukkan aturan yang dilanggar. Ia mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan lain kali. Dengan begitu, keselamatan tidak hanya menjadi persoalan menghindari kecelakaan. Keselamatan juga menjadi cara untuk mengajarkan perilaku.
Anak-anak tidak sekadar diberi tahu bahwa mereka harus berhati-hati. Mereka diperlihatkan siapa yang memiliki pengetahuan tentang kehati-hatian, siapa yang berhak menjelaskan aturan, dan kepada siapa aturan itu harus didengarkan.
Tentu saja, mengajarkan anak untuk mencari bantuan ketika berada dalam situasi berbahaya bukan sesuatu yang problematis. Anak memang perlu tahu kapan harus meminta pertolongan dan kepada siapa.
Persoalannya muncul ketika pola itu terus-menerus direpresentasikan dengan bentuk yang sama: masalah muncul, masyarakat gagal mengatasinya, figur otoritatif datang, lalu keteraturan dipulihkan.
Dalam pola tersebut, perlindungan dan kontrol menjadi sulit dipisahkan. Labrador melindungi karena ia memiliki kemampuan untuk mengatur. Dan ia dapat mengatur karena ia ditempatkan sebagai pelindung. Siapa yang boleh menjadi kuat?
Baca juga: Sejarah Mencatat TNI Sama Represifnya dengan Polisi: Anak Muda Wajib Mengkritisi
Membaca Posisi Warga
Yang menarik kemudian bukan hanya Labrador, tetapi juga posisi warga yang berada di sekelilingnya.
Mereka lebih sering hadir sebagai pihak yang membutuhkan bantuan, koreksi, pengawasan, atau penyelamatan. Mereka memiliki masalah yang kemudian diselesaikan oleh seseorang yang lebih tahu. Jika pola ini dibaca berulang-ulang, terbentuk sebuah hierarki yang cukup familiar: di satu sisi ada figur yang aktif, rasional, kompeten, dan mampu mengambil kendali; di sisi lain ada mereka yang rentan, membutuhkan arahan, dan menunggu intervensi.
Karakter-karakter dalam serial ini memang tidak selalu secara eksplisit dibagi berdasarkan gender. Namun, representasi gender tidak selalu bekerja dengan cara menghadirkan perempuan dan laki-laki dalam peran yang berbeda secara terang-terangan.
Ia juga bisa bekerja melalui atribut sosial yang kita lekatkan pada tubuh dan karakter tertentu. Siapa yang selalu menjadi pemecah masalah? Siapa yang diberi kewenangan? Siapa yang diperbolehkan menunjukkan ketidakpastian? Siapa yang harus menunggu? Siapa yang melindungi dan siapa yang dilindungi?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting karena Labrador terus-menerus menjadi model dari bentuk kepemimpinan tertentu. Ia tidak hanya menunjukkan bahwa pemimpin harus bertanggung jawab. Ia juga menawarkan gambaran tentang seperti apa seorang pemimpin yang efektif: seseorang yang tahu, tegas, mampu mengambil alih keadaan, dan sanggup menjaga orang lain tetap aman.
Yang lebih jarang terlihat adalah bentuk kepemimpinan yang dibangun melalui negosiasi, kepedulian, kerja kolektif, kecerdasan emosional, atau kemampuan mengakui bahwa seseorang tidak selalu memiliki jawabannya sendiri.
Bukan berarti kualitas-kualitas itu tidak ada sama sekali. Pertanyaannya adalah: seberapa sering anak-anak melihatnya sebagai sumber otoritas? Padahal kan, keselamatan tidak harus selalu datang dari satu orang
Di sinilah pembacaan terhadap Safety Sheriff Labrador perlu berhati-hati.
Menunjukkan seorang polisi yang membantu warga bukan dengan sendirinya berarti serial ini mengajarkan maskulinitas toksik atau kepatuhan buta terhadap otoritas. Kesimpulan seperti itu terlalu jauh.
Anak-anak membutuhkan cerita tentang orang yang menolong. Mereka juga membutuhkan cerita tentang aturan, keselamatan, konsekuensi, dan tanggung jawab. Perlu kita perhatikan: ketika satu bentuk pertolongan menjadi begitu dominan sehingga bentuk-bentuk lainnya nyaris tidak memiliki ruang.
Bagaimana jika sebuah masalah diselesaikan bukan karena satu tokoh otoritas datang dan mengambil alih, tetapi karena warga bekerja sama? Bagaimana jika keselamatan lahir dari negosiasi di antara mereka? Bagaimana jika kepemimpinan berarti mendengarkan sebelum memberi instruksi?
Bagaimana jika seorang tokoh yang sedang kebingungan tidak selalu harus diselamatkan, tetapi diberi ruang untuk mencoba, gagal, bernegosiasi, dan menemukan jalan keluar bersama orang lain?
Pertanyaan semacam ini mungkin terdengar kecil ketika berhadapan dengan sebuah kartun anak-anak.
Tetapi justru karena ia kecil dan berulang, ia penting. Media anak-anak tidak hanya memberi tahu anak bahwa menyeberang jalan harus hati-hati atau bahwa bermain dengan benda tertentu bisa berbahaya. Media juga memperkenalkan cara membayangkan hubungan sosial: siapa yang bisa dipercaya, siapa yang dianggap tahu, siapa yang membuat keputusan, dan seperti apa seseorang ketika ia memiliki kekuasaan.
Anak-anak belajar bukan hanya dari dialog. Mereka juga belajar dari siapa yang datang ketika semua orang panik.
Ini bukan persoalan: apakah Labrador adalah tokoh baik atau buruk. Ia jelas dirancang sebagai tokoh yang membantu. Ia hadir untuk membuat dunia di sekelilingnya terasa lebih aman. Dan mungkin justru karena itulah representasinya menarik untuk diperhatikan.
Sebab figur pelindung selalu membawa dua kemungkinan sekaligus: ia bisa membuat seseorang merasa aman, tetapi ia juga bisa menjadi sosok yang menentukan seperti apa keamanan itu harus didefinisikan.
Baca juga: #WargaBantuWarga: Solidaritas yang Tumbuh di Tengah Represi dan Tuduhan Makar
Dalam Safety Sheriff Labrador, kedua hal tersebut berjalan beriringan. Labrador melindungi sekaligus mengatur. Ia mengajarkan sekaligus menentukan. Ia membantu sekaligus menjadi pihak yang memiliki jawaban.
Ketika pola itu terus berulang, maskulinitas dan otoritas perlahan dapat tampak seperti sesuatu yang alamiah: orang yang kuat adalah orang yang memimpin; orang yang tahu adalah orang yang menentukan; orang yang mampu adalah orang yang melindungi.
Sementara itu, kerentanan lebih mudah ditempatkan di sisi lain dari hubungan tersebut—sebagai kebutuhan untuk diarahkan, diselamatkan, atau dilindungi.
Mungkin karena itu pertanyaan yang lebih menarik untuk orangtua, guru, dan peneliti media bukan sekadar, “Apakah tontonan ini aman untuk anak?”
Melainkan: “Seperti apa dunia yang sedang kita ajarkan kepada mereka, ketika kita menunjukkan bagaimana cara menjadi aman dan tertib?”
Mungkin sudah waktunya mereka juga diperkenalkan pada kemungkinan bahwa mereka sendiri dapat menjadi pelindung—bukan dengan menjadi lebih kuat dari yang lain, tetapi dengan belajar menjaga satu sama lain.
Jordy Satria Widodo adalah dosen Sastra Inggris di Universitas Pakuan, Indonesia. Minat penelitiannya meliputi film, musik, media, dan kajian budaya, khususnya kelas, identitas, dan budaya populer. Karyanya mengeksplorasi sinema Indonesia, media audiovisual, fandom, musik, serta praktik budaya kontemporer melalui perspektif interdisipliner dan kritis dalam berbagai konteks sosial.
Padel M. Rallie Rivaldy mengajar di Universitas Pakuan Bogor, menyunting di Footnote Press, dan meneliti di METRUM. Topik penelitiannya meliputi kajian sastra dan kajian budaya. Ia pernah terlibat dalam proyek buku “Dari Ngak Ngik Ngok ke Dheg Dheg Plas: Perjalanan Musik Pop Indonesia 1960-1969” bersama Irama Nusantara.
Viera Rachmawati adalah mahasiswa Magister Komunikasi Digital dan Media di IPB University, Indonesia. Minat akademiknya meliputi komunikasi digital, media digital, kajian audiens, dan literasi media. Ia meneliti bagaimana platform digital membentuk praktik komunikasi, keterlibatan audiens, konsumsi media, interaksi sosial, serta perkembangan tren komunikasi dalam masyarakat kontemporer yang semakin terkoneksi.





















