Women Lead
August 10, 2021

Mengenal Seksisme dan Contoh-contohnya yang Sering Tidak Disadari

Seksisme terjadi di mana saja dalam keseharian kita dan sering kali orang tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi pelaku atau korban tindakan seksis.

by Kevin Seftian
Lifestyle
Patriarki_Seksisme_Misoginis_KarinaTungari
Share:

Kita pasti sering mendengar penyataan seksis seperti laki-laki lebih bagus jadi pemimpin dibanding perempuan. Ini karena laki-laki dianggap lebih mampu berpikir secara logis, sementara perempuan lebih mengutamakan perasaan atau emosi.

Pernyataan di atas bisa kita temui di rumah, sekolah, ataupun di tempat kerja. Pernyataan ini akan menyudutkan perempuan dan menganggap bahwa laki-laki lebih berhak memperoleh posisi penting dalam masyarakat.

Pemikiran seperti pembagian jenis kelamin serta peran gender itu secara sadar atau tidak sudah ditanamkan kepada anak-anak, dari ia kecil sampai beranjak dewasa. Bahkan, dalam buku pelajaran TK atau SD terdapat bias gender seperti soal pembagian pekerjaan yang sesuai untuk jenis kelamin tertentu. Sebagian pekerjaan dan karakter dianggap sesuai untuk laki-laki dan tidak cocok untuk perempuan, demikian juga sebaliknya.

"Ibu bekerja di dapur, sementara ayah membetulkan mobil. Ibu mencuci piring. Ayah pergi ke kantor." Dikutip dari tulisan Billah Nurlaili Zulmi dan Refti Handini Lisytani yang dimuat di Jurnal Paradigma, bias gender semacam ini masih terdapat di buku pelajaran di sekolah. Pemahaman bahwa ada pembagian gender yang kaku dalam level yang parah bisa melahirkan seksisme.

Apa itu Seksisme?

Dikutip dari situs European Institute for Gender Equality, seksisme berkaitan dengan kepercayaan fundamental tentang hal alamiah dari perempuan dan laki-laki, serta bagaimana mereka berperan dalam masyarakat. Anggapan seksis diwujudkan melalui stereotip gender di mana satu gender dipandang lebih unggul dibanding gender lainnya. Akibat pandangan seksis, terjadi diskriminasi dalam berbagai ranah kehidupan.

Baca juga: Magdalene Primer: Perbedaan Misogini dan Seksisme

Seksisme bisa ada dalam diri laki-laki atau perempuan, namun yang sering terjadi korban adalah kaum perempuan di kehidupan bermasyarakat.

Misalnya, seperti anggapan yang sudah dibahas tadi, bahwa laki-laki lebih bisa jadi seorang pemimpin, sementara perempuan dianggap kurang kompeten. Laki-laki harus berperan sebagai kepala keluarga yang memberikan nafkah, sementara perempuan tidak usah bekerja dan lebih baik mengurus rumah tangga saja. 

Anggapan lain terkait seksisme adalah percuma perempuan sekolah tinggi-tinggi, karena nantinya juga cuma bekerja di dapur. Anggapan seperti ini yang membuat orang tua jadi berpikir buat apa menyekolahkan anak perempuan tinggi-tinggi karena akhirnya hanya menghabiskan uang saja.

Contoh Seksisme di Kehidupan Sehari-hari

Mulai dari permasalahan kesenjangan upah sampai memberikan kesempatan perempuan untuk bisa mengakses pendidikan, masih banyak yang harus kita capai dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

Memang susah untuk bisa menghilangkan seksisme yang sudah mengakar di masyarakat. Berikut ini contoh seksisme yang terjadi sehari-hari dan cara menanggapinya.

Pelecehan Verbal hingga Fisik terhadap Perempuan

Menurut survei dari Stop Street Harassment, ada 81 persen perempuan mengalami pelecehan seksual di tempat umum dan di media sosial. Bentuk pelecehan ini beragam mulai dari catcalling, sentuhan tidak diinginkan, kata-kata bermuatan seksual, hingga komentar soal bagian tubuh seseorang.

Baca juga: Stop Jadikan Humor Seksis Wajar

Pelaku biasanya beralasan bahwa saat mereka mengomentari tubuh seseorang atau memanggil “cantik”, sebenarnya mereka sedang memberikan pujian atau bercanda. Tetapi sebenarnya itu merupakkan tindakan pelecehan ketika yang menerimanya merasa risi atau bahkan ketakutan. Jika kamu pernah dilecehkan seperti ini atau melihat langsung kejadian ini menimpa orang lain, jangan ragu untuk menegur.

Perempuan Sering Diminta Mengerjakan Perkerjaan Tidak Sesuai Jobdesc

Praktik seksisme di kantor yang sering terjadi adalah perempuan sering diminta untuk mengatur jadwal, membuatkan kopi untuk klien, padahal itu tidak ada dalam jobdesc-nya. Hal itu terjadi hanya karena pekerjaan itu dianggap identik dengan perempuan. 

Dikutip dari Future Women, perempuan sering dipaksa untuk melakukan pekerjaan tidak sesuai jobdesc-nya tetapi dengan gaji yang lebih rendah dibanding laki-laki bukanlah hal langka. Ada sebuah penelitian yang menemukan bahwa perempuan memikul sebagian besar tanggung jawab pekerjaan rumah tangga kantor. Saat mereka bersedia mengerjakan pekerjaan tersebut, mereka tidak mendapat kenaikan gaji, dan kalau mereka menolak, mereka akan dilihat tidak baik oleh atasan atau rekan kerja.

Victim Blaming yang Jamak Dialami Kaum Perempuan

Perempuan sering disalahkan atau menjadi korban victim blaming saat kekerasan seksual menimpanya. Sementara, laki-laki yang menjadi pelaku kekerasan tersebut kerap kali dimaklumi atau bahkan tindakannya tidak dianggap sebagai suatu kesalahan. 

Ketika perempuan ditanya, “Kamu memakai apa waktu hal itu terjadi?”, “Kamu senang/menikmatinya enggak?” atau “Bagaimana perilakumu sampai bisa membuat laki-laki tergoda dan melakukan kekerasan itu?”, hal itu menunjukkan sikap seksis yang menyudutkan perempuan, padahal ia sedang menjadi korban.

Baca Juga: Memahami ‘Consent’ Lebih Jauh untuk Penyelesaian Kasus Kekerasan Seksual

Berbeda dengan laki-laki, perempuan menjadi pihak yang harus selalu waspada dan menjaga sikap serta penampilannya jika tidak mau mengalami pelecehan atau pemerkosaan. Padahal, yang harusnya disalahkan bila hal itu terjadi adalah sepenuhnya si pelaku. 

Perempuan tidak semestinya selalu merasa cemas dan menjaga sikap dan penampilannya seperti bagaimana masyarakat kebanyakan mengharapkannya agar tidak menerima kekerasan seksual. Pasalnya, bisa hidup dengan aman merupakan hak setiap orang.

Pertanyaan-pertanyaan Mengganggu Berdasarkan Peran Gender Tradisional

Saat perempuan sudah berumur 20 sampai 30 tahun, pasti orang-orang yang ada di sekitarnya yang menanyakan kapan ia menikah. Di Indonesia, saat seorang perempuan sudah mencapai umur 30 tetapi belum juga menikah, ia akan dibilang perawan tua, dicap "tidak laku", atau diingatkan bahwa dirinya punya “expired date”. Hal serupa lebih sedikit dialami oleh laki-laki. 

Saat perempuan tersebut sudah menikah, pertanyaan mengganggu akan berlanjut ke kapan punya anak, seolah-olah perempuan dinilai dari kemampuannya untuk punya anak. Saat pasangan belum kunjung punya anak karena masalah kemandulan, perempuan yang sering disalahkan pertama kali. Lalu bila si perempuan bekerja, akan ada saja orang yang menyalahkan pilihannya menjadi perempuan pekerja yang terlalu sibuk sehingga sulit mengusahakan punya anak.

Ketika ada di dunia kerja, tidak jarang juga perempuan-perempuan hebat ditanyai, “Bagaimana kamu menyeimbangkan kehidupan kerja dan rumah tangga, serta mengurus anak-anak?”. Sementara, pertanyaan sejenis lebih jarang kita dengar dilontarkan kepada laki-laki.

Pujian yang Merendahkan Perempuan

Di bidang pekerjaan yang didominasi oleh kaum adam seperti teknologi, olahraga atau bahkan musik, perempuan sangat sering mendapatkan pujian dalam bentuk seperti ini "Buat ukuran cewek, kamu termasuk jago juga…". Banyak laki-laki yang melontarkan kalimat ini untuk mengakui kalau perempuan juga sebenarnya bisa mengerjakan pekerjaan tersebut, yang ujung-ujungnya mempertahankan keyakinan seksis laki-laki.

Baca Juga: Tips Ampuh Anti Misoginis-misoginis Klub

Contohnya di dunia game yang didominasi laki-laki, perempuan yang jago kerap mendapat komentar seperti itu, seakan-akan perempuan tidak bisa punya kemampuan yang sepadan dengan laki-laki. Atau bila perempuan bisa mengerjakan hal-hal terkait mesin atau cemerlang di bidang sains, akan ada orang yang membawa-bawa gendernya saat melontarkan pujian. Padahal, terlepas dari gender apa pun, seseorang patut dipuji berdasarkan kapasitas dirinya.