‘Defying Silence Together’ UWRF 2026: Kala Fakta Dibungkam, Solidaritas Harus Bicara
Foto: Satya/Ubud Writers and Readers Festival 2026
Pada dini hari 2 Desember 2020, Amanda Echanis tengah menyusui bayinya yang baru berusia satu bulan. Tiba-tiba, lebih dari 500 personel gabungan militer dan polisi bersenjata mengepung dan mendobrak rumahnya di Baggao, Provinsi Cagayan, Filipina. Tanpa perintah penggeledahan, aparat masuk ke kamarnya dan mendapati Amanda hanya berbalut handuk sambil mendekap bayinya erat-erat. Situasi itu menjadi awal dari penangkapan yang mengubah hidupnya.
Aparat yang curiga Amanda menyembunyikan sesuatu di balik gendongan, langsung melontarkan teguran keras. Adu mulut pun tak terhindarkan ketika mereka memintanya menyerah. “Saya bilang, ‘Tidak, saya cuma sedang menyusui anak saya.’ Saya lalu memperlihatkannya secara langsung kepada mereka.”
Amanda lantas meminta aparat tidak mendekat dan mempertanyakan dasar hukum penggerebekan tersebut. Namun, polisi tetap bertahan dengan alasan masih menunggu surat penggeledahan dan kedatangan pejabat setempat. Penggeledahan baru dilakukan pada pagi hari setelah pejabat desa tiba, ketika aparat mengklaim menemukan senjata di dalam rumahnya.
Baca juga: Disinvited, Suspended, Sanctioned: The Cost of Speaking Up for Palestine
“Mereka bilang menemukan senapan serbu M16, magasin, amunisi, serta dua granat di dalam rumah. Mereka jelas menanamkan bukti di rumah saya karena tidak mungkin saya memiliki senjata tajam,” ucap Amanda.
Temuan ini bikin Amanda didakwa atas kepemilikan senjata api dan bahan peledak secara ilegal. Ia juga dilabeli sebagai pejabat tinggi New People’s Army (NPA), sayap bersenjata kelompok komunis di Filipina. Tuduhan terhadapnya semakin kuat setelah ayahnya, Randall “Ka Randy” Echanis, pemimpin organisasi petani dan aktivis perdamaian yang juga dituduh sebagai anggota NPA, meninggal setelah ditusuk sebanyak 40 kali beberapa bulan sebelum penangkapannya.
Kisah Amanda menjadi salah satu kesaksian utama dalam sesi Defying Silence Together di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) (22/10). Bersama penulis Palestina-Australia Randa Abdel-Fattah dan jurnalis sekaligus pendiri Watchdog Dandhy Laksono, Amanda membagikan pengalamannya untuk membahas cara kerja represi dan pentingnya solidaritas dalam mempertahankan ruang bagi suara-suara kritis.
Ia menghabiskan lebih dari lima tahun di penjara dan menghadapi tekanan yang berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mentalnya. Ia mengenang bagaimana dirinya diperlakukan seolah-olah tidak lagi memiliki harga diri, bahkan para penjaga mengatakan ia seharusnya dibiarkan membusuk di penjara seperti sampah. Namun, Amanda menolak menjadikan perlakuan tersebut sebagai definisi atas dirinya.
“Mereka berkata kepadaku, ‘Kamu seharusnya berada di sana seperti sampah, membusuk saja di sana.’ Tetapi aku menjawab, ‘Aku bukan sampah. Aku seorang perempuan, aku seorang aktivis, aku seorang ibu, aku seorang penyair.’”
Selama tahun pertama pandemi, Amanda juga harus menunggu dalam ketidakpastian karena tidak ada satu pun persidangan yang digelar. Pada saat yang sama, ia berjuang mendapatkan hak untuk merawat anaknya yang masih membutuhkan ASI.
“Aku hanya berada di sana, menunggu. Tempat itu sepi seperti kota hantu, seluruh dunia seolah hancur berantakan, tapi aku harus tetap berjuang agar anakku bisa bersamaku,” tegasnya.
Berkat kegigihan Amanda dan dukungan masyarakat sipil melalui demonstrasi serta petisi, ia akhirnya diizinkan merawat anaknya. Dukungan tersebut menjadi salah satu titik penting yang menguatkan tekadnya untuk terus melawan ketidakadilan.
Di tengah keterbatasan ruang gerak dan tekanan mental, Amanda memutuskan melanjutkan pendidikan penulisan kreatif di University of the Philippines. Ia kemudian menghasilkan berbagai karya berupa buku, puisi, dan naskah teater sebagai cara untuk mempertahankan suaranya.
“Jika mereka tidak mau mendengarkan, tulislah puisi. Jika mereka menanam barang bukti palsu untuk menjebakmu, ciptakanlah naskah drama. Jika kamu dikurung di sana, buatlah badai perlawanan,” tuturnya.
Baca juga: UWRF 2026: Bayang-Bayang Otoriterisme dalam Jejak Memori Masa Remaja Tari Lang
Sama-sama Dibungkam
Jika Amanda Echanis mengalami represi melalui penahanan fisik, Randa Abdel-Fattah menghadapi pembatasan di ruang kebudayaan. Penulis berdarah Palestina-Mesir ini mengalami penyensoran, mulai dari pembatalan kontrak penerbitan bukunya hingga pencabutan undangan secara sepihak dari Adelaide Writers’ Festival.
Randa menceritakan penyelenggara mengaitkan kehadirannya dengan sensitivitas budaya setelah serangan di Bondi.
“Saya menerima surel pada dini hari yang menyatakan bahwa karena serangan di Bondi dan sensitivitas budaya seputar kehadiran saya, mereka mencabut undangan saya. Kemudian mereka mengirimkan surel pencabutan tersebut kepada setiap orang yang diundang ke festival,” jelas Randa.
Dalam sesi Defying Silence Together, Randa berbagi panggung dengan jurnalis dan pembuat film dokumenter Indonesia, Dandhy Laksono. Dandhy membahas sejarah pembatasan kebebasan berekspresi di Indonesia, mulai dari masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang hingga era Sukarno dan Soeharto.
“Soekarno, yang menyebut dirinya tokoh antikolonial dan mengambil sikap condong ke kiri, juga membatasi ekspresi teater dan sastra. Ia memenjarakan grup musik populer Koes Plus hanya karena meyakini mereka meniru The Beatles dan Elvis,” papar Dandhy.
Pada masa Soeharto, pembatasan ekspresi juga berlangsung melalui pelarangan buku dan penyensoran karya. Menurut Dandhy, Reformasi menghapus sejumlah aturan yang mengekang pers, tetapi kekerasan terhadap pekerja media dan aktivis tetap terjadi. Tekanan tersebut juga datang dari berbagai aktor di luar struktur kekuasaan yang terpusat.
Randa menyoroti dampak standar ganda terhadap perlindungan hak sipil dan hukum internasional. Ia mengingatkan, pembungkaman terhadap suara-suara Palestina juga berpengaruh pada perlindungan kelompok rentan lainnya.
“Ketika standar ganda diterapkan di mana kebebasan akademik, hak sipil, dan hukum internasional dikesampingkan khusus demi membungkam isu Palestina maka fondasi hukum yang melindungi kelompok rentan lain di seluruh dunia otomatis ikut runtuh,” tegas Randa.
Ia juga menekankan pentingnya solidaritas lintas kelompok dalam menghadapi pembatasan kebebasan.
“Maka penting untuk memahami bahwa perjuangan saya sebagai warga Palestina adalah perjuangan kamu juga,” ucap Randa.
Bersolidaritas adalah Kunci
Ketiga pembicara membahas dukungan masyarakat sipil bagi orang-orang yang mengalami represi. Amanda menerima surat selama berada di penjara, sementara pencabutan undangan Randa ke Adelaide Writers’ Festival memicu aksi kolektif para penulis.
Bagi Amanda, surat-surat tersebut membantunya tetap terhubung dengan dunia luar dan mempertahankan martabatnya selama menjalani penahanan.
“Ketika saya menerima surat, rasanya seperti kami mampu terhubung kembali dengan dunia, mengingat martabat kami, dan merasa menjadi manusia seutuhnya. Sangat penting bagi saya untuk merasakan bahwa saya tidak sendiri,” tuturnya.
Di Australia, sekitar 180 penulis menarik diri dari Adelaide Writers’ Festival sebagai bentuk protes atas pencabutan undangan Randa. Aksi tersebut berujung pada pembatalan festival.
Randa mendorong masyarakat menggunakan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki untuk mendukung berbagai upaya keadilan, mulai dari isu lingkungan dan pendidikan hingga seni dan budaya.
“Oleh karena itu, manfaatkanlah apa pun kekuatan dan keistimewaan yang kamu miliki—baik di bidang keadilan iklim dan lingkungan, pendidikan, perlawanan terhadap korporasi multinasional, maupun seni dan budaya. Di ruang mana pun kamu memiliki bakat, di situlah peran dan tugas kamu berada,” ucap Randa.
Dandhy mencontohkan pengalamannya setelah penangkapan terkait film Sexy Killers pada 2019. Desakan publik di media sosial turut mendorong pembebasannya dalam hitungan jam. Namun, ia menekankan pentingnya membangun dukungan yang tidak berhenti ketika perhatian publik terhadap suatu kasus mereda.
Dukungan berkelanjutan, menurut Dandhy, dapat dilakukan dengan memperkuat jaringan antarkomunitas, mendukung jurnalisme independen, dan mendampingi orang-orang yang menghadapi tekanan.
Pengalaman Amanda, Randa, dan Dandhy menunjukkan beragam bentuk solidaritas, mulai dari surat bagi tahanan hingga aksi kolektif pekerja kebudayaan dan dukungan publik terhadap jurnalisme independen. Upaya tersebut menjadi bagian dari dukungan bagi mereka yang menghadapi pembungkaman.





















