Women Lead
November 08, 2021

Mengenang Stephen Suleeman, Pendeta yang Vokal Soal Hak LGBTIQ

Saat banyak umat beragama mengucilkan kaum LGBTIQ dengan dalih ayat kitab suci, Stephen Suleeman justru memberi tafsir Kristen alternatif yang merangkul mereka.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Wo/Men We Love
Share:

Berita duka baru saja datang di kalangan aktivis kemanusiaan, LGBTIQ, dan jemaat Kristen seiring kepergian Pendeta Stephen Suleeman, M.A., Th., Th.M., (8/11). Kabar ini disebarkan salah satunya melalui akun Instagram Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT atau dikenal juga STT) Jakarta pada Senin pagi. 

Stephen, yang lahir pada 17 Maret 1954, meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Ia merupakan dosen tetap yang mengajar Teologi dan Komunikasi serta Ilmu-ilmu Sosial, dan kepala unit pendidikan lapangan di STT Jakarta, tempat ia berkarya sejak 1987. Sebagai pendeta, ia aktif melakukan pelayanan di GKI Gading Indah. 

Stephen meraih sejumlah gelar akademik, mulai dari Sarjana Teologi dari Trinity Theological College, Singapura (1978); Sarjana Sosial dari FISIP Universitas Indonesia (1987); Master of Theology bidang Peace Studies dari Bethany Theological Seminary, AS (1991); dan Master of Theology bidang History and Christian, Union Theological Seminary, Virginia, AS (1992).

Pada 2008, Stephen juga tercatat sebagai salah satu pendiri Wikimedia Indonesia. Pada 2011-2012, ia menjadi anggota dewan pengawas Wikimedia Indonesia.

Di dunia perbukuan, Stephen aktif menjadi penerjemah sejumlah buku, seperti Fundamentalisme (James Barr, 1977) dan Melayani dengan Efektif: 34 Prinsip Pelayanan bagi Pendeta dan Kaum Awam (Ronald W. Leigh, 1996). Ia juga menjadi editor untuk beberapa buku, seperti Mengupayakan Misi Gereja yang Kontekstual: Studi Institut Misiologi Persetia 1992 (1995) dan Bentangkanlah Sayapmu: Buku Sumber Teologi Feminis (1999).  

Kepergian Stephen Suleeman membawa rasa kehilangan besar bagi sebagian masyarakat, khususnya yang membela isu-isu kemanusiaan, inklusi sosial, serta kesetaraan dan keadilan gender di Indonesia. Pasalnya, Stephen sudah cukup lama angkat suara mengenai hal-hal tersebut, terlebih isu LGBTIQ di kalangan umat Kristen. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya, ia kerap menyebarkan tafsir Alkitab yang lebih memanusiakan manusia dan merangkul segala kelompok, termasuk kelompok LGBTIQ yang selama ini sering dikucilkan atau menutup diri di banyak gereja. 

Baca juga: Membaca Ulang Ayat Alkitab Soal Hubungan Seksual dengan Lebih Kritis

Stephen Suleeman Merangkul Kelompok LGBTIQ di Lingkungan Gereja

Pilihan Stephen untuk menjadi seorang rohaniawan yang vokal isu inklusi LGBTIQ tidak datang begitu saja. Malah, awalnya ia mengaku dirinya merupakan homofobik. Hal ini dikemukakannya dalam sebuah tulisan di situs Melela.org.

Ia bercerita, saat mengambil studi di AS, ia menemukan kelompok mahasiswa gay diterima dengan baik di seminari tempatnya belajar. Stephen juga mengamati bagaimana sekelompok orang di sana--yang mengambil mata kuliah Urban Ministry seperti dirinya--tidak membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan, termasuk kepada komunitas gay. Pengalaman personalnya menerima kebaikan dari salah seorang lesbian di sana makin membuka matanya dan menggeser pandangan Stephen yang awalnya buruk terhadap kelompok LGBT. 

Dari pengalamannya tersebut, sepulangnya Stephen ke Indonesia pada 1992, ia mencoba menerapkan apa yang sudah ditemuinya di AS ketika ia dipercaya untuk mengoordinasi Program Kegiatan Lapangan di STT. 

“Saya ingin mahasiswa-mahasiswa tidak menutup diri dengan kalangan minoritas, karena sebenarnya gay itu tidak banyak berbeda dengan saya dan kita semua. Bedanya hanya preferensi saja. Seperti misalnya, saya suka pizza tapi ada yang enggak suka dan lebih memilih gado-gado,” tulis Stephen. 

Pada 2016, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengeluarkan pernyataan pastoral terkait LGBTIQ yang ditujukan bagi pimpinan gereja anggota PGI. Surat ini dirilis seiring maraknya kekerasan dan diskriminasi terhadap kelompok tersebut. Dalam surat pastoral tersebut, ditekankan pentingnya menghormati setiap manusia dan tidak melakukan kekerasan terhadap kelompok LGBTIQ. 

Stephen menyadari, tentu tidak semua anggota PGI setuju dengan surat tersebut. Kepada VOA Indonesia, Stephen menjelaskan, “Penolakan terhadap LGBTIQ ini umumnya adalah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan para pemimpin gereja tentang perkembangan yang terjadi di dunia psikologi psikiatri. Di kalangan psikologi psikiatri, para ahli jiwa sudah menemukan bahwa LGBTIQ itu bukanlah sebuah penyakit jiwa.”

Pandangan Stephen terkait LGBTIQ ini menyiratkan pentingnya institusi agama untuk beradaptasi atau melihat konteks dalam menyikapi suatu isu. Hal ini terlihat juga misalnya dari makalah berjudul Mengenal dan Memahami LGBTIQ dari Perspektif Kristiani yang disampaikannya dalam Konsultasi Teologi MS GPIB pada 2 Mei 2014. Dalam makalah tersebut, Stephen menyinggung sejumlah ayat Alkitab yang sering dipakai untuk mendiskriminasi LGBTIQ, dan mengajinya ulang dengan kritis. 

Sikap Stephen dalam setiap tulisan maupun khotbahnya terkait LGBTIQ jelas. Kendati banyak gereja masih memandang hal tersebut sebagai dosa dengan berbagai dalih ayat Alkitab, ia tetap menekankan jauh lebih penting menerapkan sikap mengasihi dan menginklusi. 

Pada penghujung makalah tadi, Stephen bercerita, pernah ada salah satu pemuda yang mengiriminya surat curhat perihal dirinya yang seorang gay. Pemuda itu lama bergumul dengan pergolakan batin, bahkan sempat berkali-kali coba “disembuhkan” oleh keluarga maupun orang gereja. Membalas surat tersebut, Stephen berkata,“Kamu tidak apa-apa. Kamu tidak bersalah. Kamu tidak perlu merasa dikejar-kejar dosa karena orientasi seksual kamu sebagai gay. Yang salah adalah gereja dan pembimbing pemuda kamu yang mengajarkan dan mencoba meyakinkan kamu bahwa kamu bisa “sembuh” dan berubah menjadi seorang heteroseksual. Terimalah dirimu sendiri sebagaimana Allah telah menciptakan kamu.” 

Ketika pandemi COVID-19 melanda, Stephen juga tak luput memperhatikan nasib kelompok LGBTIQ yang sering kali terabaikan oleh masyarakat. Dalam tulisan bertajuk “LGBTIQ dan Perjuangannya Melawan COVID-19” yang dia presentasikan di acara Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations, ia memotret beberapa catatan pengalaman transgender dan lesbian, tidak hanya yang Nasrani, tetapi juga Muslim, yang mengalami kerentanan lebih selama pandemi.

Baca juga: Mengkritik Agama Sendiri, Berani?

Ketertarikan pada Isu Sosial Lainnya

Di samping teologi dan isu LGBTIQ, Stephen juga menaruh perhatian pada beragam isu sosial lainnya. Dilansir Satu Harapan, ketika ditanya oleh Martin Lukito Sinaga, pendeta dan aktivis dialog antaragama di MADIA dan ICRP mengapa ia mau lanjut belajar ilmu sosial setelah mengenyam pendidikan teologi, Stephen menjawab, “Kalau belajar ilmu sosial, kita memang jadi tahu satu hal yang menjelaskan kehidupan sehari-hari, tetapi teologi memberi makna yang lebih.”

Dalam wawancara yang diunggah di akun YouTube LBH Masyarakat, Stephen mengemukakan pendapatnya yang kontra terhadap hukuman mati di Indonesia. Ia memandang, penerapan hukuman mati lebih cenderung ke alasan balas dendam karena pelaku sudah membunuh banyak orang atau sebagai upaya menakut-nakuti masyarakat lain. Ironisnya menurut Stephen, setelah hukuman mati dilaksanakan pun, tidak serta merta efek jera atau efek menakut-nakuti masyarakat itu muncul. Masih ada tindak kriminal sejenis yang dilakukan pelaku lain, bahkan setelah hukuman mati dipertontonkan. 

“Hukuman mati bisa menyebabkan hilangnya nyawa dan hukuman itu tidak bisa diperbaiki, karena itu saya menentang hukuman mati. Hukuman lain yang lebih berat yang bisa dijatuhkan adalah hukuman seumur hidup. Kalau ada bukti-bukti baru, hukuman seumur hidup bisa ditinjau kembali. Jika orang tersebut tidak bersalah, ia bisa dibebaskan,” kata Stephen.  

Stephen juga tertarik pada isu-isu seputar etnis Tionghoa. Saat membuat skripsi di FISIP Universitas Indonesia, ia memilih topik persepsi golongan keturunan Tionghoa Indonesia terhadap golongan bumiputera.

Selain melayani di GKI Gading Indah, Stephen juga melakukan pelayanan di berbagai tempat, salah satunya dengan beberapa kali memimpin ibadah GKI Yasmin, baik di rumah-rumah jemaat maupun di seberang Istana Merdeka, Jakarta. Ia juga aktif menjadi pendamping pihak GKI Yasmin ketika mereka memperjuangkan haknya untuk beribadah di gereja mereka sendiri dan aman dari kelompok masyarakat yang menolak keberadaan mereka.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop