Women Lead
March 03, 2021

Menikah pada Usia 21: Apakah Saya Masih Bisa Disebut Feminis?

Menikah pada usia 21 sempat membuat penulis merasa malu dan khawatir tidak layak disebut sebagai feminis lagi karena dianggap bergantung pada laki-laki.

by Fatima Kamila
Lifestyle
Share:

Ada banyak pemikiran tentang perempuan yang sudah menikah, salah satunya anggapan bahwa dia akan terlalu malas untuk bekerja atau bahkan melanjutkan sekolahnya karena dia sudah memiliki suami yang akan menafkahinya. Ada pula yang berpendapat bahwa perempuan yang sudah menikah tidak punya pilihan selain menuruti suaminya karena laki-laki dianggap sebagai kepala rumah tangga.

Sebagai orang yang terus menerus dihadapkan pada gagasan-gagasan feminisme, pemberdayaan perempuan dan kesetaraan, saya sering merasa bersalah atas keputusan saya untuk menikah di usia yang begitu muda. Saya mempertanyakan diri saya sendiri apakah saya telah membuat keputusan yang benar atau tidak.

Meskipun sulit untuk saya akui, jauh di lubuk hati, saya merasa menikah membuat saya tampak kurang berpendidikan dan kurang kuat. Saya tidak setuju dengan gagasan ini, tapi tetap saja, sulit bagi saya untuk berhenti percaya bahwa orang-orang, khususnya feminis, memandang serius keputusan saya untuk menikah di awal usia 20-an.

Karenanya, pada awal pernikahan, saya sering merasa malu untuk mengakui bahwa saya telah menikah. Saya sering berbohong ketika ditanya tentang status hubungan saya dalam lamaran magang karena saya takut perekrut akan melihat saya sebagai stereotipikal perempuan muda yang sudah menikah.

Saya mencoba mencari tahu dari mana rasa takut dihakimi ini berasal, terutama oleh para feminis. Akhirnya, saya menemukan bahwa itu karena saya merasa mereka tidak akan melihat saya sebagai perempuan mandiri, karena saya sekarang “bergantung” pada suami saya.

Baca juga: Menikah Tapi Tetap Bebas, Bagaimana Caranya?

Di sisi lain, saya merasa cara berpikir ini bertentangan dengan pemahaman saya bahwa feminisme harus memberdayakan perempuan untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Artinya, jika saya memilih untuk menikah di usia yang begitu muda, feminis harus menghormati keputusan saya.

Kontradiksi ini membuat saya mencari jawaban. Saya memutuskan untuk membaca beberapa artikel yang berhubungan dengan pernikahan dan feminisme dan akhirnya menemukan satu yang mengena bagi saya. Artikel itu ditulis oleh Maggie Pahos, berjudul  “Being a Wife is not a Feminist Failure”.

Pahos menulis tentang bagaimana beberapa perempuan hebat yang dia ketahui—seperti Wonder Woman, the Little Red Hen, Emily Dickinson, dan Medusa—sepenuhnya sendirian dan tidak bergantung pada laki-laki untuk apa pun. Hal itu membuatnya cemas dan merasa bahwa dirinya seorang feminis yang gagal karena dia sudah menikah. Namun setelah merefleksikan dirinya dan hubungannya dengan suaminya, dirinya menyadari bahwa keputusannya untuk menikah juga merupakan tindakan feminisme.

“Menjadi hebat berarti memutuskan sendiri apa yang kita inginkan untuk menjalani hidup kita. Apa pun bentuknya. Apakah itu melibatkan laki-laki atau tidak. Menjadi hebat berarti merancang pernikahan yang berhasil untuk saya, yang menyediakan berbagai kebutuhan saya namun juga memberi saya suatu kebebasan. Pernikahan membuat saya berlabuh, namun juga mendorong saya untuk mengembara,” tulisnya.

Baca juga: Menikah untuk Menyenangkan Siapa?

Saya kemudian merefleksikan kutipan ini dalam konteks hubungan saya dengan suami dan merasa lega bahwa hubungan kami adalah hubungan yang memberi saya kebebasan. Tidak pernah sekali pun saya merasa dia telah memperlakukan saya dengan tidak adil.

Pernikahan kami tidak dipaksakan, tapi hasil dari keinginan kami sendiri. Dia tidak pernah menyuruh saya berhenti bekerja, juga tidak mengatakan saya harus bekerja. Dia selalu mendukung semangat dan pendidikan saya, dan dia tidak pernah mengharapkan saya untuk melakukan pekerjaan seperti yang diharapkan orang dari ibu rumah tangga.

Saya merasa kami adalah tim dan kami setara. Saya mulai menyadari bahwa dalam hubungan kami, saya bukan satu-satunya orang yang bergantung padanya, tetapi kami berdua bergantung satu sama lain. Saya pikir ini tidak membuat saya kurang feminis. Menikah tidak menghentikan saya untuk melakukan apa pun yang saya inginkan, dan tidak menghentikan saya untuk diperlakukan setara.

Kesadaran ini membantu saya memahami bahwa pernikahan dan kesetaraan tidak selalu berlawanan; kamu hanya perlu menemukan pasangan yang tepat pada waktu yang tepat. Saya menulis artikel ini bukan untuk meromantisasi atau mempromosikan pernikahan, tetapi untuk memberi tahumu bahwa pernikahan tidak akan menghentikanmu dari menjadi seorang feminis.

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.
Suka sama artikel kontributor di atas? Punya opini sendiri soal topik ini? Yuk, kirim tulisanmu ke Magdalene, bisa langsung submit di halaman ini.

 
Fatima Kamila adalah lulusan program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Dia sangat suka menulis, membaca, dan fotografi, tetapi sering kali terlalu minder untuk membagikan karyanya. Dia adalah seorang overthinker yang akhirnya menyadari bahwa menulis adalah satu-satunya aktivitas yang dapat menyembuhkan masalah ini.