Women Lead
January 22, 2021

Stop Bilang Saya Boros: Ketika Saya Bosan Jadi Miskin

Jadi miskin itu tidak enak, apalagi di tengah masyarakat dengan kesenjangan sosial yang tinggi dan bias kelas yang tajam.

by Candra Aditya
Lifestyle
Bag Culture Capitalism Materialistic Rich Thumbnail, Magdalene
Share:

Saya suka sekali menonton film. Sejak kecil, saya sudah langganan rental VCD yang letaknya ada di dua kampung sebelah. Jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki dari rumah saya, di sebuah daerah di Jawa Timur. Dulu saya suka menabung untuk menyewa film yang saya suka. Sehabis menyewa VCD barulah masalah muncul: Di mana saya akan putar ini film?

Saya adalah seorang pencinta film yang gemar menyewa VCD tapi enggak punya TV apalagi VCD player. Untung Pak RT mau berbaik hati meminjamkan dua benda itu di rumahnya.

Hobi saya menyewa VCD dimulai dengan hadirnya Petualangan Sherina (2000) yang membuat saya tersadar bahwa ada banyak film lain di tempat rental VCD selain Sherina. Dan saat itu saya sudah paham benar bahwa saya dilahirkan di keluarga yang miskin. Tapi dulu banyak sekali yang seperti saya: Menonton Tersanjung dan Takdir di rumah tetangga, saling berbagi mainan dan hanya ganti sepatu sekolah kalau sepatu tersebut benar-benar rusak.

Pertama kali saya tersadar saya dilahirkan di keluarga yang miskin adalah waktu saya menginjak kelas 1 SD. Saat itu teman saya dibelikan mainan oleh orang tuanya. Dan selayaknya anak-anak, dia bawa ke sekolah untuk pamer dan saya langsung pengen punya. Pulang sekolah saya minta ke orang tua saya untuk dibelikan dan mereka hanya bilang “iya nanti” tanpa menjelaskan secara spesifik “nantinya” itu kapan.

Lama kelamaan saya bertanya-tanya kenapa bapak saya bekerja dengan keras (sampai merantau ke Jakarta loh dan saya hanya ketemu doi pas Lebaran doang) tapi kenapa kami tidak sesukses keluarga teman saya, si A? Kan bapak kami sama-sama kerja? Kenapa teman saya bisa dibelikan sepeda, sementara saya tidak?

Tapi tak lama setelah momen tersebut, saya juga disadarkan bahwa meskipun saya miskin, ternyata ada yang lebih miskin dari saya. Suatu hari saya bermain ke rumah seorang teman. Dia anak keempat dari delapan bersaudara. Begitu sampai di rumahnya dan kami melepas seragam, dia mengajak kami ke sawah sambil membawa garam dan piring.

Baca juga: Di Dunia yang Penuh Kesenjangan, Saya Tak Masalah Disebut Matre

Kemudian teman saya ini naik ke pohon nangka dan memetik calon buah nangka yang bentuknya kecil (di tempat kami namanya babal). Setelah itu dia memetik cabai rawit di sawah dan menggerusnya dengan garam yang tadi dibawa dari rumah. Dia memotong babal tersebut kemudian mulai memakannya dengan lahap dengan cabai rawit dan garam tadi. Karena saya penasaran, saya ikutan makan. Rasanya menarik. Ada manisnya, ada pahitnya. Tapi rasa utamanya adalah sepet. Tapi walaupun tidak luar biasa sensasinya, teman saya makan dengan begitu lahap.

Saya bertanya, apakah dia memang hobi makan babal ini. Dia menggeleng. Dia hanya lapar dan ini makan siang dia. Saya bingung. Hah? Makan siang? Memangnya di rumah enggak ada makanan? Sebagai anak yang begitu sampai rumah biasa melihat nasi, sayur, dan lauk di atas meja, apa yang dikatakan oleh teman saya adalah sebuah konsep yang sangat asing. Kemudian teman saya menjawab bahwa ibunya hanya memasak nasi saat makan malam, saat semua berkumpul dan ayahnya pulang dari rumah.

Bagian paling pedih dari semuanya adalah, semua itu hal yang biasa saja. Di kampung tempat saya tumbuh untungnya memang tidak ada keluarga kaya. Tidak ada satu pun yang punya mobil. Tak ada seorang pun yang memiliki kulkas. Magic jar adalah salah satu indikasi kemakmuran. Begitu juga dengan sepeda motor. Bisa ganti seragam setiap tahun adalah sebuah anugerah. Dan bisa beli buku setiap ganti tahun ajaran adalah rezeki yang harus disyukuri.

Cuma Ingin Hadiah Naik Kelas

Ketika saya masuk SMP, kesadaran saya terhadap kemiskinan keluarga saya semakin menjadi-jadi, karena pertemanan Candra yang hanya sebatas satu kampung menjadi agak lebih luas. Di SMP saya bertemu dengan berbagai anak dari berbagai jenis daerah dan dari berbagai strata ekonomi. Dan saat ini juga ekonomi keluarga semakin ngos-ngosan. Saya duduk di SMP, kakak saya di SMA, dan adik saya masih balita.

Baca juga: ‘Room Tour’ Rumah Nan Mewah di Tengah Pandemi: Tak Sensitif dan Tanpa Empati

Drama “siapa yang duluan dibelikan buku dan LKS” terjadi setiap semester. SPP baru hanya akan dibayar setelah saya nangis kejer di rumah karena Senin ujian dan kata guru, saya tidak bisa ikut ujian kalau saya tidak bayar tunggakan SPP. Saya bahkan pernah ke sekolah dengan sol sepatu yang hilang separuhnya dan kaos kaki yang langsung menyentuh tanah, hanya karena saya tidak berani bilang ke orang rumah kalau saya perlu dibelikan sepatu.

Tapi untungnya saya punya pelarian untuk menghibur diri saat SMP, dan biayanya relatif murah. Saya keranjingan membaca buku dan menonton film. Semua buku fiksi di taman bacaan langganan saya pinjam. Kalau Lebaran tiba, saya menghabiskan angpau saya dengan menyewa komik dan buku yang sudah saya incar sebelumnya di perpustakaan dekat rumah. Lo akan lupa kalo lo miskin begitu tenggelam dalam dunia Harry Potter. Itulah sebabnya storytelling penting dalam hidup saya.

Semakin bertambah dewasa, semakin tebal kulit saya dan semakin kuat mental saya untuk tersadar bahwa ada beberapa hal yang saya raih, dan ada beberapa hal yang mungkin bisa tercapai. Walaupun tentu saja ada beberapa adegan yang membuat saya iri karena saya miskin. Seperti kenapa teman saya waktu SMA yang itu dibelikan motor Satria padahal dia cuman naik kelas? Secara prestasi dia enggak pintar-pintar amat. Saya enggak iri dengan motornya. Saya enggak tertarik punya motor Satria. Tapi saya ingin juga diberi hadiah oleh orang tua saya.

Jadi Miskin Itu Tidak Enak

Tapi tidak ada yang membuat saya tersadarkan oleh fakta soal kemiskinan struktural sampai saya menjejakkan kaki di Jakarta dan mendapatkan beasiswa di kampus se-fancy Binus International. Semua pengetahuan tentang orang kaya yang saya dapatkan di kampung, dimentahkan oleh hal-hal yang dulunya saya kira hanya terjadi di Meteor Garden.

Baca juga: Saat Pandemi, Apakah Wartawan Boleh Bilang ‘Mana THR-nya, Ndan?’

Sebagai mahasiswa miskin yang struggle, saya cuma bisa makan siang gado-gado (Rp7.000 saat itu), sementara di smoking area saya mendengar beberapa mahasiswa yang membahas betapa bosannya mereka dengan Sushi Tei. Salah satu momen yang paling saya ingat sampai sekarang adalah bagaimana seorang teman yang setelah kelas Basic Photography langsung pergi ke Ratu Plaza dan membeli kamera DSLR Canon 5D tanpa berkedip. Ketika saya mendengar harganya, saya hanya bisa melongo dan bertanya, “Kok bisa ya?”

Jadi miskin itu enggak enak. Dan saya yakin semua orang yang dilahirkan di keluarga miskin enggak pernah ingin lahir susah dan penuh perjuangan. Perlu nangis goler-goler dulu supaya bisa bayar SPP itu enggak enak. Dipanggil guru karena belum beli LKS sementara semua tugas ada di situ itu enggak enak. Hanya bisa dengar cerita soal upacara wisuda karena orang tua enggak mampu bayar wisuda itu enggak enak.

“Jadi, inti tulisan lo apa, Can? Lo sebel karena si Mbak yang nyinggung orang miskin itu? Dia udah minta maaf loh.”

Loh, enggak. Saya menulis ini karena baru saja ditegur sama saudara saya yang bilang kalau saya boros. Dan saya mau bilang bahwa keborosan saya ini adalah karena dulu saya miskin. Saya mau balas dendam. Dulu saya cuma bisa menikmati Sprite dan Nano Nano waktu kenaikan kelas atau ulang tahun. Beli baju setahun sekali ketika Lebaran. Sekarang ketika saya bisa mencari uang sendiri, saya mau bebas merdeka beli apa pun yang saya inginkan.

No more ngidam. No more ngayal babu.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.