19/10/2026
Issues Opini Safe Space

Tak Disunat, Perempuan Jadi Liar? Pengalaman Saya Menjawab Mitos Itu

Katanya, perempuan yang tidak disunat perilaku seksualnya jadi liar. Pengalaman penulis dan bukti ilmiah menunjukkan sebaliknya.

  • October 19, 2026
  • 5 min read
  • 12 Views
Tak Disunat, Perempuan Jadi Liar? Pengalaman Saya Menjawab Mitos Itu

Dalam sebuah sosialisasi di Cianjur, seorang pimpinan pesantren yang sudah cukup berumur mengangkat tangan. Pertanyaannya serius: di kampungnya, setiap bayi perempuan disunat. Ia ingin tahu, apakah ada perempuan yang tidak disunat, dan bagaimana perilaku seksualnya?

Dari kesungguhannya, saya yakin ia tidak sedang mengolok-olok. Tetap saja, tangan saya spontan terangkat. Terus terang, saya jengah. Sudah berulang kali saya mendengar pernyataan yang menghubungkan sunat dengan kesantunan perilaku seksual perempuan.

Baca juga: Disunat Saat Bayi, Bahkan Aku Tak Merdeka atas Tubuh Sendiri

Dua tahun terakhir, saya aktif dalam kampanye penghapusan sunat perempuan di Yayasan HARKAT. Sebagai asisten administrasi, tugas utama saya mengurus administrasi. Namun, saya juga sering membantu tim media merekam kegiatan untuk konten dan dokumentasi internal. Dari situlah saya berkesempatan menyimak diskusi, pelatihan, dan sosialisasi Peraturan Pemerintah No. 28/2024, yang memuat ketentuan penghapusan praktik sunat perempuan.

Dalam berbagai forum itu, anggapan yang sama terus muncul: sunat diperlukan agar hasrat seksual perempuan terkendali. Saya mendengarnya dari peserta laki-laki maupun perempuan, bahkan pernah dari seorang bidan.

Di forum Cianjur itu, saya pun bercerita bahwa saya tidak disunat dan kehidupan seksual saya tidak aneh-aneh. Saya menikah dengan pacar pertama saya sejak SMA. Setelah menjalani hubungan jarak jauh Makassar–Bogor, kami menikah pada tahun kedelapan berpacaran. Kini kami memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan.

Hubungan rumah tangga kami baik dan normal-normal saja. Soal hubungan seksual, kadang saya malas, kadang semangat. Saya memahami bahwa naik turunnya keinginan itu berkaitan dengan banyak hal, termasuk hormon, suasana hati, dan hubungan dengan pasangan. Saya tidak disunat, dan saya juga tidak menyunatkan anak perempuan saya.

Sejauh yang saya tahu, ibu tidak menyunatkan saya. Tindik pun tidak! Kami datang dari keluarga Muhammadiyah, tetapi keputusan itu juga berangkat dari sikap ayah dan ibu yang tidak melihat manfaat sunat perempuan. Mereka tidak menjadikannya kewajiban atau ritual dalam keluarga.

Jangan salah, keduanya tetap menikmati ritual keagamaan yang berpadu dengan tradisi. Ada pengajian dan siraman menjelang pernikahan, juga tujuh bulanan kehamilan. Ketika anak laki-laki pertama saya lahir, ayah yang seorang Minang bahkan dengan khusyuk mengurus ari-arinya mengikuti tuntunan budaya Jawa.

Ia membersihkannya, lalu menambahkan bunga dan bumbu dapur, termasuk asam, garam, dan gula, dengan harapan cucu pertamanya tumbuh menjadi anak berbudi pekerti baik. Jadi, tidak menyunatkan saya bukan berarti ayah dan ibu menolak semua tradisi.

Rasa terima kasih kepada ayah dan ibu saya kadang saya selipkan dalam forum-forum itu. Bagi saya, yang penting adalah mereka tidak menggunakan kuasa sebagai orang tua untuk merampas hak saya atas tubuh sendiri.

Baca juga: Saya Lelaki Kampung, dan Feminisme Membantu Saya Membaca Ulang Sunat Perempuan

Hasrat seksual tidak sesederhana itu

Pengalaman mengikuti berbagai forum membuat saya semakin ingin tahu: dari mana datangnya anggapan bahwa sunat bisa mengendalikan perilaku seksual perempuan?

Dari bacaan, saya memahami bahwa hasrat seksual dipengaruhi banyak hal, mulai dari kondisi fisik dan hormon hingga keadaan emosional serta hubungan dengan pasangan. Sementara itu, cara seseorang menyikapi hasratnya juga berkaitan dengan pola asuh, pendidikan, nilai agama, dan norma sosial yang ia pelajari.

Hasrat seksual dan perilaku seksual pun tidak bisa disamakan begitu saja. Memiliki dorongan seksual tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kendali atas tindakannya. Perempuan yang disunat maupun tidak tetap dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai dan prinsip yang mereka yakini.

Sebaliknya, pemotongan atau pelukaan organ genital dapat berdampak pada kesehatan dan pengalaman seksual perempuan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa praktik ini tidak memiliki manfaat kesehatan dan dapat menimbulkan masalah, termasuk nyeri saat berhubungan seksual serta berkurangnya kepuasan seksual.

Karena itu, berkurangnya kenikmatan akibat pelukaan tidak semestinya dianggap sebagai keberhasilan mendidik perempuan agar lebih santun. Ada organ sehat yang dilukai dan risiko kesehatan yang harus ditanggungnya.

Saya teringat penjelasan Bang Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, ketika diundang Yayasan HARKAT dalam diskusi tentang sunat perempuan dan pelanggaran hak asasi manusia. Ia menyebut perlukaan genital sebagai pelanggaran hak atas tubuh—organ yang sehat dirusak dengan dasar prasangka dan kecurigaan terhadap tubuh perempuan.

Penjelasan itu membantu saya memahami mengapa pertanyaan di Cianjur tadi begitu mengusik. Seolah-olah, sejak bayi, tubuh perempuan sudah harus dicurigai dan dikendalikan agar kelak tidak menimbulkan masalah.

Baca juga: Yang Tak Pernah Masuk FYP: Sunat Perempuan dan Budaya Diam

Mengapa tubuh perempuan yang dicurigai?

Berdasarkan pengalaman dan bacaan tersebut, saya semakin yakin bahwa anggapan perempuan akan menjadi “liar” jika tidak disunat berakar pada mitos dan prasangka. Di baliknya ada pandangan bahwa seksualitas perempuan perlu dikendalikan, bahkan sebelum ia bisa memahami tubuhnya sendiri.

Bagi saya, ada standar ganda yang terasa janggal. Laki-laki kerap dianggap wajar jika memiliki dorongan seksual yang besar dan aktif. Sebaliknya, perempuan dituntut pasif dan mengutamakan kebutuhan seksual pasangannya.

Seolah ada ketakutan bersama bahwa jika libido perempuan tidak dikendalikan, ia akan menjadi tidak setia, “liar”, lalu merusak tatanan keluarga. Ketakutan itu kemudian dijawab dengan tindakan terhadap tubuhnya: sunat.

Padahal, jika yang ingin dibicarakan adalah tanggung jawab dalam hubungan, kita perlu membicarakan pendidikan, nilai, dan cara memperlakukan pasangan. Melukai tubuh perempuan tidak bisa menggantikan semua itu.

Bagi saya, anggapan bahwa sunat menentukan kesantunan perempuan juga menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan tentang anatomi dan kesehatan reproduksi. Kita tidak seharusnya terus mewariskan prasangka hanya karena sudah lama mendengarnya.

Jadi, mari terus membaca dan mengenali tubuh kita sendiri. Tubuh perempuan layak dipahami dan dirawat, tanpa lebih dulu dicurigai.

Tasya Nadyana adalah ibu rumah tangga dan asisten administrasi Yayasan Harkat Perempuan Indonesia.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Tasya Nadyana

Click to access the login or register cheese