Women Lead
May 28, 2021

Mulai Belajar Balet Setelah Punya 2 Anak, Kenapa Tidak?

Baru mulai belajar balet setelah dewasa ternyata menyenangkan. Tidak hanya bugar, tapi juga bisa bersosialisasi dengan orang-orang beda generasi.

by Meutia Chaerani
Lifestyle
Share:

Bagi banyak orang, berolahraga jadi salah satu jalan untuk bersosialisasi. Itu sebabnya sebagian orang senang berolahraga bersama orang-orang lain karena mereka lebih termotivasi untuk tetap bugar.

Saya telah mencoba semua jenis olahraga yang sedang trending, mulai dari lari, tenis, bola basket, golf, hingga yoga. Tetapi, tidak ada yang membuat saya tertarik dalam waktu lama.

Saya tidak bisa mendapatkan kesenangan saat mencoba yoga. Saya benci olahraga kompetitif (seperti tenis), terlebih yang dilakukan dalam tim (seperti bola basket). Saya tidak memiliki kesabaran untuk bermain golf, dan merasa itu sangat membosankan, seperti halnya berlari. Awalnya, saya membuat kemajuan yang baik saat berolahraga dengan bantuan pelatih pribadi.. Tetapi dalam waktu singkat, saya mulai membuat banyak alasan untuk melewatkan sesi kami. Jadi, itulah akhir dari hubungan saya dengan olahraga yang sedang trending.

Dalam upaya terakhir saya untuk memaksakan diri berolahraga secara teratur, saya memutuskan untuk ikut kelas balet. Sekarang, saya paham kenapa balet populer di kalangan anak-anak perempuan. Ini tidak lepas dari kebutuhan mereka untuk tetap sibuk sepulang sekolah sehingga banyak ibu memasukkan putrinya ke kelas balet (atau untuk memenuhi impian masa kecil para ibu itu untuk menjadi balerina). Tetapi, setelah usia tertentu, hanya segelintir dari anak-anak perempuan tersebut yang menekuni olahraga ini dan menjadi penari balet profesional.

Setelah memutuskan mencoba balet, saya menemukan studio balet yang sangat dekat dari rumah dan memiliki kelas balet dewasa dasar dengan jadwal yang pas untuk saya. Jadi, saya mendaftar di kelas tersebut.

Baca juga: Drama Korea ‘Navillera’ dan Mengejar Mimpi Saat Lanjut Usia

Kelas balet yang saya ikuti adalah kelas kecil dengan hanya sekitar lima orang peserta, mencakup para mahasiswa dan ibu-ibu seperti saya. Diiringi musik piano klasik, kelas pertama saya dimulai dengan kami berdiri di barre (pegangan horizontal), menekuk lutut berulang kali dengan kaki menghadap keluar, melakukan pemanasan plié. Kemudian, kami menggerakkan kaki seperti berjinjit, namun dengan jari kaki lurus ke tiga arah (tendus), dan membuat lingkaran dengan kaki (ronds de jambe), sebelum mengayunkan kaki kami tinggi-tinggi di grands battements.

Saat kelas berlangsung, kami diajari gerakan yang harus dilakukan di tengah ruangan, mulai dari berputar dengan satu kaki (pirouettes) hingga berbagai lompatan. Di akhir kelas satu jam, saya basah kuyup oleh keringat, tetapi yang mengejutkan adalah saya justru menginginkan lebih. Hal ini pun membuat saya berpikir, mengapa tidak ada lebih banyak orang dewasa yang melakukan ini?

Kelas Balet Dewasa Ternyata Menyenangkan

Balet membuat tubuh bugar dan memberikan manfaat dari kombinasi berbagai olahraga, mulai dari gerakan memutar tubuh dari yoga, lompat bola basket, hingga kecepatan dan ketepatan gerakan tenis. Ingin meningkatkan daya tahan kamu? Dalam balet, kamu bisa berbelok dari satu ujung ruangan ke ujung lainnya dengan kecepatan tinggi. Kamu membutuhkan daya tahan seorang pelari untuk melakukan ini.

Untuk laki-laki yang menganggap bahwa olahraga yang baik harus melibatkan angkat beban, dalam balet ada pas de deux, di mana seorang penari mengangkat penari lainnya di atas kepala (terkadang dengan satu tangan). Dan semua ini dilakukan dengan anggun diiringi alunan musik.

Balet melatih otakmu untuk berkoordinasi dengan lebih baik, melatih gerakan yang diminta oleh guru menjadi tarian sesuai hitungan musik. Ditambah lagi, bahkan hanya berdiri dalam postur balet mengharuskan kamu melibatkan latihan otot pantat, dada, bahu, dan perut, yang tentunya membutuhkan banyak upaya.

Baca juga: Bolehkan Penari Berjilbab?

Sebenarnya saya bukan awam sekali dalam dunia balet. Saya pernah mengambil kelas balet dari usia 6 hingga 16, dan, seperti gadis remaja lain, saya sempat bermimpi menjadi balerina sampai saya harus meninggalkannya untuk fokus pada sekolah. Tetapi siapa yang menyangka bahwa pada usia 32, upaya saya untuk menemukan olahraga yang dapat saya nikmati yang dekat dengan rumah akan menghidupkan kembali passion saya terkait seni yang telah lama terlupakan (bukan karena saya seorang penari yang ahli, terutama setelah saya berumur 16 tahun).

Dan kemudian, ada aspek sosial dari kecintaan saya kembali terhadap balet. Untuk meningkatkan frekuensi kelas balet dan merasakan kemajuan dan tantangan, saya pindah dari kelas dewasa sekali seminggu ke kelas berbasis ujian. Artinya, saya berbaur dengan anak-anak muda dan siswa sekolah menengah. Hal ini membuat saya tetap dapat mengetahui apa yang terjadi di dunia mereka (mempelajari kata-kata gaul mereka, mencari tahu tentang tren terbaru, atau mengetahui peristiwa yang sangat penting bagi mereka seperti ujian sekolah).

Berada di sekitar anak-anak muda ini memotivasi saya untuk bekerja lebih keras. Ketika seorang anak remaja berhasil melakukan putaran tiga kali, saya didorong untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, pilihan mereka untuk memanggil saya “Kakak”, bukan “Tante” juga memompa semangat saya.

Berada di sekitar mereka juga berarti mendengarkan cerita tentang pacar atau dilema soal universitas. Saya mencoba menahan diri agar tidak menggurui (seperti memberi tahu mereka bahwa 80 persen hal yang dipelajari di sekolah menengah akan berakhir tidak terpakai dalam kehidupan nyata, atau bahwa jurusan apa yang mereka pilih di sekolah menengah belum tentu sesuai dengan karier masa depan mereka). Dengan teman-teman penari muda saya tersebut, saya menikmati melakukan balet untuk ujian, kompetisi, dan resital.

Jadi, apakah berat badan saya turun karena balet? Tidak, meskipun orang memuji saya karena terlihat lebih ramping, mungkin karena postur tubuh saya yang membaik. Saya juga jadi kecanduan balet. Saya mencintai perasaan yang telah membuktikan pada diri sendiri bahwa tidak ada batasan usia untuk menjadi seorang penari balet.

Sebagai informasi tambahan, faktanya, balet dewasa sedang ngetren di Australia, Inggris, dan AS, dengan lebih banyak orang dewasa yang melakukannya, bahkan nenek berusia 65 tahun melakukan balet sebagai pilihan olahraganya.

Banyak sekolah tari harus menciptakan kelas dan silabus khusus untuk orang dewasa. Mungkin balet bahkan bisa populer dan menjadi olahraga trendi lain suatu hari nanti. Jadi, jika kamu mencari jenis olahraga yang berbeda, cobalah balet, dan jangan meremehkan perasaan senang atau ketertarikan pada hal ini yang muncul hanya dalam batinmu sendiri.

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Meutia Chaerani adalah ibu dari dua anak laki-laki dan seorang freethinker. Dia sering merasakan tekanan untuk menjadi religius karena dia adalah orang tua. Dia adalah seorang yang gampang teralih perhatiannya dan kerap mencoba hobi baru. Saat ini dia berjuang untuk menyelesaikan ujian tingkat lanjut di balet yang mungkin menjadikannya kandidat tertua dalam sejarah balet di Indonesia. Di tempat kerja dia berkutat dengan angka-angka dan menulis catatan kebijakan. Saat tidak melakukan plié, dia memainkan piano dan akordeon untuk sekolah tari dan taman kanak-kanak.