Women Lead
October 13, 2021

Nonton dengan ‘Subtitle’ Pecah Fokus, Alasan AS Hindari Film Asing

Keengganan menonton film asing karena harus menggunakan subtitle, justru menghalangi para sineas yang karyanya dapat dinikmati oleh pasar Hollywood.

by Aurelia Gracia, Reporter
Culture
Share:

Ketika Squid Game (2021) mendapatkan perhatian dari warganet di seluruh dunia, segelintir orang yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, justru enggan menyaksikan serial asal Korea Selatan ini. Alasannya bukan anti mainstream supaya selera tontonannya tetap edgy, melainkan ogah menonton film berbahasa asing karena harus menggunakan subtitle, atau alih bahasa.

Stephen Galloway, editor eksekutif di The Hollywood Reporter, menjelaskan alasannya dalam artikel di Foreign Policy, berjudul “How Hollywood Conquered the World (All Over Again)” (2012). Menurutnya, mereka tidak suka menggunakan alih bahasa dan tidak familier dengan sulih suara.

Selain itu, masih banyak yang menilai fasilitas alih bahasa artinya “mengubah” aktivitas yang dilakukan, dari menonton menjadi membaca film, karena perhatian terfokus pada teks, bukan adegan yang dimainkan. Hal ini juga membuat visualnya tidak dapat dinikmati dengan maksimal.

Mengutip SBS Australia, penonton juga merasa tidak perlu menonton film berbahasa asing, karena anggapannya dapat selalu menggunakan Bahasa Inggris. Sementara penggunaan sulih suara menghilangkan resonansi emosional yang semestinya dirasakan penonton.

Fenomena whitewashing dalam budaya populer juga lebih diandalkan, ketika para sineas Hollywood berkesempatan melakukan remake film yang fenomenal, dan mendulang prestasi.

Sayangnya, keengganan menonton film dengan alih bahasa ini berdampak untuk perkembangan film asing, yang pantas mendapatkan atensi penikmat film dunia dan penghargaan di kancah internasional.

Baca Juga: Banyak Versi Film Cinderella, Apakah Kisahnya Cukup Feminis?

Menghalangi Pasar di Amerika Serikat

Oleh karena Hollywood mendominasi industri perfilman, pertama kalinya menjadi studio film dan tempat munculnya perusahaan produksi, keberhasilan sebuah sinema masih identik dikaitkan apabila ditayangkan, atau meraih penghargaan di Amerika Serikat.

Namun, para sineas tidak dapat menjangkau Hollywood apabila audiensnya menutup diri terhadap kualitas sinema, hanya karena penggunaan alih bahasa.

Keengganan itu menggambarkan bagaimana Bahasa Inggris dianggap sebagai raja dan bersifat universal, serta menilai alih bahasa menggagalkan pesan yang berusaha disampaikan oleh lewat narasinya.

Aktor asal Inggris, Helen Mirren, pernah menyalahkan penggunaan “Frenglish” atau French-English, dalam The Hundred-Foot Journey (2014). Hal tersebut dikarenakan dorongan dari Hollywood, dan orang Amerika Serikat tidak akan menerima film tersebut jika menggunakan bahasa Prancis sepenuhnya, karena memerlukan alih bahasa.

Dengan minimnya ketertarikan pasar Amerika Serikat, hal ini telah menghalangi film berbahasa asing untuk dinikmati lebih luas. Di masa lalu, film dengan alih bahasa hanya ditayangkan di bioskop tertentu, karena terbatasnya pendistribusian film.

Menurut Carol O’Sullivan, seorang sejarawan terjemahan film dari University of Bristol, Inggris, film-film tersebut dianggap dapat bersaing dalam hal prestise budaya, tetapi tidak dengan pasar Hollywood. “Mereka lebih penting dalam lingkaran budaya,” tuturnya kepada The New York Times.

Sementara, dari perusahaan dan distributor film, tidak semuanya bersedia berinvestasi dalam film berbahasa asing, tak terkecuali yang hits. Wakil presiden Sony Pictures Classics, Tom Bernard, mengatakan kepada IndieWire, mereka tidak ingin mengambil risiko dengan menayangkan film berbahasa asing di Amerika Serikat.

Padahal, sebelumnya Sony Pictures Classics menayangkan sejumlah film dari berbagai negara, seperti Amour (2012) dari Prancis, A Separation (2011) asal Iran, dan The Raid: Redemption (2011) dari Indonesia.

Keputusan itu dilakukan lantaran Academy of Motion Pictures Arts and Sciences, atau dikenal sebagai Piala Oscar, mengubah peraturan penilaian film berbahasa asing. Kini penilaian dilakukan oleh anggota organisasi The Academy, atau para pembuat film dari seluruh dunia yang terkualifikasi. Maka itu, penghargaan cenderung dimenangkan oleh film yang populer, dan menyingkirkan lainnya.

Padahal, jika penonton mau menghilangkan batasan dalam alih bahasa, mereka dapat mengenal lebih banyak film berkualitas, seperti disampaikan Bong Joon Ho dalam pidato kemenangannya di Academy Awards. Pun kesempatan film berbahasa asing meraih penghargaan akan terbuka lebar.

Baca Juga: ‘Midnight Mass’, Ketika Keajaiban Agama Jadi Mimpi Buruk

Kehadiran Layanan Streaming

Layanan streaming seperti Netflix, Hulu, Disney+, dan Amazon Prime membuka peluang bagi para sineas dari berbagai negara, agar karyanya dapat dinikmati lebih luas. Pun penonton lebih cair dalam menyaksikan film dan serial televisi karena lebih mudah mengeksplorasi.

Sebagai layanan streaming terbesar, salah satu tujuan Netflix ialah memproduksi serial dari banyak negara agar dapat disaksikan oleh audiens mancanegara. Hal ini disampaikan oleh Chief Product Officer Netflix, Greg Peters, saat menghadiri Web Summit pada 2018 lalu.

“Tempat tinggal atau bahasa yang digunakan audiens bukan halangan, semua ini tentang storytelling,” ujarnya dikutip dari CNet. Menurut Peters, para anggota Netflix mengandalkan storytelling autentik, dalam menyampaikan perspektif yang didasarkan pada budaya lokal. 

Berdasarkan data dari What’s on Netflix, 45% konten di Netflix merupakan konten berbahasa asing. Di antaranya bahasa Hindi, Spanyol, Jepang, Mandarin, dan Korea yang menduduki enam konten terbanyak, setelah Bahasa Inggris di peringkat pertama.

Terbukti dari serial berbahasa asing yang banyak ditonton di Netflix adalah Narcos (2015) dan Money Heist (2017) yang berbahasa Spanyol.

Selain serial dari Eropa, popularitas drama Korea (drakor) juga meningkat. Menanggapi hal ini, Joan MacDonald, kontributor Forbes yang meliput media Korea, menyebutkan perpaduan genre layaknya k-pop membuat penonton Amerika Serikat tertarik dengan drakor. 

Baca Juga: 5 Drakor yang Bongkar Isu-isu Penting Institusi Kepolisian

Tak luput para penggemar k-pop yang menyaksikan drakor, untuk melihat idola mereka yang ikut membintangi. Namun, mereka cenderung menonton di Viki karena Netflix Amerika Serikat tidak menayangkannya.

Kepada AP News, Macdonald menuturkan, “Dalam sebuah drama tidak hanya fokus pada satu genre, tetapi ada perpaduan genre. Misalnya horor dan komedi romantis, yang dibuka dengan cerita tentang gangster.”

Pernyataan tersebut didukung oleh keberhasilan Squid Game (2021) yang menduduki serial nomor satu di dunia, dengan 111 juta penonton dalam 17 hari. Lebih dari sekadar serial televisi bergenre thriller, drama, dan action fiction yang menghibur, Squid Game menyimpan banyak pesan moral di dalamnya.

Terlepas dari meningkatnya keterbukaan penonton terhadap penggunaan alih bahasa, kata Senior Vice President, Content Strategy, dan Inclusive Programming di AMC Theatres Nikkole Denson-Randolph, kepada New York Times, sebuah film harus tetap menarik untuk mendapatkan pasar di Amerika Serikat.

Ketertarikan tersebut dinilai berdasarkan character-driven, atau film yang dikembangkan dari sisi karakter, sehingga pemaknaan cerita bukan dimaknai berdasarkan alurnya. Misalnya Nightcrawler (2014), Head-On (2004), 7 Hari Sebelum 17 Tahun (2021), dan Parasite (2019).

Denson-Randolph menambahkan, menurut distributor, film-film dengan character-driven mampu menarik perhatian anak muda. Lebih dari itu, mereka perlu memastikan target audiens agar film berbahasa asing laku di pasaran.

 

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.