February 4, 2023
Issues

Saya Positif HIV, Menikah, Punya Anak, dan Hidup Bahagia

Dinyatakan positif HIV ternyata bukan akhir. Saya bisa tetap hidup normal, menikah dengan pujaan hati, dan punya anak.

Avatar
  • November 30, 2022
  • 5 min read
  • 85 Views
Saya Positif HIV, Menikah, Punya Anak, dan Hidup Bahagia

Namaku Wahyudi. Aku mengenal narkoba sejak 1999. Tak peduli jarum steril atau tidak, aku tetap menyuntikkan narkoba jenis intravenous drug use (IDU) ini, hingga dijebloskan ke penjara pada 2006. Nahasnya, keluar dari penjara justru membuat kecanduanku makin menjadi-jadi. Uang hasil bekerja semua ludes aku gunakan untuk mengonsumsi narkoba.

Kebiasaan menghamburkan uang untuk narkoba itu terus berlanjut hingga 2015. Namun, semua berubat saat aku bertemu dengan perempuan yang kini jadi istriku. Ia setia, loyal, dan terus menyemangatiku. Ia juga menyadarkanku untuk lebih mencintai diri. Meski hubungan kami ditentang habis-habisan oleh keluarga, ia pantang mundur dan bertahan di sisi. Momen itulah yang akhirnya menjadi titik balikku.

“Sudah saatnya berhenti pakai narkoba,” pikirku saat itu.

Baca juga: Bagaimana Perempuan Indonesia dengan HIV/AIDS Berjuang dengan Stigma

Masalahnya, semua tak sesederhana itu. Pada 2016, hasil tes dokter menunjukkan aku positif Human Immunodeficiency Virus (HIV). Seperti gempa, aku galau luar biasa. Aku kehilangan pekerjaan dan sempat berpikir bunuh diri. Aku juga berubah jadi sosok yang sangat pendiam, sulit tidur, dan kerap melamun.

Pergumulan ini baru reda sebulan setelahnya. Aku belajar berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri bertemu dokter yang memvonisku positif HIV. Setelah mendapat penjelasan yang gamblang, aku memutuskan untuk mau mengikuti terapi anti-retroviral (ARV). Dua minggu pertama mengonsumsi obat ini adalah saat-saat yang sangat sulit. Pasalnya, aku kerap berhalusinasi dan sulit tidur.

Setiap kali ingin menyerah, wajah kekasih dan keluargaku langsung terbayang di depan mata. Aku bisa tetap bertahan. Hanya saja saat itu, aku belum punya nyali untuk memberi tahu mereka statusku yang positif HIV. Orang pertama yang aku beri tahu adalah kakak. Di luar ekspektasi, ia mendukungku, tanpa sedikit pun menghakimi. Ia bahkan cerita, ada sahabatnya yang positif HIV dan bisa tetap hidup bahagia seperti orang sehat.

Karena dukungan moral kakakku inilah, aku mulai terbuka ikut kegiatan-kegiatan antara sesama penderita HIV, termasuk kegiatan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Biar bagaimana pun kegiatan tersebut mengerek kepercayaan diriku. Aku jadi lebih semangat menjalani hidup. 

Di Agustus 2017, dengan semangat empat lima aku membuka status positif HIV kepada kekasihku. Ada mimik ragu darinya. Aku berpikir keras untuk dapat mempertahankan hubungan kami. Karena itulah, aku sengaja mengajaknya bertemu dokter di jadwal pengambilan obat rutinku. Harapannya, ia bisa dapat informasi yang jelas dari dokter tentang HIV/ AIDS.

Beruntung, dari pertemuan dengan dokter, pasanganku rupanya mau tetap menerimaku dan melanjutkan hubungan. Singkat cerita, di Desember 2017 kami meresmikan hubungan kami dalam ikatan pernikahan. Tentu saja dengan restu masing-masing orang tua. Saat itu, istri yang lebih banyak menanggung pengeluaran rumah tangga, mengingat aku belum punya pekerjaan dengan gaji tetap.

Baca juga: Kasus HIV Naik dalam Satu Dekade, Bagaimana Mengatasinya?

Cobaan kembali menyapa setelah istriku kehilangan pekerjaan. Kami terpaksa pindah dari Jakarta ke Bogor untuk menghemat pengeluaran. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kami mengandalkan sisa tabungan istri, sedangkan aku berjualan susu sapi dari para pemerah daerah Lido. Aku berjalan hingga ke Serpong, Tangerang. Yang penting laku. Yang penting pulang bawa uang.

Di tengah kondisi finansial yang seret, aku tetap semangat menjaga kepatuhan minum ARV. Tujuannya agar istriku tidak tertular HIV. Kepatuhan itu berbuah manis ketika hasil tes Viral Load (VL) punyaku akhirnya tidak terdeteksi (undetect). Kabar ini makin menguatkan tekad kami untuk merencanakan punya anak. Setahun kemudian, lahirlah putri kami tanpa kekurangan apapun. Ia cantik, aktif, dan pintar. Ia juga negatif HIV, sama seperti istriku.

Semangat dan dukungan keluarga ternyata mendatangkan rejeki. Pada September 2020, dengan bantuan teman, aku berhasil mendapatkan pekerjaan di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jakarta. Aku berperan jadi pendukung sebaya untuk orang-orang yang berstatus HIV seperti diriku.

Tugas utamanya, yakni menjembatani akses informasi agar orang-orang yang hidup dengan HIV tetap dapat mengakses pengobatan dengan mudah. Aku juga mencoba agar mereka bisa dapat perlakukan yang layak tanpa ada diskriminasi dan stigma negatif dari layanan kesehatan. Tak jarang untuk menyemangati mereka, aku membawa istri dan anak ke layanan.

Semua pekerjaan ini membuat aku merasa lebih hidup. Aku merasa tak sendirian lagi dan aku ingin orang-orang dengan HIV juga tak pernah merasa sendirian. Kendati jarak pulang-pergi kantor LSM mencapai 150 kilometer setiap hari, aku menjalaninya dengan sukacita dan tanpa beban. Aku juga semangat bekerja setiap kali mengingat di luar sana ada banyak orang yang butuh pendampingan dan penguatan. 

Baca juga: Bagaimana Menjadi Positif HIV Membuka Mata Saya

Pengalaman bekerja sebagai pendukung sebaya ini sungguh merupakan pencapaian terbesar dalam hidupku hingga kini. Aku seperti merasakan kehidupan kedua setelah kematian akibat penggunaan narkoba. Dengan rutin konsumsi ARV agar tetap undetected, aku kini bisa hidup bahagia bersama istri dan putri kecilku.

Semoga makin banyak teman-teman senasib yang bisa tetap menjalani hidup seperti biasa dan merasa bahagia. Semoga.

Link donasi: Cegah HIV Ibu Anak

Ini adalah artikel kelima dari series tulisan pelatihan jurnalis komunitas IAC di Bali, Oktober 2022. Baca artikel lainnya yang terbit setiap Rabu di Magdalene.co.

  1. Orang dengan HIV/ AIDS juga Bisa Berdaya
  2. Surat untuk Mendiang Puput: ‘Matahari di Sana Lebih Cerah, Nak!’
  3. Perempuan HIV di Tengah Bencana
  4. KTP untuk Transgender Sejak Kapan?
  5. Putus Nyambung ARV: Separuh Badan Lumpuh tapi Saya Harus Tetap Tumbuh

Editor:  Wahyudi
Avatar
About Author

Wahyudi

Wahyudi lahir di Jakarta pada 2 Desember 1976. Ia positif HIV sejak 2016 dan kini bekerja sebagai pendukung sebaya di Jaringan Indonesia Positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *