Women Lead
January 12, 2021

Pelajaran dari Tokoh Publik yang Melela pada 2020

Proses melela atau coming out tidak mudah. Ini pelajaran dari para selebritas LGBT yang melela pada 2020.

by Teja Janabijana
Issues // Gender and Sexuality
Queer Youth LGBT_Karina Tungari
Share:

Pada tahun 2020, ada sejumlah tokoh publik yang melela (coming out), mulai dari Cara Delevingne dan Elliot Page, sampai Ben Aldridge dan François Arnaud—semuanya aktor.

Beberapa majalah daring menyatakan ada 40 orang tokoh publik yang melela tahun lalu, sementara yang lain menyebut 70, bahkan ada juga yang mendata sebanyak 101 orang.

Perbedaan ini tentu didasarkan pada kriteria apa yang disebut "tokoh". Ada yang hanya mendata penyanyi papan atas, aktor populer, dan influencer dunia maya. Sementara daftar lain mencakup orang-orang yang berkecimpung di berbagai bidang seperti olahraga, penyiar televisi, dan penggiat seni modern. Ada juga daftar yang mencakup beberapa politisi.  

Kebanyakan daftar melela memuat orang kulit putih yang berasal dari Eropa maupun Amerika Serikat. Memang ada jaminan hukum bagi individu LGBTQ di sana, sehingga melela tidak hanya merupakan peristiwa pribadi, tapi bisa diterima dengan baik oleh masyarakat dan tidak dianggap mengganggu kehidupan sosial mereka.

Melela juga tidak mengancam karier mereka. Dalam beberapa kasus, bahkan melela menjadikan mereka sebagai “idola” baru. Para penggemar makin merasa dekat dengan orang yang mereka puja, dan bisa bersimpati pada apa yang mereka alami dan rasakan sebagai LGBTQ yang hidup tertutup.

Memang, masih sedikit "tokoh" di Indonesia yang melela. Selain perbedaan budaya, persoalan utama di negara kita adalah masih kuatnya pandangan homofobia dan anti-LGBTQ, minimnya toleransi keberagaman, dan ketiadaan ruang aman dan nyaman bagi mereka yang melela.

Baca juga: Queer Love: Tentang ‘Coming Out’ dan ‘Happy Ending’

Alih-alih melela, yang terjadi adalah “outing”, atau membeberkan identitas LGBTQ kepada umum tanpa persetujuan, dan ini justru semakin memberatkan proses melela. Kisah Oscar Lawalata membuktikan pentingnya dukungan orang tua dan teman dekat dalam menciptakan ruang aman dan nyaman bagi kita semua.  

Proses melela tiga tokoh publik berikut menurut saya sangat menarik dan bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua.

  1. Kwon Do-woon Melela untuk Jadi Diri Sendiri

Kwon Do-woon adalah penyanyi pop asal Korea Selatan kelahiran 1990. Berasal dari negara yang patriarkal dan tidak mengakui pernikahan LGBTQ, kisah Kwon yang melela menjadi menarik.

Meski Korea Selatan adalah salah satu negara ekonomi maju dan demokratis di Asia, secara sosial masyarakatnya masih konservatif.  Ada anggapan kuat masyarakat umum sulit menerima individu LGBTQ di dunia publik. Kebanyakan idola anak muda, baik penyanyi dan pemain drama, mesti tampil sebagai individu heteronormatif di depan penggemar. Kalaupun mereka berani memainkan peran sebagai LGBTQ di dalam drama televisi, hal tersebut hanya karena tuntutan profesi dan terlihat sesuai kebutuhan pasar.

Ada contoh pengalaman buruk idola Korea Selatan setelah melela. Pada 2000, aktor papan atas Hong Seok-cheon (yang adalah sepupu Taeyong dari grup NCT) melela, tapi ia malah dipecat dari jaringan program televisi dan berbagai iklan komersial pun dibatalkan. Ia juga mengalami diskriminasi di kalangan pekerja seni. Ia mesti berjuang sendiri, dan pengalaman ini semua justru semakin meneguhkan dirinya untuk memperjuangkan hak dan kepentingan individu LGBTQ di dunia publik.

Baca juga: ‘Gaya Sa Pelikula’: Potret Kaya Kehidupan Gay dan Peliknya Persoalan Melela

Pada Oktober 2020, Kwon melela dan ia mengakui Hong sebagai idolanya. Ia terinspirasi dari apa yang dilakukan Hong. Karena itu juga, dengan melela ia ingin tampil sebagai dirinya sendiri di dunia publik, sehingga juga masyarakat bisa melihat dan menilai dirinya apa adanya.    

"Saya ingin berperan dalam mewakili hak-hak asasi orang-orang [LGBTQ] dan membuka cakrawala untuk melela di industri hiburan,” ujar Kwon dalam pernyataan tertulis.

Selain Kwon dan Hong, para artis Korea yang sudah melela adalah artis K-pop Holland, Som Hein, dan Harisu.

  1. Pearl Mackie dan Stigma Ganda Perempuan Biseksual

Pearl Mackie adalah aktris muda asal London kelahiran 1987, yang telah membintangi sejumlah drama televisi dan film, salah satunya sebagai Bill Potts dalam serial Doctor Who. Ia melela sebagai biseksual pada bulan Juni saat Pride Month. Ia juga menyatakan dirinya bangga sebagai orang kulit hitam, dan ikut dalam beberapa demonstrasi Black Lives Matter di London sepanjang 2020.

Apa yang dilakukan Mackie mungkin terkesan biasa saja di negara itu, tetapi sesungguhnya punya dampak yang tidak kecil. Melela sebagai orang-orang biseksual tidaklah mudah dan kerap dipandang sebelah mata. Masih ada stigma dari orang-orang heteroseksual terhadap mereka yang biseksual (karena tidak straight), dan sejumlah orang-orang gay sendiri menganggap biseksual “tidak cukup gay.”

Baca juga: Asha bukan Oscar: Membongkar Miskonsepsi Soal Transgender

Mackie menghadapi stigma ganda karena ia perempuan, berkulit hitam, dan biseksual. Tidak banyak perempuan kulit hitam yang melela sebagai perempuan biseksual sehingga langkah Mackie ini sungguh berani dan signifikan. Ia menyadari betul apa yang dilakukannya bisa membawa konsekuensi tertentu, dan tampaknya ia lebih percaya bahwa ia perlu jujur pada dirinya sendiri.

  1. Clément Beaune Melela sebagai Pejabat Negara

Clément Beaune adalah politisi muda Perancis kelahiran 1981, pendukung presiden Emmanuel Macron, dan saat ini menjabat Sekretaris Menteri Negara untuk urusan Eropa. Meskipun Beaune bukan satu-satunya politisi muda Perancis yang melela pada 2020 (sebab ada juga Maxime Minot), apa yang dilakukannya lumayan dramatis.

Ia melela karena menyadari tugasnya dan tanggung jawabnya sebagai pejabat negara urusan Eropa. Hal ini terutama karena masih adanya kasus-kasus homofobia dan anti-LGBTQ di beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa, seperti di Hongaria dan Polandia. Juga, ada banyak migran LGBTQ dari luar Eropa yang mengalami persekusi di negara asalnya, seperti di Chechnya.

Di dalam wawancara dengan majalah Tetu, ia menyatakan ingin mewujudkan toleransi umum, sehingga komunitas LGBTQ dan minoritas lainnya merasa aman. Mari kita tunggu langkah konkret apa yang akan diambil Beaune dengan kewenangan yang dimilikinya, guna menyusun kebijakan publik yang lebih mumpuni.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Jena Tajabijana, menulis karena bosan bengong menjaga toko ATK orangtuanya yang sepi total akibat pandemi. Minder dengan para SJW karena isi medsosnya cuman astrologi.