05/10/2026
Issues

6 Perempuan yang Kisahnya Tersisih dari Sejarah 1965

Enam perempuan ini mengalami penahanan dan stigma setelah 1965. Kisah mereka menunjukkan sisi lain sejarah yang jarang dibicarakan.

  • October 5, 2026
  • 7 min read
  • 13 Views
6 Perempuan yang Kisahnya Tersisih dari Sejarah 1965

Nama-nama perempuan seperti Sumilah, Nani Nurani, Kaminah, Kusdalini, Umi Sardjono, dan Salawati Daud mungkin tidak terlalu sering muncul ketika kita membicarakan peristiwa 1965. Padahal, mereka adalah bagian dari orang-orang yang mengalami langsung dampak perubahan politik setelahnya.

Ada yang ditangkap ketika masih remaja. Ada yang menghabiskan bertahun-tahun di penjara tanpa pernah menjalani persidangan. Ada pula yang sebelumnya aktif dalam gerakan perempuan, politik, dan perjuangan kemerdekaan, tetapi kemudian harus menghadapi penahanan dan stigma karena dianggap berkaitan dengan kelompok kiri.

Bagi sebagian dari mereka, bebas dari penjara bukan berarti persoalan selesai. Label sebagai tahanan politik terus mengikuti kehidupan mereka, bahkan ikut dirasakan anak-anak dan keluarga.

Kisah-kisah seperti ini sering tenggelam ketika sejarah 1965 hanya dibicarakan melalui tokoh politik, militer, dan perebutan kekuasaan. Padahal, di luar nama-nama besar tersebut, ada orang-orang yang harus menjalani hidup dengan konsekuensi dari peristiwa itu selama bertahun-tahun.

Berikut kisah enam perempuan yang pengalaman hidupnya menjadi bagian dari sejarah 1965 dan masa setelahnya.

1. Sumilah, Ditangkap Saat Masih Anak-anak

Sumilah merupakan salah satu penyintas yang mengalami penahanan setelah peristiwa 1965. Saat ditangkap, usianya baru 14 tahun dan masih duduk di kelas 4 sekolah dasar.

Dalam artikel Konde berjudul Di Balik Peristiwa 1965: Ada Banyak Perempuan Yang Dihilangkan Dan Tak Mendapat Keadilan, diceritakan bahwa Sumilah sempat ditahan di Penjara Wirogunan, Yogyakarta, kemudian dipindahkan ke Penjara Bulu sebelum akhirnya dibawa ke Camp Plantungan.

Total sekitar 14 tahun hidupnya dihabiskan dalam penahanan.

Yang membuat kisah Sumilah semakin getir, ia tidak memahami persoalan politik yang sedang berlangsung ketika ditangkap. Dalam kesaksian yang diceritakan kembali oleh anaknya, Yohanes Bayu Adi, Sumilah hanyalah seorang anak yang ketika itu lebih mengenal kegiatan menari daripada politik.

Setelah bebas, Sumilah berusaha membangun hidupnya kembali dengan berjualan pakaian dan kemudian sate kambing di Pasar Prambanan, Yogyakarta. Namun, keluar dari penjara tidak otomatis berarti bebas dari hukuman sosial.

Label sebagai bekas tahanan politik terus mengikuti dirinya dan keluarganya.

Bayu mengatakan kepada Konde bahwa bagian paling berat bukan hanya ketika ibunya berada di penjara, tetapi kehidupan setelahnya. Stigma membuat Sumilah tetap dipandang sebagai orang yang bersalah meski ia sendiri menyangkal keterlibatannya dalam persoalan politik yang dituduhkan kepadanya.

Pengalaman itu bahkan ikut dirasakan Bayu ketika masih kecil. Ia pernah disebut sebagai anak PKI karena status ibunya.

Baca Juga: #MerawatIngatan65: Hantu Gerwani, Kenapa Perempuan Berani Selalu Dicurigai

2. Nani Nurani, Penyanyi Istana yang Dipenjara Tujuh Tahun

Nani Nurani dikenal sebagai penyanyi istana pada masa Presiden Soekarno. Namanya kemudian ikut terseret dalam penangkapan pasca-1965.

Menurut artikel Konde yang sama, Nani hanya pernah sekali diundang untuk bernyanyi dalam acara ulang tahun PKI di Cianjur, Jawa Barat, pada 1965. Setelah itu, ia ditangkap dan dituduh sebagai anggota PKI.

Nani juga dituduh pernah menyanyikan lagu di kawasan Lubang Buaya dalam rangkaian peristiwa September 1965.

Ia kemudian menjalani penahanan di Bukit Duri selama tujuh tahun. Setelah bebas, persoalan tidak berhenti. Nani masih menghadapi pemeriksaan dan stigma sebagai eks tahanan politik.

Pada masa Reformasi, Nani menempuh jalur hukum untuk memperjuangkan namanya. Konde mencatat bahwa ia mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Gugatan tersebut kemudian dikabulkan dan tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan Nani terlibat dalam G30S ataupun PKI.

Ia juga melanjutkan perjuangan hukum terkait stigma yang diterimanya dan didampingi LBH Jakarta serta YLBHI.

Kisah Nani memperlihatkan bagaimana sebuah tuduhan politik dapat terus mengikuti seseorang bahkan setelah bertahun-tahun keluar dari penjara.

Baca Juga: ‘Rumah Dukkha’: Soal Trauma, Gerwani, dan Hantu PKI 

3. Kaminah dan Kusdalini, Bertemu di Penjara lalu Menjalani Hidup Bersama

Kaminah dan Kusdalini memiliki cerita yang sedikit berbeda. Keduanya bertemu ketika sama-sama ditahan setelah peristiwa 1965 dan kemudian menjalani hidup bersama hingga usia lanjut.

Dalam artikel Historia berjudul Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I, disebutkan bahwa keduanya ditangkap karena keterkaitan mereka dengan kelompok paduan suara yang berada di bawah Pemuda Rakyat. Keduanya kemudian menjalani penahanan tanpa proses pengadilan.

Kusdalini ditahan selama sekitar dua tahun, sedangkan Kaminah menjalani penahanan selama tujuh tahun.

Setelah bebas, Kaminah tidak lagi diterima keluarganya. Ia kemudian tinggal bersama Kusdalini dan nenek Kusdalini di Solo.

Kehidupan mereka di masa tua kemudian diabadikan sutradara Fanny Chotimah dalam film dokumenter You and I.

Film tersebut tidak hanya membicarakan masa lalu politik mereka, tetapi lebih banyak memperlihatkan kehidupan sehari-hari dua perempuan lansia yang saling merawat. Mereka memasak, membersihkan rumah, berbincang, dan menjalani hari bersama setelah melewati pengalaman panjang sebagai penyintas.

You and I kemudian memenangkan Asian Perspective Award di DMZ International Documentary Film Festival 2020. Situs resmi DMZ Docs mencatat film karya Fanny Chotimah tersebut sebagai pemenang kategori Asian Competition.

Kisah Kaminah dan Kusdalini akhirnya tidak hanya menjadi cerita tentang penahanan, tetapi juga tentang persahabatan yang bertahan selama puluhan tahun.

4. Umi Sardjono, Aktivis Perempuan dan Pemimpin Gerwani

Sebelum namanya dikaitkan dengan peristiwa 1965, Umi Sardjono sudah memiliki perjalanan panjang dalam gerakan perempuan dan perjuangan kemerdekaan.

Nama aslinya adalah Suharti Sumodiwirdjo. Ia lahir di Salatiga pada 24 Desember 1923 dan tumbuh dalam keluarga yang memungkinkan dirinya mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Artikel Tirto berjudul Jalan Revolusi Umi Sardjono, Pejuang Kemerdekaan & Pemimpin Gerwani mencatat keterlibatan Umi dalam gerakan nasional sejak masa kolonial. Ia pernah bergabung dengan Partai Indonesia Raya dan kemudian aktif dalam gerakan buruh serta perempuan.

Pada 1945, Umi bersama S.K. Trimurti ikut membentuk Barisan Buruh Wanita. Beberapa tahun kemudian, ia turut mendirikan Gerwis yang kemudian berubah menjadi Gerwani.

Sebagai salah satu pemimpin Gerwani, Umi aktif membawa isu perempuan ke ruang politik. Ia antara lain memperjuangkan hak perempuan dan anak serta mendorong keterlibatan perempuan dalam kehidupan politik.

Namun, situasi berubah setelah 1965.

Menurut Tirto, Umi Sardjono dan Kartinah yang saat itu merupakan sekretaris jenderal Gerwani termasuk perempuan yang ditangkap setelah peristiwa 30 September 1965. Umi sempat ditahan di Bukit Duri dan kemudian dibawa ke Plantungan.

Ia juga pernah menceritakan bahwa dirinya diminta mengakui keterlibatan Gerwani dalam penyiksaan para jenderal di Lubang Buaya. Tuduhan tersebut ia bantah.

Dengan latar perjuangan yang panjang, kisah Umi menunjukkan bagaimana seorang aktivis perempuan yang sebelumnya terlibat dalam gerakan nasional kemudian mengalami perubahan drastis dalam posisi sosial dan politiknya setelah 1965.

Baca Juga: #MerawatIngatan65: Ceritaku sebagai Gen Z yang Belajar Ulang Sejarah G30S

5. Salawati Daud, Wali Kota Perempuan Pertama di Makassar

Salawati Daud adalah nama lain yang menarik ketika membicarakan perempuan dan sejarah politik Indonesia sebelum 1965.

Dalam artikel Tirto berjudul Salawati Daud: Walikota Perempuan Pertama dan Wakil PKI di Parlemen, Salawati disebut berasal dari Sangir, Sulawesi Utara. Ia aktif dalam perjuangan politik di Sulawesi Selatan dan pernah menjadi pemimpin redaksi surat kabar Wanita.

Salawati juga terlibat dalam berbagai upaya menyelesaikan persoalan bekas gerilyawan setelah berakhirnya perang kemerdekaan. Ia pernah bertemu dengan kelompok yang dipimpin Kahar Muzakkar untuk membicarakan persoalan politik dan integrasi bekas gerilyawan.

Setelah Konferensi Meja Bundar, Salawati menjadi Wali Kota Makassar. Tirto mencatat bahwa ia merupakan perempuan pertama yang menjabat wali kota di Makassar sekaligus disebut sebagai wali kota perempuan pertama di Indonesia.

Pada Pemilu 1955, Salawati kemudian duduk di parlemen sebagai wakil PKI.

Setelah perubahan politik 1965, kehidupannya ikut berubah. Ia ditahan dan mengalami stigma sebagai bagian dari kelompok yang dikaitkan dengan PKI.

Perjalanan Salawati memperlihatkan bahwa label politik setelah 1965 dapat menenggelamkan riwayat panjang seseorang yang sebelumnya memiliki peran dalam pemerintahan dan perjuangan Republik.

Mengingat Mereka Berarti Melihat Sejarah dari Sisi Lain

Sejarah 1965 sering kali dibicarakan melalui tokoh-tokoh politik, militer, dan perebutan kekuasaan. Namun, pengalaman perempuan yang berada di luar pusat pengambilan keputusan juga menjadi bagian dari sejarah tersebut.

Sumilah harus menghabiskan 14 tahun masa mudanya di penjara. Nani Nurani menjalani tujuh tahun penahanan dan bertahun-tahun memperjuangkan nama baiknya. Kaminah dan Kusdalini menjalani masa tua bersama setelah bertemu di penjara. Umi Sardjono kehilangan kebebasannya setelah bertahun-tahun aktif dalam gerakan perempuan. Sementara Salawati Daud, yang pernah menjadi wali kota dan anggota parlemen, ikut mengalami penahanan dan stigma setelah perubahan politik 1965.

Kisah Sumilah, Nani Nurani, Kaminah, Kusdalini, Umi Sardjono, dan Salawati Daud memperlihatkan bahwa dampak peristiwa 1965 tidak berhenti pada mereka yang berada di pusat pertarungan politik. Ada perempuan yang kehilangan masa muda karena dipenjara, ada yang harus bertahun-tahun menghadapi stigma, dan ada pula yang sebelumnya punya rekam jejak panjang dalam gerakan perempuan dan politik Indonesia.

Nama-nama mereka mungkin tidak sesering tokoh politik dan militer disebut ketika kita membicarakan 1965. Namun, pengalaman mereka tetap menjadi bagian dari sejarah yang perlu diketahui.

Bagi mereka yang mengalaminya, 1965 bukan sekadar tanggal dalam buku sejarah. Dampaknya terus terbawa dalam hidup mereka, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

About Author

Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.