#MerawatIngatan65: Ceritaku sebagai Gen Z yang Belajar Ulang Sejarah G30S
Apa yang kamu ingat ketika mendengar kata G30S? Partai Komunis Indonesia (PKI), Lubang Buaya, atau pembunuhan tujuh jenderal? Setidaknya, aku pernah tumbuh dengan satu jawaban yang terasa pasti: PKI adalah dalang utama kekejaman 30 September 1965.
Jawaban itu tidak muncul begitu saja. Aku tumbuh dalam keluarga berlatar belakang militer, sehingga obrolan tentang Gerakan 30 September di meja makan hampir selalu datang dengan cerita yang sama. PKI digambarkan sebagai kelompok paling bejat dan tidak beragama, sementara TNI ditempatkan sebagai pihak yang menyelamatkan negara. Dari situlah, sejak kecil, aku mengenal PKI sebagai pengkhianat dan TNI adalah mesiah, sang juru selamat.
Narasi itu kemudian diperkuat lewat film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Tayang sejak 1984 dan jadi tontonan rutin September di TVRI sejak 1985. Film tersebut menyuguhkan adegan penculikan dan pembunuhan para jenderal dengan visual kekerasan yang intens. Film ini terus diputar di televisi hingga aku berusia belasan tahun. Tanpa konteks sejarah yang utuh, kengerian yang ditampilkan berulang kali ikut membentuk cara pandangku terhadap peristiwa 1965.
Seiring bertambah usia, penayangan film itu semakin jarang. Kehadiran smartphone dan media sosial perlahan mengambil alih ruang yang dulu ditempati tayangan rutin setiap akhir September. Namun, berkurangnya durasi tayang tidak serta-merta menghapus cerita yang sudah telanjur tertanam di kepalaku.
Sampai pada 27 September 2020, sebuah unggahan tentang Fico Fachriza, cucu Murad Aidit—adik D.N. Aidit, ketua PKI—muncul di linimasa. Cerita tentang keluarganya dan stigma yang melekat pada identitas “cucu PKI” membuatku untuk pertama kalinya bertanya: Seberapa banyak dari sejarah G30S yang selama ini kukira sudah kukenal, sebenarnya belum pernah benar-benar kupelajari?
Baca juga: 5 Hal Seputar Peristiwa 1965 yang Sungkan Kamu Tanyakan
Titik Balik dan Fakta Sejarah G30S Yang Tak Pernah Hitam Putih
Unggahan di media sosial Narasi itu tak berdurasi lama. Isinya hanya menampilkan kesaksian seorang cucu Murad Aidit, yakni Fico Fachriza. Mulanya, Fico hanya berkelakar di Twitter (saat ini X) soal pertemuan yang diduga kumpul-kumpul PKI di gedung Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta pada 2017 silam. Sebagai cucu Murad Aidit, harusnya ia diajak berkonsolidasi, ungkapnya.
Dalam video itu, Fico juga menjelaskan bagaimana kakeknya, sebagai keturunan Aidit, jadi korban salah tangkap pada 1965. Sepulang dari Moscow, Rusia–tempatnya menempuh S2–Murad justru ditangkap di bandara, dan diasingkan di Pulau Buru setidaknya sampai 1979. Alasannya, Murad dianggap sebagai bagian dari PKI yang jadi dalang peristiwa G30S. Peristiwa ini pun membawanya pada diskriminasi karena stigma soal “cucu PKI”.
“Kata teman-teman saya, ‘wah PKI, PKI, enggak boleh jadi imam shalat’,” kata Fico.
Sebagai gen z yang tidak melalui peristiwa itu secara langsung, aku tentu punya privilese tersendiri untuk lebih objektif memandang tragedi tersebut. Jarak yang ada membuatku tak punya bias personal dalam menilai kebrutalan yang terjadi pada 1965. Berangkat dari video Fico, aku pun memutuskan untuk memetakan ulang timeline dan konteks sejarah saat peristiwa itu terjadi. Dari yang kutemukan, G30S nyatanya tidak muncul dari motif perebutan kekuasaan semata, seperti yang disiarkan selama ini.
Temuan itu kudapat dari buku Metode Jakarta: Amerika Serikat, Pembantaian 1965, dan Dunia Global Kita Sekarang. Untuk memahami konteks global di masa itu, buku ini membawaku pada fakta dunia pasca Perang Dunia II, tepatnya saat masa-masa Perang Dingin terjadi. Amerika Serikat, sebagai kekuatan kapitalis baru yang dominan, punya ambisi untuk menahan dan melawan daya tarik Uni Soviet dan komunismenya. Hal ini pun berimbas pada hasrat Amerika Serikat untuk memengaruhi negara-negara di Asia, agar tak jatuh ke dalam ideologi ini.
Melihat eksistensi Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Sukarno dan PKI yang mentereng pada pemilu 1955, Amerika Serikat ketar-ketir. Dalam buku karya Vincent Bevins ini, dijelaskan bagaimana AS secara sengaja mendanai dan menyulut pemberontakan-pemberontakan melawan Sukarno di beberapa pulau-pulau di Indonesia. Akan tetapi, upaya ini gagal. Keterlibatan AS dalam pemberontakan itu pun terungkap. Hal ini makin menjauhkan Soekarno dari Washington.
Pada percobaan kedua, Central Intelligence Agency (CIA) mulai fokus menggunakan militer sebagai strategi anti-komunis. Tak hanya di Indonesia, strategi ini juga ditemukan efektif di beberapa negara lain, seperti di Brasil, salah satunya. Puncaknya, terjadi pada tahun 1965, saat sekelompok perwira menengah Angkatan Darat (AD) menentang militer dan menamakan diri mereka sebagai Gerakan 30 September. Malam itu, mereka menangkap dan membunuh tujuh jenderal Angkatan Darat.
Tak hanya perihal konteks peristiwa G30S, aku juga menelusuri apa yang terjadi setelah 30 September 1965. Sebenarnya, pengetahuan ini kudapat dari berbagai sumber termasuk penelitian, essay, sampai rangkaian dokumenter yang disiarkan oleh beberapa media massa. Namun, yang terlengkap, kutemukan dalam penelitian Katharine McGregor bertajuk “The Indonesian Killings of 1965-1966” (2009). Temuan dalam riset ini setidaknya membuka mataku soal pihak mana saja yang terlibat dan juga catatan soal korban.
Baca juga: Facing Up to the Truth About What Really Happened in 1965
Seperti yang dijelaskan dalam buku Bevins, McGregor juga menuliskan bahwa jauh sebelum G30S terjadi, situasi Indonesia sudah tegang. Selain pengaruh dunia luar, konflik politik, kelas, sampai agraria akibat semangat reforma agraria PKI memicu ketegangan. Dalam riset itu, McGregor juga menggarisbawahi perihal aktor G30S yang muncul dalam berbagai versi. Versi resmi pemerintah Orde Baru, PKI lah dalangnya secara keseluruhan. Namun berdasarkan temuan John Roosa (2006) yang dikutip dalam risetnya, sejumlah pimpinan PKI memang terlibat, namun keterlibatan itu tidak menandakan g30sseluruh anggota PKI mengetahui apalagi terlibat dalam rencana G30S.
McGregor dengan jelas menuliskan apa yang terjadi pasca tragedi 30 September terjadi. Kala itu, Soeharto langsung bergerak menghancurkan gerakan tersebut, dan mengendalikan interpretasi publik soal peristiwa itu. Militer pun langsung menyatakan G30S sebagai kudeta PKI. Media-media beraliran kiri ditutup, sementara surat kabar yang disetujui oleh Angkatan Darat seperti Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha mendominasi pemberitaan.
Kehidupan pasca 30 September pun tak kalah kelam. McGregor menuturkan bahwa ratusan hingga jutaan orang dilaporkan jadi korban pembunuhan dengan dalih anggota atau terafiliasi dengan PKI. Setidaknya, beberapa kelompok seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sampai Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), juga tercatat jadi korban. Pembunuhan massal ini pun berkaitan dengan inisiasi dan koordinasi dari Angkatan Darat, meski dalam pelaksanaannya kelompok-kelompok sipil seperti Banser atau Ansor lebih banyak dikerahkan.
Pembantaian yang disertai penganiayaan ini juga terjadi di berbagai wilayah. Tak hanya terekam dalam temuan McGregor, sebuah dokumenter BBC News Indonesia bertajuk “G30S: Melacak kuburan massal korban pembantaian 1965 di Bali dan tawaran jalan damai” (2024), menemukan bahwa rentetan kekerasan juga terekam di Bali. Korban pembantaian ini pun dikubur secara massal. Titiknya acak. Bahkan beberapa kuburan massal ditemukan di badan-badan jalan.
Tak berhenti pada catatan peristiwa 1965-1966, McGregor juga menggambarkan inisiatif Indonesia untuk mengatasi tragedi yang pada akhirnya disebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia itu. Seperti saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, parlemen akhirnya mengesahkan aturan yang memungkinkan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Namun, komisi ini dibatalkan pada 2006 setelah Mahkamah Konstitusi. Selain dinilai tidak konstitusional, McGregor juga merekam adanya tekanan yang diberikan oleh sebagian anggota Nahdlatul Ulama (NU) yang bekerja sama dengan militer.
Baca juga: False Truth: Confronting History’s Cruel Treatment of Gerwani Women
Kritis Menyikapi Narasi Tunggal Saat Ini
Pengalamanku mempelajari ulang fakta sejarah G30S membawaku pada satu simpulan: Peristiwa kelam yang selama ini kukenal sebagai fakta sejarah, nyatanya merupakan narasi tunggal yang dibentuk dan diwariskan dengan sengaja oleh pemerintah.
Selama ini, aku mengira sejarah hanyalah kumpulan fakta yang terjadi di masa lalu. Tapi nyatanya, ada proses panjang sebelum cerita itu sampai dalam obrolan kita sehari-hari. Pemilihan sumber, penyusunan kronologi, sampai penentuan si jahat dan sang pahlawan yang dibentuk lewat kekuasaan, memainkan peran penting. Dengan pengulangan di pemberitaan, film, sampai buku sekolah, satu versi dari kejadian masa lalu bisa terasa begitu akrab sampai kita lupa bahwa itu adalah sebuah narasi yang dibentuk.
Hari ini, aku pun lebih berhati-hati saat berhadapan dengan narasi sejarah. Aspek-aspek seperti siapa yang menuliskannya, sumbernya, konteks tragedinya, jadi hal yang kupertimbangkan saat ini. Dan yang paling penting, aku juga memikirkan, siapa-siapa saja yang tidak tertulis dalam narasi tersebut.
Pertimbangan-pertimbangan itu pun terasa semakin relevan saat ini, terutama ketika pemerintah kembali menyusun ulang buku sejarah nasional. Dipimpin langsung oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, buku sejarah yang belum terbit sepenuhnya ini banyak menerima kritik dari pakar dan juga masyarakat. Penghilangan beberapa tragedi yang sudah mendapat banyak pengakuan seperti pemerkosaan massal 1998, misalnya, sempat mendapat kecaman keras dari berbagai pihak.
Mungkin itulah pelajaran paling penting dari prosesku unlearn dan relearn tragedi 30 September 1965. Pada akhirnya, sejarah bukan cuma tentang apa yang kita ingat, melainkan juga tentang bagaimana kita bisa terus mengingatnya. Setelah aku sadar bahwa memori itu bisa dibentuk, dipilih, dan juga diwariskan, kurasa menjadi kritis adalah satu-satunya cara agar kita tak lagi menerima sebuah sejarah hanya karena cerita itu dominan, atau sudah lama didengar.
Magdalene menerbitkan serangkaian artikel #MerawatIngatan65, yang berisi esai personal dan liputan tentang perempuan dalam pusaran 1965/1966. Artikel ini diterbitkan sebagai sebuah usaha mendekonstruksi narasi tunggal yang kerap kali ditulis oleh negara. Simak artikel lainnya di website kami.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















