June 1, 2023
Issues

Kontroversi Telusur Gang: Antara Wisata Kemiskinan dan Hilangnya Privasi Warga

Wisata kemiskinan, ‘postcolonial gaze’, dan privasi warga setempat jadi perhatian netizen ketika membicarakan telusur gang. Namun, apakah aktivitas ini merugikan warga?

Avatar
  • March 1, 2023
  • 7 min read
  • 124 Views
Kontroversi Telusur Gang: Antara Wisata Kemiskinan dan Hilangnya Privasi Warga

Akhir pekan lalu, netizen Twitter mendebatkan perihal telusur gang—aktivitas menelusuri gang di perkotaan. Pada dasarnya, kegiatan ini bisa dilakukan siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Namun, ada akun Instagram yang sesekali mengajak followers-nya menyusuri gang bersama. Salah satunya @gang.gang.an.

Mungkin kamu familier, akun itulah yang dibicarakan netizen. Berawal dari cuitan @cinemuach yang berbagi pengalamannya bersama Gang-gangan. Twit tersebut menceritakan keseruan Gang-gangan edisi Jakarta, yang baru pertama kali diselenggarakan. Aktivitas ini yang kemudian jadi perhatian.

Sebenarnya menelusuri gang pernah dilakukan di kota selain Jakarta, yakni Wonosobo dan Yogyakarta. Yang melaksanakan pun bukan hanya Gang-gangan, ada juga Jalan Gembira—mereka juga pernah menghelat di Jakarta. Namun, pelaksanaannya kali ini menciptakan diskursus di media sosial.

Lalu, mengapa hal itu menjadi perbincangan?

Baca Juga: Tiga Jam Uji Nyali di Gedung CC PKI (Bagian I)

Wisata Kemiskinan dan Mengaburkan Privasi Warga

Jika diperhatikan, ada beberapa hal yang menjadi sorotan netizen. Di antaranya wisata kemiskinan, postcolonial gaze, dan privasi warga setempat yang terancam.

Ketiga alasan tersebut sebenarnya patut diperhatikan. Wisata kemiskinan, misalnya, menampilkan perbedaan realitas antara kemewahan dan kekumuhan di kawasan perkotaan.

Awalnya, wisata kemiskinan berkembang di Inggris pada 1884. Dengan pura-pura beramal maupun dikawal polisi, orang-orang kaya yang tinggal di London berkunjung ke Shoreditch, London bagian Timur—salah satu area permukiman berpenduduk miskin.

Kemudian, turis Inggris membawa tipe wisata ini ke New York City (NYC), Amerika Serikat. Mereka membandingkan area kumuh di NYC, dengan di kampung halamannya. Lalu meluas ke San Francisco, dan masuk ke daftar destinasi yang perlu dikunjungi dalam panduan berwisata.

Barulah setelahnya, wisata kemiskinan diadaptasi sejumlah negara lain—seperti Filipina, India, Brazil, dan Afrika Selatan. Hal itu kemudian jadi problematik, dikarenakan mengeksploitasi kemiskinan sebagai hiburan.

Namun, warga kulit hitam di Afrika Selatan sendiri menawarkan wisata kemiskinan pada 1990-an, di daerah terpinggirkan dan terpisahkan karena isu rasial. Mereka melakukannya untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat global, akan pelanggaran hak asasi manusia—bukan tindakan eksploitatif.

Sementara dalam Ted Talk, Meghan Muldoon, akademisi di Arizona State University, Amerika Serikat menjelaskan, warga Afrika Selatan di area terpinggirkan memandang lain terhadap wisata kemiskinan. Mereka menganggap, interaksi dengan para turis sebagai sarana pertukaran informasi—sekaligus cara untuk mempelajari budaya baru, dan menyembuhkan luka akibat masa lalu oleh para penjajah.

Di Indonesia sendiri, sebuah tur bernama Jakarta Hidden Tour, mengadakan wisata kemiskinan sejak 2008. Mereka memfokuskan perjalanan ke kawasan kumuh, dilatarbelakangi tujuan sosial berupa emergency, education, dan empowerment. Jakarta Hidden Tour berharap, program pariwisata yang dicanangkan mampu berkontribusi dalam membangun sekolah informal, pelayanan kesehatan masyarakat, pelatihan bahasa asing, dan pembiayaan microfinance untuk memberdayakan perempuan.

Baca Juga: Ada Alasan Struktural di Balik Malasnya Orang Indonesia Jalan Kaki

Wisata kemiskinan pun tak luput dari postcolonial gaze. Realitas itu melatarbelakangi Edward Said, akademisi asal Amerika dan Palestina, dalam menjelaskan keadaan di mana orang-orang Barat lebih superior dibandingkan Timur, yang ia sebut sebagai Orientalism. Dalam Orientalism (1978), yang termasuk bagian dari Timur menurut Said adalah orang-orang Asia, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Mereka terikat dengan kolonialis, dan tunduk pada kekuasaan.

Karenanya, dalam konteks aktivitas telusur gang, warganet Twitter mengkhawatirkan para peserta merasa dirinya progresif dan superior. Kemudian, melihat warga yang bermukim di gang merepresentasikan kemunduran dan inferioritas. Suatu perbincangan yang muncul, ketika Gang-gangan diadakan di Jakarta.

Sebagian warganet menilai, respons tersebut didorong oleh Jakarta yang kental akan isu disparitas dan postcolonial gaze. Sementara di Yogyakarta dan Wonosobo tidak demikian, lantaran admin Gang-gangan lahir dan besar di gang sempit, sehingga menjadi bagian dari komunitas dan kemiskinan struktural—bukan romantisasi kemiskinan. Hal ini mereka sampaikan melalui pernyataan di blognya.

Kendati demikian, sebagai peserta Gang-gangan dan Jalan Gembira, Hitto tidak mengamini opini tersebut. Menurutnya, tidak semua warga di Yogyakarta pun berkenan area tempat tinggalnya dijadikan tempat wisata. Meskipun memaklumi banyaknya wisatawan.

Namun, tak dimungkiri setiap gang menyimpan nilai historis masing-masing, dan menawarkan ketertarikan untuk dieksplor. Kawasan yang dilalui kegiatan telusur gang pun berbeda, dengan area kumuh yang dikunjungi Jakarta Hidden Tour. Hitto sendiri melihat, setiap gang terbentuk dari dinamika, budaya, kondisi ekonomi, sosial, dan tekanan.

Karakteristik gang yang berbeda itu, membuat Hitto tertarik menelusuri gang. Alih-alih memandang kehidupan penduduk gang sebagai kemirisan, lulusan tata kota ini melihat setiap warga memiliki keunikan dalam cara bertahan hidup. Salah satunya mengatasi keterbatasan lahan, seperti menjemur pakaian. Atau bagaimana warga menahan jendela dengan payung, karena engselnya rusak.

“Itu contoh bagaimana masyarakat kita mencoba menghadapi keseharian, dengan tools sederhana yang mereka punya,” tutur Hitto. “(Saya) melihatnya tidak melulu kemirisan, tapi cara bertahan paling sederhana.”

Baca Juga: Tabrak Lari Sampai Pemakaian Patwal: 3 Kasus Viral di Jalanan

Meskipun tidak mencerminkan wisata kemiskinan ataupun postcolonial gaze, privasi warga adalah kekhawatiran lain yang seharusnya diperhatikan. Tak lain tak bukan disebabkan oleh smartphone dan media sosial. Yakni dengan memotret kediaman warga—tanpa consent mereka, kemudian membangun narasi yang mengandung eksotisme. Atau mempublikasikannya di pemberitaan media.

Ini membahayakan keberlangsungan hidup warga setempat. Selain kriminalitas, ada kemungkinan mereka kehilangan tempat tinggal akibat penggusuran—dikarenakan dianggap melanggar aturan tata ruang dan merupakan penghuni liar. Terutama di area yang memiliki permasalahan lahan.

Terlepas dari beberapa hal yang menjadi sorotan netizen tersebut, kegiatan menelusuri gang bukan berarti dapat dilihat secara hitam-putih. Ini bergantung pada tujuannya dilaksanakan.

Intensi Aktivitas Telusur Gang

Saya telah menghubungi Gang-gangan untuk meminta keterangan, tetapi mereka menolak diwawancara. Namun, Gang-gangan mengizinkan mengutip pernyataan yang dipublikasikan di blognya.

Awalnya, Gang-gangan terbentuk karena kesamaan hobi jalan kaki di kalangan pertemanan. Selain sarana melepas penat, kegiatan tersebut juga digunakan sebagai kesempatan mengenal Wonosobo dan Yogyakarta lebih baik—dua kota domisili para admin. Kemudian, mereka menggunakan Instagram story untuk mengarsipkan kehidupan di tengah permukiman.

Dari situlah para admin menjadikan telusur gang sebagai aktivitas kolektif. Mereka melakukan survei sebelum mengadakan perjalanan, untuk memastikan kegiatannya tidak mengganggu warga. Selain itu, Gang-gangan juga melibatkan warga lokal, untuk menceritakan tempat tinggalnya.

Berkaca dari penjelasannya, tampaknya intensi Gang-gangan berbeda dengan wisata kemiskinan—yang juga bergantung pada kawasan permukimannya. Namun, ini tidak menutup postcolonial gaze yang tanpa disadari kita miliki, dan menjadi tanggung jawab individu. Terlebih kampung yang terletak di perkotaan, cenderung memiliki perbandingan kehidupan modern dan tradisional.

Sependapat dengan hal ini, Hitto yang pernah mengikuti telusur gang di Jakarta dan Yogyakarta mengatakan, kegiatan tersebut baik untuk dilakukan, tanpa harus membuat perjalanannya bermakna dengan membahas kolonialisme atau ketimpangan.

“Yang penting, kita punya kesadaran untuk terus membuka diri, mengkroscek apakah kita eksploitatif. Dibuat fun aja,” katanya.

Hitto pun mendapati perbedaan telusur gang yang dipandu Gang-gangan dan Jalan Gembira. Sepanjang perjalanannya bersama Gang-gangan di Jakarta pada Juli 2022, ia mengaku banyak pembicaraan seputar ornamen arsitektur, bangunan, dan kolonialisme di Jakarta. Secara tidak langsung, obrolan itu didukung oleh rekan grup Hitto saat itu, yang lulusan arsitektur dan memahami sejarah Tionghoa.

Sementara bersama Jalan Gembira di tahun yang sama, Hitto mengatakan lebih fokus pada kegiatan jalan kakinya—tanpa ada perbincangan khusus. “Waktu bareng Jalan Gembira, saya lebih menikmati (perjalanan) dengan memikirkan sendiri tanpa mengomunikasikan. Misalnya soal dinamika kampungnya,” ujar Hitto.

Di samping itu, ada satu hal lain yang perlu diperhatikan, perihal dokumentasi. Peserta telusur gang, dan siapa pun yang berjalan kaki menyusuri gang, perlu mempertimbangkan hak warga setempat. Apakah mereka berkenan jika lingkungan tempat tinggalnya dipotret, dan dipublikasikan di media sosial?

Dengan demikian, masalah baik buruknya telusur gang tergantung bagaimana pendatang, memantaskan diri di suatu tempat. Dan sebagai orang dari luar kawasan itu, perlu bersikap terbuka terhadap sudut pandang–atau pemikiran–yang lebih inklusif dan komprehensif dalam melihat suatu hal.


Editor:  Aurelia Gracia
Avatar
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *