Lifestyle

Sejarah Bedah Plastik: Dipakai Badan Intelijen Sampai Jadi Simbol Rasisme

Bedah plastik punya sejarah yang kompleks. Ia tak hanya hadir sebagai inovasi dalam perang dunia pertama, tapi ia juga jadi simbol penindasan perempuan lewat standar kecantikan rasial

Avatar
  • September 14, 2022
  • 9 min read
  • 620 Views
Sejarah Bedah Plastik: Dipakai Badan Intelijen Sampai Jadi Simbol Rasisme

Nama Lucinta Luna belakangan ini jadi salah satu nama artis tanah air yang banyak disebut di rubrik hiburan media daring. Keterbukaannya terhadap serangkaian proses bedah plastik yang ia jalani jadi faktor utamanya. Melalui akun pribadi, Lucinta Luna yang memiliki pengikut 2.9 juta, membagikan pengalamannya menjalani serangkaian bedah plastik.

Mulai dari operasi jakun, tulang ekor, operasi rahang, hingga cangkok kulit. Semua ia tampilkan secara blak-blakan layaknya sedang dalam program reality. Ia bahkan tak segan-segan menjawab pertanyaan pengikutnya terkait penampilan idealnya, kendala, dan apa saja yang ia rasakan selama menjalani operasi.  

 

 

Jika kita kembali ke tiga dekade sebelumnya, tindakan Lucinta Luna ini cukup tabu. Ada stigma tersendiri bagi perempuan pada era ini jika ketahuan melakukan bedah plastik. Maka tak heran banyak artis perempuan di era 1980 hingga 2000-an awal misalnya menyangkal menjalani rangkaian bedah plastik. Tapi kini semuanya berubah. Bedah plastik kini sudah jadi tren kecantikan.

Berdasarkan data Perhimpunan Bedah Plastik Estetika Internasional (International Society of Aesthetic Plastic Surgery/ISAPS), tercatat 11.363.569 prosedur bedah plastik yang dilakukan sepanjang 2019. Dalam skala global, angka ini dapat dibaca sebagai peningkatan kuantitas penanganan bedah plastik sebesar 7,1 persen dari tahun 2018. Kondisi serupa juga terjadi pada prosedur nonoperasi yang naik 7,6 persen, bentuknya mulai dari perawatan suntik, seperti botox dan filler yang semakin murah dan aman.

Untuk bedah plastik sendiri, ISAPS mencatat operasi pembesaran payudara jadi operasi bedah plastik yang paling banyak digemari dengan jumlah 1.795.551 prosedur, disusul oleh sedot lemak dengan total 1.704.786 prosedur. Proporsinya cukup besar, yaitu setara dengan 15 persen dari total prosedur bedah plastik yang dilakukan secara global.

Adanya peningkatan minat terhadap bedah plastik di masyarakat dunia tentu menimbulkan banyak pertanyaan di dalamnya. Salah satunya tak jauh dari sejarah bedah plastik itu sendiri. Sudah berapa lamakah prosedur ini ada? Dan sejak kapan prosedur ini mulai digemari masyarakat? Berikut ini penjelasannya

Baca Juga: Ayo Gowes: Sepeda sebagai Instrumen Feminisme

Sudah Ada Sejak Lama dan Perang Dunia Mempopulerkannya

Menelusuri sejarah bedah plastik tak lengkap rasanya kalau kita tidak menghitung mundur setidaknya selama ribuan tahun. Keluar dari batas asumsi kebanyakan orang, prosedur tertua bedah diketahui muncul dalam teks medis Mesir Kuno,”Papirus Edwin Smith” (dinamakan demikian sesuai dengan ahli Mesir Kuno Amerika yang membelinya pada 1862). Teks medis ini dianggap sebagai buku teks bedah trauma awal yang berisi studi kasus terperinci untuk berbagai cedera dan diagnosis.

Oscar Holland, produser CNN Style menulis Papirus tak hanya menunjukkan bagaimana orang Mesir merawat luka dan patah tulang, tetapi juga mengungkapkan perbaikan yang disarankan untuk cedera hidung seperti memanipulasi hidung ke posisi yang diinginkan sampai pembuatan kaki palsu.

Beberapa sumber menyebutkan operasi plastik yang diketahui dalam teks medis kuno, telah dilakukan di Mesir Kuno sekitar tahun 1600 SM dan umumnya prosedur operasi yang dilakukan melibatkan perbaikan hidung. Hal ini karena pada era Mesir Kuno, prosedur operasi bertujuan untuk memperbaiki wajah atau hidung akibat luka atau kerusakan yang ditimbulkan dari kecelakaan.

Justin Yousef, peneliti di bidang bedah plastik dan ahli bedah magang di Rumah Sakit Royal Prince Alfred, Sydney dalam wawancaranya bersama CNN menjelaskan kendati Papirus memang memberikan bukti mengenai prosedur bedah trauma, secara historis Papirus masih jadi perdebatan para sejarawan. Apakah prosedur dalam teks ini dapat dianggap sebagai jenis operasi plastik yang kita kenal sekarang.

Dengan perdebatan ini maka Yousef pun bersama koleganya Sean K Leow dan Wayne Morrison melakukan penelitian lebih lanjut mengenai bedah plastik dalam teks-teks kuno. Melalui penelitian mereka Plastic surgery in antiquity: an examination of ancient documents (2021) Yousef dkk menuliskan pada abad 6 SM di India terdapat dokter yang melakukan prosedur bedah plastik yang tidak berbeda dengan rinoplasti kosmetik modern. Dalam ringkasan rinci yang disebut “Sushruta Samhita,” dokter India Sushruta menguraikan teknik yang sangat canggih untuk cangkok kulit.

Sama seperti di Mesir, prosedurnya melibatkan perbaikan hidung, namun yang membuat prosedur yang dilakukan Susharta unik adalah motif pasiennya yang dalam arti tertentu adalah untuk kosmetik atau estetika. Hal ini tak lain karena di masyarakat India, hidung adalah menjadi simbol martabat dan rasa hormat.

Sehingga, saat masa India Kuno terdapat praktik pengangkatan hidung sebagai hukuman atas tindakan perzinahan atau tindakan lain yang melanggar norma budaya saat ini maka tindakan rinoplasti Sushruta jadi sangat penting karena menawarkan harapan penebusan dosa dan jadi permulaan seseorang untuk membuka lembaran baru dalam keadaan “normal”-nya.

Selain India, peradaban Romawi Kuno dan Cina Kuno juga mencatat adanya perkembangan operasi bedah plastik. Perbaikan bibir sumbing pertama yang misalnya diyakini telah berhasil dilakukan oleh dokter Cina abad ke-4. Sedangkan di era Romawi Kuno, ensiklopedis Aulus Cornelius Celsus mendokumentasikan prosedur di mana kelebihan kulit di sekitar mata pasien diangkat melalui pembedahan.

Kendati peradaban kuno telah memperlihatkan adanya signifikansi terhadap perkembangan prosedur bedah plastik, pada kenyataannya perkembangan prosedur ini berjalan sangat lambat selama berabad-abad tahun berikutnya. Barulah pada tragedi kemanusiaan yang ditandai oleh Perang Dunia I, prosedur ini mengalami perkembangan pesat.

Andrew Bamji, penulis buku Faces from the Front (2017) mengungkapkan selama Perang Dunia I, banyaknya prajurit yang mengalami cedera wajah pada masa perang ditambah dengan adanya kemajuan dalam transfusi darah, pengendalian infeksi, serta penemuan anestesi abad ke-19, memungkinkan dokter untuk bereksperimen dengan teknik bedah plastik yang inovatif.

Pada masa ini prosedur cangkok kulit, cangkok tulang, rekonstruksi wajah, dan teknik menjahit luka berkembang pesat dan Harold Gillies, ahli bedah muda dari New Zealand memasak fondasi kuat terhadap perkembangan pesat bedah plastik modern ini. Bahkan digadang sebagai The Father of Modern Plastic Surgery. Pada 1915, Gillies mendirikan bangsal khusus untuk pasien dengan cedera wajah di Rumah Sakit Militer Cambridge di Aldershot, Hampshire dan mengembangkan cabang operasi baru: bedah plastik wajah.

Setelah Pertempuran Somme (1 Juli 1916 – 18 November 1916) dan peningkatan jumlah korban dengan cedera wajah, langkah-langkah diambil untuk mendirikan rumah sakit baru yang sepenuhnya berfokus pada perawatan cedera wajah di Sidcup di London Tenggara. Rumah Sakit Queen Mary dalam hal ini jadi rumah sakit pusat cedera wajah pertama. Di sinilah Gillies dan rekan-rekannya mengembangkan banyak teknik bedah plastik dengan lebih dari 11.000 operasi dilakukan pada lebih dari 5.000 orang yang kebanyakan tentara dengan cedera wajah, biasanya dari luka tembak dan terkena granat.

Baca Juga:  Sejarah Rok: Dari Simbol Kejantanan sampai Alat Konstruksi Gender

Bedah Plastik yang Populer dan Hierarki Ras

Bedah plastik mencapai kepopuleran barunya pasca perang. Di Hollywood misalnya bedah plastik menjadi praktik yang bisa dibilang cukup umum dilakukan oleh aktor papan atas. Dikutip dari dokumenter explained yang diproduksi oleh Vox, pada tahun 1920-an di Amerika banyak para aktor muda yang terjun di dunia hiburan melakukan bedah plastic wajah untuk bisa bermain film karena wajah adalah alat mereka untuk mencari uang.

Komedian Fanny Brice misalnya terkenal memiliki hidung baru dan aktor kenamaan tampan Rudolph Valentino mengubah bentuk telinganya. Pada 1924, sebuah surat kabar di New York Daily Mirror meluncurkan iklan kontes bedah plastik pertama. “Who is the homeliest girl in New York?”. Kontes ini menjanjikan pemenangnya, seorang gadis yang malang dapat menjalani prosedur bedah plastik oleh seorang ahli bedah plastik yang “mempercantik dirinya”. Mengubah “ketidak beruntungannya” menjadi “keberuntungan”.

Perempuan bernama Jacqueline Naagel menang dan ia berhasil membintangi film dan pindah ke California. Dari sinilah kemudian, bedah plastik semakin murah, aman, dan mudah diakses. Namun, di tengah kepopulerannya, bedah plastik selalu menyimpan problematikanya sendiri.

Michelle Smith, peneliti Deakin University dalam artikelnya yang diterbitkan The Conversation menuliskan bedah plastik yang diminta sebelum abad ke-20 bertujuan untuk memperbaiki fitur seperti telinga, hidung, dan payudara yang diklasifikasikan sebagai “jelek” karena tidak khas untuk orang kaukasia. Ras yang dianggap lebih superior, alias rasisme.

Di Amerika Serikat, pertumbuhan populasi imigran Yahudi dan Irlandia dan Afrika Amerika meningkat pesat. Hal ini mendorong adanya pembentukan asosiasi kolektif para imigran di mana hidung pesek atau hidung besar yang mereka miliki adalah tanda perbedaan ras dan karenanya dianggap buruk bahkan “primitif”.

Maka dari itu penemuan otolaryngologist Amerika John Orlando Roe tentang metode untuk melakukan operasi hidung di dalam hidung, tanpa meninggalkan bekas luka eksternal jadi perkembangan penting pada tahun 1880-an. Hal ini karena, pasien bisa menghilangkan tanda perbedaan ras mereka dan passing as white tanpa terdeteksi.

Bedak plastik yang secara historis adalah proyek rasial dan gender juga dijelaskan oleh antropolog budaya Alvaro Jarrin dari College of the Holy Cross di Massachusetts, AS dalam Cosmo Magazine. Jariin menjelaskan obsesi perempuan Amerika Latin untuk melakukan bedah plastik tak bisa lepas dari warisan kolonialisme yang panjang dan hierarki ras yang didasarkan pada estetika tubuh.

Pada tahun 2020, sekitar 12,9 persen dari semua prosedur bedah kosmetik di seluruh dunia terjadi di Brasil dan bedah plastik yang paling umum dilakukan di negara itu adalah operasi hidung. Banyak pasien meminta agar hidung mereka afinado (menipis tetapi juga “halus”) atau memproyeksikan ujungnya dengan memasukkan tulang rawan, ciri khas hidung mancung ras kaukasia. Teknik ini kadang-kadang disebut sebagai “koreksi hidung Negroid” di Brasil dan bagian lain Amerika Latin.

Di Asia pun tak jauh berbeda. Dalam penelitian Making faces racial: how plastic surgery enacts race in the US, Korea and Brazil (2020) dijelaskan sejarah perkembangan bedah plastik Korea Selatan kurang lebih juga beririsan dengan hierarki ras.

Baca Juga:  Sejarah Celana: Simbol Penting Gerakan Perlawanan Perempuan

Di Korea Selatan pasca-Perang Dunia II, prosedur kelopak mata misalnya terus mencerminkan tidak hanya cita-cita modernisasi, tetapi juga westernisasi. Orang Asia Timur yang banyak terlahir dengan kelopak mata tunggal dan hidung yang pesek memunculkan target bedah plastik baru yang bertujuan untuk “membaratkan” atau “memutihkan” orang Asia Timur.

Hingga tahun 1990-an, operasi di Korea masih sering disebut sebagai titik acuan kaukasia. Saat itu, mata besar dan bulat dengan kelopak mata ganda dihadirkan sebagai ciri yang membedakan wajah orang kaukasia dengan wajah Korea.

Namun, pada tahun 2000-an, operasi plastik mulai menggambarkan varietas “kecantikan pan-Asia tanpa wajah putih khas orang khas kaukasia. Tetapi kelopak mata ganda, hidung yang mancung, dan rahang tegas jadi titik referensi yang menandakan masih adanya residu dari hierarki ras.

Dengan begitu kompleksnya sejarah di balik bedah plastik, maka segala wacana tentangnya kini tak hanya bisa dilihat dari satu sisi saja. Ia tak lagi hanya jadi bagian sejarah yang perlu diapresiasi, tetapi ia juga menciptakan sebuah refleksi terhadap wacana otoritas tubuh perempuan.

Apakah benar kita utamanya perempuan melakukannya untuk diri mereka sendiri? Atau justru pilihan kita mengandung kelindan rumit yang didasarkan oleh ketidakadilan gender dan hierarki ras yang sengaja dibelenggu dalam jargon pilihan daulat perempuan itu sendiri?


Avatar
About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *