Women Lead
November 10, 2021

Sejarah Celana: Simbol Penting Gerakan Perlawanan Perempuan

Dari masa ke masa, celana jadi bagian dari perjuangan perempuan melawan berbagai pembatasan.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Lifestyle
Share:

Ditulis dan diilustrasikan oleh Keith Negley, Mary Wears What She Wants (2019) adalah buku anak bergambar yang menceritakan kisah Mary. Anak perempuan itu tumbuh dalam masyarakat yang tegas menetapkan aturan berpakaian bagi anak laki-laki dan perempuan.

Pada abad ke-19, anak perempuan diharuskan memakai gaun dan hanya anak laki-laki yang diperbolehkan menggunakan celana. Mary tidak menyukai konstruksi sosial yang kaku ini, apalagi ia merasakan bagaimana tidak enaknya mengenakan gaun. Menurutnya, gaun hanya menyusahkan ia saat bergerak. Ia tidak bisa leluasa bermain, melompat, atau berlari seperti teman-teman laki-lakinya yang memakai celana.

Karena pengalamannya ini, suatu hari Mary memutuskan akan memakai apa pun yang dia inginkan termasuk celana. Namun sayangnya, keputusan Mary memakai celana ini mendapatkan banyak respons negatif dari penduduk kota.

Sumber: semanticscholar.org

Sepanjang perjalanan pulang dari sekolah pada hari dia mengenakan celana, seluruh penduduk kota mengejek keputusan Mary. Bahkan anak laki-laki banyak yang melemparinya batu dan menyuruhnya tidak memakai pakaian laki-laki.  

Baca Juga: Ayo Gowes: Sepeda sebagai Instrumen Feminisme

Namun, Mary tidak gentar. Dengan Ayahnya yang mendukung keputusannya menggunakan celana, Mary pun memutuskan akan tetap memakai celana dan menghadapi massa yang marah di depan gedung sekolah. Menanggapi kemarahan penduduk kota yang menuduhnya mengenakan pakaian anak laki-laki, dia dengan tegas menjawab,

"Saya tidak memakai pakaian anak laki-laki. Saya memakai pakaian saya."

Bloomer dan Reformasi Pakaian

Dalam buku Women’s rights in the United States: A comprehensive encyclopedia of issues, events and people (2015), mulai 1820-an, perhatian terhadap kesehatan dan pakaian perempuan yang berupa gaun panjang menyentuh tanah dan korset seperti yang digunakan oleh Mary, jadi isu penting yang kerap dibahas.

Dr. William Alcott, reformis pendidikan dan dokter memperingatkan, korset tidak memungkinkan paru-paru mengembang penuh. Efeknya serius, menyebabkan paru-paru melemah. Alcott juga khawatir korset yang diikat ketat menyebabkan sirkulasi yang buruk dan sesak napas.

Dari kekhawatiran ini, Harriet Beecher Stowe, Catherine Beecher, dan perempuan reformis sosial lainnya berpendapat, reformasi pakaian sangat dibutuhkan. Gaun panjang dan korset yang jika ditotal beratnya bisa sampai 15 pound ini tak hanya menimbulkan masalah kesehatan serius, tapi memengaruhi mobilitas perempuan di ruang publik.

Dilansir dari The Atlantic, Elizabeth Smith Miller, pejuang emansipasi perempuan kala itu untuk pertama kalinya menggunakan pakaian yang ia sebut Turkish dress, rok pendek yang dikombinasikan dengan celana longgar. Miller menggunakan pakaian ini ketika ia berkunjung ke Seneca Falls, New York, di mana dia tinggal bersama sepupunya Elizabeth Cady Stanton. Melihat bagaimana sepupunya dapat bergerak lebih leluasa dengan pakaian tersebut Stanton dan teman serta tetangganya Amelia Jenks Bloomer akhirnya ikut menggunakan Turkish dress.

Baca Juga: Apa yang Perlu Diketahui tentang Dasar-Dasar Feminisme (1)

Dalam penelitian The "Freedom Suit": Feminism and Dress Reform in the United States, 1848-1875 (1991) Profesor Emerita Kesselman dari Studi perempuan, Gender, dan Seksualitas, Universitas Negeri New York menjelaskan aksi yang diprakarsai Miller ini kemudian dipopulerkan oleh Bloomer. Ia mengikuti konvensi hak-hak perempuan pertama yang diadakan di Seneca Falls pada 1848 dengan menggunakan pakaian tersebut.

Melalui surat kabar untuk perempuan yang ia miliki, The Lily, Bloomer juga mempromosikan pakaian ini. Ketika Bloomer menerbitkan menerbitkan sebuah editorial yang memuji pakaian baru tersebut pada April 1851, sirkulasi dan permintaan penerbitan surat kabar tersebut melonjak. Dari sinilah, pakaian ini disebut sebagai Bloomer dan mendapatkan predikat sebagai “gaun kebebasan” yang memulai gerakan reformasi pakaian.

Sebagai gaun kebebasan, Bloomer sangat lekat dengan gerakan feminisme gelombang pertama. Banyak dari para pejuang reformasi pakaian percaya, perubahan besar dapat dimulai dari level individu, yaitu melalui pakaian. Menurut mereka perempuan akan selalu menjadi individu yang kerap bergantung pada laki-laki dan terpenjara pada peran gender tradisional jika mereka terus terjebak dalam aturan berpakaian ini.

Oleh karena itu, tokoh-tokoh seperti Elizabeth Cady Stanton, Lucy Stone, dan Susan B. Anthony yang juga merupakan suffragettes (pejuang hak pilih perempuan) mengadopsi bentuk pakaian baru ini dalam strategi pergerakan mereka. Bloomer adalah simbol perlawanan perempuan yang memberikan lebih banyak kebebasan fisik bagi suffragettes dalam bermobilisasi. Dengan menggunakan sepeda dan bloomer yang mereka kenakan, para suffragettes berkampanye mengenai hak pilih dan melakukan berbagai orasi di depan publik.

Pentingnya Bloomer sebagai simbol dari gerakan perempuan pun terlihat dari konsep New Woman pada akhir abad ke-19. New woman ini mencerminkan gambaran ideal perempuan yang secara aktif menolak kontrol tradisional dan berusaha untuk mengisi peran lengkap di dunia. Perempuan baru ini digambarkan digambarkan mengendarai sepeda dan menggunakan bloomer sebagai pakaian utama mereka.

Baca Juga: ‘Suffragettes’: Mereka yang Berdarah-darah Cuma demi Hak Pilih

Celana yang dari Masa ke Masa

Tidak hanya berhenti pada Bloomer, dari masa ke masa, celana jadi fashion statement bagi perempuan untuk melakukan perlawanan. Hal ini bisa dilihat dari sosok perempuan bernama Mary Edwards Walker. Ia adalah seorang abolisionis Amerika dan ahli bedah yang perannya sangat besar dalam melakukan reformasi pakaian ke level yang belum pernah dilakukan para pejuang emansipasi perempuan sebelumnya.

Dalam website Syracuse University Libraries, dijelaskan bahwa Mary merancang dan menciptakan seragam medisnya sendiri yang terdiri dari rok setengah panjang di atas celana panjang dan mantel berkancing yang dia kenakan selama tahun-tahun pelayanannya selama Perang Saudara Amerika. Ketika dia ditangkap dan dipenjarakan oleh tentara Konfederasi pada tahun 1864 selama empat bulan karena pakaian yang ia ciptakan ini, ia menolak untuk berganti ke "pakaian perempuan" yang diberikan kepadanya dan tetap mengenakan pakaiannya sendiri.

Walker bersikukuh pada pendiriannya untuk melakukan reformasi pakaian atas dasar kebersihan, kesehatan, dan mobilitas yang lebih besar bagi perempuan di ruang publik. Ia bahkan menekankan bagaimana ia tidak bisa melihat bagaimana kesetaraan gender dapat dicapai jika perempuan tidak dapat dengan mudah bergerak yang mampu memberikan mereka kesempatan yang sama dalam melakukan pekerjaan dan menempuh pendidikan seperti laki-laki.

Bloomer/smithsonianmag.com

Bystanders, kartunis, dan reporter melancarkan berbagai macam cacian, pelecehan, lelucon pada Walker. Ia bahkan kerap kali dilecehkan di jalan dan ditangkap lebih dari 12 kali hanya karena cara berpakaiannya. Walaupun demikian, Mary tidak gentar. Ia tetap menggunakan pakaian yang ia rancang ini selama hidupnya. Dari kegigihannya, Mary pun dikenal sebagai sosok pejuang emansipasi perempuan yang mampu memberikan contoh pada para perempuan untuk tidak tunduk pada norma sosial konyol yang kerap memenjarakan perempuan dalam ketidakadilan.

Tidak hanya Mary, celana pun menjadi fashion statement bagi perempuan pada 1920-an. Dilansir dari Sister Magazine, Perang Dunia Pertama mengakhiri larangan celana bagi perempuan semata-mata untuk memudahkan mereka bekerja untuk meningkatkan perekonomian negara akibat kurangnya tenaga kerja laki-laki yang bekerja di pabrik-pabrik

Sayangnya, penggunaan celana ini hanya dilihat semata-mata sebagai pakaian yang memudahkan perempuan bekerja, sehingga setelah Perang Dunia selesai cara perempuan berpakaian didikte kembali oleh laki-laki. Di sinilah Coco Chanel memerankan peran penting dalam mempopulerkan pemakaian celana bagi perempuan.

Pada 1920-an, perancang busana Perancis menciptakan celana untuk dirinya sendiri. Cikal bakal celana yachting legendarisnya lahir, celana panjang lebar untuk semua kegiatan santai dan kegiatan tertentu seperti berolahraga. Selama perjalanan ke pantai Prancis, Coco Chanel terinspirasi oleh pakaian laki-laki untuk desainnya. Dia menggunakan celana pelaut yang lurus dan lebar untuk celana yachtingnya dan memperkenalkan aksesori seperti dasi untuk perempuan.

Sumber: edition.cnn.com

Dia menyatakan perang terhadap korset, renda, dan pakaian yang dianggap sebagai “pakaian perempuan”. Oleh sebab itu, Chanel tidak hanya merevolusi industri fashion tetapi berhasil membebaskan perempuan dari aturan mode patriarki yang ketat dengan emansipasi melalui fashion sebagai mottonya.

Tidak hanya sampai pada Chanel saja, celana sebagai fashion statement bagi perempuan terlihat jelas dari gerakan feminisme pada tahun 1970-an di Amerika. Dilansir dari artikel Independent Lens in Beyond the Films, para feminis mengakui bahwa fashion adalah hal politis bagi banyak perempuan, dan terlebih lagi di tempat kerja yang didominasi laki-laki, di mana perempuan diharapkan memainkan peran pasif dan suportif dengan menggunakan pakaian feminin yang didikte oleh para laki-laki.

Di awal 70-an, perempuan feminis melakukan reformasi pakaiannya sendiri. Mereka mulai melepaskan pakaian hiper-feminin mereka sebagai cara untuk menolak norma mode chauvinistik dan praktik pengecualian atau othering terhadap perempuan di tempat kerja. Mereka mendorong perempuan untuk berpakaian seperti laki-laki. Mereka akan mendorong tiga "P": pants, pinstripes, and pockets demi untuk mengaburkan batas antara jenis kelamin atas dasar kesetaraan gender.

Namun di akhir era ini, para feminis mengganti arah pergerakan reformasi pakaian mereka dengan cara pengambilalihan kembali otonomi perempuan. Mereka menyadari mendikte sesama perempuan untuk tidak menggunakan pakaian feminin, sama saja mematikan otonomi atau agensi perempuan itu sendiri.

Oleh karena itu, di sini para feminis menekankan pada perangkulan individualitas dan otonomi perempuan dalam membuat keputusan. Dalam hal ini mereka mempercayai perempuan untuk memilih pakaiannya sendiri sesuai dengan selera dan kenyamanan mereka. Perempuan bebas memakai celana atau rok, selama itu adalah pilihan mereka sendiri.

Pada akhirnya, celana yang mungkin saat ini dianggap remeh adalah pakaian yang memiliki sejarah panjang yang menyimbolkan bagaimana keras perempuan melawan dalam memperjuangkan kesetaraan gender. Mencari jejak sejarah celana perempuan juga menunjukkan bagaimana peran gender dipraktikkan dan didefinisikan pada dari waktu ke waktu. Dengan demikian, fashion adalah praktik budaya, yang tidak hanya mencerminkan keadaan masyarakat tetapi juga menjadi medan kontestasi bagi perempuan untuk melakukan perjuangannya.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.