Women Lead
February 08, 2021

Ayo Gowes: Sepeda sebagai Instrumen Feminisme

Sepeda tidak hanya merupakan moda transportasi dan alat olahraga, tapi simbol gerakan pembebasan perempuan.

by Jasmine Floretta V.D.
Issues // Feminism A-Z
Share:

Born to Ride: A Story About Bicycle Face (2019) adalah sebuah buku anak bergambar, tapi ceritanya membuka cakrawala mengenai bagaimana sepeda memiliki peran yang sangat besar dalam gerakan feminisme di Amerika dan Eropa.

Ditulis oleh Larissa Theule, dengan ilustrasi dari Kelsey Garrity-Riley, buku ini mengisahkan tentang petualangan anak perempuan bernama Louise Belinda Bellflower yang tinggal di Rochester, New York, pada tahun 1896. Louise dibuat bingung karena anak perempuan tidak diperbolehkan naik sepeda layaknya anak laki-laki. Abangnya, Joe, mengatakan bahwa jika anak perempuan naik sepeda, mereka akan mengalami bicycle face—otot wajah menegang dan mata melotot.

Louise tidak mau manut pada omong kosong tersebut. Dia meminta Joe mengajarinya mengendarai sepeda, dan ia memakai celana panjang untuk pertama kalinya. Ketika akhirnya ia bisa mengendarai sepeda, Louise mendapatkan sebuah fakta bahwa mengendarai sepeda memberinya suatu kebebasan dan membuka jalan bagi dirinya untuk melihat dunia yang sedang mengalami perubahan.

Pada periode 1890-an, sepeda memang sedang mengalami puncak ketenarannya. Istilah “bicycle boom” paling sering digunakan untuk merujuk pada dekade ini yang juga ditandai dengan pesatnya peningkatan popularitas bersepeda di kalangan perempuan. Namun di tengah kepopuleran bersepeda ini, muncul sebuah permasalahan baru di masyarakat menyangkut dengan pelestarian peran gender tradisional.

Akses perempuan bersepeda memungkinkan mereka memiliki kebebasan untuk bepergian ke mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun yang mereka kehendaki. Hal inilah yang membuat masyarakat era itu yakin, perempuan akan masuk ke dalam situasi berbahaya yang membuat mereka memiliki kebebasan dalam memilih jalan hidupnya sendiri, membahayakan, dan merusak moral juga nilai-nilai feminitas mereka.

Baca juga: Mainan Beridentitas Gender Lebih Berisiko dari yang Kita Pikir

Klaim Pseudosains Hambat Perempuan Bersepeda

Klaim pseudosains dari dokter dan penulis laki-laki banyak muncul untuk menakut-nakuti perempuan agar tidak bersepeda. Salah satu istilah kesehatan dari pengembangan pseudosains era itu adalah bicycle face. Akademisi Lisa S. Strange dari Pennsylvania State University menulis dalam salah satu artikelnya bahwa BW Richardson, seorang dokter kesehatan Inggris yang terkenal, memperingatkan pembaca majalah bulanan Review of Reviews soal ini.

Richardson mengatakan bahwa bersepeda dapat menyebabkan kelainan pada tubuh secara permanen seperti rahang yang mengeras dan mengatup, mata melotot, kebengkokan pada beberapa bagian tubuh, dan pembesaran massa otot yang tidak biasa. Perubahan fisik secara permanen ini diyakini akan membuat perempuan kehilangan feminitasnya, dan membuat mereka menjadi sosok perempuan jantan yang kehilangan daya tariknya sebagai perempuan, dan bahkan dapat merusak moral mereka.

Selain itu, sebagian besar argumen medis yang kerap menjadi momok besar masyarakat terhadap perempuan bersepeda berpusat pada bahaya disfungsi seksual dan kemampuan reproduksi perempuan. Bentuk jok dan posisi mengangkang dalam bersepeda dianggap akan menyebabkan masalah fisik yang hebat pada organ reproduksi perempuan, bahkan mengancam kesuburan perempuan. Getaran dari bersepeda juga dianggap hanya meningkatkan risiko ini bagi perempuan. Selain itu, seorang perempuan yang mengangkangi benda apa pun dianggap mempromosikan masturbasi.

Kekhawatiran-kekhawatiran ini merupakan aspek-aspek kunci dari gagasan Victoria tentang keperempuanan yang muncul pada era Ratu Victoria (1837-1901) di Inggris. Gagasan Victoria tentang keperempuanan ini adalah bahwa perempuan itu harus perawan, suci, lemah lembut, bekerja di rumah, hidup untuk keluarga atau pasangan laki-lakinya, harus menikah dan punya anak, serta manut pada laki-laki. Intinya, sama dengan gagasan kolot tentang peran gender tradisional pada umumnya.

Sepeda Instrumen Pembebasan Perempuan

Terlepas dari klaim-klaim pseudosains tersebut, sepeda justru kemudian menjadi instrumen feminisme. Sepeda memberi perempuan cara yang diterima untuk berada di luar ruangan sebagai bagian dari masyarakat, termasuk dalam hal bisnis dan politik. Sepeda menyediakan perempuan cara untuk mulai mendefinisikan ulang gagasan kuno Victoria tentang feminitas dan peran gender tradisional.

Baca juga: Perbaikan Akses Bersepeda Dapat Berdayakan Perempuan di Daerah Miskin

Melalui mobilitas sederhana, sepeda juga membantu mempercepat hak-hak banyak perempuan. Tidak mengherankan kemudian jika banyak suffragette (perempuan yang memperjuangkan hak pilih) juga merupakan pengendara sepeda. Sepeda memberi kebebasan gerak kepada suffragette tanpa pendamping dan memberikan mereka akses tidak terbatas untuk bersosialisasi dan berorganisasi.

Sepeda sebagai instrumen feminis pun kemudian melambangkan konsep “new woman” pada akhir abad ke-19. New woman ini mencerminkan gambaran ideal perempuan yang secara aktif menolak kontrol tradisional dan berusaha untuk mengisi peran lengkap di dunia. Perempuan baru ini digambarkan sebagai seseorang perempuan muda, berpendidikan perguruan tinggi, aktif dalam olahraga, tertarik mengejar karier, dan menjalin tali pernikahan berdasarkan kesetaraan. Dan tentunya dia juga selalu digambarkan sedang mengendarai sepeda.

Pada tahun 1895, pemimpin gerakan hak pilih untuk perempuan (suffrage) di Amerika Serikat, Elizabeth Cady Stanton, menyatakan bahwa "sepeda akan menginspirasi perempuan dengan lebih banyak keberanian, harga diri, kemandirian." Stanton menulis bahwa sepeda adalah alat yang memotivasi perempuan untuk mendapatkan kekuatan dan mengambil peran yang lebih besar dalam masyarakat.

Memiliki kemampuan untuk menjadi mandiri sepenuhnya inilah nantinya akan mendorong perempuan untuk lebih berani memilih jalan hidupnya di bidang lain, seperti menuntut hak pilih politik yang dahulu hanya diperbolehkan untuk laki-laki. Bagi Stanton, bersepeda berarti membebaskan perempuan dari gagasan kuno Victoria tentang keperempuanan yang merayakan kelemahan dan ketergantungan sebagai "kebajikan" feminin.

Stanton mendorong perempuan untuk mengabaikan kekhawatiran bahwa bersepeda dapat membuat mereka tampak "tidak feminin" atau "jantan" dan segala implikasi dari pseudosains yang ada. Dalam pandangan Stanton, sepeda tidak hanya dapat memotivasi perempuan untuk mendapatkan kekuatan dan mengambil peran yang lebih besar dalam masyarakat tetapi juga membantu membebaskan perempuan dari batasan-batasan yang menindas mereka.

Baca juga: Pakaian Panjang dan Keselamatan Perempuan

Sepeda Pemicu Gerakan Reformasi Pakaian

Tidak hanya memberikan perempuan pada akses terhadap ruang publik, sepeda juga menjadi salah satu pemicu gerakan reformasi pakaian yang telah dimulai pada tahun 1851. Saat itu Stanton dan teman seperjuangannya, Amelia Bloomer, mulai mengenakan gaya pakaian radikal baru yang pertama kali dirancang oleh sepupu Stanton, Elizabeth Smith. Gaya pakaian baru ini kemudian dikenal dengan bloomer, yakni rok pendek yang jatuh di bawah lutut dan di atas pergelangan kaki,  serta dikenakan di atas celana panjang longgar. Busana seperti ini dipakai oleh banyak pemimpin gerakan suffrage terkemuka.

Reformasi pakaian ini bertujuan untuk mengurangi batasan Victoria pada pakaian dan pakaian dalam, sehingga memungkinkan perempuan untuk melakukan aktivitas fisik di ruang publik. Melalui sepeda, gerakan reformasi pakaian ini meluas dan membawanya pada revolusi dalam mode perempuan dan bloomer. Yang tadinya dilihat sebagai pakaian yang memalukan karena mengaburkan garis antara feminitas dan maskulinitas yang secara sosial telah ditetapkan masyarakat, pakaian ini menjadi lebih diterima secara luas pada akhir tahun 1890-an.

Sepeda pada akhirnya tidak hanya merupakan alat transportasi semata, namun juga sebagai instrumen penting dalam perjuangan pergerakan perempuan. Hampir lebih dari 200 tahun setelah penemuannya, sepeda terus memberikan dampak positif bagi kehidupan perempuan. Dialah lambang dari kebebasan perempuan. Dialah yang membebaskan perempuan dari batasan-batasan sosial budaya yang memenjarakan mereka dan memberi kesempatan bagi perempuan untuk mengeksplorasi dunia barunya.

Jasmine Floretta V.D adalah seorang BTS ARMY dan pencinta kucing garis keras. Sedang menjalani studi S2 di Kajian Gender UI dan memiliki minat mendalam pada kajian tentang penggemar dan isu terkait peran ibu.