Women Lead
October 15, 2021

Selingkuh: Bukan Soal Pihak Ketiga, Relasinya Saja yang Karatan

Bagi sebagian orang, jauh lebih mudah untuk menyalahkan kehadiran pihak ketiga dibanding mengoreksi akar masalah dalam relasinya.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
Share:

Suatu hari, saya mendapati Instagram Story akun komunitas yang mengangkat masalah perselingkuhan. Akun tersebut bikin poling: Salah siapa saat perselingkuhan terjadi? Pasangan yang selingkuh atau si perempuan/ laki-laki selingkuhan yang menggoda.

Pertanyaan macam ini menurut saya tidak lepas dari adanya konsep “pelakor” dalam masyarakat kita. Konsep tersebut membuat saya “gatal” karena ada tendensi menyalahkan orang lain dalam perselingkuhan dengan menyebut-nyebut soal pihak ketiga ini. Sementara menurut saya, akar masalah perselingkuhan tidak keluar dari krisis dalam relasi pasangan.

Sebagian orang menuding pihak ketiga sebagai biang kerok dari rusaknya relasi pacaran atau rumah tangga seseorang. Tengoklah lirik lagu lawas Elvy Sukaesih, “Mana mungkin suamiku pulang ke rumahmu, tanpa kau suguhkan, tanpa kau hidangkan gula, gula…” yang kemudian diekori deretan laku bertema pelakor lainnya yang gampang ditemukan di YouTube. Ini mengindikasikan pihak ketiga yang aktif merayu seseorang yang (mungkin) tadinya lempeng hati jadi mendua, sehingga orang berpikir dia patut disalahkan.

Kalau kita tarik ke konteks lain, dalam kepercayaan umat Nasrani, Hawa juga menerima penghakiman serupa dengan kasus perselingkuhan. Dia makan buah terlarang setelah digoda ular, dan berlanjut pada Adam yang ikutan memakannya karena katanya dia juga terayu oleh Hawa. Alih-alih menekankan yang salah ya si ular atau Hawa yang disebut-sebut sebagai perayu, saya justru melihat salahnya ada di orang yang mengambil keputusan untuk memakan buah itu, ya Hawa, ya Adam. Hawa bisa kok, memilih untuk mengabaikan bujukan si ular, begitu pun Adam. Namun, dengan sadar mereka memilih sebaliknya.

Sama dengan kasus perselingkuhan. Hal ini bukanlah kecelakaan tak terduga dan tak terhindarkan. Semua ada sebab dan akibatnya. Berbagai gerak-gerik, sikap, atau pesan verbal tertentu bisa ditangkap sebagai bentuk perhatian mesra oleh seseorang, dan orang itu bisa memilih untuk menanggapinya atau tidak. Perasaan tertarik atau cinta yang kita punya memang bisa jadi tak terelakkan, tetapi pikiran dan tindakan yang berangkat dari perasaan itu bisa kita kontrol. Karenanya, bagi saya yang patut disalahkan tetap pihak yang ada dalam komitmen pacaran/ pernikahan itu saja, bukan orang lain.

Baca juga: Kasus Nissa dan Ayus: Mempertanyakan Kembali Pelabelan Pelakor

Pun demikian dengan orang yang berdalih situasinya yang mendukung untuk selingkuh, misalnya dalam kondisi cinta lokasi di mana intensitas pertemuan yang tinggi menumbuhkan ketertarikan lebih jauh. Atau alasan merasa pasangannya kurang ini itu, membuatnya merasa minder (seperti suami Astrid Leon dalam film Crazy Rich Asian yang selingkuh lantaran istrinya berstatus lebih tinggi), sementara selingkuhannya bisa mengisi kekurangan itu atau membuatnya merasa lebih baik. Saat melontarkan alasan macam ini, orang yang selingkuh tersebut cuma mau lari saja dari tanggung jawab atas perselingkuhannya. Ia menafikan fakta dirinya secara aktif membuka peluang untuk berhubungan gelap. 

Menilik Akar Masalah Perselingkuhan yang Sebenarnya

Lebih dari sepuluh tahun lalu saat saya berhubungan dengan “Didi”, mantan saya, kami membicarakan tentang perselingkuhan. Dia bilang, “Enggak ada itu pihak ketiga, yang ada hubungan yang sudah karatan.” Sebelumnya, saya masih mengamini pandangan pihak ketiga ambil andil dalam perselingkuhan, tetapi perlahan saya turut mengamini pandangan Didi ini. 

Dalam konteks pasangan yang selingkuh karena ada masalah dalam relasinya, ia dan pasangan jelas gagal dalam mengomunikasikan perasaan dan pemikirannya serta duduk bersama untuk memecahkan masalah. Ada orang-orang yang sudah ngode ke pasangannya, misalnya agar lebih perhatian, romantis, lebih bisa memenuhi kebutuhan materialnya, atau apa pun itu. Ini dilakukan biasanya supaya tak terlihat menuntut banget. Padahal, belum tentu pasangannya menangkap kode itu. Buruknya cara berkomunikasi lantas melahirkan kesalahpahaman, yang satu merasa baik-baik saja, sementara yang lain merasa kurang. Inilah sebenarnya yang jadi cikal bakal perselingkuhan. Kalau kebutuhan kedua pihak terpenuhi, adanya orang yang disebut pihak ketiga pun akan mental sendirinya.

Saat orang selingkuh karena intensitas pertemuan dengan selingkuhannya yang tinggi, yang mestinya dipertanyakan itu kualitas pasangan saat mereka bersama. Okelah kalau ketemu pacar atau suami/istri itu durasinya lebih sedikit dibanding kolega yang tiap hari ditemui di kantor. Namun, jika dalam momen-momen bersama yang durasinya pendek itu seseorang bisa merasa puas, bahagia, ada intimasi dan sikap saling mengisi, ini bisa jadi bagian pondasi yang kuat kok dalam sebuah hubungan.

Kemungkinan lain orang selingkuh adalah karena merasa bosan. Jika memang ini masalahnya, tentu bukan cari orang baru untuk mengisi hati yang jadi satu-satunya jalan keluar. Dunia ini enggak sesempit daun kelor kok, ada banyak hal yang bisa dijelajahi, kegiatan untuk dieksplorasi. Kalau memang ternyata rasa bosan itu tak kunjung hilang setelah berbagai cara dicoba dan komunikasi terang-terangan dilakukan, pasangan bisa mengevaluasi kembali hubungannya, apakah mau lanjut atau tidak. Dan ketika sebenarnya sudah tidak ada hasrat melanjutkan, jauh lebih baik untuk mengucapkan hal ini langsung dibanding di belakang main dengan laki-laki atau perempuan lain.

Keberanian untuk mengakhiri komitmen ini juga jadi isu tersendiri. Sebagian orang takut menyakiti pasangannya atau cenderung jadi people pleaser, merasa sayang untuk putus karena sudah bertahun-tahun pacaran, atau memang dasar kemaruk saja, sehingga mengambil opsi selingkuh. Alasan-alasan ini tak ada yang bisa dibenarkan karena bagaimanapun, kejujuran dan keterbukaan adalah kunci hubungan yang sehat. Kalau memang tak bisa dengan satu perempuan/laki-laki saja, merasa tidak nyaman dalam hubungan seksual, merasa pasangan tak mendukung, kita perlu bilang. Ini jauh lebih baik dibanding jika pasangan tiba-tiba mendapati di kemudian hari bahwa kita berselingkuh dengan alasan apa pun.  Rasa sakit karena ketidakjujuran bisa melebihi sakit karena putus yang didasari penjelasan jujur.

Baca juga: Selingkuh, Viral, dan Centang Biru: Bekal ‘Influencer’ Dadakan

Selingkuh Berawal dari Masalah Personal

Menyalahkan pihak ketiga sering kali jadi opsi yang lebih gampang dibanding introspeksi diri sendiri dan kekurangan dalam relasi. Dilansir Healthline, dalam studi yang dimuat di  The Journal of Sex Research (2017) disebutkan, faktor self esteem menjadi salah satu penyebab perselingkuhan paling umum. Bagi sebagian orang, bisa dapat selingkuhan itu rasanya menaikkan kepercayaan diri bahwa dirinya cukup atraktif dan sukses. Menyenangkan bagi mereka saat menerima pujian dari orang baru. Pasalnya, mereka merasa jika pasangannya sendiri yang memuji, hal itu dilakukan karena “ya memang seharusnya mereka berlaku begitu” atau sebagai obligasi dalam hubungan. 

Dari sini kita bisa lihat, yang seharusnya difokuskan adalah masalah self esteem orang tersebut, kenapa bisa rendah, kenapa perlu pujian dan pengakuan secara konstan dari orang lain, bagaimana cara memperbaiki ini? Bukan malah berkata, “Ya dianya sih, terlalu baik sama aku, jadi aku kegoda.” 

Terkait masalah individu ini, ada kalanya perselingkuhan tetap terjadi walau seseorang punya pernikahan atau relasi pacaran yang baik-baik saja. Tidak ada yang salah dari pribadi pasangannya, tidak ada konflik berarti. Namun, mereka tetap selingkuh karena hal tersebut membuatnya “lebih hidup”. Dalam The Atlantic, dikisahkan seorang perempuan yang bahagia dengan relasinya tetap berhubungan seks kekasih gelap karena entah bagaimana, itu membuatnya merasa lebih seksi. Ini artinya aktivitas tersebut tidak semata-mata untuk tujuan pemenuhan kebutuhan biologis saja, tetapi untuk mengisi kebutuhan terkait bagaimana ia memandang dirinya sendiri.

Berkaca dari hal itu, penting bagi seseorang yang tengah atau hendak memulai relasi romantis untuk melihat kembali dirinya: Apakah sudah cukup “penuh”, masih haus pengakuan dari orang lain sekalipun pasangan sudah memberikannya, atau masih butuh bereksplorasi banyak-banyak? Pasalnya, ketika ia belum merasa cukup dengan dirinya, sebanyak apa pun perhatian dan kasih sayang yang diberikan pasangan, bisa jadi itu tidak cukup untuk membuatnya tak menjajal selingkuh.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop