Women Lead
November 25, 2021

Surat dari Si Bungsu: Paling Dimanja, Hidup di Bayang Kakaknya

Si bungsu terkenal sebagai anak yang paling dimanja dan nakal, tapi sebenarnya dituntut untuk berprestasi lebih dibanding kakaknya.

by Bayu Gianni
Lifestyle
Share:

Hampir dua dekade yang lalu ada tiga kakak beradik yang tidak terlalu akur, tapi dipaksa kompak. Tujuannya, agar orang tuanya bisa menunjukkan ke tetangga kalau mereka adalah keluarga harmonis. Si sulung, anak perempuan berusia sebelas tahun menjadi martir atas nama membantu orang tua dan menjadi contoh yang baik untuk adiknya. 

Sementara si anak tengah, laki-laki berusia sembilan tahun yang disayang keluarga karena dia satu-satunya anak laki-laki. Namun, sebagai anak kedua dia kadang dianggap tidak ada oleh orang tua karena kebutuhan si sulung dan bungsu lebih sering diprioritaskan. 

Terakhir si bungsu, usia tujuh tahun, terkenal sebagai yang paling dimanja orang tua. Kalau dia menginginkan sesuatu, kakak-kakaknya diminta bersabar dan mengalah dengan alasan sayangi adikmu. Jika orang tua belum bisa memenuhi keinginannya, kadang si bungsu akan tantrum dan menangis berjam-jam sampai semua orang sakit kepala. 

Singkatnya, si bungsu hidup bak ratu yang seharian merengek dan mengganggu kakak-kakaknya untuk bermain. Padahal mereka sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Kalau mereka menolak, si bungsu akan berbuat nakal atas nama balas dendam. Dia akan mematahkan robot rakitan si anak tengah lalu membuangnya di tempat sampah. Anak tengah akan kebingungan dan menangis kehilangan mainan yang paling disukainya. 

Si bungsu juga akan mengunyah tiga bungkus permen karet lalu menempelkannya di atas kepala kakaknya itu. Si sulung tentunya menangis karena rambut panjangnya akan dipotong dan kepalanya terancam pitak. Dia takut akan menjadi bahan olok-olok temannya di sekolah. 

Orang tua mereka lantas menghukum si bungsu, tapi bukan hukuman yang setimpal dengan kenakalannya. Sang ibu akan mencubit si bungsu, sedangkan si ayah menasihati dan menyuruhnya untuk meminta maaf pada kedua kakaknya. 

Baca juga: Hormat Saya Untuk Kakak Perempuan, Si Sulung yang Martir

Si sulung dan anak tengah menerima ucapan penyesalan si bungsu dengan setengah hati. Karenanya, tidak mengherankan beberapa hari setelah kejadian itu, si bungsu tidak pernah diajak bermain oleh si sulung dan anak tengah. Si bungsu pun kembali menyimpan dendam, tapi kali ini dia tidak merencanakan sesuatu yang nakal. Dia hanya mengucap satu janji yang diucapkan berkali-kali sebelum tidur bak Arya Stark dengan daftar kematiannya. 

“Awas saja, saat saya sudah dewasa dan punya uang, saya tidak akan membantu kalian kalau kesulitan,” 

Janji dan kemarahan itu tentunya hilang keesokan harinya. Si sulung, anak tengah, dan si bungsu kembali berpura-pura akur agar orang tua mereka bisa menampilkan citra keluarga sempurna, seperti gambaran keluarga nuklir bahagia AS, Brady Bunch. Seiring tiga bersaudara itu tumbuh dewasa, mereka mulai saling memahami, menjadi sekutu ketika seorang kerabat menjebak ibu mereka dalam bisnis bodong, dan membantu satu sama lain secara finansial. 

Saat ini si sulung telah berkeluarga dan memiliki satu anak laki-laki, anak tengah mengajar Bahasa Inggris di salah satu sekolah besutan pemerintah. Lalu si bungsu mengenang kembali kenakalannya dengan menulis esai ini. 

Foto Bersama Orang Tua

Saya mengaku anak bungsu memang relatif dimanja, suka memberontak karena memilih melakukan hal yang disukainya, dan di waktu tertentu bisa mengundang tawa dengan menjadi badut keluarga. Selain itu, hidupnya lebih enak dibanding anak pertama, khususnya perempuan, yang sering diposisikan sebagai orang tua ketiga dan wajib berkorban untuk adik-adiknya. 

Ketika mengingat kenakalan di masa lalu, saya juga ingin mengumpat: “Dasar si bungsu sialan!”

Namun, ada perspektif lain yang jarang disorot tentang menjadi anak bungsu. Mereka lahir ketika orang tua sedang sibuk-sibuknya mencari uang untuk menafkahi keluarga, karenanya anak bungsu memiliki kenangan indah bersama orang tua yang lebih sedikit. 

Saat membuka album foto keluarga saya lebih sering menemukan wajah kedua kakak saat masih kecil. Mereka bersama orang tua akan mengunjungi taman bermain, makan bersama di sebuah restoran yang sudah lama tutup, hingga piknik di pantai. Hal-hal seperti itu sudah jarang terjadi ketika saya lahir. Ayah dan ibu semakin tua, melakukan hal-hal lucu dengan anak pun sudah mereka lalui bersama dua anaknya yang lahir lebih dulu. 

Baca juga: Untuk Perempuan Generasi 'Sandwich': Kamu Berhak Bahagia

Saya hanya memiliki satu album kecil yang merangkum memori sejak bayi usia enam bulan hingga kelas dua Sekolah Dasar (SD). Berbeda dengan si sulung dan anak tengah yang setiap pertumbuhannya didokumentasikan sejak lahir. Akibat foto masa kanak-kanak yang sedikit itu saya agak tidak familiar dengan wajah saya saat masih kecil. 

Cerita itu juga semacam pengalaman bersama atau shared experience untuk si bungsu. Jisoo dari BLACKPINK, anak terakhir dari tiga bersaudara, mengungkapkan kalau memiliki foto yang lebih sedikit dibanding saudaranya. 

“Ibu saya memiliki banyak foto kakak-kakak saya sewaktu mereka masih bayi. Tapi, ketika saya lahir ibu sudah lelah mengambil foto anak-anak. Makanya, saya hanya punya sedikit foto dari masa kecil,” ujarnya dalam satu sesi siaran langsung lewat VLive, sebuah aplikasi untuk para idola K-pop melakukan siaran langsung khusus untuk penggemarnya. 

Lahir terakhir juga berarti memiliki waktu hidup bersama orang tua yang lebih sedikit. Usia orang tua terus bertambah dan ada kemungkinan tidak melihat si bungsu sukses seperti kakak-kakaknya. Karenanya, waktu yang terbatas itu menjadi pengingat memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar orang tua bisa berbangga dengan pencapaian si bungsu. 

Harapan Untuk Lebih Sukses dari Kakak

Si bungsu yang manja memang dituruti keinginannya, tapi pastinya akan diberikan pakaian bekas kakak-kakaknya, walaupun ukurannya kurang pas dan gayanya ketinggalan zaman. Tidak hanya pakaian, buku, tas, hingga sepatu juga sumbangan dari kakak. Hasrat untuk protes agar memiliki barang baru juga tertahan karena keluarga memiliki prioritas yang lebih penting. Lagipula memanfaatkan barang yang sudah ada juga jalan terbaik untuk berhemat. 

Selain itu, si sulung yang dituntut menjadi tolak ukur oleh orang tua juga menjadi isu yang akan dihadapi adik-adiknya. Tidak bisa dimungkiri, tekanan yang dirasakan si sulung sebagai benchmark sangat besar. Namun, ketika si sulung berhasil menjadi sukses melebihi keinginan orang tua, ekspektasi agar si bungsu melampaui si sulung pun lahir. 

Upaya melebihi prestasi si sulung juga bukan perihal mudah karena si bungsu akan selalu dibandingkan dengan kakaknya khususnya secara akademik. Saya dan kedua kakak saya belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sama. Mereka adalah siswa berprestasi yang menjadi kesayangan guru. Ketika para guru mendengar si sulung dan anak tengah memiliki adik, mereka beranggapan si bungsu juga berotak cemerlang. 

Baca juga: Tak Semua Orang Tua Mulia: Relasi Anak-Anak dengan Orang Tua Toksik

Sayangnya, ekspektasi itu hancur ketika si bungsu ternyata biasa-biasa saja secara akademik. Pertanyaan semacam “Kok kamu tidak cerdas seperti kakak-kakakmu?” menjadi perkataan yang membuat saya merasa gagal. Dalam skala yang lebih besar meninggalkan luka besar yang berdampak sampai dewasa,. Saya pun tidak memiliki ambisi karena toh buat apa berusaha kalau akhirnya akan dibandingkan dengan orang lain.

Ada kalanya si bungsu dijadikan semacam harapan terakhir orang tua saat kakak-kakaknya dianggap tidak memenuhi ekspektasi. Sejatinya, persoalan itu merupakan masalah besar terkait pengasuhan dan perspektif orang tua yang menilai anak sebagai investasi masa tua. Idealnya, anak bukan rencana cadangan dan isu finansial adalah beban bersama. 

Bisa dibilang penggambaran anak bungsu yang tepat ialah Amy dari novel dan film Little Women. Amy akan ditinggal dua kakaknya yang paling tua, Meg dan Jo ke pesta untuk para sosialita zaman Victoria karena masih kecil. Dia lalu balas dendam dengan membakar cerita-cerita yang ditulis Jo karena kesal. Namun, Amy tetap dibantu oleh kakak-kakaknya ketika tangannya terluka akibat dihukum guru di sekolah. Saat beranjak dewasa, dia juga menjadi cadangan Aunt March untuk menyelamatkan keluarganya secara finansial. 

Surat dari anak bungsu ini bukan ajang mengadu nasib siapa di antara anak sulung, tengah, dan bungsu yang paling menderita. Masing-masing anak memiliki bebannya sendiri, walaupun tingkat kesulitannya tidak bisa disamaratakan. Pengalaman anak bungsu juga sangat dinamis, tidak semua melalui hal yang telah saya alami. Ada juga anak bungsu yang pendiam, bukan seorang rebel, dan rela diatur ini atau itu oleh orang tua dan kakak-kakaknya. 

Namun, untuk sesama anak bungsu yang disebut paling manja, mari menepuk pundak sendiri telah melalui masa-masa menyakitkan ketika dibandingkan dengan saudaranya. Jangan lupa juga berterima kasih kepada kakak yang telah ‘membuka jalan’ agar hidup adiknya lebih mudah.  

Bayu Gianni adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang bermimpi mengadopsi 16 kucing.