Women Lead
August 31, 2021

Dear Orang Tua, Bahu Anak Pertama Tak Selalu Sekuat Baja

Petuah agar anak pertama harus kuat dan jadi contoh yang baik, rentan membuat mereka tertekan. Yuk, kumpul para anak pertama di sini!

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Lifestyle
stigma anak pertama
Share:

Tak terhitung berapa kali saya membaca dan mendengar perkataan, “Bahu anak pertama itu sekuat baja”. Para anak pertama selalu dituntut menjadi andalan keluarga: Jadi yang terpintar dan tersukses agar bisa jadi contoh adik-adiknya, jadi yang tersabar dan selalu mengalah setiap kali ada konflik dengan saudara-saudara atau orang tuanya atau jadi yang terkuat agar bisa menguatkan anggota keluarga lainnya.

Belum lagi, banyak keluarga dan orang tua menganggap anak pertama lantas sebagai harapan pertama. Bila orang tuanya sukses, kesuksesan itu dijadikan benchmark sekaligus bare minimum kesuksesan anak ketika dewasa kelak. Bila orang tuanya kurang beruntung, dia diharapkan bisa jadi seseorang yang memperbaiki dan menaikkan derajat keluarga. Tak sedikit anak pertama yang dituntut untuk jadi breadwinner, alias pemberi nafkah keluarga, sejak mereka kecil atau muda. 

Sungguh ujaran dan tuntutan itu tak manusiawi juga tak masuk akal. Sebab, ujung-ujungnya itu berpotensi membentuk anak pertama tumbuh bak robot, yang dipandang dari seberapa sukses atau kuat dia dalam menghadapi masalah. Padahal faktanya, bisa jadi dia hanyalah anak biasa yang butuh bimbingan sekaligus kesempatan yang sama untuk bermain dan membuat kesalahan. Apalagi, bila tuntutan yang sama tak diberikan kepada anak kedua, ketiga, dan seterusnya. 

Sialnya, itulah realitas yang sering kita jumpai di masyarakat hari ini. Sungguh tak adil dan diskriminatif. Hal itu tercermin dari hal-hal yang paling sederhana, juga kerap diabaikan, dari pola asuh orang tua dan keluarga kepada anak. Ketika seorang kakak dan adiknya bertengkar, pasti kakaknya yang selalu dituntut untuk mengalah dengan alasan, “Kamu kan lebih tua, harus lebih dewasa.”

Baca juga: Hormat Saya Untuk Kakak Perempuan, Si Sulung yang Martir

Menjadi dewasa dan berpikiran terbuka memang hal yang baik, tapi itu jadi bermasalah ketika hanya dibebankan kepada anak pertama. Bahkan ketika kesalahan itu berasal dari adiknya, anak pertama tetap kerap disuruh mengalah, tak jarang minta maaf duluan. Sungguh tak masuk akal. Namun, ketika kita sebagai anak berusaha mendiskusikan masalah itu dengan orang-orang dewasa di sekitar, alih-alih divalidasi, respons mereka tak pernah solutif. 

Udah lebih tua, harus ngalah sama yang lebih kecil. Adik kan belum mengerti.”

Emang enggak malu kalau ngelawan adiknya?”

Ya, masuk akal bila adiknya baru berusia balita. Akan tetapi, kalau sudah belasan tahun, puluhan tahun, tapi tak juga berubah karena terbiasa didiamkan, apakah itu masih layak jadi pemakluman?

Apakah menyuruh anak pertama untuk jadi dewasa, sabar, dan tak segan meminta maaf duluan itu lantas menghilangkan kewajiban untuk mengajarkan anak kedua dan seterusnya hal yang sama? Menurut saya, tidak. 

Selain harus jadi dewasa sebelum waktunya (termasuk menyembunyikan perasaan dan jadi figur orang tua pengganti), anak pertama juga dituntut bisa menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga, banyak dari mereka yang dituntut untuk selalu punya prestasi gemilang dan melahirkan sikap-sikap yang berpotensi jadi over-protective dan mengekang. Lagi, tentu jadi orang sukses adalah hal yang sangat baik. 

Baca juga: Untuk Perempuan Generasi 'Sandwich': Kamu Berhak Bahagia

Bila tuntutan itu hanya diberikan pada anak pertama seorang, sedangkan adik-adiknya diberi lebih banyak kelonggaran untuk bermain dan mengeksplorasi hobi-hobi lainnya, itu akan membuat anak pertama mempertanyakan mengapa kasih sayang yang ia dapatkan tak sama dengan yang didapatkan adik-adiknya. Itu juga membuatnya terbentuk jadi people pleaser yang sulit menentukan apa yang ia inginkan karena terbiasa mengikuti perintah orang-orang di sekitarnya.

Itu melahirkan standar ganda pada anak pertama. Sudah harus bekerja ekstra, menguatkan keluarga, harus selalu terlihat kuat dan tak boleh menunjukkan emosi pula. Coba bayangkan, sudah lelah belajar atau bekerja, pulang ke rumah pun tak punya tempat bercerita atau berkeluh kesah.  

Itu saya pelajari dari pengalaman saya sendiri. Tanpa saya sadari, pola asuh dan tuntutan masyarakat itu membuat saya tumbuh menjadi orang yang terbiasa memasang topeng sebagai orang yang kuat, malu mengekspresikan kelelahan dan perasaan lainnya di hadapan banyak orang, juga terbiasa menahan perasaan dan keinginan saya sampai saya tersiksa sendiri. Sama halnya seperti ujaran masyarakat yang berbunyi, “Anak laki-laki enggak boleh menangis. Malu!”, ujaran bahwa anak pertama harus selalu terlihat kuat di hadapan orang-orang dan keluarga juga sama toksiknya.

Saya cenderung berpikir, itu adalah tanda-tanda orang lemah yang kalah. Padahal, emosi adalah hal yang sama sekali tak bisa dipisahkan dari manusia dan kemanusiaan. Kini, saya memang sudah sadar. Tapi, butuh waktu puluhan tahun untuk mendekonstruksi pemikiran itu. 

Baca juga: Tangguhkan Cita Demi Keluarga: Kisah Lajang Penopang Rumah Tangga

Dan itu berpotensi melahirkan gangguan-gangguan kesehatan mental akibat perasaan yang terpendam, amarah yang tak tersalurkan, juga kebiasaan untuk diberi sanksi sosial bila tak bisa menjadi seperti apa yang dibebankan keluarga padanya. Dipermalukan dengan alasan umur, misalnya.

Penelitian Ajay Risal dan Hema Tharoor yang berjudul Birth Order and Psychopathology (2012) berhasil mengungkap, para anak pertama di keluarga lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental ketimbang adik-adiknya, terutama skizofrenia. Mereka berpotensi terpengaruh secara signifikan karena harus memikul sebagian besar tekanan dan beban tanggung jawab keluarga. Selain itu, kebanyakan pengidap dissociative disorder alias kepribadian ganda juga merupakan anak pertama.

Saya paham, kebanyakan orang tua menyayangi anak-anaknya, tak ada yang lebih, tak ada yang kurang. Atau setidaknya begitulah ide yang selalu orang-orang paksa untuk kita percayai. Tapi, tanpa masyarakat dan orang tua sadari, itu adalah bentuk terkecil dari pilih kasih antara anak yang satu dengan yang lainnya. 

Saya juga paham, tak ada orang tua yang sempurna. Saya pun belum menjadi orang tua, dan mungkin itu akan membuat banyak orang nyinyir sembari berkata, “Kamu enggak tahu aja susahnya jadi orang tua.” Hal itu juga saya sadari tanpa mengesampingkan fakta masyarakat dan keluarga juga menjatuhkan tuntutan tertentu pada anak tengah atau anak bungsu. Dibanding-bandingkan dengan kesuksesan kakaknya, misalnya. Itu juga sama toksiknya dan mengganggu kesehatan mental anak. 

Makanya, saya berharap agar kelak saya dan generasi saya bisa menjadi orang tua, keluarga, juga masyarakat yang tak mengglorifikasi heroisme anak pertama, ketika sebenarnya mereka menahan banyak sekali beban dan tak punya kesempatan untuk membagikannya. Pun, mewajarkan kebiasaan membanding-bandingkan pencapaian anak, ketika setiap orang memiliki minat dan kemampuan yang berbeda.

Anak pertama, anak kedua, laki-laki, ataupun perempuan, memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dan setara dalam keluarga. Menuntut satu pihak dengan memberi pemakluman pada pihak lain hanya akan menyuburkan kesewenang-wenangan dan diskriminasi dalam bentuk yang lebih besar dan mendasar di masa depan.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.