Women Lead
August 20, 2021

Susahnya Jadi Tionghoa dan Non-Muslim, tapi Sopir Taksi Meredakan Ketakutan Saya

Percakapan singkat dengan seorang sopir taksi meredakan kecemasannya yang meningkat tentang meningkatnya persekusi atas kelompok minoritas agama.

by Sebastian Partogi
Issues
Share:

Suatu Minggu malam, tepat setelah liburan Idulfitri, saya naik taksi dari pusat perbelanjaan setelah berbelanja bahan makanan bulanan. Dalam perjalanan pulang pergi menaiki taksi, saya jarang sekali saya mengingat percakapan saya dengan para sopir, meskipun kisah-kisah aneh yang mereka ceritakan selalu membuat saya terpesona.

Namun, perjalanan malam itu sedikit berbeda. Percakapan saya dengan sopir taksi malam itu lebih dari sekadar basa-basi. Percakapan malam itu mengukir sebuah pesan yang sangat penting dalam ingatan saya.

Dari hasil pembicaraan itu, ingatan saya melayan pada diskriminasi dan persekusi yang kerap dialami oleh Tionghoa-Indonesia non-Muslim dalam beberapa tahun terakhir. Ini termasuk kasus pemenjaraan Meiliana hanya karena mengeluh soal suara azan yang terlampau keras hingga mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama karena tuduhan penistaan agama. Membayangkan pengalaman mereka saja, saya sudah ketakutan. Sebagai seorang Tionghoa-Indonesia non-Muslim, kasus-kasus yang melibatkan sentimen rasial dan agama sangat dekat bagi saya.

Baca juga: Apa yang Tidak Kita Bicarakan Saat Berbicara tentang Tionghoa Indonesia

Bulan Ramadan lalu, saya terbangun di rumah bibi saya di Depok, Jawa Barat karena khotbah salat Subuh yang membuat saya merinding. “…Non-Muslim seperti Kristen pantas dibunuh dan para kaki tangan Tiongkok, mereka juga harus diusir dari negara ini,” khotbah yang digaungkan melalui pengeras suara besar dari masjid terdekat menembus dinding kamar tempat saya menginap. Saya menutup telinga saya dengan jari telunjuk, karena saya terlalu takut untuk mendengarkan sisa khotbah. Saya takut dengan keselamatan keluarga saya sendiri, karena kebanyakan dari kami tinggal di Depok dan karena tetangga kami menghadiri masjid seperti ini.

Baru-baru ini ketika saya diundang sebagai dosen tamu di sebuah universitas yang juga terletak di pinggiran Jakarta, seorang dosen menyebut saya kafir, begitu rekan-rekannya menertawakannya. Ketakutan saya bukan tanpa dasar. Sebuah studi 2018 oleh lembaga nirlaba Setara mengungkapkan, radikalisme tumbuh subur di daerah pinggiran Jakarta, termasuk Depok. Di antara banyak orang Indonesia, radikalisme dimulai sejak usia muda. Menurut survei Setara lainnya tentang toleransi siswa pada tahun 2016, 35,7 persen siswa menunjukkan kecenderungan intoleran dalam pikiran mereka sementara 2,4 persen telah terlibat dalam tindakan intoleransi.

Baca juga: Menjadi Cina Antara Mei 1998 dan 2019

Pikiran-pikiran ini melintas di kepala saya dalam perjalanan pulang dengan taksi dari mal. Saya telah memiliki berbagai pikiran untuk meninggalkan Indonesia. Saya ingat seorang teman Tionghoa-Indonesia yang merupakan seorang Muslim “liberal”, yang mempertimbangkan untuk bermigrasi ke Amerika Serikat atau Kanada. Namun, bukankah itu hanya bentuk lain dari ilusi? Saya pun merenung. Kita tahu bahwa permusuhan terhadap kelompok minoritas termasuk orang kulit berwarna, khususnya Muslim juga berkembang di negara-negara tersebut. Di mana kita dapat menemukan tempat yang aman untuk ditinggali? Mungkin lebih aman tinggal di Singapura?

Tiba-tiba sopir taksi membuyarkan pikiran saya, “Senang mendapatkan tumpangan yang begitu mudah, ya?”

“Ya,” jawabku setengah hati, “Alhamdulillah liburan sekolah sudah selesai.”

"Ya, tapi kisruh di Mahkamah Konstitusi belum selesai," katanya.

Saya mulai takut dengan percakapan politik yang akan datang dari perbincangan kami di taksi. Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang sangat memecah belah telah berakhir, tetapi kandidat yang kalah, Prabowo Subianto belum mengakui kekalahan sambil menunggu gugatannya terhadap Presiden Joko Widodo di Mahkamah Konstitusi, sementara para pendukungnya melanjutkan kampanye sektarian mereka saat itu.

Seolah-olah dia bisa membaca pikiran saya, dia berkata,“Oh, saya benci bagaimana politisi tertentu mengeksploitasi ras dan agama untuk mendapatkan dukungan selama musim kampanye Pemilu lalu.”

Baca juga: Saya Cina dan Ingin Jadi PNS, Ada yang Salah?

Dia melanjutkan, “Saya juga seorang Muslim dan saya percaya bahwa setiap orang, tanpa memandang ras dan agama, memiliki hak untuk tinggal di Indonesia. Ini juga berlaku untuk Tionghoa-Indonesia dan non-Muslim. Mereka berkontribusi besar dalam membebaskan negara ini dari penjajah kita.”

Pikiran saya tertuju pada mendiang jurnalis Indonesia Tjamboek Berdoeri, atau Kwee Thiam Tjing, yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui kampanye komunikasi massa. Tulisan-tulisannya menyebabkan dia dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda.

“Jadi, jangan khawatir, kami akan melindungimu sebagai saudara kami. Kalian semua memang pantas berada di sini.”

Entah bagaimana, pernyataan terakhir yang meyakinkan itu meredakan kecemasan saya dan membantu mengakhiri perenungan saya. Saya pulang ke rumah malam itu dengan perasaan aman dan tenang. Tidak semuanya hilang. Seperti sopir taksi itu, kita bisa berusaha membangun kesamaan dengan sesama manusia dengan cara yang sederhana, menyebarkan keyakinan akan kebaikan umat manusia di tengah konflik manusia yang terus-menerus.

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis. 

Jika kamu datang dan nongkrong di bioskop, pusat budaya, dan kafe Jakarta, dan melihat seorang laki-laki dengan kepala gundul duduk sendirian di sudut, dia mungkin adalah Sebastian Partogi. Dia bekerja sebagai jurnalis, penulis komersial dan fiksi, serta penerjemah dan juru bahasa Indonesia-Inggris.