Women Lead
August 23, 2021

Tanpa Disadari, Kita Jadi Pelaku Reviktimisasi Kekerasan Seksual

Jika dibiarkan, kondisi ini akan semakin melanggengkan anggapan bahwa pemerkosaan adalah budaya.

by Ajeng Ratna Komala
Safe Space
Share:

Spill the tea atau usaha membongkar borok kekerasan seksual di linimasa, semakin jamak ditemui. Misalnya dalam kasus penyintas kekerasan seksual yang dilakukan pesohor Gofar Hilman beberapa waktu lalu. Masifnya respons positif terhadap penyintas turut membuka wawasan dan kesadaran masyarakat bahwa keberanian mengungkap kekerasan seksual memang sudah selayaknya diapresiasi.

Selain menambah kekuatan kepada para penyintas kekerasan seksual, itu juga menjadi pengingat bersama, kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja. Pun mereka yang memilih untuk membuka semuanya di linimasa punya alasan khusus, mayoritas adalah karena hukum tumpul yang tak lagi bisa dipercaya.

Meski di satu sisi mendatangkan manfaat, faktanya, spill the tea juga direspons nyinyir oleh publik. Alih-alih mendapatkan dukungan, para penyintas justru rentan mendapatkan tekanan dan balik disalahkan. Dalam kasus Gofar misalnya, karena ia didukung oleh basis massa yang lumayan, penyintas malah disembur oleh fans Gofar sebagai “perempuan pencari sensasi”, “mengundang duluan”, “kenapa tak melawan”, “pasti menikmati kan”, dan sejenisnya.

Baca juga: ‘Call-Out Culture’ di Media Sosial: Berfaedah atau Bikin Lelah?

Cuitan-cuitan respons sejenis ini sebenarnya adalah bentuk reviktimisasi penyintas kekerasan seksual, yang celakanya jarang disadari. Maksudnya, penyintas bisa mengalami trauma karena menjadi korban dua kali: Dilecehkan dan masih juga disalahkan. Ini senada dengan data riset Classen dkk bertajuk “Trauma, Violence, and Abuse” (2005) yang menyebutkan, sekitar dua dari tiga individu yang menjadi korban kekerasan seksual akan direviktimisasi atau menjadi korban kembali.

Buat saya sendiri, daripada sibuk memberi komentar menyalahkan penyintas, yang perlu dilakukan lebih awal adalah mendukung mereka. Lepas dari kebenaran yang nantinya terkuak, kita harus menyepakati, tak mudah buat penyintas untuk berbicara, menceritakan tragedi yang mereka alami. Posisikan diri dalam sudut pandang penyintas kekerasan seksual. Pikirkan kembali apakah pertanyaan-pertanyaan atau tanggapan yang kita berikan dapat berpengaruh baik buat penyintas? Jika memiliki keraguan apakah yang ia ceritakan itu benar atau tidak, yang perlu dilakukan pertama kali adalah tetap memberikan dukungan terlebih dahulu. 

Baca juga: Bagaimana Akhiri ‘Victim Blaming’? Jadikan Kekerasan Seksual Masalah Sosial

Lantas bagaimana jika ternyata apa yang diceritakan mereka itu bohong dan kita sudah terlanjur mendukung hal tersebut? Tak masalah karena setidaknya kita sudah berempati terhadap cerita penyintas kekerasan seksual. Ini jauh lebih baik ketimbang merundung penyintas hingga membuat mereka berkali-kali jadi korban.

Saya seorang mahasiswa tingkat akhir yang mulai tertarik menulis mengenai gerakan feminisme. Salah satunya dalam perjuangan mengenai perlindungan dan keamanan perempuan dari kekerasan seksual. Saya berambisi untuk melakukan perubahan melalui tulisan yang saya buat.