Women Lead
July 13, 2021

Bagaimana Standar Kecantikan Menghancurkan Perempuan?

Jika feminis Simone de Beauvoir masih hidup, kira-kira beginilah komentarnya soal standar kecantikan yang kini sedang ramai diributkan.

by Jasmine Floretta V.D
Issues // Feminism A-Z
Toxic Beauty Privilege_KarinaTungari
Share:

Selebgram bernama Michelle Halim bertubi-tubi melontarkan unggahan tak simpatik. Pertama, ia menyebut model gemuk yang diperkenalkan Victoria’s Secret tak memenuhi standar kecantikan yang semestinya. Kedua, Michelle melancarkan ujaran rasis kepada “burik” kepada pemeran Julien Calloway dalam reboot serial Gossip Girl.

Michelle dicela dan dibela. Ia dibela karena berani mengambil sikap berbeda dan memakai haknya untuk bebas berpendapat di ruang publik. Namun, ia dicela karena berlindung di balik kebebasan berpendapat demi mengamplifikasi pesan-pesan kebencian dan standar bobrok kecantikan--yang jarang adil terhadap semua perempuan. Buat saya, apa yang disampaikan Michelle tak lebih dari manifestasi standar kecantikan yang sebenarnya dibangun dari bingkai diskriminasi gender dan ras, lalu dilanggengkan oleh media massa dan sosial media. Titik.

Media massa atau media sosial yang meliputi instagram, twitter, bahkan website tidak berhenti “menyuapi” standar kecantikan perempuan di seluruh belahan dunia menurut kacamata laki-laki kulit putih cis hetero. Sehingga, bagi perempuan yang tidak dapat memenuhi standar kecantikan ini, bakal auto-terpinggirkan dan mendapatkan diskriminasi.

Sebenarnya ribut-ribut perdebatan soal standar kecantikan ini bisa kita dekati dengan meminjam perspektif feminis Simone de Beauvoir. Pemikir asal Prancis itu mengatakan dalam bukunya The Second Sex, bagaimana perempuan sebagai liyan, menginternalisasi standar  dan mengamini segala opini juga batas-batasan yang ditetapkan laki-laki. Tidak terkecuali dengan standar kecantikan, yang mengelompokkan dua tipologi perempuan di dalamnya, yaitu the narcissist dan the mystic.

Baca juga: Saya Feminis, Saya Menentang Narasi 'Semua Perempuan Cantik'

The narcissist adalah tipologi yang Beauvoir katakan sangat problematik karena mereka menikmati dan menginginkan objektifikasi tersebut. Beauvoir mengklaim, narsisme yang ada pada perempuan adalah hasil dari ke-liyan-annya. Perempuan merasa putus asa sebagai subjek karena tidak diperkenankan untuk terlibat dalam kegiatan mendefinisi diri. Pun, kegiatan femininnya alpa memberikan dirinya kepuasan.

Karena tidak mampu memberikan kepuasan bagi dirinya sendiri melalui proyek dan tujuan-tujuannya, perempuan dipaksa untuk menemukan realitas dalam imanensinya (subjektifitas) sebagai seorang manusia. Ia menjadikan dirinya sangat penting karena tidak ada objek penting yang dapat diaksesnya”

Hal inilah yang kemudian mengantarkan perempuan dalam upaya menjadikan dirinya sendiri objek penting hingga di level obsesi. Perempuan mempercayai, dirinya adalah objek dengan keyakinan yang ditegaskan oleh mayoritas orang di sekitarnya terutama laki-laki. Beauvoir menggarisbawahi, obsesi terhadap citra dirinya sendiri ini termanifestasikan pada minat mereka tehadap wajah, tubuh, dan pakaian pribadi.

Dalam konteks ini, media dan sosial andil mempromosikan standar kecantikan ideal yang kadang tak masuk akal. Bahwa perempuan cantik adalah mereka yang berkulit putih tanpa ada flek atau jerawat di wajahnya, bibir penuh berwarna merah, bertubuh langsing dengan lekuk sempurna. Standar kecantikan ini dipromosikan begitu gencar apalagi dengan mulai banyaknya beauty influencer yang banyak menggaet followers perempuan. Mayoritas demografi ini pun bermuara pada stigmatisasi massal dari masyarakat, terutama jika ada perempuan yang tidak sesuai dengan standar kecantikan bersama.

Baca juga: ‘Effortless Beauty’: Standar Ganda Kecantikan yang Mustahil Dicapai

Perempuan pun akhirnya rela membeli kosmetik, skincare, dan melakukan berbagai macam treatment kecantikan di klinik dermatologis dengan nominal jutaan rupiah demi kulit yang putih mulus tanpa noda. Produk-produk kecantikan yang mempunyai label “whitening” pun banyak bermunculan karena membludaknya permintaan pasar. Mereka juga kerap berbelanja pakaian yang sedang digandrungi masyarakat untuk tampil gaya. Tidak heran jika apa yang dilakukan para perempuan ini akhirnya membuat diri sendiri tersiksa dan merasa wajib untuk tampil cantik di depan publik. 

Hal ini menimbulkan sebuah obsesi yang sangat berlebihan dan membahayakan bagi perempuan. Bagian ini sekaligus mengantarkan kita pada definisi tipologi perempuan kedua: the mystic. Perempuan tipe ini ingin menjadi objek paripurna dari subjek yang paripurna. Mereka adalah perempuan yang menganggap dirinya lebih baik dari perempuan lain karena mereka patuh pada ajaran norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Mereka dituntut untuk menjadi perempuan yang ideal sesuai dengan standar yang ada. Apa yang mereka cari adalah pengagungan atas narsisnya, pandangan yang berkuasa yang ditancapkan padanya, lewat upaya mengagung-agungkan diri.

Hal yang mengerikan dari penetapan standar kecantikan ini adalah tidak sedikit perempuan kemudian berbondong-bondong mengukur keberhasilannya dari jumlah laki-laki yang tertarik kepadanya. Tak heran jika kursus romansa yang bertujuan untuk menggaet lelaki ramai-ramai diminati.

Baca juga: Menentang Standar Kecantikan Agar Tubuh Tidak Terjajah

Beauvoir juga menekankan, male-gaze akhirnya adalah obsesi dan tujuan mereka untuk berlomba memoles diri. Bahkan tak jarang perempuan-perempuan ini dapat menyakiti sesama perempuan lain lewat tindakan dan tutur katanya hanya demi pengakuan. Seakan mendapat sebuah anggukan dari laki-laki adalah keberhasilan terbesarnya. Sebagian dari mereka juga terjebak dalam kompetisi tak masuk akal antar-perempuan untuk memenangkan lelaki. Pendek kata, penghargaan diri mereka akhirnya hanya bergantung pada persetujuan laki-laki dan masyarakat terhadap dirinya sendiri. 

Menurut saya, satu-satunya cara bagi perempuan Indonesia untuk keluar dari standar kecantikan adalah melalui penerimaan diri dengan mencintai diri sendiri apa adanya. Ini sangat dibutuhkan bagi setiap perempuan agar mereka dapat menghargai diri, sepaket dengan fisik yang sudah diberikan oleh Tuhan. Dengan mencintai diri, perempuan tidak akan lagi membandingkan dirinya dengan perempuan lain dan ikut dalam perlombaan konyol tentang siapa yang lebih cantik dan siapa yang lebih pantas dipandang oleh masyarakat. Akhirnya, yang terpenting adalah definisi cantik tak pernah tunggal, kamu cantik dengan caramu masing-masing. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia sedang menjalani studi S2 di Kajian Gender UI dan tertarik pada kajian tentang penggemar dan peran ibu