Women Lead
August 10, 2021

Kasus Okin dan Sulitnya Pelaku Kekerasan Seksual Minta Maaf

Hampir tak pernah ada pelaku pelecehan seksual yang meminta maaf secara tepat pada korbannya. Kebanyakan hanya mengelak, balik menyalahkan korban, atau mencari pembelaan.

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Safe Space
permintaan maaf yang tepat dalam pelecehan seksual
Share:

Kenapa kita harus meminta maaf? Karena meminta maaf bisa membangun kembali bagian yang hancur dalam diri orang yang kamu sakiti. Meminta maaf juga bisa memperbaiki hubungan karena bisa membuat orang yang kamu sakiti perlahan menemukan kembali rasa nyaman.

Namun, bagi korban pelecehan seksual, perkaranya bukan hanya itu. Rasa aman dan nyaman itu tak mudah ditemukan setelah keduanya direnggut secara tidak pantas. 

Sayangnya, jarang sekali kita temukan laki-laki pelaku pelecehan seksual yang pernah meminta maaf dengan layak kepada korban dan orang-orang di sekitarnya. Saya sendiri belum pernah menemukan itu, satu kali pun.

Peristiwa yang baru-baru ini menarik perhatian saya adalah video “permintaan maaf” yang dibuat selebgram Niko Al-Hakim alias Okin dan Elnanda Utomo atas tuduhan pelecehan seksual yang keduanya lakukan. Banyak pula warganet yang kemudian mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual fisik yang dilakukan Elnanda sejak dahulu, dan tak pernah mendapatkan permintaan maaf ataupun pengakuan yang seharusnya. 

Beberapa hari setelah tuduhan itu ramai membanjiri linimasa berbagai media sosial, Okin dan Elnanda membuat sebuah video permintaan maaf yang lebih mirip video pembelaan diri, dan membagikannya di media sosial masing-masing.

Video yang keduanya buat sama sekali tidak reflektif. Alih-alih menunjukkan rasa bersalah atas perilakunya, atau empati pada korban, Okin dan Elnanda hanya memfokuskan konten minta maaf itu pada diri mereka masing-masing. Dari awal kalimat pembuka video saja sudah terlihat. 

Baca juga: Gofar Hilman, Budaya Pemerkosaan, dan Sikap Lawless

Ada Okin yang membukanya dengan, “Pasti kalian sadar kalau gue adalah orang yang enggak pernah nyaman kalau kalau (wajah) disorot kamera”, lalu melanjutkan video dengan narasi-narasi tentang dirinya yang tidak percaya diri bicara atau muncul di depan kamera, yang tidak ada signifikansinya terhadap kasus pelecehan seksual yang dia lakukan.

Dalam video itu, Okin juga berupaya menekankan bahwa reaksi warganet yang menilai bahwa tindakan Okin (meminta followers-nya melakukan gestur dan mengatakan hal-hal berbau seksual) sebagai bentuk pelecehan seksual, itu berlebihan dan baper alias bawa perasaan. 

“Gue cuma mau ngegodain Baba (selebgram Hassan Alaydrus) karena Baba suka malu-malu di depan cewek,” kata Okin. 

Atau, ada juga Elnanda, yang membuat video berdurasi tak sampai beberapa menit berisi permintaan maaf atas “tutur kata yang tidak tahu batas” kepada “teman-teman” alias warganet, tanpa meminta maaf pada para korban pelecehan seksual yang dia lakukan dan sudah menceritakan kronologi peristiwa kelakuan Elnanda di berbagai platform media sosial. 

Gue sadar sudah bertutur kata enggak tahu batas,” kata Elnanda. 

Bagaimana dengan pelecehan seksual yang sudah dia lakukan? Apakah dia tak merasa ada banyak sekali hal yang seharusnya membuat dia merasa bersalah dan meminta maaf pada setiap orang yang dia rugikan? Tak ada refleksi diri yang berarti selain pembenaran dan pembelaan diri.

Ini adalah hal yang lumrah ditemukan, terlebih bila pelaku adalah orang-orang yang punya kekuatan besar, entah itu posisinya di pemerintahan/instansi besar, uang, atau dalam hal ini, followers dan eksistensi yang besar. 

Ini adalah bukti bagaimana korban pelecehan seksual mengalami sanksi yang berlapis atas sesuatu yang sama sekali tidak menjadi salahnya. Pertama, dia dirugikan secara fisik maupun psikis dari sikap pelaku yang melecehkan dia, yang mengganggu konsentrasi, rasa aman dan nyaman, hingga berdampak pada kelancaran keseharian. Kedua, dia ditelanjangi masyarakat dan lembaga-lembaga, yang alih-alih menolong, malah mempermalukan dan menyalahkan dia. Ketiga, tekanan psikologis lanjutan dari pelaku yang berdalih minta maaf, padahal hanya berupaya menyalahkan korban dan mengelak dari kesalahannya. 

Padahal, permintaan maaf yang spesifik dan tanpa pamrih dapat menjadi bagian dari proses penyembuhan diri korban, berlainan dengan permintaan maaf setengah-setengah atau permintaan maaf berkedok pembelaan diri yang malah membuat korban mengalami lebih banyak tekanan psikis, kritik, dan ketidakpercayaan. Terlebih, bila pelaku adalah orang berkuasa yang diketahui banyak orang. Itu akan membuat posisi korban semakin rentan.

Baca juga: Bagaimana Akhiri ‘Victim Blaming’? Jadikan Kekerasan Seksual Masalah Sosial

Cara Minta Maaf yang Tepat pada Korban Pelecehan Seksual

Profesor sosiologi dari Skidmore College dan co-founder lembaga yang mempromosikan inisiatif restoratif untuk kekerasan seksual, David Karp menyebutkan bahwa permintaan maaf pada korban pelecehan seksual setidaknya harus mengandung empat hal, yaitu penjelasan mengenai perilaku apa yang sudah dilakukan pelaku pada korban, pengakuan bahwa pelaku sudah membahayakan korban dan membuatnya merasa tidak nyaman tanpa pengelakan atau upaya meminimalisi tuntutan, ekspresi penyesalan, serta menjelaskan perilaku/pola pikir apa yang mereka akan ubah dan hentikan karena sudah menyadari bahwa perilaku itu merugikan orang lain.

Mungkin, masih segar di ingatan kita bagaimana respons penyiar radio dan Youtuber Gofar Hilman seorang perempuan mengaku pernah dilecehkan olehnya. Alih-alih meminta maaf, dia malah berupaya keras membingkai bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi dan bukan sepenuhnya dia. Dia juga mengeluh (atau beralasan) tak bisa menghubungi pihak perempuan yang diduga menjadi korbannya. Gofar malah mengancam akan membawa kasus tersebut ke meja hijau lantaran telah “dirugikan secara mental dan material”.

Padahal, menurut psikoterapis Lori Gottlieb, hal paling pertama yang harus diingat pelaku pelecehan seksual yang berniat meminta maaf adalah mempertimbangkan, lalu mengerti, bagaimana perasaan sang korban ketika tahu bahwa dia telah dihubungi oleh orang yang melecehkannya.  Bila korban menolak bicara, tidak membalas pesan, atau bahkan marah, itu adalah respons psikologis yang sangat wajar,  mengingat pelaku sudah merenggut banyak hal darinya.

Sehingga, pelaku harus menghargai itu serta meyakinkan korban bahwa dia tidak meminta apapun dari korban, seperti memohon untuk dimaafkan atau diyakinkan bahwa sekarang semua sudah baik-baik saja.

Baca juga: Setop Pelecehan Seksual Berkedok Lelucon di Kelompok Pertemanan

Motivasi yang tidak lurus dan tulus bukanlah hal yang baik untuk korban, ujar Gottlieb. Misalnya, meminta maaf sambil mencari pembelaan atau berusaha meminimalisasi tuntutan dengan berkata, “Aku memang berbuat salah padamu. Tapi, budaya yang ada di sekitar kita pada saat itu menormalisasi perilaku seperti itu dan aku masih bodoh sehingga tidak bisa membedakan hal yang baik dan benar.”

Atau, meminta maaf sambil membanggakan diri sendiri dengan menempatkan diri seolah-olah mengetahui perasaan atau posisi korban, seperti, “Aku minta maaf. Aku juga tahu rasanya tidak punya kekuatan, karena pengalamanku banyak yang seperti itu. Aku bisa berempati dan memosisikan diri jadi dirimu.” 

Faktanya, kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang lain. Meminta maaf sambil menghubungkannya dengan pengalaman pribadi akan membuat korban lagi-lagi merasa dikecilkan dan tidak didengarkan.

Alih-alih begitu, hal yang seharusnya dilakukan pelaku adalah bertanya dan menawarkan, apakah ada hal yang bisa dia lakukan atau berikan yang bisa membuat korban merasa lebih baik. Bisa jadi, ada hal-hal tertentu yang ingin korban dengar dari mulut pelaku. Atau mungkin, korban ingin pelaku mendengar langsung bagaimana luka yang dia rasakan dan sejauh apa itu mempengaruhi hidupnya, tanpa sikap defensif pelaku.

“Cara apapun yang kamu pilih, dan hal apapun yang dia (korban) pilih untuk lakukan, bahkan meski dia memaafkanmu, kamu masih harus mengakui kesalahanmu dan berdamai dengan itu. Ruang untuk dimaafkan itu ada, tapi diskusi seperti itu jadi tanggung jawabmu sendiri. Perasaanmu juga berarti, tapi itu tanggung jawabmu sendiri, bukan tanggung jawab korban,” kata Gottlieb.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.