Issues

‘Eco-Anxiety’, Dampak Perubahan Iklim pada Kesehatan Mental

Jika kamu sering cemas dan gelisah berlebih karena takut bencana alam, kerusakan lingkungan, atau kiamat karena perubahan iklim? Tenang, kecemasanmu valid, dan kamu tidak sendiri.

Avatar
  • February 22, 2022
  • 5 min read
  • 208 Views
‘Eco-Anxiety’, Dampak Perubahan Iklim pada Kesehatan Mental

Bumi yang kita tempati sedang tidak baik-baik saja. Bencana alam marak terjadi di berbagai belahan dunia. Mulai dari banjir mematikan di Eropa Barat yang menewaskan lebih dari 200 jiwa, hingga gelombang panas di Turki dan Yunani yang memicu kebakaran hutan pada 2021.

Indonesia pun turut mengalami berbagai peristiwa bencana alam yang mengerikan seperti banjir berkepanjangan di Sintang Kalimantan Barat dan kekeringan yang melanda wilayah NTB dan NTT. Bencana-bencana tersebut merupakan beberapa contoh nyata dari dampak perubahan iklim.

 

 

Perubahan iklim diyakini dapat berdampak buruk terhadap kesehatan kita karena meningkatnya polusi di udara, penyebaran penyakit menular, serta kekurangan gizi akibat krisis pangan. Selain berdampak terhadap kesehatan fisik, perubahan iklim juga dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental kita. Kekhawatiran terhadap dampak dari perubahan iklim dapat memicu kita untuk mengalami perasaan cemas yang berlebih. Perasaan tersebut dinamakan juga “eco-anxiety”.

Baca juga: Pendidikan Perempuan dan Hal-hal yang Belum Selesai

Eco-anxiety memang bukan istilah medis yang masuk ke dalam daftar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Namun, pada 2017 American Psychiatric Association (APA) mengartikan eco-anxiety sebagai ketakutan kronis terhadap kerusakan lingkungan. 

Eco-anxiety dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti berisiko terancam bencana alam atau kerusakan lingkungan, pemberitaan buruk di media, hingga perasaan bersalah atas dampak yang manusia perbuat terhadap bumi. 

Sebuah survei dari 10.000 anak muda dari 10 negara menunjukkan bahwa hampir 60 persen responden menyatakan bahwa mereka merasa sangat khawatir terhadap perubahan iklim. Selain itu, berdasarkan survei ini, perubahan iklim juga cenderung diasosiasikan dengan perasaan negatif seperti sedih, takut, marah, cemas, dan tidak berdaya. Survei ini memperlihatkan kita bahwa perubahan iklim juga dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan mental kita. Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengatasi eco-anxiety?

  1. Menghubungi Layanan Kesehatan Mental 

Jangan ragu untuk menghubungi layanan profesional kesehatan mental seperti psikolog. Mereka dapat mendengar dan membantu kita untuk mengatasi eco-anxiety atau perasaan cemas akibat kerusakan lingkungan.

2. Melakukan Aksi untuk Bumi 

Melakukan upaya pelestarian alam dapat kita lakukan melalui keseharian kita dengan menjalankan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Menjalankan gaya hidup ramah lingkungan yang selaras dengan nilai dan prinsip yang kita pegang dapat membantu kita untuk hidup lebih berkesadaran (mindful). Beberapa contoh aksi sederhana yang dapat dilakukan di antaranya adalah mengurangi penggunaan plastik dengan tas, botol, dan wadah makan pakai ulang, memilah sampah, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan memilih transportasi umum atau berjalan kaki, dan mengonsumsi lebih banyak sayur daripada daging untuk mengurangi jejak karbon.  

3. Mendekatkan Diri dengan Alam 

Menghabiskan waktu dengan mendekatkan diri dengan alam dapat memberi kita sejumlah manfaat seperti meningkatkan perhatian, membuat suasana hati lebih baik, mengurangi stres dan risiko gangguan jiwa. Cara mendekatkan diri dengan alam tidak selalu harus pergi ke destinasi wisata alam. Kita bisa berkunjung ke taman kota atau menghadirkan suasana hijau di rumah kita dengan berkebun sayur dan menanam tanaman hias di pekarangan rumah. 

Baca juga: Bencana Hingga Kematian di Depan Mata, Kenapa Kita Masih Cuek pada Krisis Iklim?

4. Mengonsumsi Informasi di Media dengan Bijak 

Di era digital, kita dibombardir dengan banyak informasi, termasuk salah satunya informasi mengenai perubahan iklim. Namun, terlalu banyak mengonsumsi pemberitaan bencana alam terkait perubahan iklim yang membuat kita khawatir juga tidak baik untuk kesehatan mental kita. Jadi, bijaklah dalam mengonsumsi informasi di media dan pastikan kita selalu memperoleh informasi terkait lingkungan atau perubahan iklim dari sumber yang terpercaya. 

Di sisi lain, media pun perlu mempertimbangkan untuk menunjukan optimisme dalam pemberitaan lingkungan alih-alih hanya memberitakan fenomena kerusakan lingkungan dengan cara menakut-nakuti (fear-mongering). Hal ini dapat dilakukan dengan mulai meliput beragam solusi dan inovasi yang tersedia dan dapat dilakukan sehingga bisa memunculkan optimisme di masyarakat. Mengedukasi masyarakat terkait solusi dan inovasi untuk menjawab perubahan iklim juga dapat mendorong masyarakat untuk melakukan aksi nyata untuk lingkungan. 

5. Mendorong Perubahan Sistemik 

Meskipun eco-anxiety adalah hal yang personal, kita perlu menyadari bahwa perubahan iklim adalah masalah struktural dan sistemik. Jika kita menganggap bahwa perubahan iklim adalah masalah yang bisa diselesaikan dengan aksi individu saja, maka kita akan cenderung menyalahkan diri kita sendiri atas kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, kita perlu mengalihkan fokus aksi kita untuk bumi terhadap perubahan-perubahan yang struktural dan sistemik. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun gerakan kolektif untuk mendorong pemerintah dan pihak swasta atau produsen untuk turut terlibat dan bertanggung jawab terhadap isu perubahan iklim. 

Baca juga: Cawan Menstruasi: Antara Lingkungan Hidup dan Kemiskinan

Perubahan iklim memang merupakan isu yang perlu mulai kita perhatikan. Dampak dari perubahan iklim diprediksi dapat lebih buruk dari pandemi yang terjadi saat ini. Namun hal tersebut bukan berarti tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengatasinya. 

Saat ini, pemerintah Indonesia sudah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan 41 persen dengan dukungan Internasional. Sebagai masyarakat, kita pun dapat terlibat dalam aksi pencegahan perubahan iklim baik melalui upaya individu dengan menjalankan gaya hidup ramah lingkungan maupun upaya kolektif dengan bergabung di gerakan lingkungan untuk mendorong kebijakan yang lebih ramah lingkungan.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Avatar
About Author

Siti Aisyah Novitri