Women Lead
April 26, 2021

Film ‘Ride or Die’ Homofobik, Sarat ‘Male Gaze’

Film Ride or Die ingin menampilkan kisah cinta pasangan lesbian, tetapi diproduksi dengan perspektif ‘male gaze’ dan nilai heteronormatif yang sangat homofobik.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Screen Raves
Ulasan film Ride or Die
Share:

Peringatan pemicu: Penggambaran adegan seksual, pembunuhan, dan kekerasan domestik

Film tentang gay tapi homofobik terdengar kontradiktif, namun ini terjadi pada Ride or Die (2021) yang digarap Neftlix. Film ini merepresentasikan segala hal problematik dalam memotret hubungan lesbian karena diproduksi dengan kaca mata male gaze yang ditujukan untuk audiens laki-laki.

Hasilnya adalah objektifikasi dan seksualisasi berlebihan terhadap pasangan lesbian, serta kandungan nilai-nilai heternormatif yang homofobik yang mendelegitimasi hubungan lesbian.

Ride or Die mengisahkan pasangan Rei Nagasawa (Kiko Mizuhara) dan Nanae Shinoda (Honami Sato), yang melarikan diri setelah membunuh suami Nanae, seorang pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Di tengah pelarian dari kejaran aparat, hubungan keduanya kemudian bersemi kembali setelah sebelumnya berpisah selama 10 tahun. Singkatnya, ini adalah Thelma and Louise versi pasangan lesbian.

Sayangnya, gambaran hubungan keduanya mengalami objektifikasi serta seksualisasi berlebihan. Terlalu banyak adegan seks dan telanjang di film ini yang terasa lebih seperti praktik voyeurisme daripada memang sesuai konteks film. Seksualitas berlebihan seperti ini juga tidak muncul dalam manga yang menginspirasi film ini, Gunjō (2010) oleh Chin Nakamura. 

Baca juga: Lampaui ‘Love Simon’: 7 Film Queer Bertema ‘Coming of Age’

Seksualisasi Pasangan Lesbian dalam Film

Seksualisasi tersebut semakin diamplifikasi dengan adegan seks antara Rei dengan seorang sopir taksi laki-laki tanpa nama—adegan yang tidak berdampak apa pun pada perkembangan alur cerita. Film yang disutradarai Ryuichi Hiroki ini tidak akan kekurangan atau kehilangan poin penting dan bisa berjalan dengan sempurna tanpanya.

Penggambaran hubungan seks antara seorang lesbian dengan laki-laki heteroseksual dalam Ride or Die seolah-olah mengatakan, “hubungan lesbian tidak valid karena perempuan pasti menginginkan laki-laki”. 

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Rei setelah berhubungan seks, “Sungguh enak menjadi laki-laki, mereka bisa memasukkan sesuatu ke dalam tubuh perempuan karena jari-jari saja tidak cukup”. Kalimat tersebut mengindikasikan bahwa hubungan seks antara perempuan tidak akan memuaskan seperti seks dengan penetrasi penis.

Credit: Netflix

Seksualisasi tubuh perempuan adalah isu yang terus berulang dalam film lesbian yang disutradarai laki-laki. Contoh lain adalah Blue is the Warmest Color (2013), film Perancis yang dikecam karena perspektif male gaze dalam adegan seks yang berdurasi tujuh menit. Aktris Lea Seydoux mengatakan sutradara film tersebut, Abdellatif Kechiche, mengeksploitasi para aktris pemeran utama dengan memaksa melakukan adegan seks yang membuatnya sangat tidak nyaman.

Hal ini berbeda dengan Portrait of A Lady on Fire (2019) yang disutradarai sutradara perempuan, Céline Sciamma. Film tersebut memang mengandung adegan seksual yang eksplisit, namun penekanannya ada pada representasi hubungan lesbian yang lebih dari sekedar aspek seksual. Interaksi pasangan lesbian di sini terasa indah dan emosional lewat sentuhan lembut yang tidak memaksa dan pertukaran tatap sembunyi-sembunyi.

Eksploitasi tubuh perempuan dalam film Ride or Die disayangkan, terlebih karena Mizuhara sendiri adalah penyintas pelecehan seksual. Ia mengatakan di akun Instagramnya bahwa saat berusia 20 tahun, ia dilecehkan orang-orang di industri mode dengan dipaksa berfoto telanjang dada. Mizuhara, yang kini berusia 30 tahun, mengatakan ia sudah merasa tidak nyaman dengan situasi itu, yang diperparah karena kehadiran 20 eksekutif lain dalam sesi pemotretan tersebut. Ia tetap melakukan pemotretan tersebut karena ada tuntutan untuk bersikap “profesional” dalam industri.

Baca juga: 4 Rekomendasi Film Lesbian di Akhir Pekan

Karakter Dua Dimensi yang Beda dari Manga

Berbeda dengan cerita dalam Gunjō, karakterisasi dalam Ride or Die terasa kurang mendalam dan dua dimensi. Dalam manga aslinya, pembaca dibawa ke dalam motif masing-masing karakter yang memiliki pola pikir, sifat, dan perasaan yang sangat kompleks.

Perjalanan hidup Nanae atau Megane-san dalam Gunjō, sebagai penyintas kekerasan domestik, membuat karakternya menjadi keras dan manipulatif. Tapi pendalaman karakter dalam manga itu membuat pembaca bersimpati dan memahami Megane-san lebih jauh.

Dalam film, kompleksitas karakternya kurang digali sehingga penonton melihatnya sebagai sosok dingin. Perubahan hati Nanae yang awalnya blak-blakan menolak Rei kemudian jatuh cinta kepadanya secara tiba-tiba tampak seperti lubang dalam alur cerita. Film ini tidak menceritakan perspektif dan anggapan Nanae terhadap Rei secara komprehensif dan apa yang membuatnya jatuh hati.

Baca juga: 4 Film untuk Merayakan Hari Visibilitas Lesbian 2021

Di sisi lain, tidak jelas apa yang mendorong Rei mencintai Nanae, selain cinta monyet sejak SMA. Karakter Rei tampak seperti sosok yang mudah dimanfaatkan dan terobsesi dengan seorang perempuan yang tampak tidak begitu menyukainya. Ironis bagaimana karakter di manga lebih hidup dan dalam, namun penggambaran di film malah terlihat seperti karikatur.

Keteguhan Rei atas identitas seksualnya, di tengah tekanan dan perundungan dari teman sekolah dan keluarga, memang patut diacungi jempol dan menjadi poin positif film ini. Ride or Die juga menggambarkan pasangan lesbian yang berani mengambil keputusan dan melawan segala rintangan. Sayangnya, di saat bersamaan, film ini menyiratkan tindakan-tindakan mereka sebagai sesuatu yang berbahaya dan bodoh.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.