Issues

“Kapan Nikah?”: Pertanyaan yang Juga Membebani Laki-laki

Tidak hanya perempuan, laki-laki yang belum menikah menjelang usia 30 juga menerima tekanan masyarakat. Mereka dianggap tidak mampu menafkahi, hingga dipertanyakan seksualitasnya.

Avatar
  • April 1, 2022
  • 6 min read
  • 111 Views
“Kapan Nikah?”: Pertanyaan yang Juga Membebani Laki-laki

Di bawah terik matahari, “Ryan” hendak  berjalan keluar dari bangunan kokoh berwarna oranye, tempatnya menghabiskan masa SMA untuk belajar, dan bergurau bersama teman-temannya. Namun, langkahnya terhenti ketika suara familier memanggil namanya.

Ternyata, si pemilik suara adalah guru ekonomi, yang dikenangnya sebagai sosok humoris dan tenang. Keduanya pun berinteraksi selama beberapa waktu, momen basa-basi kurang menyenangkan bagi Ryan, meskipun keduanya cukup sering berkomunikasi sewaktu berada dalam organisasi Majelis Perwakilan Kelas (MPK).

 

 

Pasalnya, guru yang mengajar di sekolah yang terletak di Prabumulih, Sumatera Selatan tersebut, melemparkan sebuah pertanyaan tak menyenangkan.

“Kapan menikah?” tanyanya.

Kedatangan Ryan pada 2020 kala itu tak lain untuk menghadiri festival SMA, tapi bukan sebagai alumni, melainkan urusan pekerjaan. Kebetulan perusahaan tempatnya bekerja adalah sponsor acara, sehingga ia menjadi perwakilan untuk memperkenalkan produk.

“Saya akan menikah di usia yang udah mapan,” jelas laki-laki 24 tahun itu kepada sang guru. Ia menjelaskan, masih enggan menikah selama kariernya belum dirasa cukup mapan untuk menikah. Lantas gurunya menasihati, karena menurutnya, Ryan berada di usia ideal untuk cepat menikah.

“Kenapa belum mau? Lebih baik disegerakan. Supaya kamu masih muda pas anakmu kuliah,” katanya.

Tak ingin berurusan lama-lama dengan pertanyaan itu, Ryan hanya mengiyakan dan segera berpamitan untuk keluar dari situasi yang membuatnya tak nyaman. Meskipun emosinya hampir terpancing, ia terlalu lelah untuk meneruskan pembicaraan.

“Tanggapan beliau agak berlebihan, seperti menggiring saya ke jawaban detail,” ujar penulis lepas itu kepada Magdalene, (30/3).

Baginya, keputusan kapan menikah adalah ranah individu yang tidak selayaknya dicampuri orang lain. Namun, segelintir pihak yang sekadar ingin rasa penasarannya terjawab, sering kali tidak menghargai privasi orang lain. Dan merasa pertanyaannya sah-sah saja untuk diucapkan.

Baca Juga: Laki-laki Masa Kini: ‘Skincare’ Itu ‘Self-Care’

Ditekan Budaya dan Maskulinitas

Beban cepat menikah ternyata tak cuma dilempar pada perempuan, meski bebannya mungkin berbeda, laki-laki yang memprioritaskan karier dan menununfa berumah tangga ternyata mengalami hal serupa. Di saat bersamaan, mereka dituntut menjadi sosok kuat dan sukses.

Riset Young men, masculinity and wellbeing (2017) oleh The Open University, Inggris menunjukkan, situasi itu memberikan tekanan bagi laki-laki. Mereka dituntut untuk punya rumah, mobil, pekerjaan yang layak, dan berkeluarga di usia muda.

Namun, berdasarkan riset itu banyak responden kesulitan mewujudkan hal tersebut. Mereka berusaha mewujudkannya, tapi membuat hidup mereka jadi tidak sehat dan tidak memuaskan.

Ditambah citra maskulinitas yang dipotret media maupun kultur yang diamini masyarakat luas, tuntutan sosial untuk laki-laki segera menikah dan mapan ternyata tidak relevan dengan kehidupan yang dijalani. Membuat mereka terjebak dalam stereotip maskulinitas dominan.

Hal ini juga dialami Syakur, seorang wiraswasta yang terbebani stereotip lantaran lingkungan sosialnya, kerap mempertanyakan alasannya mengesampingkan pernikahan.

“Di lingkungan saya, kalau laki-laki lebih dari 30 tahun belum menikah, dianggapnya enggak mampu menafkahi keluarga,” terang laki-laki asal Tegal tersebut.

Bukan hanya itu, orang-orang di sekitarnya kerap memberikan cap ambisius, calon suami yang tidak perhatian pada keluarga, enggak laku, dan tuduhan homoseksual. Kondisi tersebut membuat orang tuanya khawatir, karena sebagai anak sulung dan berusia 25 tahun, ia belum terpikir menuju jenjang pernikahan.

Baca Juga: Ada Kesan Maskulin dan Kapitalisasi Perempuan di Balik Warna ‘Pink’

Kondisi yang dialami Syakur merupakan contoh bagaimana masyarakat, melihat pernikahan sebagai landasan kehidupan. Juga budaya yang menempatkan nilai sangat tinggi pada kehidupan berkeluarga. Artinya, membangun bahtera rumah tangga masih menjadi tingkat tertinggi dalam mendefinisikan kesuksesan laki-laki.

Kendati demikian, tekanan laki-laki cis-heteroseksual untuk menikah juga diikuti privilese. Pasalnya, celah kebebasan yang dimiliki jauh lebih luas jika dibandingkan dengan tekanan yang dialami perempuan, maupun gender lain yang direpresi dalam perkara pernikahan.

Misalnya keputusan untuk menikah muda. Laki-laki punya keleluasaan melakukan perselingkuhan dan berlindung di balik ketidaksetiaannya. Hal ini umum terjadi karena tekanan pada perempuan lebih besar dalam kultur patriarki. Biasanya yang disalahkan jika perselingkuhan terjadi adalah perempuan, karena dianggap tidak bisa merawat suami, menjaga rumah tangga, atau alasan misoginis lainnya. Bahkan perempuan yang jadi selingkuhan suami juga punya label-label merendahkan yang belum tentu dimiliki laki-laki, semisal pelakor, perusak rumah tangga, atau semacamnya.

Keleluasaan lainnya, kultur kita menganggap biasa laki-laki yang tak lagi muda  menikahi perempuan dengan rentang usia jauh di bawahnya. Seolah-olah istilah perawan tua tak berlaku pada laki-laki karena dia “diperbolehkan” norma untuk menikah dengan wanita jauh lebih muda, biasanya demi alasan kesuburan.

Kultur begini bisa kita temukan di berbagai tradisi karena dilanggengkan lewat adat dan aturan keyakinan. Di Asia Selatan, misalnya. Peneliti asal AS, Keera Allendorf, dkk. dalam Early Women, Late Men: Timing Attitudes and Gender Differences in Marriage (2017), menyatakan laki-laki lebih tua disarankan mencari pengantin lebih muda karena sebagian orang meyakini perempuan lebih mudah ditundukkan dan mampu menyesuaikan diri dengan perkawinan. Sehingga perempuan-perempuan muda jadi target.

Beberapa contoh itu menggambarkan, bagaimana kedudukan laki-laki cis-heteroseksual tetap berada di paling atas. Ryan pun menyadari hal ini. Perempuan yang berada di puncak kesuksesan ataupun dalam tahap mengejar karier, dan masih lajang pasti punya tantangan dan tekanan lebih besar lagi.

“Di kampungku malah dijuluki gadis tua,” jelasnya.

Baca Juga: Laki-laki Juga Dirugikan oleh Patriarki

Dukungan Sosial Untuk Keluar dari Toxic Masculinity

Stereotip yang dihadapi Ryan dan Syakur adalah bukti toxic masculinity turut merugikan laki-laki. Syakur mengaku stereotip itu cukup berdampak pada karier dan kesehatan mentalnya cukup.

“Orang tua saya nangis karena dihujat, di-bully, dan disindir karena anak sulungnya belum menikah,” ceritanya. “Saya jadi sangat terpukul.”

Alih-alih dianggap mandiri dan mapan, laki-laki yang kini berdomisili di Bekasi itu mengatakan, orang-orang di kampung halamannya menganggap laki-laki di atas 30 tahun yang belum menikah tetap belum lengkap sebagai individu.

“Mereka juga seperti mewajibkan, orang tua berumur 50 tahun udah punya menantu atau cucu,” tuturnya.

Menikah dan punya anak yang dianggap pencapaian penting, sebetulnya tak lepas dari pola pikir feodal yang berkembang di masa lalu. Konsep pernikahan didorong kerajaan-kerajaan di zaman Renaissance—era ketika agama berkuasa lewat para kaisar dan raja. Salah satu tujuannya adalah untuk terus mendorong prokreasi agar negara tidak kehabisan stok prajurit untuk dikirim perang. Ditilik dari konteks sejarah yang lebih panjang, pernikahan juga sering kali jadi alat politik dan simbol kekuasaan negara untuk mengatur warganya.

Pola pikir ini turut berubah sepanjang zaman. Orang-orang yang didiskriminasi karena memilih tidak menikah mulai lebih terbuka untuk bicara. Di sejumlah negara, menikah bahkan mulai dianggap sebagai pilihan ekonomi yang kurang bijak mengingat punya anak dan berumah tangga datang dengan beban finansial yang makin tak masuk akal.

Untuk memutuskan toxic masculinity, perlu dibangun kesadaran dalam diri laki-laki bahwa mereka berperan sebagai agen perubahan. Kita perlu terus mempromosikan bahwa tak ada nilai tunggal yang tepat mendefinisikan cara menjadi laki-laki.

Namun, masyarakat juga memiliki andil untuk mematahkan stereotip maskulinitas.

“Teman-teman yang udah aware dengan hal ini perlu sama-sama berjuang mengurangi stereotip ini,” terang Syakur. “Walaupun perjuangan kita enggak akan langsung dirasakan, seenggaknya ada dampak positif buat generasi berikutnya.”

Sementara menurut Ryan, masyarakat perlu melihat perspektif lebih luas, dan memahami standar sosial tidak dapat ditetapkan bagi setiap orang. “Kenapa kita enggak coba melepas kacamata kita, dan belajar memahami kacamata orang lain?” katanya.


Avatar
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.