November 19, 2020

Kasus Ibu Hamil dengan HIV Naik, Bayi Berisiko Tinggi Tertular

Minimnya pengetahuan pasien, konsumsi ARV, serta sikap menyembunyikan kasus HIV yang diderita ibu hamil menambah risiko penularan virus ini kepada bayinya.

by Mutiara Riani
Issues
Melahirkan_Hamil_SarahArifin
Share:

Dalam dua dekade terakhir, penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dari ibu ke bayi telah meningkatkan jumlah anak yang terinfeksi virus ini secara global, termasuk di Indonesia. Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga masa menyusui yang merupakan metode utama penularan HIV pada anak di bawah usia 15 tahun.

Data menunjukkan jumlah anak Indonesia di bawah usia 15 tahun yang hidup dengan infeksi HIV meningkat dari 500 anak pada tahun 2000, menjadi lebih dari 3.000 anak pada 2016. Di samping itu, angka kejadian perempuan hamil dengan infeksi HIV di Indonesia dalam kurun waktu tersebut juga meningkat.

Sebuah riset dengan data sekunder 11.693 ibu hamil dalam rentang 2003-2010 di delapan kota di Indonesia menunjukkan angka kejadian ibu hamil dengan HIV mencapai 0,36 persen pada 2003-2006. Angka kejadian serupa meningkat menjadi 0,49 persen pada 2016. Sebuah penapisan HIV massal yang melibatkan sekitar 43.000 ibu hamil pada 2012 di Indonesia menunjukkan angka positif HIV mencapai 1.329 kasus (3,04 persen).

Baca juga: Bagaimana Menjadi Positif HIV Membuka Mata Saya

Penularan dari ibu ke anak

Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang kekebalan tubuh manusia. Virus ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik bersama, transplantasi organ, dan penularan dari ibu ke janin.

Badan PBB untuk Urusan HIV/AIDS (UNAIDS) melaporkan, ada 1,4 juta perempuan hamil dengan infeksi HIV di seluruh dunia pada akhir 2016. Di Asia, diperkirakan sekitar 210.000 anak hidup dengan HIV pada 2012. Namun, dengan semakin gencarnya promosi dan upaya kesehatan yang dilakukan untuk menurunkan penularan dari ibu ke anak, angka ini menurun hingga 30%.

Secara umum, laporan Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa pada 2017, ada sekitar 280.000 orang terinfeksi HIV. Kelompok usia produktif mendominasi angka kasus, dengan jumlah tertinggi 16,9 persen kasus di Jawa Timur dan 13,7 persen di DKI Jakarta.

Infeksi ini berisiko menyebabkan penularan vertikal dari ibu ke anak (Mother to Child Transmission/MTCT) sebesar 20-50 persen.

Dalam kasus ibu hamil terinfeksi HIV, banyak faktor yang dapat mempengaruhi penularan virus, seperti lama dan pola menyusui. Semakin lama durasi ibu menyusui bayi, maka paparan terhadap virus yang ada di ASI akan semakin meningkat. Risiko penularan HIV pada bayi naik jika menyusuinya dicampur antara ASI dan susu formula.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pemberian susu formula bisa mengurangi risiko penularan pada bayi. Jika itu tidak memungkinkan, maka bayi bisa diberi ASI eksklusif 6 bulan dan setelah itu diganti dengan susu formula dan makanan pendamping ASI.

Faktor lainnya adalah bayi lahir kurang bulan (prematur), penggunaan obat anti retro viral (ARV), jumlah virus dalam darah ibu dan cara persalinan.

Baca juga: Transpuan Ubah Kerentanan Jadi Kekuatan di Tengah Pandemi

Bayi prematur lebih rentan terinfeksi karena belum sempurnanya perkembangan organ dan sistem imunitas. Bayi yang diberikan ASI, terutama dari ibu yang tidak mendapatkan ARV, akan memiliki risiko tertular 5-20 persen.

Guna mencegah infeksi virus HIV pada anak, pemerintah dan masyarakat perlu mempersiapkan kehamilan, pemeriksaan, dan tata laksana kehamilan yang mampu mencegah risiko penularan vertikal dari ibu ke anak.

Penapisan sebelum kehamilan

Sebuah riset di Inggris menunjukkan 41 persen perempuan dengan HIV ingin memiliki anak dan 11 persen responden menyatakan tidak ingin menunda kehamilan. Temuan serupa dapat dilihat dari sebuah penelitian di Semarang terbitan tahun. Dari data penelitian tersebut, dinyatakan bahwa lima responden perempuan, yang sudah menikah dan terinfeksi HIV, menyatakan anak merupakan pelengkap keluarga dan mereka sangat ingin memiliki keturunan bersama pasangan.

Para ibu bisa mengurangi risiko penularan HIV ke anak dan pasangan dengan cara merencanakan kehamilan, meminum obat antiretroviral (ARV) untuk menekan infeksi dan replikasi virus HIV hingga tidak terdeteksi, serta menggunakan kontrasepsi yang aman ketika tidak merencanakan kehamilan.

Perempuan yang merencanakan kehamilan, terutama pada kelompok risiko tinggi terinfeksi HIV, harus menjalani penapisan untuk memastikan status infeksi. Mereka yang termasuk di dalam kelompok risiko tinggi adalah ibu hamil di daerah dengan kasus tinggi seperti Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua yang menempati 5 besar provinsi dengan kasus HIV terbanyak. Kelompok berisiko tinggi lainnya adalah individu dengan perilaku berisiko seperti pengguna Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), berhubungan seks dengan banyak pasangan, dan individu dengan riwayat HIV sebelumnya.

Jika terinfeksi, mereka harus minum obat ARV guna menekan jumlah virus aktif di dalam darah hingga tidak terdeteksi, untuk menurunkan risiko penularan vertikal hingga 1 persen. Pasangan laki-laki sebaiknya menggunakan kondom saat berhubungan seks dan pemeriksaan berkala setiap tahun.

Studi terbaru menunjukkan bahwa tindakan pencucian sperma pada teknologi reproduksi berbantu dari suami yang terinfeksi HIV dapat menurunkan risiko transmisi vertikal. Teknologi ini tersedia di Indonesia, khususnya di rumah sakit besar yang menyediakan fasilitas reproduksi berbantu, baik inseminasi maupun bayi tabung.

Tata laksana menghadapi pasien hamil dengan HIV

Seluruh ibu hamil dengan infeksi HIV harus mendapat ARV tanpa melihat viral load (jumlah virus dalam darah).

Beberapa riset menyatakan risiko terbesar penularan HIV dari ibu ke anak terjadi pada saat persalinan. Jenis persalinan dan viral load juga akan mempengaruhi tinggi rendahnya risiko transmisi.

Dalam sebuah uji klinis, viral load tidak terdeteksi dan operasi caesar sebelum adanya tanda persalinan atau pecahnya selaput ketuban terbukti efektif menurunkan angka transmisi. Persalinan normal akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya penularan dari ibu ke anak.

Meski demikian, masih terdapat 13 persen populasi di dunia dengan viral load yang masih terdeteksi. Namun, data ini belum ada untuk populasi di Indonesia.

Banyak faktor yang dapat berkontribusi terhadap risiko penularan vertikal. Rendahnya status sosial ekonomi dan pengetahuan pasien, durasi penggunaan ARV selama hamil, terlambat memeriksakan kehamilan, dan sikap sebagian besar masyarakat yang cenderung menyembunyikan kasus HIV merupakan faktor yang mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak.

Setelah lahir, seluruh bayi yang lahir dari ibu dengan HIV wajib mendapatkan ARV sebagai terapi pencegahan pada usia 6-12 jam setelah lahir.

ARV selama 6 minggu terbukti efektif untuk pencegahan pada bayi yang lahir dari ibu yang mendapat ARV dan viral load tidak terdeteksi.

Setelah persalinan dan kontrasepsi

Keputusan menyusui bayi harus mempertimbangkan risiko penularan dan manfaat proteksi terhadap kematian bayi akibat malnutrisi, diare, dan pneumonia.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2013 menyatakan infeksi HIV adalah salah satu kondisi medis yang dapat membuat ibu tidak menyusui.

Pasca-persalinan, pengobatan ARV dilanjutkan dan perlu mencegah penularan pada pasangan. Pencegahan kehamilan dapat dilakukan melalui program keluarga berencana (KB) yang menyediakan metode yang efektif, efek samping minimal, nyaman, dan dapat melindungi seseorang dari transmisi HIV atau infeksi menular seksual (IMS) lain, serta berinteraksi minimal dengan ARV.

Kondom menjadi metode paling efektif yang mampu memberikan perlindungan terhadap risiko transmisi. Penggunaan alat kontrasepsi sangat penting untuk mengatur dan menjarangkan kehamilan serta mencegah penularan dari ibu ke bayi.

Upaya promotif

Upaya mencegah penularan HIV dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, dan menyusui di Indonesia sudah dikembangkan sejak 2004. Namun hingga akhir 2011, pelayanan ini baru menjangkau sekitar 7 persen dari perkiraan populasi.

Sejak 2013, layanan pencegahan ini diintegrasikan ke dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), KB dan konseling remaja untuk memperluas cakupan. Program ini mulai dari fasilitas kesehatan primer seperti Puskesmas hingga rumah sakit rujukan.

Kita perlu bekerja sama lintas disiplin untuk memberikan layanan kesehatan dan tata laksana yang komprehensif pada ibu agar bisa mencegah penularan HIV ke anak.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Mutiara Riani adalah dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.