Women Lead
August 02, 2021

Kasus Okin dan Perkara Kelakuan Memalukan Mantan

Maafkan dirimu sendiri dan ingatlah hal-hal ini bila kamu sedang menyaksikan kelakuan mantan yang memalukan.

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Issues // Relationship
Mantan malau-maluin
Share:

Tagar #ZaraOkin, #closefriend, #cepu belakangan meramaikan linimasa kita, terutama di platform Twitter. Itu semua berkat tersebarnya video aktris dan eks-anggota girlband JKT 48 Zara dan selebram Niko alias Okin yang sedang berciuman. Konon kata warganet, video itu sebenarnya dibagikan Zara lewat akun pribadinya (bukan akun publik) dan disaring lewat fitur close friend, sehingga hanya segelintir orang pilihan Zara yang dapat melihat unggahannya. Meski begitu, ternyata video itu masih tersebar juga karena satu-dua orang di close friend Zara yang membocorkan rahasia (alias cepu) yang menyebarkan video tersebut. 

Hal itu mengundang banyak reaksi warganet, terutama kritik terhadap Okin yang bermesraan atau melakukan perilaku dewasa dengan anak yang masih di bawah umur. Zara sendiri baru saja menginjak umur ke-18 tahun pada Juni lalu, sementara kapan video tersebut diambil tidak diketahui waktunya. Ada kemungkinan itu terjadi jauh sebelum Zara cukup umur. 

Peristiwa itu rupanya jadi pemantik warganet lain untuk membeberkan kesaksian mereka menyaksikan atau menjadi korban dari kelakuan Okin dan teman-teman satu circle-nya. Tak sedikit ternyata yang come out bahwa mereka pernah jadi korban pelecehan seksual yang dilakukan Okin dan teman-temannya. 

Bahkan, banyak yang menceritakan bagaimana Okin pernah membuat siaran langsung Instagram yang mengandung muatan pelecehan seksual, karena secara terang-terangan meminta followers-nya melakukan gestur serta mengatakan hal-hal berbau seksual secara tidak pantas. 

Di tengah perbincangan itu, banyak pula warganet yang menyinggung soal bagaimana Okin sudah berkelakuan begitu sejak masih menikah dengan selebgram Rachel Vennya. Kini sudah bercerai, warganet menyebut Rachel memang tak pantas mendapatkan laki-laki seperti itu, dan dia berhak mendapatkan orang dan kehidupan yang lebih baik. 

Rachel sendiri memang tokoh yang cukup inspiratif dan banyak diperbincangkan. Bisnis-bisnis miliknya berhasil berkembang pesat, mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Ada warganet yang menulis, “Okin main sama minor (anak di bawah umur), sementara Rachel Vennya menjalani kehidupan terbaiknya, sukses, mendapatkan uang yang banyak, dan berhasil jadi ibu tunggal dari dua anak yang lucu.”  

Wacana semakin berkembang dan melahirkan perbincangan soal bagaimana perasaan kita ketika melihat kelakuan asli mantan pasangan yang memalukan dan menyedihkan, akhirnya terbongkar dan diketahui banyak orang.

Mungkin, banyak dari kamu yang pernah atau bahkan sedang ada di posisi itu. Menyaksikan mantan pasangan kita melakukan hal-hal yang memalukan memang kadang membawa perasaan campur aduk. Buat saya, rasa malu lebih dominan, sih, karena entah bagaimana, masyarakat kita punya kebiasaan masih menyangkutpautkan kita dengan mantan pasangan kendati itu sudah jadi cerita lama.

Baca juga: Zara dan Keributan Warganet yang Tak Perlu

Kalau dia berhasil meraih pencapaian yang membanggakan, mungkin tidak jadi masalah kita dibawa-bawa. Namun, kalau dia malah menunjukkan kelakuan yang memalukan, melanggar hukum, dan Hak Asasi Manusia (HAM), sungguh jadi rugi buat kita juga. Padahal, hal itu tidak ada hubungannya, apalagi andil kita. Apalagi, kalau relasi masa lalumu dengan dia disebarkan hingga banyak diketahui orang lain. Hal itu bisa mendatangkan perasaan tertekan berlebihan, hingga trauma yang kembali muncul apabila kelakuan mantan juga toksik dan kerap memanipulasi kita.

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan bila berada pada posisi tersebut, yaitu:

1. Maafkan diri sendiri

Ketika berada di posisi seperti itu, hal terpenting yang harus kamu perhatikan adalah memaafkan diri sendiri, juga hal-hal lain yang berkenaan dengan penerimaan diri juga masa lalu oleh dirimu sendiri. 

Bagi saya sendiri, ketika berada pada posisi tersebut, sebenarnya yang paling membebani saya bukanlah pandangan orang-orang karena saya pernah menjalin hubungan dengan orang yang berkelakuan memalukan tadi. Yang paling membebani saya adalah tekanan dari diri sendiri akibat kecenderungan menyalahkan kebodohan diri sendiri. 

“Kenapa, sih, bisa sebodoh itu mau berhubungan sama orang kayak begitu?”

Udah tahu dia enggak benar, kenapa masih aja dilanjutkan sampai waktu yang cukup lama? Kenapa enggak langsung lo putusin begitu sadar dia enggak baik? Kok bisa lo bodoh banget enggak paham itu? Udah begini, kan, malah merusak citra diri sendiri.”

Begitu kata saya dalam hati, memaki kebodohan diri sendiri. 

Hal itu berjalan cukup lama, juga diperparah dengan ingatan dan trauma buruk akan perilaku yang sama memalukannya dari dirinya kepada saya dulu. Saya paham, menyalahkan diri sendiri adalah respons yang amat wajar ketika diri kita ditimpa hal buruk. Apalagi, ketika konteksnya adalah pasangan, entah itu pacar, gebetan, suami, dan sebagainya, kita menanamkan pada diri sendiri bahwa logika dan kecerdasan kita itu linear dengan pasangan yang kita pilih. 

Padahal, ada hal yang sering kali luput diperhatikan, yaitu kemungkinan kita dimanipulasi olehnya. Itu sebenarnya merupakan hal yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya, karena manipulasi adalah penipuan dan permainan psikologis yang berupaya menjebak korbannya. 

Saya berhasil melalui masa-masa terburuk itu setelah saya perlahan memaafkan diri sendiri. Saya sadar, setiap manusia, mungkin akan memiliki fase di mana mereka dikendalikan oleh harapan atau kasih sayang pada hal atau orang-orang yang mereka inginkan untuk ada di dalam hidupnya. 

Kamu juga perlu pahami bahwa mengubah mantanmu menjadi orang yang lebih baik bukan tanggung jawabmu. Sehingga, bila kelakuannya masih saja sama atau lebih buruk, itu jadi permasalahannya sendiri.

Baca juga: 5 Pemikiran Patriarkal Cowok-cowok Muda di Media Sosial

2. Fokuskan pikiran pada masa sekarang, jangan terjebak pada masa lalu

Memfokuskan pikiran pada masa sekarang juga adalah hal yang berhasil membawa saya keluar dari masa-masa itu. Meski berat, saya mengawalinya dengan mengakui saya memang pernah benar-benar ada di posisi itu, dan saya menyalahkan diri saya sendiri karena menyesal sudah menaruh kepercayaan pada orang yang salah. 

Dengan mengakuinya, menjadi lebih mudah bagi saya untuk memahami, itu adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari masa lalu. Yang terpenting, saya sudah move on dari mentalitas itu dan berhasil menjadikan pengalaman buruk ini sebagai pelajaran mengenai keberanian untuk memutuskan mana hal dan orang-orang yang baik untuk ada di dalam hidup saya, dan mana yang tidak.

Saya belajar supaya lebih cepat dan tanggap dalam membaca keadaan, terlebih yang berkenaan dengan orang-orang terdekat dalam hidup saya. Bila ternyata mereka menunjukkan perilaku yang tidak baik dan merugikan kita, dan tidak ada tanda-tanda mau mendengarkan pendapat orang ataupun memperbaiki diri, tak ada salahnya memutus hubungan duluan.

Jangan berharap itu bisa instan. Tidak apa-apa kalau kamu membutuhkan waktu yang lama supaya bisa pulih, apalagi setelah melihat kelakuan mantanmu yang memalukan di masa sekarang. 

Bila kamu semakin merasa tidak nyaman, tidak ada salahnya untuk mulai berkonsultasi psikolog dan mencari bantuan lainnya.

Baca juga: Kenapa Gadis Baik Bisa Terjebak dalam Toxic Relationship?

3. Apresiasi diri sendiri

Melalui masa-masa sulit karena pasangan yang toksik bukanlah hal yang mudah. Perjalanan itu juga bisa jadi kisah-kisah panjang yang menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Berikanlah penghargaan dan apresiasi pada dirimu sendiri. Misalnya, dengan menghadiahi dirimu dengan barang-barang yang kamu suka atau jalan-jalan (setelah pandemi ini usai dan mereda, tentunya). 

Bila kemarin kamu cenderung menutup diri dari orang-orang lain, inilah saat yang tepat untuk mulai membuka diri. Kamu bisa bertemu dengan teman-teman, atau bahkan mulai melirik orang-orang baru. Dating apps bisa jadi pilihan, atau mungkin mulai melirik kembali orang-orang yang pernah datang, tapi kamu abaikan karena dulu masih berjuang “sembuh”. 

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.