Women Lead
April 05, 2021

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga: Kasus Keguguran Berulang dan Infertilitas

Stop pertanyaan soal anak pada pasangan yang menghadapi isu infertilitas, karena itu seperti menggarami luka basah.

by Pratiwi Juliani
Lifestyle // Health and Beauty
Menghadapi keguguran
Share:

Memiliki anak bagi pasangan yang telah menikah sepertinya terdengar sangat mudah, namun tidak bagi 8-10 persen pasangan yang tercatat memiliki masalah infertilitas menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sementara itu, dari 90 persen yang berhasil hamil, 10-15 persennya berakhir dengan keguguran.

Saya memiliki kerabat dan teman dengan masalah infertilitas atau keguguran berulang. Saya sendiri merupakan perempuan dengan riwayat keguguran berulang, yang membuat saya belum memiliki anak hingga hari ini. Di lingkungan pekerjaan saya yang dipenuhi oleh orang-orang yang memahami isu kesehatan mental, apa yang terjadi pada saya tidak akan pernah menjadi bahan pertanyaan. Sayangnya, dalam masyarakat yang lebih luas, kita harus bersinggungan dengan banyak orang dengan pemahaman berbeda, dan pertanyaan tentang “kapan anakmu akan lahir” akan muncul dan terasa sangat mengganggu.

Ketika kerabat atau tetangga menanyakan kapan anak akan lahir, timbul perasaan kecewa dan sedih yang berulang sebab pertanyaan itu mengingatkan kami pada kegagalan mereka dalam upaya melahirkan anak mereka.

Ketika saya mengalami keguguran untuk pertama kali, saya bersedih. Tapi ketika itu saya masih bisa tersenyum dan memiliki semangat besar untuk memiliki anak, sebab dokter mengatakan bahwa keguguran di kehamilan pertama seringnya merupakan hal yang wajar. Namun, ketika keguguran di kehamilan kedua kembali terjadi, tepat pada waktu yang sama, yakni di ambang akhir trimester pertama, ketika itulah senyum saya lenyap. Keguguran berulang mengindikasikan ada yang salah dari sperma pasangan atau sel telur saya sendiri. Dalam kasus saya, sel telur saya menjadi fokus, sebab suami saya telah berhasil memiliki anak dari pernikahannya terdahulu.

Merupakan kengerian tersendiri ketika perempuan mengetahui ada isu infertilitas atau sesuatu yang salah dengan organ reproduksi mereka. Bagi perempuan dengan riwayat keguguran berulang seperti saya dan penanggung infertilitas yang berharap bisa memiliki anak, rasanya seperti tangan Tuhan menyelinap masuk ke dalam tubuhmu hanya untuk mengambil seorang bayi dari dalam hatimu, kemudian menghilangkannya seperti sulap.

Kami berada dalam pertanyaan yang selamanya tidak akan terjawab, sebab apa pun keterangan medisnya, kami hanya akan kembali pada kenyataan bahwa Tuhan telah mengambil mimpimu tentang itu.

Baca juga: Infertilitas dan Omongan tentang Momongan

Keguguran Berulang Pengalaman yang Menyakitkan

Saya tidak pernah membenci Tuhan. Tapi situasi ini sungguh menyakitkan jika saya boleh berkata jujur. Setelah keguguran kedua, dengan lantai kamar mandi penuh darah yang menjadi tanda kematian anak dalam perut saya, selama tiga bulan pertama saya tidak mampu tersenyum. Akhirnya sahabat keluarga mengajak kami melakukan perjalanan panjang untuk mencari perspektif baru tentang hidup (saya beruntung memilikinya, terima kasih, Joko Anwar).

Setelah itu hingga kini, saya kembali bisa beraktivitas seperti semula. Hanya saja tidak ada sekalipun saya tidak menitikkan air mata, jika ada sesuatu yang mengingatkan saya pada satu janin kecil yang saya kuburkan sendiri di satu pagi Jumat gerimis di halaman depan rumah, yang kemudian di atasnya saya tanami bunga kupu-kupu ungu.

Ada trauma tersendiri yang masih saya tanggung hingga hari ini, seperti seorang hantu yang terus bersedih yang hidup entah di relung jiwa saya di bagian mana, meskipun gerimis sudah lama reda dan bunga kecil ungu itu telah mekar dengan suburnya.

Sebagai orang yang percaya bahwa semua manusia itu setara, saya benci mengatakan ini. Namun saya juga harus mengakui, jika masalah keguguran berulang ini berkaitan dengan fungsi organ dan alat tubuh, maka ya, saya cacat. Saya berada dalam posisi sama seperti mereka yang tidak sempurna dalam kelahiran mereka, atau kehilangan kesempurnaan mereka dalam perjalanan hidupnya, seperti terlahir tanpa lengan atau lumpuh setelah kecelakaan.

Saya mendeskripsikan ini tidak lain untuk mempermudah gambaran bagaimana perasaan kami: Saya dan perempuan lainnya yang bernasib sama, ketika lingkungan terus menanyai kami perihal kapan kami akan melahirkan anak kami? Seperti kita terus menerus bertanya pada seseorang yang lumpuh, "kapan kira-kira kamu bisa berlari?"

Tidak ada yang tahu.

Baca juga: Hidup dengan Gangguan Reproduksi Perempuan dan Tuduhan Bukan ‘Perempuan Utuh’

Luka Akibat Keguguran Berulang Tak Pernah Sembuh

Saya memiliki seorang teman perempuan yang terus menerus ditandai oleh suaminya sendiri di media sosialnya tentang bayi, sementara saya mengetahui bahwa mereka telah menikah lebih dari 10 tahun tanpa kehamilan satu kali pun. Saya juga memiliki teman yang harus rela dipoligami karena dia tidak mampu memiliki anak.

Menantu kena sindir mertua karena tidak bisa memberinya cucu? Tidak jarang muncul di beranda media sosial saya. Komentar nyinyir tentang kebahagiaan di foto liburanmu yang tidak lengkap sebab tidak ada seorang anak kecil yang mirip kalian di sana? Menyakitkan, tapi ya, ada. Sementara saya sendiri tak pernah melewatkan sekalipun pergi ke acara keluarga besar tanpa diceramahi pentingnya memiliki anak oleh kerabat jauh.

"Kok belum kunjung punya anak, sih? Gak pengen, apa? He he he…"

Luka tidak berhasil memiliki anak tidak akan pernah sembuh. Kami hanya terbiasa hidup berdampingan dengannya. Di saat kami sudah mampu berdamai, kedamaian itu diusik kembali oleh sikap-sikap tertentu dari keluarga atau masyarakat yang dampaknya seperti menggarami luka basah.

Betapa serba salahnya kami ketika diberi pertanyaan demikian. Jika menjawab bahwa kami tidak menginginkan anak, maka kami telah berbohong. Saya sendiri tidak suka berbohong. Saya juga tidak suka harus menjelaskan bahwa saya mengalami keguguran, sebab itu menerbitkan banyak pertanyaan baru yang membuat saya harus mengulang lagi trauma keguguran saya melalui kata-kata. Ditambah dengan komentar-komentar dengan nada iba, seakan hidup kami akan berakhir menderita, melarat dan menyedihkan karena tidak memiliki keturunan.

Luka tidak berhasil memiliki anak itu sudah merupakan luka yang tidak akan pernah sembuh. Kami hanya terbiasa hidup berdampingan dengannya. Di saat kami sudah mampu berdamai, kedamaian itu diusik kembali oleh sikap-sikap tertentu dari keluarga atau masyarakat yang dampaknya seperti menggarami luka basah.

Saya tidak suka ketika perempuan mengizinkan diri mereka menjadi lemah. Ya, kadang kita menangis, tapi kesedihan tidak boleh menjadi definisi dari hidup itu sendiri. Jika hanya sekedar ingin menjadi ibu, ada banyak cara lain selain mengalami kehamilan alami. Pilihan bagi saya hari ini, saya bisa mencoba menjalani prosedur bayi tabung, atau mengadopsi anak.

Atau, kita bisa saja sudah begitu bahagia hanya dengan merawat kebun bunga, memelihara kucing, berkumpul dengan keluarga dekat, sesekali mentraktir keponakan kita pergi jalan-jalan dan menghabiskan sisa hidup kita dengan bergabung di badan kegiatan amal. Jika konsep menjadi ibu adalah memberi dan tak harap kembali, maka ya, tanpa anak yang kita lahirkan sendiri pun kita masih mampu menjadi ibu.

Yang saya sayangkan adalah, ketika masyarakat kita tidak mendukung konsep demikian. Masyarakat kita masih teguh memegang konsep bahwa memiliki anak adalah keharusan tanpa kecuali. Tidak peduli apa pun kondisimu, jika tidak memiliki anak, maka hidupmu akan tamat. Yang demikian ini mengada-ada.

Baca juga: ‘Pieces of a Woman’ dan Agensi Perempuan Usai Persalinan

Manusia sebenarnya sangat bisa hidup berbahagia tanpa anak, asalkan kita melihatnya melalui perspektif yang berbeda. Seperti orang-orang di atas kursi roda juga bisa mengikuti dan memenangkan turnamen olahraga, tapi tentu saja dengan konsep yang berbeda.

Tak berbeda dengan manusia lainnya yang memiliki satu, dua, tiga bahkan 17 anak, saya rasa, dan izinkan saya juga mewakili yang lain yang senasib dengan saya yang barangkali berkenan saya wakili, juga memiliki nilai setara yang tidak akan membiarkan kami dikasihani atau disakiti.

Tidak perlu dikasihani, sebab meskipun tidak sempurna, kami telah dan kelak akan menemukan cara tersendiri untuk berbahagia dan menjadi bermanfaat. Sekaligus, kami juga tidak harus menerima pertanyaan-pertanyaan tentang kelahiran terus menerus sebab kami tidak bisa melakukan apa pun soal itu. Kami hanya akan membenci si penanya sebab ia telah menggarami luka itu secara sengaja atau tidak sengaja.

Karena sungguh, setiap kali pertanyaan tentang kapan kami akan memiliki anak itu didengungkan kembali, ada pertanyaan besar muncul di kepala kami yang kami juga tidak mampu menjawabnya kecuali Tuhan. Kenapa, Tuhan? Kenapa tak kunjung kau izinkan kami melahirkan anak kami sendiri padahal setelah apa yang kami alami, kami bersumpah akan menjaganya?

Pratiwi Juliani lahir di Kalimantan Selatan, memiliki taman baca gratis yang bergerak dalam misi mengenalkan dan meningkatkan minat baca untuk anak dan perempuan di desa-desa terpencil di provinsi tersebut. Telah menerbitkan dua buku “Atraksi Lumba-lumba dan Cerita Lainnya” (KPG) dan “Dear Jane” (KPG). “Dear Jane” menjadi satu-satunya naskah novel yang lolos kurasi Ubud Writers and Readers Festival 2018.