Lifestyle

KFC, Kue Natal, dan Romansa: Tradisi Unik Natal di Jepang

Jika kamu berada di Jepang, haram hukumnya menjomblo di malam Natal. Ada tradisi khusus yang harus dilakukan berpasangan di negeri di mana Kristen jadi minoritas ini.

Avatar
  • December 21, 2021
  • 7 min read
  • 431 Views
KFC, Kue Natal, dan Romansa: Tradisi Unik Natal di Jepang

Di Jepang, Natal tak jadi hari libur nasional, tapi vibe kudusnya tetap terasa di mana-mana. Dekorasi Natal, kue strawberry, hingga diskon spesial yang cuma bisa kamu dapat tiap 25 Desember.

“Orang-orang Jepang juga biasanya nyelenggarain Christmas Party,” kata “Linda”, 27, perempuan Indonesia yang telah tinggal empat tahun dan rutin menikmati kemeriahan perayaan Natal di Jepang. 

 

 

Meski jumlah umat Nasrani hanya sekitar 1 persen dari seluruh populasi Jepang, orang-orang di Negeri Sakura ini tetap menyambutnya dengan gempita. Sejak awal Desember, pusat perbelanjaan, restoran, tempat umum, hingga sekolah dimeriahkan oleh lampu warna-warni dan segala ornamen khas Natal. Kemudian lagu “Kurisumasu ibu” (Christmas eve) dari Yamashita Tatsuro juga akan menjadi lagu yang paling sering disiarkan di Jepang selama Desember.

Banyak pasangan dan sekelompok muda-mudi mengadakan pesta, membuat rencana untuk bertemu makan malam, atau sekadar movie marathon bersama. Dari utara ke selatan, Jepang menjadi tuan rumah pasar Natal yang khas dari awal hingga akhir musim dingin.

Tanpa mengaitkannya dengan agama tertentu, Natal telah jadi bagian dari perayaan besar di Jepang yang dinikmati seluruh warganya selama Desember. Tradisi-tradisi Natal pun menjelma budaya modern Jepang yang langgeng hingga kini.

Baca Juga:   Film Natal Romantis, Klise tapi Selalu Diminati

Berikut ini adalah tiga tradisi unik Natal di Jepang dan sejarah di baliknya:

KFC adalah Menu Makan Wajib Ketika Malam Natal

Dilansir dari Trafalgar, pada musim Natal, diperkirakan 3,6 juta keluarga Jepang memeriahkan perayaan itu dengan menyantap Kentucky Fried Chicken (KFC). Hampir seluruh KFC di Jepang sibuk dan bisa menjual sekitar 800.000 paket Natal dan 300.000 party barrel yang lebih besar selama Natal. Jumlah ini setara dengan sepertiga dari total penjualan tahunan KFC Jepang. Untuk mendapatkan makan malam Natal khusus KFC, masyarakat Jepang bahkan sering kali harus memesannya berminggu-minggu sebelumnya dan bagi mereka yang belum memesannya, harus rela menunggu berjam-jam.

Keunikan tradisi memakan menu party barrel KFC saat Natal ini mulai dilakukan pada ‘70-an. Juru bicara KFC Jepang Motoichi Nakatani dalam wawancaranya bersama BBC Worklife mengatakan, tradisi ini dimulai berkat Takeshi Okawara, manajer KFC pertama di negara itu. Setelah mendengar beberapa orang asing di tokonya berbicara tentang bagaimana mereka melewatkan makan kalkun di hari Natal, Okawara berharap makan malam Natal dengan ayam goreng bisa menjadi pengganti yang baik. Akhirnya, dia mulai memasarkan party barrel-nya sebagai cara untuk merayakan liburan.

Pada 1974, KFC Jepang pun secara resmi meluncurkan kampanye pemasaran Natal nasional besar-besaran, yaitu Kurisumasu ni wa Kentakkii. Dalam pemasaran Kurisumasu ni wa Kentakkii, KFC menjual seember ayam goreng KFC bersama dengan sebotol anggur dan menyarankannya dimakan untuk pesta Natal yang tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang dewasa (Natal di Jepang sebelum ‘70-an lebih identik dengan perayaan untuk anak-anak).

Strategi pemasaran yang berubah menjadi tradisi unik Natal di Jepang ini juga tidak terlepas dari investasi besar-besaran KFC Jepang. Dilansir dari CNN Travel, untuk menyukseskan Kurisumasu ni wa Kentakkii, KFC Jepang secara gencar membuat iklan natal KFC yang khas yang menampilkan sebuah keluarga yang menikmati pesta ayam goreng bewarna keeemasan yang lezat dengan lagu “My Old Kentucky Home” diputar di latar belakang. Iklan semacam itu memosisikan KFC sebagai cara yang elegan dan autentik untuk merayakan dengan gaya hidup Amerika sejati yang dielu-elukan masyarakat Jepang.

“Iklan meriah itulah yang awalnya membuat saya ingin mencoba makan KFC untuk Natal,” kata Shuho Inazumi, pustakawan yang tinggal di Iwakuni di pulau Honshu dalam wawancaranya bersama CNN Travel.

“Saya dari pedesaan dan tidak terlalu banyak KFC di sekitar, jadi KFC dianggap keren.”

Baca Juga:  Christmas Traditions: The Return of the Force of Life

Perayaan Memakan Kue Natal

Di Indonesia mungkin perayaan Natal tidak begitu identik dengan kue natal, namun di Jepang kue natal adalah makanan wajib. Antropolog Michael Ashkenazi dari Pusat Konversi Internasional Bon yang mempelajari budaya dan tradisi Jepang dalam wawancaranya bersama NPR bilang, kue Natal atau クリスマスケーキ(kurisumasu keki sejenis) kue bolu, dilapisi dengan krim kocok seputih salju dan di atasnya diberi stroberi, dijual di hampir setiap sudut jalan di Jepang.

Kue itu menjadi bagian dari simbol Natal di Jepang bahkan jadi semacam mitos bagi para muda mudi. Bahwa siapa yang membuat kue Natal untuk gebetan, maka mereka akan bisa menjadi pasangan yang langgeng.

Obsesi masyarakat Jepang pada kue Natal ini sebenarnya memiliki sejarah yang cukup berwarna yang terkait erat dengan kebangkitan Jepang setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II. Dalam penelitian The Christmas Cake: A Japanese Tradition of American Prosperity (2004), Hideyo Konagaya antropolog dari Universitas Waseda menuliskan pasca-Perang Dunia II, perekonomian Jepang jatuh dan beberapa bahan makanan tertentu susu, mentega, dan menjadi sebuah barang yang mewah yang dikategorikan sebagai yo-gashi (makanan yang cenderung diasosiasikan dengan modernitas, Barat, dan status sosial).

Kemewahan dari yo-gashi ini pun populer di kalangan elit Jepang saat itu. Dengan kue Natal sebagai hidangan penutup mewah menjadi indikasi dari kecenderungan Jepang terhadap kekayaan materi dari negara industri modern yang setara dengan Amerika dan Barat. Namun, memasuki 1960-an di mana perekonomian Jepang sedang melaju pesat, konsumsi yo-gashi menjadi lebih dari sekadar simbol status tetapi mewakili kenaikan standar hidup nasional masyarakat Jepang saat itu. Yo-gashi menyiratkan transformasi menjadi kehidupan yang makmur dalam masyarakat demokratis baru.

Baca Juga:   A Hijabi’s Reflection: Let’s All Celebrate Christmas!

Di sinilah akhirnya kue Natal yang dahulu hanya dinikmati kaum elit mulai banyak dibeli oleh masyarakat biasa, utamanya masyarakat Jepang kelas menengah. Melalui pembelian kue tersebut, rumah tangga biasa di Jepang secara simbolis dapat merayakan kemakmuran ekonomi bangsa yang meningkat.

Kue ini melambangkan identitas baru masyarakat Jepang pasca-perang dan mengomunikasikan pesan kemakmuran yang kuat ketika ekonomi negara tumbuh pada 1960-an dan 1970-an. “Kue Natal menjadi pusat perhatian di seluruh festival [Natal],” tulis Konagaya.

Christmas Eve, Hari Valentine untuk Orang Jepang

Jika kamu merayakan Christmas Eve atau crismas ebu (クリスマスイブ) di Jepang seorang diri, mungkin kamu akan dilihat sebagai orang yang menyedihkan. Christmas Eve di Jepang pada dasarnya adalah malam bagi pasangan untuk berkumpul, makan, mungkin menikmati lampu Natal, dan bertukar hadiah. Di anime, dorama (serial drama Jepang), atau manga seseorang yang menghabiskan waktu seorang diri atau masih menjomblo di malam Natal selalu digambarkan sebagai seseorang yang kesepian, menyedihkan, dan serasa tidak punya masa depan.

Penggambaran suram tentang para jomblo di malam Natal juga disusul dengan istilah ‘Kuri-botch’ yang berarti ‘sendirian di Hari Natal’. Istilah ini lahir karena banyak orang Jepang percaya, tidak ada alasan bagi kita untuk hidup jika kita tidak punya pacar selama Natal.

Kepercayaan ini didukung oleh data dari sebuah survei online oleh Aisekiya Labo pada pertengahan November 2019 yang menemukan bahwa dari 416 orang yang belum menikah, 47,8 persen mengatakan mereka ingin menghabiskan malam Natal bersama pasangan atau “gebetan” mereka. Sedangkan berdasarkan kelompok usia, hampir 40 persen laki-laki lajang berusia 20-an mengatakan mereka ingin menghabiskan malam Natal dengan kekasih atau “gebetan” mereka.

Pertanyaan pun muncul sejak kapan sih Christmas Eve di Jepang lekat sekali dengan romantisme? Dilansir dari Kyodo News, media pada 1930-an memainkan peran utama dalam membingkai Christmas Eve sebagai perayaan romantis di Jepang.

Untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, surat kabar dan media massa di Jepang saat itu mulai melukiskan Christmas Eve sebagai kesempatan sempurna untuk makan malam romantis bersama kekasih. Mereka membuat peluang bisnis dengan hotel dan toko ikut serta dan mulai menawarkan rencana dan acara Natal.

Gagasan romantis yang bertahun-tahun dipromosikan kemudian diperkuat dengan dirilisnya lagu “Koibito ga Santa Claus” (Kekasihku adalah Santa Claus) oleh penyanyi-penulis lagu Jepang Yumi Matsutoya pada 1980-an. Lagu yang upbeat, yang hingga hari ini diputar hampir sama banyaknya dengan “All I Want for Christmas Is You” karya Mariah Carey selama Desember di Jepang, memberi makna baru pada Christmas Eve.

Menurut Yukiko Koizumi, eksekutif perusahaan dan kepala bagian pemasaran Section Eight (Perusahaan yang berbasis di Tokyo yang mengoperasikan beberapa tempat makan) dalam wawancaranya bahkan mengatakan bahwa lagu Matsutoya ini berperan besar dalam membingkai makna baru Christmas Eve dan secara tidak langsung “mendorong” para jomblo untuk berlomba-lomba untuk menghabiskan malam Natal dengan seorang kekasih selama tahun 1980-an dan pada nyatanya masih langgeng hingga sekarang.

Keunikan tradisi Natal di Jepang memperlihatkan kita bagaimana kemajuan ekonomi suatu bangsa dan komersialisasi ekonomi bisa menjadi salah satu pemicu pembentukan budaya modern baru. Natal pun menjadi sebuah festival nasional, di mana masyarakat Jepang saling berbagi kehangatan bersama keluarga, teman, dan kekasih mereka di penghujung tahun.

 


Avatar
About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *