Women Lead
August 16, 2021

Kita Boleh Jadi Penikmat Lagu ‘Toksik’ Asal...

Meski memiliki musik yang asyik, sejumlah lagu mengandung lirik yang seksis dan budaya patriarki sehingga muncul kebimbangan untuk terus menikmatinya atau tidak.

by Aurelia Gracia, Reporter
Lifestyle
Share:

Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya penggemar berat Dewa 19 dan memiliki berbagai koleksi albumnya dalam bentuk kaset. Sampai sekarang, lirik lagu mereka masih terpatri di kepala saya, dan saya cukup sering memutarnya karena memberikan rasa nyaman, sekaligus mengingatkan masa kecil. Namun, beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja saya mendengarkan lirik Dua Sejoli dengan saksama. “Kok lagunya mengandung seksisme dan objektifikasi perempuan?” pikir saya. Kurang lebih seperti ini bunyinya:

“Hawa tercipta di dunia, untuk menemani sang Adam. Begitu juga dirimu, tercipta tuk temani aku.”

Setelah mendengarkan lagu-lagu mereka yang lain dan milik sederet musisi lainnya, saya menemukan berbagai unsur seksisme dan upaya meluhurkan budaya patriarki di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah “Lelaki Pencemburu” masih dari Dewa 19, “Putri Iklan” oleh ST12, “Makhluk Tuhan Paling Sexy” dari Mulan Jameela, “Rude” milik MAGIC!, “Steal My Girl”-nya One Direction, dan “Wiggle” oleh Jason Derulo.

Belum lagi jika kita membicarakan kebanyakan musik rap yang menyertakan seksualisasi terhadap perempuan, dengan menyebut “sluts,” “bitches,” dan “hoes” serta meromantisasi ketertarikan perempuan pada gaya hidup mewah, yang menggambarkan kekayaan sebagai bahasa seks universal.

Hal ini dibuktikan dalam penelitian berjudul “Misogyny in Rap Music: A Content Analysis of Prevalence and Meanings” (2009) oleh Ronald Weitzer dan Charis E. Kubrin, sosiolog dan kriminolog di George Washington University.

Keduanya menjelaskan, penghinaan terhadap perempuan dalam musik rap lebih umum dibandingkan disebut sebagai sosok independen, cerdas, giat, atau lebih unggul dari pria. Oleh karena itu, musik rap seksis dapat menghalangi persepsi masyarakat tentang perempuan dan kemajuannya di masyarakat modern.

Dengan lirik yang bertolak belakang dengan feminisme, apakah sebaiknya kita berhenti mendengarkan lagu-lagu tersebut?

Baca Juga: Ini Konser Kami Juga: Bagaimana Agar Acara Musik Bebas Kekerasan Seksual

Cerminan dan Upaya Membentuk Realitas 

Sejumlah lagu-lagu yang berlirik toksik secara berkesinambungan mencerminkan dan membentuk realitas dalam masyarakat. Bukannya membenarkan, tapi faktanya, seksisme dan budaya patriarki masih kental di kehidupan kita sehingga karya seni pun merefleksikan hal itu. Tidak hanya merendahkan perempuan, berbagai karya seni seksis juga menyudutkan laki-laki. 

Contohnya, jika seorang anak mendengarkan “Dua Sejoli”, kemungkinan ia akan berpikir peran perempuan dalam kehidupan hanya untuk menemani laki-laki. 

Kemudian dari lirik lagu Lelaki Buaya Darat oleh Ratu, kita bisa melihat pengalaman seorang perempuan yang merasa tertipu dan di-ghosting setelah memberikan segalanya. Memang dari lirik tersebut kita bisa bilang itu adalah cerminan keadaan sebagaimana adanya di lapangan sehingga banyak orang yang suka karena merasa kisah di lagu itu relevan. Namun secara bersamaan, tersirat pesan bahwa perempuan adalah sosok yang lebih rentan sehingga ujungnya akan jadi korban dalam percintaan meski di kehidupan nyata hal ini tidak bisa digeneralisasi. Selain itu, dalam lirik “aku cantik dan menarik dan kau mulai dekati aku” di lagu tersebut juga terkandung pesan yang membentuk pemahaman orang bahwa perempuan yang seperti itulah yang akan didekati laki-laki sehingga melanggengkan upaya para perempuan untuk mengejar titel “cantik” yang kerap problematik di masyarakat kita.

Ada juga lagu Jealous yang dinyanyikan Nick Jonas dan merepresentasikan keinginan laki-laki dalam mengontrol tubuh serta melecehkan perempuan. Atau Dia Milikku dari Yovie & Nuno yang mengklaim perempuan sebagai milik laki-laki dan bersikap posesif padanya. Itu semua adalah contoh-contoh bagaimana lagu menyuguhkan realitas sekaligus membentuk pemahaman kita tentang bagaimana seharusnya kita berperilaku.

Banyak lagu yang menduduki tangga lagu teratas, dengan musik catchy, tetapi penggunaan liriknya kasar terhadap perempuan. Wakil editor NME, Jenny Stevens, mengatakan kepada Stylist—sebuah majalah perempuan di Inggris, ini dikarenakan kita hidup dalam budaya yang secara historis telah menindas perempuan. Maka itu, narasi patriarki pun muncul dalam budaya pop.

Baca Juga: Laki-laki Suka Agnez Mo, Ada yang Salah?

Mungkin nantinya, lagu-lagu memberdayakan seperti Don’t Touch Me oleh Danilla, Marion Jola, dan Ramengvrl, atau berbagai lagu milik Little Mix, secara perlahan bisa “membalas” seksisme terhadap perempuan dan budaya patriarki yang masih melekat, mengingat sekarang semakin banyak yang melek kesetaraan gender.

Mengutip The Jakarta Post, lagu yang ditulis ketiga penyanyi tersebut menyuarakan kemarahan perempuan, lantaran terus menerus menghadapi ketidakadilan di kehidupannya, seperti pelecehan seksual, kekerasan terhadap perempuan, misogini, dan standar ganda. Ini adalah contoh lain dari pembentukan realitas, bahwa perempuan yang dianggap tidak berdaya sekarang berani memberikan perlawanan.

Menikmati Tanpa Internalisasi

Menurut akademisi di University of Delhi, Nasrina Siddiqi, dalam penelitiannya yang berjudul “A Thematic Analysis of Sexist Bollywood Songs” (2020), konten lirik yang tidak pantas dapat berdampak negatif pada sikap dan perilaku pendengar.

Siddiqi mengatakan, kekerasan seksual di India, seperti pemerkosaan dan serangan asam—pelemparan bahan korosif terhadap tubuh orang lain yang bertujuan menyakiti hingga membunuh—dipengaruhi oleh konten media yang seksis, termasuk lagu.

Namun, sepertinya kurang tepat jika “menyalahkan” lagu secara langsung berdampak pada sikap dan perilaku pendengarnya, apalagi sampai membatasi pemutarannya seperti yang dilakukan KPID Jawa Barat, walau antara lagu dan realitas saling bersinggungan satu sama lain. Kita perlu memahami juga bahwa konsumen budaya pop seperti lagu tidak selamanya pasif menerima apa yang mereka konsumsi. Ada berbagai latar belakang seperti pengetahuan dan pengalaman yang mereka punyai yang menjadi pagar tersendiri dalam menginternalisasi dan mewujudkan apa yang disampaikan lewat lagu. 

Sebagai pendengar, kita memiliki tanggung jawab untuk aktif mengedukasi diri agar dapat memilah paparan konten, mana yang perlu diterapkan dan hanya dikategorikan sebagai hiburan semata. Mendengarkan lagu yang mengandung pesan ketidakadilan dan stereotip gender bukan berarti mendukung sang musisi dan sikapnya. Mengutip Bustle, komedian, seniman, dan rapper Suzy Mae menuturkan agar sebagai penikmat musik, kita perlu membuat batasan antara yang dikatakan dan dinyanyikan oleh musisi. 

Baca Juga: Indonesia Pernah Punya Band-band Perempuan Cadas

Ini merupakan “pengingat” bagi kita untuk tidak menginternalisasi setiap lirik sebuah lagu. Sementara bagi remaja di bawah umur, mereka dapat lebih memperhatikan lagu-lagu bertuliskan Parental Advisory beserta video klipnya yang dinyatakan konten eksplisit, agar tidak salah mengartikan lirik lagu sebagai anjuran untuk dilakukan.

Dalam artikelnya di Bustle, Kristen Sollee, seorang penulis, kurator, pendidik, dan feminis, menuturkan alasan utamanya menikmati lagu dikarenakan musiknya, dan sering mengabaikan liriknya. Baginya, musik yang bagus dengan pesan yang buruk juga menarik.

Selain itu, menurut Sollee, kepengarangan dan pendengar tidak sama dengan persetujuan, dan pendengar mampu mengilhami sebuah karya dengan maknanya sendiri. Artinya, mendengarkan musik dengan lirik seksisme dan budaya patriarki tidak sama dengan mendukung praktiknya dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataannya, lagu-lagu itu memang enak didengarkan kok, saya sendiri sangat menikmatinya. Mendengarkan lagu bukan berarti melanggengkan atau menormalisasi budaya patriarki, asalkan kita sebatas menikmati tanpa mengamini pesan yang disampaikan. Justru lagu dapat digunakan sebagai medium pembelajaran untuk tidak meniru perilaku berlawanan dengan moral sebagaimana tertulis di dalamnya.

Mengutip Kristen Sollee, “There is no ‘correct’ way to consume music and culture, just as there is no ‘correct’ way to be a feminist.”

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.