September 26, 2019
Sinema Indosiar, Perempuan Durhaka, dan Derita Nestapa

Sinema Indosiar punya pesan seragam: jalan terbaik bagi perempuan adalah patuh dan di rumah untuk melayani suami dan anak-anak.

by Rini
Culture
Share:

Film bukan sekadar produk industri atau barang untuk tujuan komersial. Bukan pula semata-mata sebagai hiburan pelepas lelah. Lebih dari itu, film bisa menjelma sebagai aparatus ideologis yang membawa teks dan pesan untuk dipatrikan dalam ruang kesadaran penontonnya.

Teks dan pesan itu bukan cuma pesan sponsor. Bukan pula sekadar iklan komersial. Tetapi juga nilai-nilai dan cara pandang dalam melihat berbagai persoalan kehidupan.

Bagi saya, begitulah kita seharusnya melihat setiap film atau sinetron yang disuguhkan di hadapan kita. Begitu juga kita seharusnya melihat film televisi (FTV) yang sambung-menyambung dari pagi hingga malam hari di stasiun televisi kebanggaan emak-emak: Indosiar.

FTV atau sinema Indosiar itu, dari Azab, Kisah Nyata, dan Pintu Berkah, bukan sekadar membuat penontonnya menitikkan air mata dan terbawa emosi, tetapi juga membuat penontonnya bisa terpapar nilai-nilai dan cara pandang  dalam melihat berbagai persoalan kehidupan.

Boleh jadi, di balik keberhasilan wacana konservatisme mendominasi kehidupan berbangsa kita, ada kontribusi tak terhitung dari sinema-sinema Indosiar. Termasuk dalam memenangkan ideologi patriarki ke masyarakat luas.

Beberapa bulan terakhir, saya menonton hingga tuntas beberapa sinema Indosiar itu. Saya berusaha menangkap pesan-pesan apa saja yang hendak dijejalkan sinema-sinema tersebut ke dalam ruang kesadaran penontonnya. Dan hasilnya adalah sebagai berikut.

Pertama, perempuan yang bekerja di kantor, apalagi yang mau mengejar karier, dengan mencampakkan suami dan anak-anaknya, pasti akan menemui jalan derita-nestapa.

Baca juga: 5 Drakor dengan Karakter Perempuan yang Anti-Stereotip

Ada banyak FTV yang bertema seperti ini. Salah satunya adalah FTV berjudul Karir Cemerlang, Keutuhan Rumahtangga Hilang. Sinta, yang diperankan oleh Dewi Persik, sukses sebagai wanita karier. Penghasilannya melebihi suaminya, Erwin (Arie Dwi Andika). Lantaran itu, Sinta sering menganggap enteng suaminya. Walhasil, mereka bercerai.

Setelah itu, jalan cerita menuju antiklimaks. Di puncak kariernya, Sinta justru merasa hambar, tanpa suami dan anak-anaknya. Di sisi lain, mantan suaminya yang sudah menikah lagi pelan-pelan menanjak naik kehidupannya. Ujung ceritanya gampang ditebak: jalan hidup Sinta celaka, sedangkan suaminya terang-gemilang.

Kisah nyaris serupa juga hadir dalam FTV Indosiar yang berjudul Demi Mengejar Karir Aku Mencampakkan Lelaki yang Kucintai. Demi mengejar karier, Sandra meninggalkan rencana pernikahan dengan kekasih tercintanya. Ujung ceritanya lagi-lagi gampang ditebak: kekasihnya menikah dengan perempuan lain dan hidup berbahagia, sedangkan Sandra berujung nestapa.

Ajaibnya, sinema-sinema ini diberi label #KisahNyata. Bagi penonton, yang sejak awal gagap membedakan dunia sinetron dan dunia nyata, apalagi menemukan label “kisah nyata” di sudut layar televisinya, pasti gampang termakan mentah-mentah oleh sudut pandang yang hendak dibangun oleh FTV ini.

Di FTV Indosiar yang dilabeli Kisah Nyata, selalu ada prolog perempuan dengan wajah tertutup jubah, menyampaikan testimoni tentang kisah pahit hidupnya. Jadi, seolah-olah ini kisah nyata beneran.

Inti pesannya: jalan terbaik bagi seorang perempuan, terutama yang sudah menjadi istri, adalah tetap tinggal di rumah untuk melayani sepenuh hati suami dan anak-anaknya.

Kedua, perempuan terbaik, yang selalu menjadi tokoh utama (protagonis) di sinema Indosiar, adalah perempuan yang saleh, penyabar, penurut alias taat suami, dan menerima dengan tulus-ikhlas untuk tinggal di rumah sembari melayani suami dan mengurus anak-anaknya.

Atau bahasa lainnya: perempuan terbaik dalam sudut pandang yang dibangun oleh FTV Indosiar adalah perempuan yang tulus-ikhlas menerima domestikasi. Tapi tenang saja, seperti setiap happy-ending yang disuguhkan oleh FTV Indosiar, perempuan yang menerima domestikasi akan memiliki keluarga makmur nan bahagia.

Ketiga, peran antagonis sering kali dilekatkan pada perempuan. Mulai dari perempuan yang suka iri dengan keberhasilan tetangga atau orang lain; mertua perempuan yang serakah dan hanya suka dengan menantu kaya; perempuan yang suka merebut suami orang; sampai perempuan suka belanja alias konsumtif. Jarang sekali peran antagonis semacam itu diperankan oleh laki-laki.

Padahal, dalam dunia nyata, perasaan tidak suka dengan kelebihan orang lain, menginginkan lebih banyak harta atau orang, atau merebut pasangan orang lain, tidak memandang gender. Bisa laki-laki, perempuan, atau manusia apa pun.

Keempat, perselingkuhan atau bubarnya rumah tangga selalu ditimpakan sebagai kesalahan perempuan. Istri ditinggal cerai oleh suaminya karena tidak bisa merawat diri, tidak bisa bersolek, kurang melayani suami, dan tidak bisa memberi keturunan.

Sementara perempuan yang terlibat dalam perselingkuhan diberi cap negatif sebagai perebut suami orang. Bahkan diberi persepsi sangat negatif, bahwa perempuan yang merebut suami orang itu selalu bermotif ingin naik status sosial atau merebut harta dari laki-laki tersebut. Sementara laki-laki yang berselingkuh selalu digambarkan hanya sebagai korban pasif: khilaf, terperdaya, dan terpaksa oleh keadaan.

Kelima, jalan terbaik bagi perempuan atau istri ketika mendapat perlakuan kasar, bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dari suaminya adalah bersabar. Sebab, dari semua jalan cerita FTV Indosiar, kesabaran perempuan akan berbalas kebahagiaan: suami akan insaf dan seterusnya rumah tangga jadi bahagia.

Baca juga: We Need to Talk About the Toxic Culture of Sinetron

Padahal negara ini sudah punya pandangan tegas terhadap persoalan kekerasan ini: kekerasan terhadap perempuan adalah kejahatan pidana yang harus dihukum berat. Dan untuk memerangi KDRT, negara sudah punya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Singkatnya, FTV-FTV Indosiar berusaha merawat sekaligus memasarkan cara pandang masyarakat patriarkal dalam melihat dan memperlakukan perempuan. Sinema-sinema Indosiar seperti hendak menegaskan ulang pembagian kerja usang dalam masyarakat patriarkal. Bahwa laki-laki sebagai pencari nafkah dan terlibat urusan publik, sedangkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga (domestik).

Saluran televisi ini juga hendak menegaskan ulang superioritas laki-laki (suami) atas perempuan (istri). Bahwa perempuan terbaik dalam masyarakat patriarkal adalah perempuan yang tunduk di bawah kuasa laki-laki. Dan cara terbaik perempuan menghadapi perlakuan tidak baik adalah bersabar.

Begitulah, nilai-nilai dan cara pandang patriarkal dijejalkan di ruang kesadaran publik, terutama para penggila sinema-sinema di televisi, entah disadari atau tidak. Dan tentu saja nilai dan cara pandang begini bukan hanya berkembang biak di Indosiar, tetapi juga di sinetron dan FTV di stasiun televisi yang lain.

Seharusnya, jika peduli dengan nasib perempuan dan punya komitmen serius untuk menegakkan kesetaraan gender, negara perlu turun tangan untuk “menertibkan” sinema-sinema televisi yang merendahkan martabat perempuan.

Rini, S.Pd, Sekretaris Jenderal Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini.