Women Lead
August 05, 2021

Memeluk Dunia Abu-abu Para Perempuan di Film Korea ‘I'

Drama tentang perjuangan ibu tunggal dan anak yatim piatu ini melahirkan rasa empati serta mengaburkan batasan baik-jahat dalam tokoh-tokohnya.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Culture // Korean Wave
Share:

[Spoiler alert]

Setelah menuntaskan sebuah drakor pekan lalu, saya menghabiskan hampir dua jam menonton film Korea di Viu pada malam berikutnya. Berjudul super singkat, I berhasil bikin saya kepincut dengan sinopsisnya yang menyebut-nyebut pengalaman pengasuh muda dan ibu tunggal dari bayi enam bulan. Tentu saja ini karena saya punya irisan identitas sebagai ibu.

Film yang rilis Februari 2021 ini berkisah tentang Ah Young (Kim Hyang-Gi), gadis yatim piatu yang telah keluar dari panti asuhan dan tidak menerima lagi tunjangan pemerintah. Sehari-hari ia harus menjalankan berbagai pekerjaan lepas seraya meneruskan studi bidang pendidikan anak. 

Suatu waktu, ia mendapat tawaran bekerja sebagai pengasuh anak Young Chae (Ryu Hyun-Kyung). Seperti halnya Ah Young, Young Chae juga mesti banting tulang sendirian mencari nafkah untuk dirinya dan anak laki-lakinya, Hyuk, setelah suaminya mati muda. Ia menjalani profesi sebagai penghibur di bar.

Sebuah konflik menciptakan tegangan dalam hubungan Young Chae-Ah Young, sehingga gadis itu tidak lagi bekerja untuknya. Di tengah ketiadaan pengasuh dan support system apa pun, Young Chae kian tertekan dan memilih menjual anaknya secara ilegal untuk menyambung hidup, sebuah pilihan yang sebenarnya membuat dia semakin terpuruk diam-diam. Situasi akhirnya berubah karena inisiatif Ah Young yang berupaya mengembalikan Hyuk pada Young Chae dan bersumpah akan membantu Young Chae.

Drama garapan Kim Hyun-tak ini memang tidak mendapat rating tinggi. Namun, bagi saya, ceritanya tetap menyentuh dan mampu mengangkat sejumlah isu sosial terkait peran ibu dan menjadi seorang yatim piatu. 

Kritik terhadap film ini pertama-tama diarahkan pada judul bahasa Inggrisnya yang dirasa tidak representatif. Sebenarnya, judul film ini dalam bahasa Korea adalah 아이 yang secara harfiah berarti “child”, sebuah kata yang lebih mewakili keseluruhan cerita. Entah kenapa kata “I” lebih dipilih untuk film ini. Film ini juga berjalan cukup lambat, suatu hal yang bisa mendorong banyak penonton udahan di tengah-tengah. Dalam situs HanCinema pun I mendapat kritik pada bagian struktur dan framework-nya sehingga membutuhkan editing dan draf lebih baik lagi. Selain itu, beberapa adegan yang membuat saya nyeletuk, “Kok bisa begini?”. Contohnya ketika Ah Young menyelinap ke rumah “perempuan gila” penjual anak ilegal dan berhasil mengambil Hyuk setelah berkonfrontasi dengannya. 

Baca juga: Engkau Janda dan Engkau Terhormat

Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, I tetap mampu menyelipkan pesan bermakna tentang perjuangan hidup perempuan di tengah pandangan negatif masyarakat tentang pekerja malam, standar ideal seorang ibu, dan kepelikan hidup anak yatim piatu.

Karakter-karakter yang Membuat Empati

Kendati profesi yang Young Chae jalani dan pilihannya untuk menjual Hyuk mendatangkan hujatan dari masyarakat, saya bisa memahami posisinya dan sama sekali tidak melihatnya sebagai karakter jahat. 

Tidak ada ibu yang mau menjalani peran seperti Young Chae, apalagi sampai menjual anak yang sangat dikasihinya. Namun kenyataan ini jamak, ditemukan juga di Indonesia, dan barangkali tak berujung pada solusi membahagiakan untuk kedua pihak. Pasalnya terlalu banyak permasalahan di negara ini yang perlu diselesaikan selain hal tersebut, terlalu sedikit tunjangan pemerintah yang disalurkan pada para janda dengan keterbatasan kemampuan, dan terlalu minim akses dukungan untuk mereka, para ibu tunggal yang bekerja. 

Saya makin bisa berempati saat melihat Young Chae tertekan, menangis, dan putus asa kala mengurus anaknya sendirian. Tagihan rumah sakit yang besar setelah Hyuk terluka, ditambah masalah nutrisi anaknya yang gagal terpenuhi, wajar saja bila membuat perempuan itu stres bukan kepalang dan mengambil jalan pintas. Barangkali justru dengan memberikan Hyuk kepada keluarga yang lebih berada, Young Chae berpikir itulah jalan yang membawa lebih banyak kebahagiaan bagi anaknya itu dibanding harus tinggal dengannya.

Baca juga: Ibu Tunggal dan Pencarian Cinta Kedua

Young Chae nyaris menuntut Ah Young dengan tuduhan lalai menjaga Hyuk, meski sebetulnya dia lah yang salah. Namun, hal ini bisa saya pahami karena Young Chae melakukannya dalam keputusasaan mendapatkan uang kompensasi guna menutupi kebutuhan hidup dia dan anaknya itu.

Untuk membesarkan Hyuk, aku harus minum miras dan bekerja keras di sini. Bagaimana jika dia masuk ke penitipan anak atau sekolah dan anak-anak mengejeknya karena ibunya bekerja di bar?” 

“Memangnya kenapa jika dia diejek? Kenapa jika kondisinya seperti itu? Banyak anak tumbuh dalam kondisi lebih buruk. Jangan kira hidupmu saja yang sulit,” balas Ah Young.

Adegan ini adalah salah satu adegan yang berhasil membuat bulu roma saya berdiri dan merasa nyes. Saya bisa membayangkan ada di kursi Ah Young: Seorang anak yang ditaruh di panti asuhan oleh orang tuanya yang masih hidup tapi entah di mana, yang tentu merindukan kasih sayang keluarga, yang masih harus bekerja ganda untuk membayar uang sewa dan sekolah, yang dipaksa menjadi dewasa cepat-cepat. 

Baca juga: ‘Fatherhood’: Representasi dan Celah yang Tak Terisi

Karakter-karakter lain yang terkesan sebagai antagonis pun masih bisa saya terima dan pahami sebagai sosok yang tidak seratus persen jahat. Sang mucikari misalnya, walau terkesan money oriented dan menjadi pendorong Young Chae untuk menyerahkan anaknya, punya alasan rasional yang tujuannya menolong Young Chae. Ia juga digambarkan tak tega-tega amat, terlihat dari bagaimana ia masih mempedulikan Young Chae setelah kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, menanyakan kondisi Hyuk, serta membantu membuatkan bubur untuk anak itu begitu Young Chae bertemu kembali dengan anaknya.

Lalu ada juga karakter penjual anak yang ternyata punya orang tua sakit keras yang harus diurus. Tindakannya yang ilegal tersebut tidak lepas dari niat baiknya untuk menyelamatkan nyawa seseorang. 

Sumber: VIU

Pelajaran untuk Tidak Menghakimi

Walau hal-hal yang dilakukan Young Chae, si mucikari, dan penjual anak tidak bisa dijustifikasi, I mengajak kita untuk tidak buru-buru menghakimi mereka dan menyelami kehidupan mereka yang sebenarnya abu-abu. 

Ini terlihat dari bagaimana Ah Young memandang Young Chae setelah mengetahui lebih dalam kehidupannya. Orang lain mungkin akan berkata, “Kok jadi ibu kayak begini, sih?”, tetapi Ah Young sama sekali tidak bereaksi demikian. Bahkan saat Young Chae bertanya, “Kau tak penasaran kenapa aku bekerja di bar?”

Ah Young membalas, “Tidak. Aku tidak suka saat ditanya. Saat ditanya, aku harus memikirkan apa alasan pilihanku. Intinya, itu mengganggu.”

Dari sini tecermin bagaimana Ah Young bisa berempati kepada Young Chae walau punya pengalaman berbeda. Tidak selamanya kita harus tahu kenapa orang melakukan ini itu, toh itu juga tidak berhubungan langsung dengan hidup kita. Sebaliknya, tidak senantiasa kita mesti menjelaskan apa saja yang telah kita pilih beserta alasannya, karena kita tidak melulu harus mencari validasi dan dukungan dari setiap orang. 

Dengan bekal pengetahuan mengasuh bayinya dari sekolah, Ah Young justru membantu Young Chae untuk lebih baik lagi memenuhi kebutuhan Hyuk. Di sini tersirat bahwa tidak apa-apa belajar dari yang lebih muda, dan tidak ada yang salah dengan mulai belajar di usia “tua”. Ini tampak dari adegan ketika Young Chae melirik salah satu kelas di kampus Ah Young dan berkata, “Aku melihat mahasiswa lebih tua di dalam kelas, mereka bisa kuliah di usia setua itu?” dan dijawab Ah Young, “Tentu saja, kenapa tidak?”

I mendorong kita pula untuk tidak menyalahkan para ibu yang tidak mengikuti standar ideal masyarakat. Misalnya, soal memberi ASI untuk anak dan lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengannya. Young Chae jelas tidak bisa melakukan ini karena tuntutan pekerjaannya sebagai penghibur.

Alih-alih mengutuknya saat memakai obat untuk menyetop keluarnya ASI, saya bisa memaklumi kondisinya. Ada juga ibu yang mesti bekerja jauh dari anaknya dan tidak bisa memberi ASI, seperti asisten rumah tangga saya yang pindah dari kampungnya ke Jakarta saat bayinya baru berusia tiga bulan. Ada ibu yang memang tak bisa memproduksi ASI banyak meski sudah minum suplemen, makan makanan bergizi, dan berusaha untuk tidak stres, sebagaimana pengalaman saya yang berujung pada tambahan penggunaan susu formula. Semua itu tak masalah selama ia masih bisa mencukupi kebutuhan gizi dan psikis anaknya dengan cara lain. Soal ASI atau kurangnya waktu bermain dengan anak tidak serta merta menciptakan cap gagal atau buruk sebagai ibu

Kesimpulannya, I adalah drama yang memberikan kehangatan bagi penontonnya dan meredefinisi ulang berbagai hal seperti apa itu keluarga, bagaimana menjadi ibu yang “baik”, tentang beratnya menjalani peran sebagai orang tua tunggal, sekaligus mencerminkan bagaimana perempuan mendukung perempuan lain terlepas dari beratnya beban yang sudah mereka emban sejak dulu. 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop